Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 4


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Mulai dari sini, cerita beralih ke Point of view Nando Parrado


Pada hari ketiga aku akhirnya bangun dari koma, dan saat aku perlahan mengumpulkan kesadaran, aku terkejut oleh bayangan kengerian yang telah dijalani teman-temanku. Ketegangan yang mereka lalui sepertinya menuakan umur mereka beberapa tahun. Wajah mereka mengerut dan pucat karena ketegangan mental dan kurang tidur.


Saat ini ada tiga puluh enam orang yang selamat, sebagian besar adalah anak muda berusia antara sembilan belas sampai dua puluh satu tahun, tapi beberapa masih tujuh tahun. Yang paling tua adalah Javier Methol, tiga puluh delapan tahun, tapi ia terluka sangat parah oleh rasa muak dan letih.


Kedua pilot dan sebagian besar kru telah mati. Satu-satunya anggota kru yang selamat adalah Carlos Roque, montir pesawat, tapi kecelakaan telah membuatnya bingung sehingga ia hanya bisa meracau dengan pikiran kosong.


Tidak ada seorang pun yang menolong kami, tidak ada seseorang pun mempunyai pengetahuan tentang pegunungan atau pesawat atau teknik-teknik untuk bertahan hidup. Kami terus hidup diambang histeria, tapi kami tidak panik.


Yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup kami pada awal yang kritis itu adalah Marcelo Perez, kepemimpinannya telah menyelamatkan banyak nyawa. Operasi penyelamatan yang dengan cepat ia lakukan telah menyelamatkan nyawa orang yang bisa diangkat dari timbunan kursi, dan tanpa dinding perlindungan yang ia buat malam itu, kami semua akan membeku keesokan paginya.


Kepemimpinan Marcelo sungguh heroik. Pada malam hari ia tidur di bagian paling dingin dari badan pesawat, dan ia selalu meminta semua orang yang tidak terluka untuk melakukan hal yang sama. Ia memaksa kami tetap sibuk, ketika beberapa dari kami ingin selalu berkerumun di dalam pesawat dan menunggu untuk diselamatkan.


Lebih dari apa pun, ia menopang semangat kami dengan meyakinkan bahwa penderitaan kami akan segera berakhir. Ia meyakinkan yang lain bahwa pertolongan sedang menuju ke tempat kami, dan ia sangat bersemangat meyakinkan yang lain bahwa begitulah kenyataannya. Tetap saja, ia paham bahwa bertahan hidup di Andes, meskipun hanya beberapa hari, akan menguji kami sampai batas-batas kemampuan kami, dan ia menjadikan hal itu sebagai tanggung jawabnya untuk mengambil tindakan yang akan memberi kami kesempatan terbaik untuk selamat selama itu.


Salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan segala sesuatu yang dapat dimakan yang bisa ditemukan di dalam koper atau puing-puing di sekitar kabin. Tidak cukup banyak beberapa batang cokelat dan permen, kacang dan kue kering, buah yang dikeringkan, beberapa toples berisi selai, tiga botol wine, beberapa whiskey, dan beberapa botol liqueur.


Meskipun ia berkeyakinan bahwa pertolongan hanya beberapa jam lagi, naluri alamiahnya untuk bertahan hidup mengatakan padanya untuk berpikir pada kemungkinan terburuk, dan pada hari kedua dari cobaan berat itu, Marcelo mulai menjatah makanan dengan seksama setiap jatah makan tidak lebih dari potongan kecil cokelat atau secolek selai, mencuci mulut dengan seruputan wine dari tutup wadah aerosol. Semua itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar, tapi sebagai sebuah ritual yang bisa memberi kami kekuatan.

__ADS_1


Setiap kali kami berkumpul untuk menerima jatah, kami membuat perapian, untuk semua orang dan untuk diri sendiri, bahwa kami akan melakukan segalanya untuk selamat.


Marcelo memastikan keyakinan kami akan datangnya pertolongan tetap kuat. Meskipun hari demi hari telah berlalu, dan tidak ada pertolongan yang datang, ia tidak membiarkan kami meragukan kenyataan bahwa kami semua akan selamat.


Pada sebuah sore pada hari keempat, sebuah pesawat sewaan yang kecil melintas di atas lokasi kecelakaan, dan beberapa orang dari kami yang melihatnya yakin pesawat itu memainkan sayapnya. Ini dianggap sebagai tanda bahwa kami telah terlihat, dan sesaat kemudian perasaan lega dan kegirangan menguasai rombongan. Kami menunggu sampai bayangan panjang yang terbentuk dari matahari sore merambat ke pegunungan, tapi sampai malam turun tidak ada pertolongan yang datang.


Marcelo meyakinkan bahwa pilot pesawat itu akan mengirim bantuan secepatnya, tapi yang lain yang telah letih oleh penantian mulai mengakui keraguan mereka. Mengapa mereka lama sekali menemukan kita? Seseorang bertanya. Marcelo menjawab pertanyaan ini dengan cara yang sama


seperti yang selalu ia lakukan: Mungkin helikopter tidak bisa terbang dalam udara pegunungan yang tipis, katanya, jadi regu penyelamat pasti datang berjalan kaki, dan itu akan butuh waktu.


"Tapi jika mereka tahu kita di sini, mengapa mereka belum menjatuhkan perbekalan?"


Mustahil, kata Marcelo. Apa pun yang dijatuhkan dan pesawat akan mudah tenggelam ke dalam salju dan hilang. Kebanyakan orang menerima penjelasan Marcelo yang logis. Mereka juga sangat percaya kekuasaan Tuhan. "Tuhan telah menyelamatkan kita dari kematian dalam kecelakaan," kata mereka.


Aku mendengarkan diskusi semacam itu seiring lamanya waktu yang kulewatkan untuk merawat Susy, adikku. Aku sangat ingin memercayai Tuhan seperti mereka. Tapi Tuhan telah mengambil ibuku, Panchito, dan semua yang lain. Mengapa Ia menyelamatkan kami dan bukan mereka?


Setiap waktu yang berlalu adalah penderitaan bagiku, dan dalam setiap detikku, aku mendengarkan dengan saksama sekiranya suara regu penyelamat mendekat. Aku tidak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan mereka, atau untuk pertolongan Tuhan, tapi pada saat yang sama suara berdarah dingin yang memaksaku untuk tidak menangis selalu berbisik di alam bawah sadarku, "Tidak ada seorang pun yang akan menemukan


kita. Kita akan mati di sini. Kita harus membuat rencana. Kita harus menyelamatkan diri."


Sejak saat-saat awal aku tersadar, aku mengelak dari kekhawatiran bahwa kami di sini seorang diri, dan ini mengingatkanku bahwa orang-orang menempatkan begitu banyak Keyakinan dan berharap kami akan selamat. Tapi segera aku menyadari bahwa orang-orang berpikiran seperti aku. "Orang-orang realistis", begitulah aku menyebutnya, termasuk Canessa dan Zerbino, dan Fito Strauch.


Kita telah melewati Curico, kita telah melewati Curico. Adalah kata-kata kopilot kami yang meracau saat ia sekarat.


Arturo Noguiera, yang terpaksa harus berdiam diri di pesawat karena kakinya hancur, menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari peta yang kompleks, mencari kota Curico. Akhirnya ia menemukannya, terletak di perbatasan Chili, di bagian luar lereng sebelah barat pegunungan Andes.

__ADS_1


Sampai saat ini, kami merasa seperti korban dari kapal tenggelam, tersesat di samudra tanpa tahu arah di mana daratan mungkin berada. Kini kami merasa tidak dapat mengendalikan keadaan. Kami hanya tahu sebuah fakta: Arah barat adalah Chili. Kalimat ini segera menjadi mantra bagi kami, dan kami memanfaatkannya untuk mendorong harapan melalui cobaan ini.


Keesokan paginya, 17 Oktober, adalah hari kelima kami berada di Pegunungan. Carlitos, Roberto, Fito, dan seseorang berusia dua puluh empat tahun yang bernama Numa Turcatti memutuskan waktu untuk mendaki. Numa bukan anggota Old Christians ia tergabung dalam penerbangan kami sebagai teman dari Pancho Delgado dan Gaston Costemale, tetapi ia sehat dan kekar seperti kami, dan telah berhasil melewati kecelakaan


yang berat. Aku belum mengenalnya dengan baik, tapi setelah beberapa hari yang kami jalani bersama, ia telah membuatku dan semua temanku yang lain terkesan oleh ketenangan dan ketabahannya. Numa tidak pernah panik ataupun lepas kendali. la tidak pernah rendah diri maupun putus asa. Ada kemuliaan dan ketulusan dalam diri Numa.


Semua orang tahu hal itu. la peduli kepada orang yang lebih lemah dan menenangkan seseorang yang menangis atau ketakutan. la peduli pada keselamatan kami seperti pada dirinya sendiri, dan aku tahu jika suatu saat kami akan keluar dari pegunungan ini, Numa pasti akan melakukan sesuatu, dan aku tidak terkejut bahwa ia suka rela bergabung untuk pergi mendaki.


Cuaca cerah saat mereka pergi. Aku sangat berharap kepada mereka, lalu menyibukkan diriku merawat Susy. Bayangan matahari siang telah menaungi Fairchild ketika para pendaki itu kembali. Aku mendengar kehebohan di dalam pesawat, dan aku mendongak untuk melihat mereka memanjat ke badan pesawat dan menghempaskan diri mereka ke lantai. Mereka kelelahan dan terengah-engah menghirup udara. Orang-orang segera mengelilingi mereka, mendesak mereka dengan banyak pertanyaan, menginginkan kabar yang menjanjikan. Aku mendekati Numa dan bertanya padanya bagaimana di sana.


la menggelengkan kepala dengan muka masam. "Benar-benar sulit, Nando," ia berkata sambil napasnya terengah-engah.


"Di sana sangat curam. Lebih curam daripada yang terlihat dari sini."


"Di sana tidak ada banyak udara," Canessa berkata. "Kamu tidak bisa bernapas, Kamu hanya bisa bergerak dengan sangat lamban."


Numa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saljunya terlalu dalam, setiap langkah sangat berat. Dan ada lubang dalam di bawah permukaan salju. Fito hampir saja terperosok."


Kamu melihat sesuatu di arah barat? aku bertanya.


"Kami baru mencapai setengah dari ketinggian gunung," kata Numa. "Kami tidak bisa melihat apa pun. Pegunungan menghalangi pandangan kami. Pegunungan itu lebih tinggi dari kelihatannya."


Aku beralih ke Canessa.


"Roberto," kataku, "Bagaimana menurutmu? Jika kita coba lagi, bisakah kita mendakinya?"

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2