Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 20


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Sebelum siang, kami telah mendaki sekitar enam kilometer dari lokasi kecelakaan dan kemungkinan kami telah berada di ketinggian lima ribu meter di atas permukaan laut. Aku melangkah sedikit demi sedikit saat sakit kepala menyerangku, seperti cincin besi mengimpit kepalaku. Jari-jari kaki ku mati rasa, dan lenganku terasa sangat lelah. Setiap gerakan yang aku lakukan, mengangkat kepala, menoleh untuk bicara dengan Roberto membuatku terengah-engah seperti berlari sejauh satu kilometer, tapi sekuat apa pun aku mengharup udara, aku tidak dapat mengisi paru-paruku. Aku merasa seperti menarik nafas dengan hidung tertutup kain tebal.


Aku tidak menduganya saat itu, tetapi ternyata aku menderita efek ketinggian. Tekanan mental saat mendaki di udara yang tipis adalah salah satu bahaya terbesar yang dihadapi oleh seorang pendaki gunung. Takut ketinggian, yang pada umumnya dialami pada ketinggian lebih dari dua ribu lima ratus meter, bisa menyebabkan gejala-gejala kemunduran fisik, termasuk sakit kepala, kelelahan hebat, dan pening.


Pada ketinggian lebih dari empat ribu meter, kondisi itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan kematian mendadak. Di tempat yang sangat tinggi, sulit untuk menghindari berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh ketinggian, tapi kondisi itu di perburuk oleh pendakian cepat. Ahli pendakian menganjurkan bahwa seorang pendaki tidak di perbolehkan mendaki lebih dari tiga ratus meter dalam satu hari, supaya tubuh mendapatkan kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan udara yang tipis. Kami telah mendaki dua kali lipat dari jarak itu sepanjang pagi, dan akan semakin parah dengan melanjutkan mendaki ketika tubuh kami sangat memerlukan istirahat.


Akibatnya, tubuhku yang kekurangan oksigen bekerja keras mengatasi udara yang menipis. Detak jantungku berdetak semakin cepat dan darahku mengental dalam urat nadi, mekanisme yang dilakukan tubuhku untuk menghemat oksigen di dalam aliran darah dan mengalirkannya dengan cepat ke seluruh organ dan jaringan tubuh yang penting. Pernapasanku terus meningkat sampai kecepatan yang tidak normal, dan dengan semua uap yang ku buang saat aku mengembuskan napas, aku semakin kekurangan cairan setiap kali bernapas.


Untuk menyuplai sejumlah besar air yang diperlukan agar tidak dehidrasi di tempat yang sangat tinggi, seorang pendaki yang berpengalaman membawa kompor gas kecil untuk mencairkan salju, dan minum beberapa galon cairan setiap hari. Satu-satunya sumber cairan kami adalah salju yang kami isap di genggaman tangan, atau mencairkannya di botol kaca yang kami bawa. Itu sedikit membantu.


Dehidrasi dengan cepat melemahkan tenaga kami, dan kami terus mendaki dengan kondisi tubuh yang sangat kehausan.


Setelah lima atau enam jam mendaki, kami mungkin telah mendaki setinggi 800 meter, tetapi dengan semua perjuangan kami, puncak itu tidak juga semakin dekat. Semangatku menurun saat aku mengukur jarak ke puncak, dan menyadari setiap langkah hanya membawaku kurang dari empat puluh sentimeter lebih dekat dengan puncak gunung.


Aku sangat menyadari bahwa kami telah melakukan tindakan yang mustahil. Diliputi oleh rasa takut dan kegagalan, aku merasakan dorongan untuk berlutut dan tetap di sini atau kembali ke pesawat.


Lalu tiba-tiba terpikir, Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanyut dalam jarak. Aku harus membagi gunung ini menjadi target-target.

__ADS_1


Di depanku di permukaan lereng adalah sebuah batu besar. Aku memutuskan untuk melupakan puncak gunung dan menggantikan nya dengan batu besar itu sebagai tujuan utamaku. Aku berjalan susah payah mencapainya, tapi seperti puncak,


batu besar itu semakin jauh saat aku mendakinya. Aku menyadari bahwa aku dipermainkan oleh luasnya pegunungan ini. Tidak ada satu pun lereng yang memberiku perspektif, tidak ada rumah, tidak ada manusia, tidak ada pepohonan, batu yang


seakan lebarnya tiga meter dengan jarak 90 meter, sebenarnya sepuluh kali lebih besar dan jaraknya lebih dari satu setengah kilometer. Aku terus mendaki ke batu besar itu tanpa berhenti, dan ketika akhirnya sampai di sana, aku mengambil tanda lain dan memulai dari awal lagi.


Aku terus mendaki seperti itu selama berjam-jam, hanya memfokuskan perhatianku terhadap beberapa objek batu, bayangan, suara-suara yang tidak lazim di salju, hingga jarak ke objek-objek itu menjadi hal terpenting di dunia.


Satu-satunya suara adalah napas ku yang berat dan bunyi sepatuku yang berderak di salju. Langkahku semakin cepat dengan sendirinya, dan aku mulai kehilangan kesadaran. Jauh dalam benakku aku masih merindukan Ayah, aku masih menderita rasa takut, aku masih khawatir misi kami akan gagal, tapi kini sepertinya semua pemikiran itu membisu dan tidak lagi penting, seperti suara dari radio yang berbunyi di kamar sebelah.


Langkah dorong, langkah dorong. Tidak ada lagi yang aku pikirkan. Kadang-kadang aku menjanjikan diriku sendiri untuk beristirahat ketika aku telah mencapai tujuan berikutnya, tetapi aku tidak pernah menepati janjiku.


Aku terus mendaki hingga Roberto dan Tintin harus berteriak untuk menghentikan aku. Istirahat. Kami makan beberapa potong daging dan mencairkan salju untuk minum.


"Apa kamu yakin kita bisa sampai puncak sebelum malam? " Tanya Roberto. Ia mendangak memandang puncak gunung.


Aku menatap ke bawah ke lokasi kecelakaan. Aku masih bisa melihat sosok kecil teman-teman memandang kami dari tempat duduk yang mereka tarik keluar dari pesawat. Aku bertanya-tanya apa yang mereka lihat dari pandangan mereka. Apakah mereka tahu betapa sulitnya perjuangan kami? Apakah harapan mereka mulai memudar? Jika pada suatu titik mereka melihat kami berhenti, berapa lama mereka akan menunggu kami untuk bergerak lagi? Dan apa yang mereka lakukan jika kami tidak bergerak? Semua pikiran ini muncul sebagai suatu pengamatan yang dingin dan berjarak. Aku tidak lagi merasakan ikatan emosional dengan teman-teman yang jauh berada


di bawahku. Aku berharap mereka baik-baik saja, tapi duniaku telah berbeda sejak aku meninggalkan pesawat. Kini aku terjebak di dunia yang terpencil.


Roberto berdiri dan mengangkat tas gunungnya. "Apa yang telah kita lakukan hingga harus menanggung semua ini? " Ia menggerutu.


Akhirnya aku menemukan tempat dipermukaan salju dibawah batu besar. Sinar matahari telah menghangatkan batu besar itu seharian, panasnya menyebar dan mencairkan salju di cekungan batu.

__ADS_1


Batu ini miring ke lereng, tapi dia akan melindungi kami dari angin dan hawa dingin. Pertama kami meletakkan alas kursi lalu membuka kantong tidur diatasnya. Hidup kami tergantung pada kantong tidur asal-asalan ini.


"Apa kamu sudah buang air kecil? " Roberto bertanya padaku saat aku hendak masuk kantong tidur, "Jangan sampai sepanjang malam kamu keluar masuk cuma buat pipis."


"Aku sudah kencing," Aku menjawab.


"Kamu? Jangan sampai kamu kencing dikantong tidur ini. "


Dengan marah Roberto berkata, "Jika ada yang kencing di kantong tidur ini, pasti kamu."


Aku tersenyum melihat Roberto menggerutu. Ia telah mendapatkan kembali sifat dasarnya.


Ketika kami berada di dalam kantong tidur, kami mencoba mencari posisi yang nyaman, tapi batu ini sangat keras, dan alasnya sangat cekung dan curam, dengan punggung menghadap gunung dan kaki tertancap erat pada cekungan. Lingkaran salju kecil itu menahan kami agar tidak tergelincir ke lereng. Kami lelah, tapi aku terlalu takut dan dingin untuk beristirahat.


"Roberto," kataku, "Kamu mahasiswa kedokteran, kan. Bagaimana seseorang mati karena kelelahan? Apakah sakit?"


Pertanyaanku sepertinya membuatnya jengkel.


"Apakah penting bagaimana caramu mati?" katanya. "Kamu pasti akan mati dan itu yang terpenting."


Kami diam beberapa lama. Kini langit berwarna hitam pekat, dan dihiasi jutaan bintang bertaburan, bintang-bintang itu


berkilau dan menyala seperti titik api di atas sana. Berada di ketinggian ini, aku merasa bisa meraih dan menyentuhnya. Di tempat dan waktu yang berbeda, aku akan terpesona oleh keindahan ini. Tapi di sini, saat ini, pemandangan ini sangat mengerikan. Dunia memperlihatkan kepada diriku, betapa lemah dan tidak berartinya diriku.

__ADS_1


Hanya sementara. Aku mendengar bunyi napasku, dan berkata pada diriku bahwa selama aku masih dapat bernapas, maka aku masih hidup. Aku berjanji pada diriku untuk tidak memikirkan masa depan. Aku akan menjalani hidupku saat ini, melalui setiap tarikan napas, sampai aku menghabiskan semua energi yang aku miliki.


(Bersambung)


__ADS_2