Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 11


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Sungguh sulit menggambarkan kesedihan kami yang begitu dalam. Kematian teman-teman kami benar-benar mengguncang jiwa. Padahal sebelumnya kami yakin bahwa kami telah melewati masa-masa yang berbahaya, tetapi sekarang kami menyadari bahwa kami tidak akan bisa merasa tenang di pegunungan ini. Dengan berbagai cara, gunung ini bisa membunuh kami sewaktu-waktu. Aku merasa tersiksa dengan waktu kematian yang tidak pasti ini. Apakah ini masuk akal untukku? Daniel Maspons tidur sangat dekat di sebelah kananku. Dan Liliana tidur di samping kiriku. Dua-duanya mati. Kenapa mereka, dan bukan aku? Apakah aku lebih kuat daripada mereka? Lebih pintar? Lebih siap? Jawabannya jelas. Daniel dan Liliana mempunyai keingınan yang sama denganku, mereka ingin bertahan dan ingin hidup, mereka telah benar-benar memperjuangkan hidupnya dan mereka bertahan. Namun, nasib mereka kurang beruntung, mereka telah memilıh tempat tersebut untuk tidur, dan keputusan itu membunuh mereka. Sama seperti lbuku dan Susy ketika memilih tempat duduk di pesawat ini. Juga Panchito yang bertukar tempat duduk denganku sebelum kecelakaan. Kematian orang-orang ini menyakitkanku, tetapi juga membuatku takut karena di tempat ini kematian tidak memiliki perasaan dan acak, tidak ada keberanian, rencana, dan kekuatan yang mampu melindungiku dari kematian.


Beberapa saat kemudian pada malam itu, seperti mengejek rasa takutku, gunung itu menurunkan longsoran untuk kedua kalinya menuruni lereng dengan bergemuruh. Kami mendengarnya dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk, tapi salju itu melewati kami begitu saja. Fairchild telah terkubur oleh salju.


Bangkai Fairchild selalu menjadi tempat perlindungan yang aman bagi kami, tetapi sejak tertimbun oleh longsoran salju, tempat itu menjadi sunyi dan mengerikan. Salju yang sangat tebal dan dalam telah menimbun badan pesawat sehingga kami tidak dapat berdiri, kami hanya bisa merangkak di dalam ruangan itu. Kami menuju bagian belakang pesawat di mana ruangan tersebut dipenuhi dengan salju, dan hanya menyisakan sedikit ruangan kecil di dekat kokpit untuk tidur. Kami berkumpul menjadi satu. Sembilan belas orang, ruang yang seharusnya hanya cukup diisi oleh empat orang saja, tetapi tidak ada pilihan lain, kami saling berpelukan, lutut, kaki, dan siku kami berdesak-desakan pada malam yang mengerikan di ruangan sempit itu.

__ADS_1


Udara di dalam pesawat menjadi lebih tipis karena kelembapan yang tinggi dari salju menyebabkan udara dingin menjadi lebih ganas menusuk badan. Tubuh kami telah tertutup oleh salju, salju dengan cepat melelehkan panas tubuh kami dan membasahi pakaian kami. Bagian lebih buruk adalah semua barang milik kami terkubur di dalam salju yang menutupi lantai pesawat. Kami tidak memiliki selimut untuk menghangatkan tubuh, tidak memiliki sepatu untuk melindungi kaki kami dari salju, tanpa alas untuk melapisi kami dari permukaan salju yang membeku, dan kini salju adalah satu-satunya tempat kami berpijak.


Hanya ada ruangan sempit di atas kepala kami yang mengharuskan kami tidur dengan menurunkan bahu kedepan dan dagu menempel pada dada, tetapi tetap saja bagian belakang kepala kami membentur langit-langit pesawat. Ketika aku berjuang untuk mencari posisi yang nyaman dalam ruangan sempit dengan tubuh yang berdesak-desakan, aku merasakan tenggorokanku sakit dan aku harus melawan keinginan untuk berteriak. Seberapa tebal salju yang mengubur kami? Aku bertanya-tanya. Setengah meter? Tiga meter? Enam meter? Apakah kita telah terkubur hidup-hidup? Apakah Fairchild telah menjadi peti mati kami? Aku dapat merasakan tekanan salju yang menindih tubuh kami semua. Ia meredam semua desir angin dari luar pesawat dan mengubah semua didalam pesawat, membuatnya padat, menciptakan keheningan, dan menjadikan suara kami menggema, seolah-olah kami berbicara di dasar sumur. Aku berpikir, Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya terjebak dalam kapal selam di dasar laut.


Selain merasa kedinginan, aku merasa keringat dingin menetes di tubuhku. Aku merasakan dinding badan pesawat ini mengimpitku. Ketakutanku terhadap ruangan sempit menjadi kenyataan terjebak di gunung salju, tidak ada jalan keluar, dan tidak dapat lagi bertemu dengan Ayah. Aku terjebak dalam kerangkeng aluminium di bawah berton-ton salju yang mengeras. Dalam kepanikan, aku ingat kedamaian yang kurasakan saat berada di bawah longsoran salju, dan saat itu aku berharap mereka menemukan Liliana, bukan diriku. Waktu yang bergulir setelah itu adalah saat-saat yang paling gelap dari seluruh cobaan berat yang kami lalui. Javier menangisi Liliana dengan tersedu-sedu, dan kami semua berduka karena kehilangan teman-teman kami, teman dekat kami.


Roberto kehilangan teman dekatnya, Daniel Maspons. Carlitos kehilangan Coco Nicholich dan Diego Storm. Kami semua kehilangan Marcelo dan Enrique Platero. Kematian teman-teman membuat kami lebih tidak berdaya dan rapuh dari sebelumnya. Gunung ini telah menunjukkan kekuatannya dan tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali menggigil kedinginan dalam keadaan yang sangat menyedihkan di tempat tidur yang beralaskan salju, tidak ada selimut, tidak ada sepatu dan ruangan yang luas untuk meluruskan badan.


Aku melihat sebuah tiang aluminium kargo pesawat yang menonjol keluar dari salju. Tanpa berpikir panjang, aku mencabut tiang tersebut, ku pegang seperti memegang tombak, berlutut, kemudian mulai mengarahkan ke langit-langit pesawat.


Dengan mengerahkan seluruh kekuatanku, aku menusuk langit-langit pesawat itu berkali-kali, berusaha melubangi atap pesawat. Aku mendorong tiang itu ke atas, aku merasakan timbunan salju begitu tebal di atas pesawat yang membuat tiang itu sulit melubangi atap pesawat. Namun, akhirnya tiang tersebut dapat menembus atap. Kami bisa bernapas lega dan tidak lagi berpikir untuk terkubur hidup-hidup di dalam pesawat.

__ADS_1


Ketika aku mencabut pipa itu, udara masuk melalui lubang yang ku buat, dan kami semua dapat bernapas dengan lebih mudah seraya kembali menempati ruangan kami untuk tidur. Malam itu seperti tak berujung. Ketika akhirnya dini hari tiba, cahaya matahari mulai tampak dari jendela pesawat.


Kami tidak membuang waktu untuk berusaha membebaskan diri dari kuburan aluminium ini. Kami berusaha secepatnya karena pesawat miring ke arah gletser dan jendela di sebelah kanan kokpit menghadap ke atas. Salju yang sangat tebal menutupi pintu keluar di bagian belakang pesawat, kami tahu bahwa jendela di sebelah kanan kokpit adalah jalan terbaik untuk meloloskan diri dari dalam pesawat. Namun, jalan menuju kokpit juga tertimbun dengan salju. Lalu kami mulai menggalinya, menggunakan pecahan logam dan potongan plastik yang berfungsi sebagai sekop. Kami bekerja bergantian karena ruangan itu hanya cukup ditempati oleh satu orang saja. Dengan berbagi tugas, satu orang memecahkan salju yang sekeras batu dan yang lain menyekop salju di bagian belakang badan pesawat.


Saat senja mulai turun, aku tidak tega melihat teman-temanku yang menjadi sangat kotor dan kurus seperti para narapidana yang berusaha kabur dengan menggali terowongan dari penjara Gulag di Siberia.


Akhirnya, Roy Harley menaiki kursi pilot dan mendorong kaca jendela dengan keras hingga terbuka. Naik melalui kaca jendela yang telah terbuka tetapi masih penuh dengan salju yang keras, Roy berusaha menggali salju yang sangat dalam dan akhirnya sampai ke permukaan sehingga ia dapat melihat keluar. Terjadi badai gunung dengan tekanan udara yang tinggi dan salju yang turun sangat deras menyengat wajahnya. Dengan memicingkan mata karena terpaan angin, Roy melihat longsoran salju telah mengubur seluruh badan pesawat. Sebelum kembali ke dalam, ia melihat sekilas ke arah langit. Mendung sangat tebal.


"Ada badai salju," Roy berkata, ketika ia kembali masuk kedalam pesawat. "Dan salju yang menutupi pesawat terlalu tebal untuk kita lewati. Sepertinya kita harus bersembunyi di dalam sini. Kita akan terjebak di sini sampai badai berakhir, dan sepertinya badai ini akan lama."


Terjebak dalam cuaca yang buruk, kami tidak memiliki pilihan selain berada di dalam penjara yang menyedihkan dan menerima kesengsaraan ini. Untuk menyenangkan hati, kami mendiskusikan mengenai semua hal yang menyenangkan, rencana kami untuk bebas saat diskusi kami semakin jauh, sebuah gagasan baru muncul. Dua kali kegagalan dalam usaha pendakian meyakinkan yang lain untuk mencoba lembah yang terbentang kearah timur. Jika kami yakin bahwa kami dekat sekali dengan Cile, seharusnya semua air di kawasan ini pasti mengalir melalui kaki bukit kawasan Cile dan menuju ke Samudra Pasifik sebelah barat. Mereka berteori jika kami mengikuti aliran air, maka kami menemukan rute pelarian kami.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2