Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Terror Gunung Ciremai Part 1


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Tidak ada yang salah selama kita naik, sampai puncak juga ngecamp. Masalah baru muncul menjelang kita turun, di Pengasinan Ayu haids.


Setelah memasang pembalut, kita langsung turun. Pamit sebentar dengan pendaki Wonosobo yang kemarin sempat ngobrol dipuncak. Mereka menyarankan ngecamp semalam lagi karena sudah mulai sore. Tapi karena besok kita berdua kerja, ngecamp semalam lagi jelas ngga mungkin.


Masuk hutan lagi. Ayu jalan duluan, aku dibelakangnya biar bisa mengawasi. Kita berjalan pelan. Jalur Linggarjati agak bahaya untuk dibawa lari. Sebentar-sebentar Ayu minta istirahat. Mungkin pengaruh haids.


Keanehan mulai terasa ketika kita melewati pos Sanggabuana, kita tidak bertemu satu pendaki pun yang naik. Padahal ramainya pendaki inilah yang membuat saya berani turun walau kesorean.


Jam 5 sore kita sampai di pos Batu lingga. Ada sedikit tanah lapang buat kita istirahat. Disini kita masak mie dan nyeduh kopi.


"Gimana di, udah sore banget. Ngecamp lagi apa gimana? " Kata Ayu. Mukanya jelas cape dan khawatir.


"Lanjut aja Yu, sekalian cape." Kataku.


Setelah dirumah barulah aku tahu, kesalahan fatal dibuat disini dan di Sanggabuana.


Ayu cerita, waktu di Sanggabuana, dia sebel banget harus bentar-bentar berhenti karena kasih jalan pendaki yang mau naik. Dia sempet ngomel, "andai ngga ada yang naik lagi, enak nih turun, ngga keganggu"


Entah kebetulan atau tidak, memang betul kami tak pernah lagi berpapasan dengan pendaki lain.


Kesalahan kedua, dan yang paling fatal. Di Batu lingga Ayu membuang bekas pembalut nya ke kerimbunan semak.


Mulai dari sini sampai bawah adalah terror.


Beres-beres peralatan. Packing ulang. Kita langsung jalan. Hari sudah gelap karena menjelang magrib. Ayu didepan, aku dibelakang.


Bulu kuduk mulai berdiri. Rasanya diantara semak, dibalik pohon, disetiap tempat yang gelap ada yang mengawasi. Kepalaku mulai nyeri. Berdasarkan pengalamanku, kepala yang nyeri biasanya ada aktifitas mistis.


Di belokan hutan, aku kaget melihat Ayu berhenti dan badannya menghadapku. Suaranya gemetar, dia bilang, "Di, lu jalan duluan ya. Gw pegangan keril lu ya. "


Aku mengangguk. Jadi sekarang aku jalan duluan, sementara Ayu pegangan carrierku dibelakang. Jalanan sudah gelap total. Penerangan cuma dari cahaya headlamp


Dari sudut mata aku melihat ada bayangan hitam yang berdiri di pohon, tapi waktu aku menoleh tidak ada siapapun. Lalu ada suara bisik-bisik yang jelas sekali, yang tadinya kupikir pendaki yang naik, nyatanya jalur didepan cuma kosong dan gelap tidak ada siapapun. Disini aku berdoa dalam hati mohon perlindungan.


Tiba-tiba Ayu menangis, dia jatuh terduduk, kepalanya disembunyikan di lututnya. Dalam sesenggukannya dia berulangkali menyebut pocong... Pocong .. Pocong


Mendengar itu bulu kudukku berdiri total. Kulihat segala arah dengan panik. Sosok itu tidak ada. Aku membujuk Ayu untuk berjalan lagi, sambil mengingatkan untuk berdoa.


Akhirnya Ayu mau berjalan lagi setelah matanya kututup dengan buff. Dengan cara ini, Ayu tidak lagi histeris, tapi jalan kami jadi luar biasa lambat.


Sepanjang jalan aku masih terus melihat kelebatan-kelebatan hitam. Kadang semak-semak yang bergoyang sendiri. Suara-suara dalam bahasa sunda yang aku ngga ngerti artinya terdengar entah ditelinga entah suara pendaki yang terbawa angin.


Badanku gemetar ketika ada sebuah bayangan diujung jalur, dia jongkok dibawah pohon. Kali ini bayangan itu tidak hilang. Aku istighfar semakin kencang, Ayu memegang tanganku dengan erat. Semakin mendekat, kami akan terpaksa melewatinya karena sosok itu tepat di pinggir jalur.


Nyaliku habis. Aku diam ditempat. Gemetar dan keringetan. Kali ini Ayu sudah memelukku. Dia walau tidak melihat apa-apa tentu merasa ada yang ganjil. Lama aku berdiri berharap sosok itu hilang, sehingga kami bisa lewat. Tapi dia tetap disana.


Tiba-tiba punggungku ada yang menepuk. Seorang pendaki yang sedang turun. Alhamdulillah kami selamat, aku lega. Dia melambaikan tangan mengajakku jalan. Aku langsung bergerak. Sosok itu sudah hilang. Aku mengikuti pendaki ini hingga tiba-tiba dia hilang dikegelapan.


Sebuah suara pelan terdengar, "jalan lurus aja bang, jangan tengok kekiri."


Aku dan Ayu masih terus berjalan pelan. Teror nyata bercampur dengan halusinasi membuat mentalku semakin lemah. Sedetik yang lalu aku melihat tangan keluar dari tanah, ternyata hanya akar.


Dalam keadaan ini akhirnya aku ambruk. Suara istighfar pelan masih terdengar dari mulut Ayu.


Aku terbangun saat merasakan air segar di mulutku. Ternyata Ayu menuangkan air agar aku siuman.


Kami mulai berjalan lagi.


Keadaan sekarang berbalik. Aku yang hampir tidak punya tenaga tersisa dipapah oleh Ayu. Kelebatan-kelebatan bayangan masih terlihat diantara pohon. Disuatu tempat aku bahkan melihat kaki yang berayun-ayun. Tak berani memastikan kaki siapa, aku memejamkan mata.

__ADS_1


Setelah melewati turunan yang agak tajam, aku melihat dikiri jalur ada tenda. Aku lega bukan main, akhirnya kami selamat. Tiga orang tampak sedang mengelilingi api unggun. Satu orang melihat kami, dia melambaikan tangan.


Aku dengan gembira setengah berteriak ke Ayu. "Yu, kita mampir dulu kesitu. Ngopi, istirahat, besok aja jalan lagi. " Sambil menunjuk ke arah tenda.


Tiba-tiba Ayu menamparku dengan keras sambil berteriak-teriak histeris, "di, sadar di! Istighfar!! Ngga ada apa-apa disitu!! "


Tiga orang itu sekarang semuanya melambai-lambai memanggil. "Itu ada orang Yu, ayo kesana. ngga enak, udah dipanggil-panggil. Ayo Yu... "


Ayu menamparku lebih keras sambil berteriak di kupingku menyuruh istighfar.


Kali ini ketika aku menengok ke kiri ketiga orang itu sudah berjarak satu meter didekatku, sambil nyengir aneh, tiba-tiba kepala ketiganya lepas dan jatuh ketanah. Sambil cekikikan kepala tadi menggelinding ke arahku.


Aku histeris dan langsung lari. Beberapa lama baru aku sadar, aku meninggalkan Ayu dibelakang. Kakiku lemas, jantung berderap kencang. Mau balik menyusul Ayu, aku kelewat takut.


Tapi tak lama kulihat Ayu berjalan turun. Begitu dekat, dia cuma menepukku mengajak jalan lagi. Aku berjalan mengikutinya dibelakang.


Tapi pelan-pelan aku memperlebar jarak dengan Ayu. Terus terang aku ngga yakin, Ayu yang jalan didekatku adalah Ayu temanku. Segala doa aku panjatkan. Ada rasa, menyesal kenapa aku tidak hapal ayat kursi.


Aku berjalan dengan mata menatap ke tanah. Karena di sekitarku penampakan ada di mana-mana. Bahkan sambil mata terpaku ke tanah, aku bisa melihat disebelahku ada kaki kaki yang kulewati. Ada yang kecil, besar. Ada yang hitam. Ada yang memakai kain putih.


Jantungku serasa mau copot ketika Ayu yang berjalan tiga meter didepanku tiba-tiba berlari dan langsung naik ke pohon sambil tertawa cekikikan. Aku langsung putar arah, lari keatas lagi. Tidak jauh aku lihat Ayu bersandar dipohon sambil menangis. Instingku mengatakan ini Ayu yang asli. Tapi begitu kusentuh dia berteriak-teriak histeris.


"PERGI!! PERGI!! "


Dia langsung jatuh lemas saat dia sadar aku yang menyentuhnya.


"Di, ini elu kan? "


Kami dengan badan gemetar dan doa-doa mulai berjalan lagi. Semua penampakan muncul. Ada yang bertengger dipohon, kepala yang menyembul di semak-semak. Bau-bau busuk dan wangi melati yang berganti-ganti.


Aku dan Ayu berusaha tetap berjalan ditengah jalur. Kami sangat takut jika terlalu kiri atau kanan ada tangan yang akan menarik kami ke semak.


Belum lagi suara-suara. Ada suara yang terdengar marah tapi dalam bahasa Sunda, ada yang tertawa cekikikan, ada yang mengucapkan assalamu'alaikum berulang-ulang.


Aku sempat berlindung dibalik pohon ketika melihat kuda lewat tanpa ada penunggangnya.


Lalu suara burung terdengar jelas. Kaok.. Kaok... Kaok...


Entah aku sudah kelewat terbiasa atau sudah pasrah. Aku seratus persen yakin ini pasti burung jadi-jadian.


Lewat diatas kami burung hitam, terbang dengan pelan. Ternyata bukan burung jadi-jadian, ini burung biasa. Aku lega selega-leganya.


Aku mendengar Ayu istighfar pelan, lalu jatuh pingsan. Perasaanku kembali berantakan. Ada apa lagi ini?


Sebelum aku juga pingsan, aku sempat melihat apa yang membuat Ayu tumbang. Dibelakang burung tadi, ada yang terbang mengikuti, sebuah kurung batang.


Aku terbangun di pos Cibunar. Bingung dan disorientasi. Sampai aku tersadar lagi, kejadian tadi malam bukan mimpi, badanku kembali gemetar. Beberapa orang diruangan itu menyadari aku sudah terbangun, langsung menghampiri. Yang satu memberikanku teh panas manis yang saat kuminum langsung membuatku merasa tenang lagi. Yang satunya duduk disebelahku sambil mengusap-usap punggungku.


“Diminum pelan-pelan aja teh nya Jang.” Kata si Bapak itu.


Aku memperhatikan seluruh ruangan, masih belum yakin kalau aku sudah tertolong.


“Pak, teman saya?” aku menanyakan keberadaan Ayu. Tidak adanya Ayu disitu langsung membuatku terserang panik.


“Ada di ruangan sebelah. Tidak apa-apa.”


Aku lalu menceritakan semua kejadian yang kami alami sampai akhirnya kami pingsan. Bapak itu mendengarkan dengan tenang tidak nampak terkejut sama sekali. Asap rokok sesekali mengepul dari bibirnya. Semua yang kuingat kuceritakan, kecuali kejadian Ayu membuang pembalutnya di semak. Selain takut, ada rasa malu karena telah mengotori gunung.


“Kunaon bisa sampe begitu?” kata si Bapak,”kejadian gaib memang sering disini, tapi saya teh baru denger yang sampe parah begini.”


“Saya juga ngga tahu pak.” Jawab saya berbohong.


Bapak itu menatap lurus ke mataku seperti berusaha membaca, dia lalu bertanya,”punten nya jang, punten, bapak cuma nanya, kalian diatas zinah?”


Aku gelagapan ditanya seperti itu. “Astagfirullah ngga pak. Saya sama Ayu cuma temen. Kita juga bawa tenda masing-masing.”

__ADS_1


Bapak itu masih menatapku dengan pandangan tidak yakin.


Tapi memang itu kenyataannya. Aku dan Ayu sepakat untuk tidur ditenda masing-masing. Ayu membawa tenda satu orang yang sering ku ejek sebagai tenda orang mati. Dan aku membawa tarp tent yang baru kubeli sebelum berangkat. Kami memang akrab, tapi keakraban kami sama sekali tidak mengarah kearah romantis.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu sebentar. Nanti ada yang datang bawa lauk dari bawah, kamu langsung makan ya. Diisi perutnya.”kata si Bapak.


Aku mengangguk. “Terima kasih pak.”


Bapak itu langsung keluar, menemui beberapa orang yang sejak tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan kami. Dari suaranya mungkin ada sekitar empat orang. Tapi aku sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan karena dalam bahasa sunda. Tapi naik turun intonasi obrolan mereka yang pastinya membicarakan aku dan Ayu membuatku merasa tidak enak.


Jam ditanganku menunujukkan jam 11 siang. Buat orang yang habis-habisan diteror tadi malam, tak terbayangkan gembiranya melihat cahaya matahari.


Aku melihat carrierku dan Ayu ada dipojok ruangan, juga sepatu milik Ayu. Kubuka carrierku mencari handphone dan charger saat kudengar erangan suara Ayu. Suaranya ada diruang sebelah. Bulu kudukku kembali berdiri. Apakah cobaan ini belum selesai?


Aku memberanikan diri melongok ke ruangan sebelah. Hatiku langsung mencelos melihat keadaan Ayu. Satu orang ibu-ibu tua sedang memijit kening Ayu sambil komat-kamit. Tiga orang lainnya memegangi tangan dan kakinya. Ayu sendiri sedang berontak hebat berusaha melepaskan diri. Badannya dilentingkan keatas kebawah dengan brutal, kakinya berusaha menendang orang yang memeganginya. Matanya merah melotot hingga nyaris keluar. Ketika dia melihatku, ayu tertawa mendesis mirip ular lalu berteriak histeris.


Aku shock melihat keadaan Ayu. Hingga Cuma bisa beridiri ditempat. Bapak tadi lalu menarikku, dan kembali menyuruhku meminum air teh tadi.


“Jangan kesitu jang, disini aja.” Kata si Bapak.


“Temen saya pak….” Kataku tanpa bisa meneruskan kalimat.


“Sebentar lagi ngga apa-apa. Udah disini aja.”


Aku diam. Tanganku yang memegang gelas teh gemetar pelan. Tiba-tiba aku teringat dengan meeting bulanan. Pekerjaan yang memaksaku untuk terus turun walau ada keinginan untuk ngecamp semalam lagi. Terlambat sudah. Aku membayangkan muka murka atasanku atas ketidakhadiranku. Laporan-laporan yang harus kuserahkan, wajah kecewa rekan-rekanku. Aku mendesah.


“Pak, kira-kira sore temen saya udah normal belum yak? Bis arah Jakarta sampe malem kan ya Pak? Saya hari selasa harus sudah ngantor pak.” Tanyaku pada si Bapak.


Si bapak menjawab ringan, tapi bagai petir di telingaku,”Sekarang teh hari rabu jang.”


Astagfirullah.aku pingsan tiga hari??


Tidak lama ibu tua tadi keluar. Dia berjalan lemah menghampiri kerumunan orang didepan. Disitu aku memperhatikan keriput tangannya. Ibu ini sudah tua sekali, mungkin usianya hampir tujuh puluh tahun. Disitu dia berbicara pelan, yang lain mendengarkan. Pada suatu kalimat beberapa orang tampak terkejut, lalu mengangguk-angguk tanda mengerti.


Bapak tadi lalu menghampiriku. “Jang, kita turun duluan ya. Kamu bapak bonceng. Temen kamu nanti nyusul turun. Soalnya motornya cuma satu.”


Aku tidak bisa tidak selain setuju. Ketika akan mengangkat carrier, si bapak melarang. “Udah disitu aja, biar nanti ada yang nurunin. Hayuk jang.” Kata si Bapak, ada sedikit nada memaksa.


Benar diluar ada motor yang diparkir. Si bapak naik kemotor dan menyalakannya. Aku lalu naik dibelakang. Tapi ketika digas motor itu tiba-tiba mati.


Aku turun lagi karena si bapak tampaknya akan menyela motor. Sekali sela dan hidup. Aku naik lagi. Tapi ketika digas motor itu mati lagi.


Dua orang lalu menghampiri kami. Yang seorang menggantikan si bapak dan menyalakan motor. Motor itu kembali menyala. Dia lalu berjalan lima meteran lalu berputar lagi. Tapi kembali mati ketika aku naik ke motor.


Aku merasa tampaknya penghuni Ceremai tidak akan mau melepaskan kami dengan mudah.


Akhinya jam 4 sore si bapak itu memanggilku masuk. Didalam ada si ibu tua sudah menunggu. Ibu itu mengatakan sesuatu kepada si bapak yang mendengarkan dengan menunduk menatap lantai. Ibu ini pastinya tidak bisa berbahasa Indonesia.


“Jang, si emak udah berusaha tapi setan yang masuk ketubuh temen si ujang ada banyak. Dikeluarin satu, yang lain masuk. Begitu terus. Dan ada satu makhluk yang emak sendiri ngga bisa ngeluarin. Bentuknya ular hideung bertanduk.”


Aku mendengarkan dengan khawatir, intonasi si bapak mengisyaratkan ada kabar yang lebih buruk.


“Makhluk itu dendam sama temen si Ujang, karena temen si Ujang udah lancang ngotorin rumahnya ceunah. Jadi temen si Ujang mau diambil, mau dikawinin. “


Sekarang aku benar-benar panik. “Pak tolong pak, bilangin saya minta maaf, tolong pak, bu tolong bu…” aku meratap.


“Iya Jang, tenang. Kata si emak, makhluk ini juga ngga jahat. Dia maklum dengan kalakuan manusia pendaki ayeuna, tapi kelakuan temen Ujang udah keterlaluan.”


Ada sedikit perasaan lega mendengar ucapan si bapak barusan.


“Dia akan ngelepas temen si Ujang, tapi ada syaratnya.” Sambung si bapak.


“Apa syaratnya pak?” tanyaku khawatir.


“Ujang malam ini harus naik, dan ambil lagi kotoran yang kemarin dibuang temen si Ujang.”

__ADS_1


Seluruh sendi ditubuhku langsung bergetar mendengar syarat barusan.


__ADS_2