Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Terror Gunung Ciremai Part 2


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Aku yang belum tentu setahun sekali melaksanakan sholat, magrib itu sholat dengan khusuk. Setelahnya aku berdoa hingga menitikkan air mata mohon perlindungan Allah. Sehabis berdoa, si Bapak yang mengimami ku sholat magrib berbalik kearahku.


"Jang, nanti habis sholat Isya langsung berangkat. Ngga usah takut, bismillah aja. Doa jangan putus nya? "


Aku cuma diam dan mengangguk.


"Setan apa aja ngga bisa nyelakain kalo Ujang inget Gusti Allah. Cuma Allah sebaik-baiknya pelindung. " Sambung si Bapak lagi.


Setelah Isya. Aku mengisi carrierku dengan dua botol air mineral. Ku cek lagi headlamp juga senter. Semua siap.


Ku tengok sekali lagi keadaan Ayu. Dia sedang tertidur, dan masih ditemani si ibu tua. Ibu itu tersenyum kepadaku seperti memberi restu.


Diluar aku sudah ditunggu si Bapak. Aku mencium tangannya sekaligus minta dibantu doa.


Lalu si Bapak memberikanku sebuah bungkusan dari kain putih. Aku bertanya, "Apa ini pak? "


"Bungkusan ini isinya tanah. Nanti tanah ini kamu sebar di gubuk belakang Condong Amis ya. Kainnya kamu bawa. Nanti kalo ketemu yang kamu cari, kain ini buat bungkusnya. "


Sekali lagi aku mengangguk. Lalu dengan menarik nafas dalam, aku berangkat.


Seekor burung berkaok-kaok entah dimana mengikuti setiap langkahku. Satu-satunya penerangan hanya cahaya senter yang kurahkan ketanah. Aku sengaja memfokuskan pandangan ke langkah kakiku. Semakin jauh kuberjalan, bayangan horror malam itu kian menjadi nyata. Tapi tiap kali bayangan itu muncul segera kutepis jauh-jauh walau sia-sia.


Aku berhenti dibatas ladang. Didepanku sekarang membentang hutan pinus. Aura mistis menjalar dari semua tempat. Dengan mengucap bismillah, aku melangkah.


Tiba-tiba aku mencium bau busuk yang sangat pekat. Bulu kudukku langsung berdiri. Cahaya senter bergoyang akibat tanganku yang gemetar hebat. Aku tetap memaksa untuk maju walau pelan. Setiap kali aku ingin berbalik dan lari aku selalu diingatkan sosok Ayu yang sedang tertidur saat tadi kutinggal.


Bau busuk itu hilang, berganti bau melati. Sumber baunya begitu dekat, seakan-akan tepat dibelakangku. Bulu diseluruh tubuhku meremang membayangkan sosok apa dibelakang. Aku menunggu tangan sedingin es menyentuh tengkukku. Aku istighfar dan berjalan makin cepat.


Dalam situasi seperti ini tiba-tiba aku teringat legenda Nini Pelet yang konon berkeliaran diantara pohon-pohon pinus diwilayah ini diwaktu malam. Juga sosok Nyai Kembang, pengantin wanita yang mati saat tengah mengandung dan mayatnya dibangkitkan. Pikiran tentang Nyai Kembang dengan wajah pucatnya menyeringai dibelakangku cukup membuatku langsung berlari panik.


Entah berapa lama aku lari tanpa mempedulikan jalan yang mulai menanjak. Bayangan Nyai Kembang yang menyeringai sungguh menerorku. Hingga akhirnya aku tersungkur karena kakiku terkait akar pohon melintang. Sekitarku bukan lagi hutan pinus, melainkan pohon pohon tua raksasa. Di depanku jauh keatas nampak sebuah bangunan gubuk kayu. Dari posisiku saat ini bayangan gelap bangunan itu yang diselimuti kabut tipis seakan memberikan peringatan untuk jangan coba-coba berani mendekat. Dengan ragu kusenteri bangunan kosong itu. Mungkin ini yang dimaksud gubuk condong amis yang dimaksud si Bapak.


Pelan dan ragu aku mendekati bangunan ditengah hutan ini. Sosok gelap bangunan ini saja sudah cukup mengintimidasiku. Pohon-pohon hitam disekitarnya dengan ranting kurus yang dalam pikiranku bagaikan tangan orang mati menjuntai disana sini.


Aku berhenti sepuluh meter didepannya, menyorot-nyoroti cahaya senterku kesetiap pojok ruangan. Lega setelah tidak ada sosok apapun yang bersembunyi dikegelapan.


Tanganku merogoh kantung celana dan mengambil bungkusan putih berisi tanah. Warna putih kain itu langsung membuatku bergidik ngeri. Kubuka ikatannya, lalu kutuangkan tanah didalamnya ke tanganku. Kutarik nafas langsung kuberlari kebelakang pondokan ini lalu secepatnya kusebar tanah tadi sesuai permintaan si Bapak. Aku sengaja melakukannya dengan cepat, karena ngeri membayangkan apa yang ada dibelakang pondokan itu.


Tiba-tiba muncul sebuah wajah putih menyembul diantara semak, matanya membelalak lebar tepat didepanku. Aku langsung jatuh duduk sambil berteriak-teriak histeris.


Ketika aku memberanikan diri membuka mata, sosok itu berdiri disana. Bertolak pinggang.


Aku masih dalam keadaan jatuh terduduk. Shock.


Sosok itu mengeluarkan suara yang anehnya terdengar normal.


"Apa-apaan wey! "


Aku langsung menguasai diri. Sosok ini ternyata manusia biasa. Pendaki! Aku masih bengong tak percaya melihat manusia normal berdiri dihadapanku. Sosok itu bicara lagi, kali ini tangannya menunjuk ke kolong gubuk.


"Apa-apaan. Mie gua jadi ga bisa dimakan wey! "


Aku terpana. Mataku bolak balik melihat sosok itu dan mie yang baru direbus diatas kompor portable kotak. Benar mie itu sudah bercampur tanah merah yang tadi kulempar.


Ketika makin tenang, baru aku menyadari sosok itu memang manusia biasa yang memakai kemeja lapangan warna hitam, celana pdl dan sepatu running.


Kulihat sekali lagi, sepatu runningnya menapak ke tanah. Dia benar manusia.


Dia menggamit tanganku dan menolongku berdiri. Aku ditatap dari atas ke bawah ke atas lagi.


"Apa-apaan barusan? " Katanya lagi.


"Eh, anu, maaf bang. Saya beneran ngga tau ada orang disini. " Aku meminta maaf.


"Naik berapa orang? " Tanyanya lagi.


"Sendiri." Jawabku.


Sekarang aku bisa melihat dengan jelas orang ini. Tingginya sama denganku. Usianya mungkin menjelang 50 tahun tapi sosoknya nampak lebih muda. Cahaya memantul dari kacamata bulatnya. matanya penuh selidik memandangku.


"Ngga dianjurkan jalan malam sendiri di Ciremai. " Katanya, "emang dapet ijin naik tadi dibawah. "


"Iya bang. Dapet. " Jawabku, sengaja tidak terus terang alasanku naik.


"Ya udah, istirahat dulu aja. Mau mie? Gw masak dulu. Yang tadi harus dibuang gara-gara lu. "


Barulah aku sekarang melihat dengan jelas. Dibelakang gubuk ini dia menggelar matras. Carrier besar berdiri menyandar di tiang kayu.


"Siapa nama lu? Dari mana? " Katanya sambil menyalakan api dikompor.


"Saya Adi bang. Dari Jakarta. Kalo abang? " Jawabku.


Sambil tetap membelakangiku, sibuk dengan kompornya dia menjawab


"Gw Moka. "


Aku sama sekali tak peduli dia darimana. Aku sangat bersyukur bukan hanya aku sendiri di gunung ini. Rasa aman dan tenang menguasai dadaku.


Setelah mie matang. Dia mengeluarkan mangkok plastik dari carriernya. Menuang sebagian mie itu untuk kumakan. Sedang dia sendiri memakan mie tadi langsung dari misting.


Sambil makan dia terus-terusan memperhatikanku. Setelahnya dia mengeluarkan rokok kretek dari kantong bajunya, lalu menghisapnya dalam.


"Jadi lu orangnya ya.. " Katanya, seakan berbicara pada diri sendiri.


"Gimana bang maksudnya? " Tanyaku, tak yakin arah pertanyaannya.


Dia memandangku dengan tatapan kesal. "Kalian tuh semua pendaki sama aja. Bisanya cuma ngotorin gunung. Ngga punya rasa hormat. "


Aku terperangah "Abang udah tau ya.. "


"Mak Ncep nitipin lu ke gua. Dia yang cerita semua. Mulai dari sini sampe atas lu bareng gw. " Katanya lagi


"Mak Ncep? Mak Ncep siapa bang? " Tanyaku bingung.


"Bocah emang ngga ada hormat-hormatnya sama orang tua. Mak Ncep yang dari kemarin nolongin lu sama temen lu. Kalo ngga ada Mak Ncep, temen cewe lu pasti udah lewat dibawa ke alam lain. " Jawabnya ketus.


Rupanya ibu tua yang terus-terusan menjaga Ayu di Cibunar itu namanya Mak Ncep. Aku memang sama sekali tidak bertanya nama Ibu tua itu, juga bapak yang menjagaku. Ada rasa menyesal menyadari betapa kurangnya sopan santunku pada orang yang sudah beberapa hari ini menolongku dan Ayu.


"Mak Ncep juga yang ngejagain lu ngelewatin hutan pinus. Makanya lu bisa aman sampe sini. Kalo ngga lu bisa dimakan setan penganten tadi. "


"Tapi saya jalan sendiri tadi bang. Mak Ncep? Setan penganten? " Aku bertanya bingung.


Tapi dia tidak menjawab. Dia cuma tersenyum sinis sambil membereskan carriernya.


Aku bergidik mengingat rasa dingin yang menjalari tengkukku tadi. Mungkin setan penganten itu tadi benar-benar ada dibelakangku.


Selesai packing carrier, dia berjongkok dan berkata serius.


"Mulai dari sini perjalanan kita ngga akan gampang. Lu cukup ngikutin gw. Baca doa-doa yang lu tau. Pikiran jangan kosong. "


"I.. Iya bang." Jawabku.


"Kita bakal disambut semua penghuni Ciremai. Dari yang bentuknya abstrak sampe solid. Dari yang nyaru jadi manusia sampe yang mukanya berantakan. Siapin mental lu. Kalo lu ngga selamat disini, temen lu dibawah juga ngga bakal selamat. "


"Iya bang. " Jawabku lagi.


"Lu inget dua ini : kalo tiba-tiba muncul suara gending gamelan. Apapun yang terjadi kita harus diam. Jangan bergerak. Paham lu? "


"I.. Iya bang. Yang keduanya apa bang? "


"Lu bakal ngeliat banyak penampakan nanti. Tapi ada satu penampakan yang paling berbahaya. Penampakan Kalong wewe! "


"I.. Itu yang gimana bang? Terus saya harus gimana kalo ada gituan? " Pikiranku langsung kalut.


"Kalong wewe itu bentuknya perempuan telanjang. Rambutnya awut-awutan. Lehernya miring kayak patah, lidahnya ngejulur keluar. Tetenya panjang ngegantung sampe ke paha.


Aku menelan ludah membayangkan sosok itu.


"Kalo dia muncul. Lu harus pura-pura ngga liat. Apapun yang dia lakukan walau mukanya nempel dimuka lu, lu harus pura-pura ngga liat. Kalo ngga..."

__ADS_1


"Kalo ngga gimana bang... "


"Kalo dia sampe tau lu bisa liat dia. Lu bakal ditarik keatas pohon, artinya lu ditarik ke alamnya. Dan lu ga bakal bisa balik lagi."


"I.. I... Iya bang. " Badanku mulai gemetar.


"Yah doa aja makhluk itu ngga muncul. Susah nolong orang yang udah diculik Kalong wewe. Lu harus waspada kalo lu nyium bau khasnya. kalo bau itu muncul, kemunculannya dijamin pasti. "


"Bau apa bang? " Tanya ku.


"Bau pandan."


Aku melirik ngeri ke tanjakan yang akan kami lalui. Kabut tebal mengambang diujung tanjakan itu seakan gerbang masuk menuju dunia antah berantah.


Orang ini memanggul carriernya dan langsung berjalan. Sambil mengucap Bismillah aku juga berjalan dibelakangnya.


Masuk kedalam kabut. Aura mistis langsung membekapku. Suasana kelewat hening. Tidak ada satu pun suara binatang malam. Yang terdengar hanya suara langkah kaki dan nafasku yang semakin berat. Tapi kehadiran orang ini sungguh membuat banyak perbedaan dibanding awal jalan tadi di Cibunar. Sekarang aku mulai berani melihat sekeliling.


Kegelapan bagai selimut dihutan ini. Pekat dan mencekik. Pohon pohon tinggi dan kurus mencuat di mana-mana. Satu dua bayangan pohon besar raksasa muncul diantara tirai kabut. Dan semak semakin meninggi.


Tiba-tiba orang itu berhenti mendadak. Dia lalu bicara tanpa menoleh ke arahku, "Pikiran jangan kosong. Mulai baca-baca."


Dari jauh kulihat sesuatu bergerak mendekat dengan cepat. Kabut putih bergulung-gulung menabrak kami . Selama sedetik aku bahkan tak bisa melihat tanganku sendiri. Kabut itu hilang dalam sekejap,diikuti rasa dingin seakan memelukku. Tubuhku mulai menggigil.


Orang itu masih berdiri diam ditempatnya. Aku langsung melihat apa yang membuatnya tak bergerak. Seekor kelabang sebesar paha orang dewasa.


Makhluk itu merayap pelan, melintang menghalangi jalur. Buku-buku badannya hitam mengkilat. Sulur dikepalanya bergerak-gerak liar.


Aku diam mematung berharap makhluk itu segera hilang. Alih-alih menjauh, kelabang itu malah merayap mendekat. Sulur dikepalanya baru menyentuh betisku ketika tiba-tiba orang itu mengeluarkan parang dan membelah kelabang itu menjadi dua. Sebelah badannya menggelepar liar di tanah, sementara yang sebelah justru merayap ke pahaku. Aku berteriak sejadinya sambil mengibaskan kaki.


Dengan tak acuh orang itu menarik sisa tubuh kelabang dari tubuhku, dibanting nya ke tanah lalu dibuang ke tengah semak.


Dengan muka sebal dia melirikku dari balik kacamata bundarnya,


"Malem masih panjang boy, " Katanya sambil berjalan meninggalkanku.


Nafasku hampir habis mengikuti irama jalannya. Walau menggendong carrier segunung tapi langkahnya tampak ringan. Ada sebuah pin menempel di carrier nya, tapi aku tak berhasil membaca tulisannya.


Dia mencolek bahuku dan menunjuk keatas. Mataku mengikuti arah yang ditunjuk dan seketika tubuhku bagai tersengat listrik. Di dahan pohon yang paling tinggi nampak sosok perempuan. Kakinya menjuntai ke bawah.


"Kuntilanak." Katanya sambil nyengir.


Kakiku kembali gemetar. Rasanya tak ada tenaga sedikitpun untuk bergerak sekuat apapun kuberusaha. Bukan cuma ada satu, tapi dua. Seketika aku menyadari, sosok itu ada disetiap cabang pohon. Jumlahnya puluhan. Menggantung disana sini.


Hanya diam, tak bergerak, tak bersuara.


"Bang.. Tolong. " Bahkan suara yang keluar dari mulutku pun bergetar.


Dia malah tertawa melihatku bersimbah keringat. Dia menggamit lenganku dan mengajakku jalan.


"Cuma begitu aja mereka itu, ngga bisa lebih. Kuntilanak ngga akan nyekek lu apalagi gigit. Bisanya cuma nongol, berharap manusia yang diganggu mentalnya lemah kayak lu. "


Terus terang aku takjub dengan abang ini. Bicara miring tentang hantu tanpa rasa takut sama sekali.


Jalan semakin keatas, penampakan muncul di mana-mana. Beberapa bahkan tepat di pinggir jalur. Bukan hanya Kuntilanak, tapi juga banyak wujud lain. Beberapa wujud muncul dalam keadaan tidak utuh. Ada yang tanpa kepala, ada yang tidak punya rahang, ada yang kepalanya terbelah.


Beberapa yang lain muncul dengan organ tubuh yang tidak pada tempatnya.


"Semakin aneh bentuknya, menandakan rendahnya level mereka di dunianya. Yang bisa mereka lakukan cuma muncul dan hilang, muncul dan hilang, begitu terus. Kalo lu takut dengan godaan makhluk level rendah ini, itu menandakan rendahnya level iman lu boy. " Ucap orang itu tenang.


"Sebaliknya, semakin sempurna bentuknya. Menandakan semakin tinggi levelnya. Makhluk-mahkluk model begini yang wajib diwaspadai. Bukan cuma bentuknya, tapi juga pakaian, tingkah laku dan tutur katanya. Setan-setan yang paling baik adalah setan-setan yang paling berbahaya boy. " Sambung orang itu, "Kadang makin sulit membedakan manusia dengan setan. "


Dari belakang kulihat dia menyalakan rokok. Asapnya terlihat mengebul tipis. Bahkan dia bisa berjalan sambil merokok, pikirku. Stamina orang ini luar biasa. Kuntilanak yang berdiri terlalu dekat dijalur disembur dengan asap rokoknya, dan menghilang.


"Dari dulu di gunung ini sudah tidak terhitung banyaknya pendaki yang hilang. Tiap generasi ngga pernah kekurangan orang-orang ngga punya etika kayak lu dan temen lu." Orang itu ngomel sendiri, "Nyampah, zinah, berisik, ngomong sembarangan, nantang-nantang. "


Di sebuah persimpangan kami berhenti. Jalan disebelah kanan tampak sudah lama tidak lewati. Bebatuannya berlumut, tanda jarang diinjak orang. Jalan yang sebelah kiri terbuka lebar, jalurnya tampak jelas sering dilalui.


"Kalo lu terpaksa sendiri, jalan mana yang lu pilih? " Tanya orang itu padaku.


"Kiri." Jawabku dengan cepat.


"Lu mati " Kata orang itu, "Jalan sebelah kiri ini ngga pernah ada. Dibalik semak-semak ini cuma jurang. Kuburan buat banyak pendaki. "


Aku terkesiap ketika menyadari kami tidak berhenti dipersimpangan. Jalur sebelah kiri yang tadi kulihat, sekarang berubah menjadi semak belukar.


Bau-bauan muncul dan hilang silih berganti. Bau busuk bangkai tercium dari bawah pohon tumbang, digantikan harum melati. Sesekali bau anyir darah menyergap.


Orang itu tiba-tiba berhenti mendadak dan memberikanku aba-aba untuk diam.


Semua bau-bauan itu hilang mendadak, digantikan bau yang asing. Aku mencoba mengingat-ingat pernah mencium bau ini entah dimana.


Bulu kudukku langsung meremang saat kesadaran menyergapku.


Ini bau pandan. "Kalong wewe."


Jantungku bergemuruh kencang ketika bau pandan tersebut kian mendekat. Kakiku bagai tertancap ditanah. Mataku bergerak liar mencari sosok yang bahkan abang ini pun merasa lebih baik menghindar.


Dan jantungku serasa dicabut. Sosok itu tepat berada diatasku. Wajahnya tertutup rambutnya yang acak-acakan. Tangannya yang penuh koreng dan bernanah menjuntai.


Semakin kuat usahaku untuk diam, tubuhku semakin gemetar tak terkendali. Aku lalu menutup mata dan berusaha membayangkan apapun sekedar untuk menghilangkan bayangan Kalong wewe itu dari benakku. Aku membayangkan suasana kantor, keriuhan saat makan siang atau macetnya lalulintas di jam pulang kantor. Sekejap aku berhasil menenangkan riuh jantungku, gemetar diseluruh tubuhku mulai berkurang, ketika tiba-tiba suara berdebum jatuh tepat dibelakangku.


Usahaku barusan langsung sia-sia, tubuhku gemetar hebat, bahkan lebih dibanding sebelumnya. aku seratus persen yakin, Kalong Wewe itu tepat berada dibelakangku. Punggungku serasa panas. Beban carrier yang kubawa kurasakan kian bertambah berat.


Sebuah tangan muncul dari belakang. Berkoreng dan berbau busuk. Kukunya yang panjang dan hitam mulai menyentuh pipiku.


Dititik ini aku bahkan sudah tak sanggup lagi menutup mata. Aku hanya bisa menatap ngeri ketika jari-jari kurus itu bergerak perlahan membelai pipiku..


Dan hilang.


Jari-jari itu hilang begitu saja. Tapi aku masih tidak berani bergerak. Firasatku mengatakan makhluk menjijikkan itu masih ada disekitar, aku hanya tak tahu dia ada dimana ketika tiba-tiba aku melihat hal yang paling mengerikan sepanjang hidupku.


Sebuah tangan mencengkeram pinggang ku dari bawah. Tangan yang satunya bergerak perlahan menggores perut, naik ke dada hingga akhirnya mencengkeram bahuku. Dan perlahan sebuah wajah yang mengerikan muncul diantara dua tangan itu. Matanya menatap kosong ke mataku. Hanya mata kosong itu yang tersisa diwajahnya. Seluruh wajahnya hancur dan bernanah. Dahinya penuh borok-borok besar yang siap meletuskan darah dan nanah kapan saja.


Wajah itu terus naik, matanya tetap terpaku ke mataku. Pelan dan pasti dia merayap di perutku, naik ke dadaku, leher dan langsung tepat berada di wajahku. Mata bulat besar itu terus saja lekat menatapku, semakin dekat.


Mataku menatap ngeri ketika mulutnya terbuka menampakkan belatung-belatung yang menggeliat didalamnya. Mulut itu kian membuka lebar dan semakin lebar, seluruh wajah itu sekarang adalah mulut yang menganga, tangannya mencekik leherku, mulut itu semakin mendekat dan mendekat!!


......


Yang pertama kulihat ketika siuman adalah wajah orang itu. Tubuhku lemas, tidak sanggup untuk digerakkan. Seluruh tulang serasa lepas dan kepalaku terasa nyeri. Ada rasa sakit disekitar leherku. Ketika aku menyentuhnya, tampak noda darah dijariku.


Tubuhku langsung mengejang, kakiku tersentak saat ingatanku kembali pulih menghadirkan kembali saat kuku-kuku hitam Kalong wewe itu menusuk leherku.


"Udah tenang! Jangan panik! Setan sialan itu udah ngga ada." Kata orang itu sambil membantuku minum teh hangat.


Mendengar itu aku kembali tenang. Tapi rasa sakit disekitar leherku masih terasa panas. Bekas hitam di leherku kelak tidak akan hilang selama berminggu-minggu.


"Terima kasih bang." Suaraku terdengar lirih. Tapi aku sungguh-sungguh berterima kasih. Tanpa kehadirannya entah bagaimana nasibku dan Ayu.


"Bukan gue." Jawabnya pelan, sambil membereskan kompor bekas memasak air panas. Suaranya terdengar lemah.


Aku masih memandanginya, menunggu jawaban. Merasa diperhatikan, dia menghentikan aktivitasnya dan menatap serius padaku.


"Berterimakasih sama Nyi Linggi." Dia berucap.


Aku masih menatapnya. Bingung bagaimana bereaksi. "Nyi Linggi siapa bang?' tanyaku.


Dia tampak kesal dengan pertanyaanku.


"Emang kalian bocah ngga tau adat. Nyi Linggi itu orang yang rumahnya di Batu Lingga kalian kotorin!"


Aku masih tetap bingung dengan jawaban-jawabannya. "Ta.. tapi orang kan bang?" tanyaku lagi.


Dia mendekat dan berbisik pelan ditelingaku, "Penguasa Ciremai."


...........


Kami kembali berjalan. Semakin keatas hutan semakin rapat. Pohon-pohon besar berdiri angker disegala penjuru.


Sosok-sosok Kuntilanak masih muncul disana sini, walau tidak sebanyak tadi. Sebagai gantinya banyak penampakan-penampakan baru berupa sosok-sosok menyerupai manusia biasa. Tidak ada aura mengancam dari sosok-sosok itu, yang terasa justru aura penderitaan. Sosok itu menyebar di banyak tempat, tiduran di jalur, dibawah pohon, ada yang menangis sesenggukan diantara semak-semak. Semua sosok itu adalah laki-laki. Wajahnya tampak seperti wajah orang desa biasa. Disuatu tempat, aku bahkan harus berjalan zigzag agar tidak menginjak orang-orang ini.


Aku mengenali tempat ini. Sebentar lagi diatas adalah tempat aku dan Ayu mendirikan tenda pada malam pertama saat mendaki. Dan benar saja, tidak lama kami mendapati lahan agak terbuka. Disana kulihat ada satu tenda yang berdiri. Ada sebuah penanda berwarna kuning di pohon yang bertuliskan: Kuburan Kuda.


Wajahku sumringah melihat kehadiran orang lain di gunung ini. Dua orang pendaki yang sedang sibuk memasak. Satu orang lainnya tampak duduk dimulut tenda, kakinya menjorok keluar, memperhatikan rekannya yang sedang sibuk.

__ADS_1


Tapi aku juga melihat penampakan sosok lain. Disekitar mereka hantu-hantu berwujud orang desa ada di mana-mana. Sebagian besar berkerumun disekitar pendaki yang sedang memasak. Wajah-wajah sendu itu memperhatikan seorang pendaki yang sedang mencicipi kuah mie. Mereka tampak kelaparan.


Aku sudah bersiap akan menyapa pendaki-pendaki ini ketika orang itu mencolek ku dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Sekarang ini mereka ngga bisa melihat kita." Katanya.


Aku terperangah mendengarnya. Apakah aku sudah jadi hantu?


"Kita dan mereka ada di tempat yang sama, tapi berbeda dimensi." Sambung orang itu lagi. "Percuma nyapa, mereka ngga akan dengar."


Aku lalu menunjuk sosok-sosok hantu kurus berwujud orang desa itu, meminta penjelasan.


"Mereka tadinya orang kampung biasa dikaki gunung. Mereka dibawa kesini untuk kerja romusha di jaman Jepang. Disiksa, kelaparan dan akhirnya dieksekusi. Mayatnya dibuang didaerah ini."


Aku iba mendengar masa lalu pahit yang harus hantu-hantu ini alami.


Orang itu menggamit lenganku, mengajakku kembali meneruskan perjalanan. Aku mengangguk, lalu mulai melangkah. Ada rasa sedih harus berpisah dengan pendaki-pendaki ini. Bagiku mereka adalah simbol kehidupan biasa. Tenang dan tanpa konflik. Sementara aku harus pergi menuju kerajaan gaib gunung Ciremai. Keceriaan mereka adalah keceriaanku dan Ayu beberapa malam yang lalu. Semoga mereka tidak mengikuti kesalahan kami.


Perhatianku teralih oleh suara gemerisik disemak-semak di kanan dan kiriku. Sesekali terlihat kelebatan sesuatu yang berjalan mengiringi langkah kami. Kadang terdengar nafas berat.


Aku mencolek orang itu, "Bang... Bang... "


Dia malah menepis tanganku, dan mengisyaratkan agar terus berjalan. Tapi aku tak bisa menepis rasa takut dan keingintahuan. Hingga terus-terusan mencolek tangannya.


Dia yang akhirnya merasa terganggu akhirnya berhenti. "Bawel banget lu sumpah." Makinya. "Sini gw jelasin biar diem."


Dia menyelipkan rokok dibibirnya, membakar dan menghisapnya dalam.


"Ngga pernah ada yang bisa jelasin bentuk Kalong wewe. Tadi gw bilang, kebanyakan orang yang diculik Kalong wewe jarang balik, betul?" Tanyanya sambil menghembuskan asap rokok.


Aku mengangguk.


"Sebagian ada yang bisa ditolong walau susah. Tapi mereka ngga kembali utuh. Siapapun yang sudah ditetein Kalong wewe udah ngga akan bisa ngomong lagi." Dia melanjutkan, "Kalong wewe ngga akan membiarkan orang lolos dan nyeritain bentuknya yang menjijikkan ke orang lain.''


Sampai sini aku mulai gemetar lagi membayangkan bentuk Kalong wewe yang sungguh menjijikkan tadi.


"Kalong wewe itu masih ngikutin kita sampe sekarang." Jelasnya lagi, "Dia ngga akan ngelepas lu boy, tapi dia ngga bisa mendekat karena sejak kejadian tadi, kita dijaga di kanan kiri sama makhluk lain."


"Apaan bang?"tanyaku.


Dia menghembuskan asap rokoknya ke wajahku. Suaranya terdengar sedikit gemetar dan sedih. Dia berkata pelan, "Harimau."


"Ternyata ada juga makhluk gaib yang baik sama manusia ya bang." Kataku.


Dia tersenyum kecut. "Baik bukan pilihan kata yang tepat boy.'' dia kembali menghisap rokoknya,


" Terus bang?" Aku bertanya menyelidik.


"Buat ganti penjagaannya, ada sesuatu yang nanti harus dikorbanin."


Bajuku basah oleh keringat. Kakiku mulai nyeri. Semakin keatas jalur yang harus kami lalui semakin curam. Tanjakan-tanjakan ini seakan tidak berakhir. Orang itu seringkali harus berhenti untuk menungguku yang mulai megap-megap kehabisan nafas. Jika sudah begitu dia biasanya hanya merokok dan melihatku dengan sebal.


Aku sudah hampir tak peduli dengan harimau dikanan kiriku, atau kalong wewe yang pastinya sedang mengawasiku entah dimana. Selama mereka tidak menampakkan diri sudah cukup bagiku.


Sosok hantu orang desa tidak ada lagi diatas sini. Setelah melewati Kuburan kuda, penampakan mereka semakin berkurang hingga hilang sama sekali.


Musuhku yang utama saat ini cuma tanjakan-tanjakan yang semakin curam. Dibeberapa tempat aku bahkan harus menggunakan akar untuk membantuku naik. Sesekali muncul pocong, yang tiap kali selalu membuatku melompat kaget. Kalau sudah begitu biasanya orang itu tertawa terbahak-bahak kegirangan. Rupanya kepanikanku sudah menjadi hiburan buat dia.


"Bener kata abang tadi, setan-setan begitu bisanya cuma muncul hilang, muncul hilang doang. Ngga bisa ngapa-ngapain." Kataku dengan nafas tersengal-sengal.


Dia nyengir. "Yang gua maksud tadi kan Kuntilanak boy hehe." Jawabnya sumringah. "kan gua tadi ngga nyebut pocong."


"Lah kalo pocong gimana bang?"


"Di Afrika ada yang yang namanya cobra penyembur. Dia ngga matok kayak uler lain, tapi dia nyemburin bisa beracun ke muka korbannya." Dia menyambung, "pocong itu cobra penyemburnya dunia setan. Saran gua, kalo liat pocong cuma satu: lari. Lu ga bakal mau kan diludahin pocong."


"Kalo diludahin gimana bang?" Tanyaku.


"Ya buta hahaha." Dia menjawab diiringi gelak tawa senang.


Entah dia bercanda atau tidak, tapi yang jelas aku berharap jangan pernah lagi bertemu pocong.


"Bang, emang bener mitosnya, kalo bisa ngambil tali iketan pocong kita bisa kaya?" Tanyaku iseng.


"Ngapain susah-susah ngambil tali pocong. Ribet amat. Kalo sekedar cuma minta kaya, minta kebal, minta pelet, lu doa aja minta gituan ke pocong." Jawabnya ringan.


"Emang bisa bang?" Tanyaku polos.


"Ya bisa. Apa sih yang setan ngga bisa boy. Tapi lu gila kalo sampe begitu. Emang yang nyiptain lu pocong? Hahaha, manusia makin kesini makin aneh." dia menambahkan, "Jadi ngga heran gua, kalian sampe ketimpa masalah kayak begini. Hidup lu kebangetan jauh dari agama boy."


Aku termenung mendengar jawabannya yang terkesan ngawur. Tapi ada kebenaran di situ. Memang betul, hidupku sudah melenceng jauh dari yang seharusnya.


Aku bertekad dalam hati, jika bisa lolos dari sini, aku ngga akan meninggalkan sholat.


Lalu aku mendengar bunyi berdebum ringan. Suara benda jatuh. Dengan panik aku mencari-cari sumber suaranya. Orang itu pun mendengar suara itu. Dengan mengikuti arah tatapannya barulah aku melihat sumber suara berdebum itu.


Dari tanjakan didepan kita, seonggok kepala tanpa tubuh tergeletak.


Aku bagai tersengat listrik ketika kepala itu berputar pelan dan menampakkan wajahnya. Mulutnya sobek sampai ke telinga, lidah panjangnya menjulur keluar dan bergerak-gerak mengerikan. Air liurnya menetes. Matanya yang tertutup, pelan-pelan terbuka. Dibalik kelopak mata itu tidak ada apa-apa, hanya lubang hitam. Kosong tapi terlihat mengancam.


Pelan, kepala itu terangat ke udara, menampakkan sisa tubuhnya. Ditempat yang seharusnya leher sekarang nampak hanya tulang. Jaringan urat dan otot yang tampak basah membelit tulang itu. Tampak menggantung jeroan perutnya. Busuk tapi juga berdenyut-denyut.


Makhluk itu melayang dua meter dari tanah. Ditingkahi suara tawa serak dari mulutnya dia meluncur kearahku dengan cepat. Tak mampu bergerak, aku hanya membelalak ngeri


Tapi dengan cepat orang itu menangkap tulang yang menggantung dibawah kepalanya, dibanting ke tanah dan diinjak hingga hancur.


Aku bergidik melihat kejadian barusan. Seperti tidak terjadi apa-apa orang itu kembali berjalan meninggalkanku dibelakang. Kakiku sedemikian gemetar nya hingga membutuhkan waktu beberapa menit untuk mampu berjalan lagi.


Dengan ngeri aku berjingkat minggir menghindari sisa-sisa makhluk itu. Walau hancur tapi dia masih bergerak-gerak lemah.


Tapi tiba-tiba kakiku tak dapat bergerak, tanpa sadar aku minggir terlalu dekat ke semak-semak dan kakiku terjerembab akar yang mencuat dari tanah. Dengan panik aku mengibas-ibaskan akar yang menjepit kakiku tanpa melihatnya. Tapi bukan akar yang kupegang melainkan sesuatu yang kenyal dan lengket. Aku histeris ketika menyadari yang menahan kakiku adalah seonggok tangan putih pucat. Beberapa pasang tangan putih pucat lain muncul dan menarikku ke semak-semak. Aku berusaha berteriak minta tolong, tapi tenggorokanku tercekat, aku tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan kasar tubuhku ditarik makin dalam ke semak. Kurasakan sesuatu yang basah menempel di telingaku, selang seling diantara tawanya dia berbisik: Mati.. Mati... Mati..


Lalu kegelapan total.


Saat kesadaranku kembali, kulihat orang itu didepanku. Pipiku berdenyut sakit. Dia baru saja menamparku dengan keras.


Aku terkejut karena aku belum bergerak sedikitpun dari tempat tadi aku berdiri.


"Gua bilang pikiran jangan kosong! Ditempat begini lu ngga boleh melamun, paham ga lu! " Dia membentakku dengan keras.


Aku mengangguk sambil mengusap-usap pipiku yang panas. Jantungku masih bergemuruh kencang seakan tangan tangan mayat tadi masih menempel di tubuhku.


Orang itu menarikku dengan kasar, beberapa langkah kami keluar dari jalur. Menganga didepan kami adalah jurang. Kami berdiri tepat dibibirnya. Angin dingin menabrak wajahku. Dalam kegelapan malam, jurang ini terlihat lebih mengerikan.


Lalu kudengar suara tangisan, juga teriakan-teriakan minta tolong dari dasar jurang ini. Hembusan angin mengacaukan sumber suaranya, kadang terdengar jauh, kadang terdengar dekat.


"Itu teriakan minta tolong dari pendaki-pendaki yang hilang dan ngga pernah ditemuin lagi." Katanya.


"Mereka salah apa bang?" Tanyaku.


"Di gunung ini lu ngga perlu salah apa-apa, cukup bengong aja lu bisa hilang. Jangan salah boy, setan ngga cuma bisa nyulik badan lu, mereka juga bisa nyulik jiwa lu. Makanya kalo gua ngomong dengerin! Bentaknya lagi. Dia lalu jalan berbalik sambil kembali menarikku.


"Bang, itu tolongin dulu mereka bang." Pintaku


Tapi dia tetap berjalan kembali ke jalur. "Bukan urusan gua." Jawabnya ketus.


Sambil berjalan terseret karena tarikannya, aku terus menerus menoleh ke belakang. Aku iba dengan pendaki-pendaki yang hilang itu. Dalam keadaanku sekarang, aku benar-benar memahami apa yang sedang mereka rasakan.


"Mata lu liat kemana!" Bentaknya lagi padaku.


Ketika menoleh, aku kaget karena wajahku hampir saja menabrak sepasang kaki yang menggantung. Terkejut dan kehilangan keseimbangan, aku jatuh terduduk. Kaki itu masih disitu, terjuntai lemah. Mataku membelalak menatap ngeri. Pemilik kaki itu adalah anak kecil seumuran adikku. Lehernya patah terikat tali yang menggantung di sebuah cabang pohon.


Aku semakin terkesiap saat menyadari didepanku membentang sebuah tanjakan terjal, pohon-pohon besar bercabang dengan ranting-rantingnya yang lebat hingga bulan tidak terlihat sedikitpun. Di setiap dahan pohon-pohon itu terbujur kaku mayat yang digantung. Satu disetiap dahan.


Kurasakan dingin memelukku dengan cepat. Aku masih terpaku menatap puluhan pasang kaki yang tergantung itu bergoyang-goyang tertiup angin.


"Jalan boy. Hormatin orang yang udah mati." Kata orang itu.


Aku beringsut ditanah sebelum akhirnya lari mengejar orang itu. Sekilas kulihat tulisan penanda di sebuah pohon: Bapa Tere.


Sengaja aku tidak bertanya apapun tentang mayat-mayat yang tergantung itu. Penampakan mayat anak kecil seusia adikku lebih membuatku sedih daripada takut. Dan aku sama sekali tidak ingin mendengar kisah sedih tentang masa hidup mayat-mayat itu dulu.


Tanjakan ini lebih curam dari yang sebelumnya. Dengan susah payah aku mendaki dari undakan ke undakan. Yang mengherankan, orang itu belum terlihat lelah sama sekali. Dengan rokok di mulutnya dia berjalan dengan santai, kadang melompat di tanjakan terjal ini.


Tiba-tiba dengan mendadak angin berhenti berhembus. Tidak ada bunyi apapun, seakan-akan seluruh hewan malam mendadak bersembunyi. Suasana wingit semakin terasa.

__ADS_1


Dari atas tanjakan kulihat orang itu memberikan aba-aba padaku untuk diam tak bergerak.


Lalu sayup-sayup terdengar gending-gending gamelan Jawa. Suaranya terdengar mistis. Awalnya terdengar jauh dan pelan, lama kelamaan suara itu seakan bergerak mendekat dan semakin mendekat diiringi wangi bunga kantil yang semakin pekat.


__ADS_2