
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Aku melihat kapten rugby kami, Marcelo Perez, diikuti oleh beberapa yang lain tampak sedang membantu para survivor. Kami lalu coba membersihkan kabin pesawat dari besi-besi tajam bekas kursi penumpang juga dari barang-barang lain. Sementara Gustavo, Daniel Fernandez dan Moncho Sabella mencoba berbicara kepada co-pilot yang ternyata masih hidup walau mengalami disorientasi.
Tuhan, aku lelah sekali. Mengapa susah sekali untuk bernafas?
Aku menatap ke bagian belakang pesawat. Diluar sana bagaikan dunia lain, hanya tampak putih di mana-mana. Untuk kami yang seumur hidup belum pernah melihat salju, dunia diluar sana terlihat mencekam.
Sebenarnya dimana kami? Apa mungkin pesawat jatuh di tengah-tengah pegunungan Andes? Bagaimana mungkin pesawat yang penuh bahan bakar tidak meledak saat jatuh dan akhirnya terbelah?
Lalu kumelihat teman baikku, Bobby Francois, tampak sedang duduk diatas koper dihamparan salju, kepalanya berputar melihat sekeliling. Dia lalu berkata padaku, "kita m4mpus."
Lalu datanglah malam. Dalam sekejap semuanya menjadi gelap gulita. Kami berdempet-dempetan di kabin. Untuk penerangan, kami menyalakan korek api. Ada rasa khawatir karena kami bisa mencium bahan bakar pesawat di sana-sini.
Udara diketinggian ini terasa sangat tipis, membuatku cepat kelelahan. Aku memilih tempat dipojok agak menjauh dari orang-orang yang terluka, tubuh yang termutilasi dan mayat-mayat temanku. Kulihat tanganku penuh darah.
Jaring pembatas kompartemen dengan deck penumpang, diatur sedemikian rupa, digantung kanan kirinya ke tiang alumunium dan berfungsi menjadi hammock untuk satu orang. Ide brilliant ini dilakukan oleh orang yang baru dipesawat ini kukenal, Coche Inciarte.
Didalam kegelapan, tubuh kami saling menumpuk untuk membantu melawan dingin, dan mencoba untuk tidur. Aku memejamkan mata dan berpikir betapa sialnya aku. Tapi mengingat teman-teman yang kehilangan nyawanya hari ini, aku malu sudah berpikir begitu.
__ADS_1
Malam pertama itu terasa sangat panjang. Aku terbangun karena mimpi buruk. Seluruh kabin nampak membeku. Apapun benda yang kami buat sebagai blokade ditempat pesawat terbelah nampak menjadi es. Erangan-erangan kesakitan terdengar dimana-mana. Cahaya matahari pagi yang kami tunggu seakan tidak akan pernah datang. Kurasa tak ada yang mampu tidur diantara kami. Seluruh tubuh kami menggigil berusaha melawan dingin. Aku terkejut ketika melihat jam, ternyata baru jam sembilan malam. Entah apa kami masih hidup hingga besok.
Lalu cahaya pagi yang mendung akhirnya menyentuh pesawat kami yang sudah babak belur. Lalu kulihat Coche Inciarte menatapku, tampak bingung, seolah-olah dia melihat hantu. Malam yang kelewat dingin itu rupanya telah membuat kami tampak tua hanya dalam hitungan jam.
Badan pesawat tampak terbaring miring, sementara jendela pesawat disisi lain menghadap ke langit. Nampaknya pesawat sudah patah sebelum menubruk tanah. Kabel-kabel nampak lepas dan tergantung dilangit-langit pesawat.
Lalu aku keluar dan langsung melihat pemandangan yang mencekam. Pegunungan salju mengurung kami bagaikan sebuah Amphitheater raksasa berbentuk U yang terbuka di bagian barat. Aku langsung merasa ingin menangis.
Pagi itu aku berdua dengan Gustavo Zerbino. Beberapa teman yang terluka akhirnya meninggal tadi malam. Beberapa, seperti Enrique Platero keadaannya stabil. Tapi Susana, adik perempuan Nando Parrado keadaannya nampak semakin buruk. Nando sendiri sedang diambang kematian, dia koma.
Yang pertama kali kami lakukan adalah memindahkan tubuh-tubuh yang sudah meninggal dari kabin dan meletakkannya di salju.
Berbeda dari hari sebelumnya, ketika salju disekeliling kami terasa lembut (Carlos Valeta yang salah menginjak salju sempat terbenam hingga melewati kepala), hari ini keras dan membeku. Di sekeliling kami diantara salju, mencuat batu-batu hitam bergerigi juga puing-puing pesawat.
Sebelum akhirnya meninggal, co-pilot, Dante Lagurara sempat mengatakan kami baru saja melewati Curico dan kemungkinan kami sekarang berada di kaki gunung yang masuk wilayah Chili. Altimeter di pesawat menunjukkan angka 7.000 kaki. Dikemudian hari barulah kita mengetahui, semua informasi itu salah.
Marcelo Perez membentuk sebuah kelompok untuk mengumpulkan makanan dan barang apapun yang berguna yang dapat ditemukan. Tapi hanya sedikit makanan yang berhasil dikumpulkan.
Barang dan makanan yang berhasil dikumpulkan dijatahkan dengan sama rata. Saat itu tidak ada perselisihan sama sekali tentang pembagian jatah.
Disini kami harus berusaha tetap tenang, jika panik, kita mati. Apapun rasa sakit, sedih dan menyesal kami simpan untuk diri sendiri. Semua orang tampak lesu, mungkin karena efek ketinggian. Kami terus mengatakan pada diri sendiri, yang terburuk sudah lewat. Kita harus tetap positif agar bisa terus mengobati yang terluka, dan memberi mereka harapan. Mereka sekarang menjadi tanggung jawab kita.
Marcelo dan kelompoknya mengatur bagasi kosong yang kami temukan menjadi bentuk salib raksasa, berharap penyelamat kami bisa melihatnya dari atas.
__ADS_1
Kami juga membuat tanda S.O.S di salju.
Tapi kenyataan diluar harapan. Tidak ada yang datang menyelamatkan kami. Lalu malam datang lagi, kami kembali masuk ke dalam kabin pesawat, berharap dinginnya malam ini tidak seberutal malam yang lalu.
Pagi berikutnya dengan jelas kami mendengar suara pesawat melintas tepat diatas kami. Tidak lama setelahnya, pesawat lain juga melintas, hanya lebih tinggi dari yang pertama. Setiap dari kami berani bersumpah, kami melihat salah satu pesawat itu memiringkan sayapnya, tanda kalau mereka melihat kami. Kami sangat gembira, pertolongan akan segera datang. Kami sangat yakin. Satu jam kemudian sebuah pesawat bermesin ganda juga terdengar, kami percaya pesawat itu dikirim untuk memastikan koordinat kami, para survivor.
Kami berlarian kesana-sini, berteriak-teriak dan menangis karena kami akan segera diselamatkan. Dalam ephoria itu perhatian kami sekarang terfokus bagaimana menjelaskan kepada keluarga teman kami yang sudah meninggal tentang apa yang terjadi. Tidak ada firasat sedikit pun bahwa setengah dari kami akan segera menyusul mereka ke alam baka.
Terlepas dari semua prediksi dan harapan, tidak ada pertolongan yang datang hari itu. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan tak terjawab: kenapa? Kenapa kami? Kapan pertolongan datang?
Berkali-kali kami menguatkan diri dengan kata-kata: ini bukanlah misi penyelamatan yang mudah, mereka pastinya membutuhkan helikopter atau kemungkinan saat ini mereka sudah bergerak dengan kuda dan bagal, tak lama lagi mereka pasti akan terlihat di cakrawala.
Saat malam kembali datang, sekali lagi kami berhimpitan di kabin yang suram. Satu malam lagi yang penuh kengerian.
Pada hari ketiga, kami mendengar dengungan pesawat lagi. Tetapi yang mengejutkan, mereka tidak lagi tepat diatas kami. Pencarian telah pindah ke area lain. Kuingat hari itu aku melihat jauh diatas, pesawat komersial terbang melintasi kami. Aku mengangkat tangan dan berdoa, memohon, agar orang-orang dipesawat itu melihat kami dan mengirimkan bantuan. Bahkan sampai hari ini, tiap kali aku terbang melintasi pegunungan, aku masih merasakan emosi itu dan berdoa agar Tuhan memberkati para gembala dibawah sana yang sedang meringkuk kedinginan didalam gua.
Kami semua tak tahu apa yang membuat pertolongan begitu lama, tapi kami tetap meyakinkan diri bahwa mereka sedang dalam perjalanan. Apa yang pesawat itu cari di area yang jauh dari kami? Mungkin sisa pecahan pesawat Fairchild? Atau lokasi kecelakaan? Atau lokasi ekor pesawat yang hilang? Hari itu kami masih dibiarkan terus dalam kebingungan.
Lambat laun, seiring berlalunya hari, kabin pesawat yang hancur itu bukanlah sekedar puing-puing. Dia sudah jadi rumah perlindungan kami yang menyedihkan di tengah pegunungan salju yang mengerikan. Badan pesawat dan kami yang berkerumun didalamnya nampaknya sudah bukan lagi bagian dari dunia ini.
27 orang dari kita, yang segera akan berkurang menjadi 19..lalu 16, di hari-hari awal yang penuh keputusasaan itu tak pernah membayangkan bahwa shelter perlindungan ini segera akan berubah menjadi kuburan.
(Bersambung)
__ADS_1