
Sebuah tamparan keras menyadarkanku. Itu adalah Bang ldan yang tiba-tiba sudah ada didepanku. Ketika kesadaranku mulai
pulih, aku mendapati diriku sedang duduk dengan posisi tangan menutupi wajahku. Teman-teman yang lain ada di sekelilingku
Bibirku gemetar, begitu juga seluruh tubuhku. Mataku nanar mencari-cari keberadaan makhluk tadi. Lalu Bang ldan memegangi wajahku dengan dua tangannya dan memaksaku melihat lurus ke
matanya.
"Dek, sadar dek." Kudengar lembut suaranya.
Tapi aku masih saja menjerit ketakutan, hingga tamparan kedua mendarat di pipiku barulah aku sadar sepenuhnya. Dengan bibir gemetar aku berusaha menjelaskan pada Bang ldan tentang penampakan tadi, tapi yang keluar dari bibirku hanya gumaman-gumaman yang tak jelas.
"Istighfar dek." Ucap Bang ldan lagi.
Aku menurut. Aku mulai beristighfar tanpa suara. Pelan-pelan aku kembali tenang. Nafasku tidak lagi berpacu. Disampingku, Bang Amran berjongkok sambil mengusap-usap punggungku untuk menenangkanku.
"Istirahat sebentar Dan, kasian adek-adek ini pasti lelah." Kudengar Bang Amran berbicara pada Bang ldan.
Perutku yang masih mual karena mencium bau busuk tadi berkontraksi dan akhirnya aku muntah-muntah. Bang Amran mengurut-urut leher belakangku sambil aku terus muntah. Melihat keadaanku dan mungkin juga keadaan teman-teman yang
lain, akhirnya Bang Idan setuju kami istirahat sebentar. Lalu Bang Idan berbicara padaku.
"Kan abang sudah bilang dek, jangan tengok-tengok, fokus saja ke depan." Katanya.
"Aku tidak noleh bang," Bela ku, "Kepalaku muter sendiri."
Kulihat Bang Idan agak terkejut dengan jawabanku.
"Ya udah. Istighfar aja, nyebut dek." Kata Bang ldan lagi, "Apa yang dilihat jangan diceritain ya dek."
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti. Karena selain Bang ldan dan Bang Amran, kulihat mimik ketakutan di wajah Yuni, Ale dan Anes.
Belum tuntas hilang rasa takutku, Bang ldan memberi aba-aba supaya kami mulai bergerak lagi. Aku yang masih lemas, dipapah oleh Ale dibantu Anes. Bang ldan kembali memposisikan diri di belakang.
"Ingat ya. Pandangan lurus aja kedepan. Kalo ada melihat sesuatu,bdiam aja. Jangan diceritain." Suara Bang ldan berbicara pada kami semua.
Belum sempat salah satu diantara kami menjawab, kulihat sesuatu terbang melintas di depan kami. Rasa penasaran rupanya lebih besar dari pada rasa takutku. Sebuah sifat yang membuatkubmenyesal. Kulihat diatas kami, beberapa sosok Kuntilanak terbang dari pohon ke pohon. Kuntilanak itu menyeringai, suara tawanya saja sudah cukup untuk mendirikan bulu kudukku. Buru-buru ku paksa wajahku menatap tanah, berharap mereka tidak melihatku.
Lalu kurasakan tangan Ale yang sedang memapahku tersentak. Kuikuti pandangan mata Ale yang sedang melihat ke samping.
Dibalik pepohonan kulihat sosok besar bermata merah. Seluruh badannya nampak dipenuhi bulu. Tapi Ale tetap diam tak bersuara, walau wajahnya pucat pasi dan keringat banjir di wajahnya.
Penampakan demi penampakan terus bermunculan di sana sini. Di atas, di dahan-dahan pohon, dibalik semak. Sesekali kami saling bertabrakan karena Bang Amran yang paling depan mendadak
berhenti. Sekali karena Kuntilanak yang tiba-tiba melintas. Lain waktu ada pocong yang menghalangi jalur. Bau-bauan timbul dan menghilang. Bau bangkai digantikan bau bunga melati yang amat pekat, juga wangi bunga kamboja. Jantungku bergemuruh. Doa-doa tak putus ku bisikkan hingga mulutku terasa kering pun tak peduli. Aku tak ingin menjadi salah satu korban Gunung dempo.
Lalu telingaku menangkap bunyi-bunyian ganjil. Awalnya hanya suara bisik-bisik dari balik Kabut. Semakin lama suara-suara lain
"Alpin.. Alpin... Alpin..." Aku berusaha tak ingin mendengarkan, tapi suara yang memanggil-manggil namaku itu terus menerus menggema, seakan menempel di telingaku.
Melihat yang lain menutup telinga dengan kedua tangan, kuyakin mereka juga mendengar hal yang sama. Aku menoleh ke belakang mencoba melihat Bang ldan. Nampaknya hanya dia yang tidak terpengaruh, karena masih terus berjalan tanpa ekspresi di wajahnya.
"Fokus ke depan Dek," Katanya padaku, "Jangan cerita apa-apa, jangan dengerin apa-apa."
Aku mengangguk mengiyakan. Tapi sulit sekali fokus saat kelelahan dan dicengkram ketakutan seperti ini. Sebelah kananku adalah hutan. Segala penampakan ada disetiap pohon disana. Sementara sebelah kiriku adalah jurang. Suara-suara meneror
kami dari dasar jurang itu. Didepan kudengar suara berdebam. Rupanya Yuni terjatuh, mungkin kakinya tak sengaja tersangkut akar. Lalu kudengar dia berteriak histeris. Aku ikut berteriak saat melihat yang
membuatnya terjatuh bukanlah akar, melainkan sepotong tangan. Bang Amran dengan cepat menarik tangan Yuni, memaksanya bergerak. Berikutnya kudengar Ale dan Anes yang berteriak
__ADS_1
ketakutan di belakangku. Aku tak berani menoleh kebelakang. Saat aku sedang fokus melihat ke bawah menatap kakiku sendiri yang sedang berjalan, tiba-tiba ada sebuah kepala yang menggelinding dan tak sengaja tertendang. Kali ini aku yang berteriak dengan kencang.
Setiap kali kudengar teman-temanku berteriak. Entah apa yang mereka alami, aku tak ingin tahu. Penghuni Gunung Dempo ini seakan berkumpul dan bergantian mengganggu kami. Tampaknya
kami tidak akan dibiarkan tenang walau sekejap. Belum jauh berjalan, giliran aku yang kembali berteriak karena sebuah tangan menangkapku dari balik dahan pohon yang menjuntai ke jalur. Dengan cepat aku melepaskan diri sambil berteriak dan beristighfar. Kulihat teman yang lain tak bereaksi mendengarku berteriak, mereka pastinya juga diteror masing-masing.
Lalu sepasang tangan besar dan hitam mencengkram kakiku. Kembali aku berteriak histeris sambil berusaha melepaskan diri seperti tadi. Tapi semakin ku berusaha, cengkraman tangan itu malah semakin kuat, membuatku semakin histeris.
Bang Idan lagi-lagi Bang Idan menjadi dewa penolongku, ia berlari dan langsung memeluk dan menenangkanku.
"Tenang Dek, tenang. Istighfar." Katanya.
Tapi cengkraman di kakiku tetap tidak hilang, justru semakin kuat menekanku.
"Ada tangan Bang di kakiku. Kakiku dipegangnya Bang." Aku merintih sakit dan ketakutan.
Lalu Bang ldan dan dua teman lain berjongkok berusaha melepaskan kakiku. Aku hampir tak percaya apa yang kulihat, yang sedetik lalu adalah sepasang tangan hitam, sekarang ternyata akar pohon yang membelit kakiku.
"Kek mana ceritanya kakimu bisa masuk akar begini.. " Kudengar Anes bertanya. Dia merasa heran karena kakiku terjepit dua akar yang saling mengait.
Akhirnya setelah lama berusaha, tiga orang
itu berhasil membebaskan kakiku dari akar hitam itu.
Setelah kakiku bebas, suara tawa cekikikan menggema di mana-mana. Kami berpandangan, sorot-sorot mata panik jelas
tergambar di mata kami. Aku sangat berterima kasih pada teman-teman perjalananku. Jujur, aku takut mereka putus asa jika gagal melepaskan kakiku dari akar
dan meninggalkanku sendiri. Kami saling menepuk bahu dan mengangguk, mencoba saling menguatkan tanpa kata-kata. Tapi belum jauh kami berjalan, tiba-tiba Yuni berteriak kencang menyuruh kami tiarap.
__ADS_1
"Tiaraaaaaaappppp....!" Teriak Yuni histeris.
-Tbc-