Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 24


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Suatu pagi 18 Desember, hari ketujuh perjalanan kami, salju yang menutupi jalan kami semakin menyusut, dan kami berjalan menyusuri dataran es yang penuh dengan bebatuan tajam dan tebaran bongkahan.


Kini setiap langkah membutuhkan upaya dan konsentrasi yang tinggi. Pikiranku menyempit hingga tidak ada ruang untuk memikirkan segala sesuatu selain hanya


berpikir tentang langkahku berikutnya, menempatkan setiap pijakanku dengan hati-hati untuk terus bergerak maju. Tidak ada lagi yang aku pikirkan rasa letihku, rasa sakitku, keadaan teman-temanku yang masih berada di pesawat, dan bahkan aku tidak memikirkan keputusasaan ku.


Semuanya terlupakan. Bahkan aku juga melupakan Roberto, sampai aku mendengar suaranya memanggil namaku dan menoleh untuk melihatnya dan lagi-lagi ia tertinggal jauh di belakangku.


Aku seperti terhipnotis oleh ritme suara napasku, oleh bunyi langkah sepatu botku di atas bebatuan dan salju, serta rangkaian doa Salam Maria yang aku senandungkan terus-menerus dalam batinku. Dalam keadaan setengah sadarku, jarak seolah memudar dan waktu terus berlalu. Terkadang akal sehatku muncul menyadarkanku dan ketika ia muncul yang aku pikirkan hanyalah hal-hal sederhana.


Perhatikan batu-batu lepas itu..


Apakah kami membawa bekal makanan yang cukup? Apa yang kami lakukan di sini?Perhatikan gunung ini!


Suatu ketika, aku melihat sol sepatu rugbyku yang sebelah kanan terkelupas. Aku sadar jika sol itu sampai lepas, tamatlah riwayatku, tetapi reaksiku untuk mengatasi masalah ini muncul begitu saja dengan aneh. Aku membayangkan diriku berjalan tertatih-tatih tanpa alas kaki di bebatuan yang tajam hingga telapak kakiku berdarah dan tidak mampu lagi berjalan. Kemudian aku membayangkan diriku merangkak sampai tangan dan lututku terkoyak, dan akhirnya aku terjatuh dan menyeret tubuhku dengan kedua siku sampai kekuatanku habis. Saat itu, aku berpikir bahwa aku akan mati. Dalam keadaanku, bayangan-bayangan tersebut tidak menggangguku. Malahan, menenteramkan hatiku. Jika sepatuku rusak dan tidak bisa dipakai lagi, aku memiliki rencana. Banyak hal yang masih bisa kulakukan. Masih ada ruang antara aku dan kematian.


ltunlah pikiran-pikiran sederhana yang selalu mengisi saat-saat ketika aku mendaki. Bagaimanapun, ada saat-saat ketika kekuatan dan keindahan pegunungan ini mendorongku keluar dari kekosongan jiwaku. Semuanya akan terjadi dengan tiba-tiba, aku merasakan bahwa pegunungan ini sudah sangat tua dan aku bisa merasakan jiwa mereka yang lelah, serta menyadari bahwa gunung-gunung itu telah berdiam membisu di tempat ini seiring peradaban yang silih berganti.


Berhadapan dengan Andes, tidak mungkin memungkiri fakta bahwa hidup manusia hanyalah titik kecil dalam putaran waktu, dan aku tahu, jika gunung ini punya pikiran dan perasaan, maka hidup kita akan berlalu dengan cepat sebelum mereka sempat menyadari keberadaan kita. Walaupun pegunungan itu tidak akan abadi, pemikiran ini menggangguku. Jika bumi ini mampu bertahan lebih lama lagi, maka semua puncak gunung itu akan hancur menjadi debu. Jadi, apalah arti nyawa seorang manusia? Mengapa kita harus berjuang untuk hidup? Mengapa kita harus menahan rasa sakit dan penderitaan? Apa yang membuat kita berjuang mati-matian untuk tetap hidup jika kita bisa menyerah begitu saja, tenggelam dalam kesunyian dan merasakan kedamaian?


Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ketika pikiran-pikiran itu sangat menggangguku, atau ketika aku merasa kekuatanku telah habis, aku mengingatkan diriku akan janjiku pada Ayah. Aku akan memutuskan untuk menderita sedikit lebih lama, sama seperti yang ia lakukan di sungai di Argentina. Aku akan melangkah lagi, dan lagi, kemudian meyakin kan diriku bahwa setiap langkah akan semakin mendekatkan diriku dengan Ayah, dan setiap langkah yang aku tempuh adalah langkah yang aku rebut kembali dari kematian.


Pada suatu sore 18 Desember, aku mendengar sebuah suara dari kejauhan suara mengerikan yang terdengar semakin jelas saat aku mendekatinya, dan segera aku mengenali bahwa itu adalah suara air yang mengalir dengan deras. Kami masih berdiri di hamparan salju, tetapi aku berusaha mempercepat langkahku, takut akan pusaran air yang terdengar sangat deras itu akan mencelakakan kami. Aku menuruni lereng, lalu meluncur ke dalam jurang es yang dangkal. Gunung yang sangat besar membentang jelas di hadapanku. Lembah yang menjadi panduan kami selama perjalanan menuntun kami menuju ke dasar pegunungan dan berakhir di sana, tapi ia terbelah menjadi dua lembah lebih kecil yang menghilang seolah-olah mereka mengelilingi sisi-sisi gunung.


Apakah ini bentuk huruf Y yang kami lihat dari puncak gunung? pikirku. Jika benar, maka aku sudah setengah jalan menuju rumah.


Aku berbelok ke kiri, melintasi jalur itu, melewati jurang es, dan menuju ke suara misterius itu. Saat mengelilingi jurang ternyata aku berdiri di dasar dinding es yang tingginya sekitar lima meter. Air yang mengalir deras berasal dari berton-ton es


yang mencair tersembur dari dalam dinding es melalui sebuah retakan sekitar dua meter dari dalam tanah. Air itu menyembur ke kakiku, lalu mengalir dengan cepat melewati es dan batu-batu kerikil.

__ADS_1


Kemudian, turun menuju lembah. Bagi seorang manusia biasa, kelandaian daratan ini tidak terlalu sulit untuk dilalui, tapi cukup curam untuk mengalirkan air dengan deras, dan beberapa ratus meter dari tempatku, aku bisa melihat sebuah air terjun kecil yang tiba-tiba melebar menjadi aliran yang sangat deras.


"Di sinilah hulu sungainya." Aku berkata pada Roberto ketika ia berada di dekatku. "Aliran air ini akan menunjukkan jalan untuk keluar dari sini."


Kami kembali berjalan, mengikuti aliran sungai, yakin bahwa ia akan menuntun kami turun melalui dataran tinggi dan membawa kami menuju peradaban. Tetapi perjalanan kami tidak lebih mudah dibandingkan saat berjalan diatas hamparan salju karena daratan yang tergenang air di kedua sisi sungai dihalangi oleh batu-batu yang besar dan tinggi, kami harus mencari jalan melalui batu-batu besar itu atau melompatinya.


Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk melompati batu-batu besar itu, tapi akhirnya jalan yang kami lalui semakin rata dan kami berjalan lagi dengan susah payah karena sepatuku yang terkelupas dan karena jalur yang kami lewati penuh dengan salju yang mencair.


Sungai itu semakin lebar dan mengalir semakin deras hingga suara mengerikan itu menghilangkan suara-suara lain. Seperti sebelumnya, aku berjalan dalam keadaan setengah sadar, menjalani hidup dari satu langkah ke langkah berikutnya, dan ketika setiap kilometer berlalu, aku merasa satu-satunya kebenaran atas keberadaan aku berada di alam ini adalah jalan kecil yang sulit dilalui, permukaan batu yang akan menjadi pijakan ku berikutnya. Selama berjam-jam aku terus memerhatikan sekelilingku, dan yang aku lihat hanyalah bebatuan, salju, dan lintasan es yang berada di bawah kakiku.


Lalu, tiba-tiba, terlihat batas salju seperti ujung karpet, dan akhirnya kami berjalan di permukaan tanah yang kering.


Kami berjalan sampai matahari terbenam, dan saat kami beristirahat, Roberto menunjukkan kepadaku sebuah batu yang ia ambil dalam perjalanan.


"Aku menyimpan batu ini untuk Laura," kata Roberto. Laura Surfaco adalah tunangan Roberto.


"Dia pasti sangat mencemaskanmu," kataku.


"Dia adalah gadis yang luar biasa. Aku sangat merindukannya."


"Benarkah?" Dia tertawa. "Bagaimana dengan semua gadis yang kamu kejar bersama Panchito? Apakah tidak ada yang bisa mencuri hatimu?"


"Aku rasa aku tidak pernah memberi mereka kesempatan," kataku. "Aku pernah membayangkan seorang gadis yang suatu hari akan menikah denganku. Dia sedang menjalani hidupnya dengan baik. Terkadang ia bertanya-tanya dengan siapakah ia akan menikah nantinya, di manakah lelaki itu, apa yang lelaki itu lakukan sekarang. Apakah ia pernah memikirkan bahwa lelaki itu kini sedang berada di gunung ini, berusaha keluar dari Andes untuk menemuinya? Jika kita tidak berhasil, aku tidak akan pernah menemuinya. Gadis itu tidak akan pernah mengenalku. Ia akan menikah dengan lelaki lain, dan ia tidak pernah mengetahui bahwa aku pernah ada."


"Tidak usah khawatir," kata Roberto,"kita akan pulang dan Kamu akan menemukan seorang wanita. Kamu akan membuatnya bahagia."


Aku tersenyum karena kebaikan Roberto kepadaku, tapi tidak merasa nyaman dengan kata-katanya. Gunung ini telah merampas semua harapanku.


19 Desember adalah hari baik bagi kami. Pagi itu kami mendaki selama beberapa jam, dan ketika aku menunggu Roberto untuk menyusulku, aku memeriksa sol sepatu botku. Jahitan sepatuku telah robek dan terasa kurang nyaman jika dipakai berjalan. Aku melihat batu-batu bergerigi yang berada di permukaan lembah. Aku berpikir, akan kah aku berhasil melewatinya atau gagal karena sepatu botku lebih dulu rusak? Kami telah berhasil melewati semua bahaya, Kami tidak lagi mati kedinginan, atau sekarat saat musim gugur.


Permasalahannya kini hanya pada ketahanan tubuh, keberuntungan, dan waktu. Kami berjalan menuju kematian, dan berharap kami masih dapat meminta pertolongan sebelum menghabiskan semua sisa tenaga kami dan mati.


Pagi berikutnya, kami melihat beberapa pohon di seberang lembah ini, dan Roberto merasa, ia melihat sesuatu yang bergerak di sana.


"Aku melihat sesuatu yang bergerak di dekat pepohonan itu. " Ia berkata, dengan memicingkan matanya. "Sepertinya itu kawanan sapi."

__ADS_1


Penglihatanku kurang baik, aku tidak dapat melihat dengan jelas dari kejauhan, mungkin Roberto berhalusinasi karena kelelahan.


"Mungkin saja itu sekumpulan rusa," kataku. "Kita harus tetap berjalan."


Beberapa jam kemudian, Roberto membungkuk dan mengambil sesuatu dari bawah. Lalu ia menunjukkan kepadaku, ternyata adalah sebuah kaleng sup yang telah berkarat.


"Ada orang yang pernah ke sini," ia berkata.


Aku enggan untuk berharap, "Mungkin kaleng ini telah bertahun-tahun ada di sini," kataku. "Atau mungkin terjatuh dari pesawat yang melintas.


Roberto marah dan melempar kaleng itu. "Kamu benar-benar dungu." Kata Roberto,


"Siapa orang bodoh yang buka jendela pesawat?! " Dia tampak bersungut-sungut dengan jawaban asalku.


Kemudian kami menemukan tapal kuda, dan melihat segunduk kotoran binatang. Kami berdua berjongkok memperhatikan kotoran itu dengan antusias. Roberto bersikeras itu adalah kotoran sapi.


Roberto yang masih sebal bertanya padaku, "Jadi bagaimana caranya kotoran sapi jatuh dari pesawat?"


"Ayo jalan lagi. Jika nanti kita bertemu petani, baru aku akan senang." Jawabku.


"Carajo! Kamu benar-benar dungu." Roberto mengumpat-umpat dibelakangku.


Dan akhirnya saat kami mengelilingi lembah, dari jauh aku melihat sekumpulan sapi yang dilihat Roberto tadi pagi.


"Jangan bilang sapi-sapi itu juga jatuh dari pesawat." Roberto tertawa menang.


Saat kami beristirahat malam harinya, semangat Roberto sedang sangat tinggi, tetapi tubuhnya sudah sedemikian lemah.


"Luka di kakiku semakin parah. Kadang-kadang untuk mengangkat kaki saja rasanya aku tak mampu. " Kata Roberto lemah.


"Beristirahatlah, " Aku berkata padanya.


"Mungkin besok kita akan menemukan pertolongan.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2