Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Dimana Aku..? Part 4


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Agas terbangun dari tidurnya karena tersenggol oleh Mas Burhan yang lagi beres-beres barangnya dan memasukkan ke dalam tas. Agas bertanya, "Kita mau turun sekarang kah Mas?" Mas Burhan pun menjawab, "Iya kita turun deluan aja, aku merasa gak enak badan, segera turun jika gak enak badan begitukan peraturannya?" Agas pun menjawab, "Iya Mas."


Setelah membongkar tenda dan beres-beres barang. Mereka berpamitan dengan Mas Galih untuk turun deluan, awal nya mereka di larang keras oleh Mas Galih karena jalurnya yang sangat berbahaya, apalagi hanya berdua, sangat membahayakan jika terjadi sesuatu. Tapi Mas Burhan tetap bersikeras untuk turun deluan. Akhirnya Mas Galih membolehkannya.


Mas Burhan memimpin perjalanan mereka berdua menurunin gunung ini. Waktu menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh sore, selama perjalanan belum terjadi apa-apa mereka terus berjalan mengikuti jalur yang mereka lalui ketika naik ke atas. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat mereka menunggu matahari terbit dan di serang oleg segerombolan 4nj1ng hitam. Sesampainya di sana Mas Burhan bingung karena ada dua jalur yang berbeda, jalur kanan datar tanahnya sedangkan jalur kiri tanahnya turun ke bawah. Mas Burhan berkata, "Yang mana jalannya, aku lupa?" Agas kaget, dia juga bingung karena baru ini mendaki gunung tersebut. Mas Burhan berkata, "Bagaimana kalau kita pilih jalur kiri, secara naluri kan kita turun gunung berarti ke bawah kan?" Agas menjawab, "Iya juga Mas."

__ADS_1


Mereka berdua mengambil jalur kiri yang terus menuju ke bawah seperti tidak ada ujungnya, semak-semak semakin lebat dan tinggi, tinggi melewati tinggi Agas. Agas mulai merasakan ada yang aneh, karena hutan ini sangat sunyi, tidak ada suara burung atau hewan hutan lainnya. Agas bertanya setengah berbisik, "Mas, merasa ada yang aneh gak sama ini hutan?" Mas Burhan menjawab, "Ssstt... Diam aja, jangan jauh-jauh dari aku." Agas pun menurut dan mengikuti Mas Burhan. Tiba-tiba langit mendung, kabut mulai tebal, jarak pandang mereka menjadi sangat terbatas. Tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras di barengin dengan petir bersaut-sautan. Perasaan Agas semakin tidak karuan, tapi Agas terus membuntuti Mas Burhan yang terus berjalan di depannya.


Tiba-tiba Mas Burhan melihat ada seseorang yang berjalan di depannya seperti pendaki juga, jarak Mas Burhan dan pendaki itu kurang lebih seratus meter. Mas Burhan memberitahu Agas dengan suara kecil, "Kayak nya ada pendaki lain tuh?" sambil menunjuk ke depan. Melihat itu Agas sedikit tenang ternyata ada pendaki lain. Mereka pun mempercepat langkah mereka bermaksud ingin sama-sama ke bawah dengan pendaki itu. Tapi semakin di kejar terasa semakin jauh, hingga membuat Agas mulai kecapean karena mengejar pendaki tersebut tapi tidak sampai-sampai. Agas berkata, "Mas, kok gak sampai-sampai ya?" Mas Burhan menjawab, "Iya nih, atau kita panggil aja ya supaya di berhenti." Agas berkata, "Boleh Mas." Mas Burhan pun memanggil pendaki tersebut berkali-kali namun tidak menoleh ke mereka. Agas berkata, "Mungkin gak kedengaran Mas karena hujan juga." Mereka pun setengah berlari sambil terus memanggil pendaki tersebut.


Tak lama kemudian si pendaki menoleh ke belakang dan melambaikan tangan, Agas dan Mas Burhan senang bukan main ternyata panggilannya di dengar. Mas Burhan berkata, "Huffh... Mas mau turun ke bawah kah?" Pendaki itu berkata, "Saya gak turun, saya mau naik lagi lewat jalur sana, ada barang yg ketinggalan. Kalian sendiri mau kemana, turun?" Mas Burhan menjawab, "Iya, kami mau turun tapi bingung sama jalan nya, kebetulan ada Mas disini jadi kejar Mas tadi." Pendaki itu tersenyum dan memberi arahan kepada Mas Burhan dan Agas, "Kalian lurus aja ngikutin jalun ini jangan belok-belok, nanti di ujung jalur ini ada pertigaan, kalian ambil sebelah kiri ya, ikutin aja jalur itu nanti kalian sampai lagi ke basecamp bawah." Mas Burhan pun menjawab, "Makasih mas."


Mereka bertiga sama-sama berjalan sampa ke ujung jalur ini, sesampainya di pertigaan mereka berpisah, si pendaki kembali naik ke atas melalui jalur kanan, sedangkan Mas Burhan dan Agas turun ke bawah melalui jalur kiri. Agas bertanya, "Mas, pendaki tadi itu manusia kan bukan penampakan". Mas Burhan menjawab, "Yang aku rasakan bukan, dan semoga aja memang bukan."


Sayup-sayup suara lolongan 4nj1ng hilang, mereka berhenti berlari dan beristirahat di bawah pohon besar. Agas membuka pembicaraan, "Kenapa kita sial terus ya Mas." Mas Burhan menjawab, "Mungkin ada sesuatu di antara kita berdua yang masih belum terselesaikan di gunung ini." Agas terdiam dan berusaha mencerna perkataan Mas Burhan. Tiba-tiba Agas mendengar suara "Selamatkan aku, aku dimana?? Tolong aku!!!" suara itu sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya. Agas langsung berdiri membuat Mas Burhan kaget dan bertanya, "Ada apa le?" Agas menjawab, "Ada yang minta tolong Mas?" Mas Burhan segera berdiri dan mengajak Agas segera pergi, "Kita tinggalkan tempat ini segera sebelum terjadi apa-apa, ini sudah sore."


Mereka melanjutkan perjalanan, Agas mendengar suara ramai-ramai di bawah gunung, Mas Burhan berkata sambil memeluk Agas, "Kita sampai le, makasih banyak sudah nemanin selama perjalanan, sangat luar biasa perjalanan kita ini. Semoga nanti kita bisa sama-sama mendaki lagi le." Agas menjawab, "Iya Mas, makasih juga selalu menolong dan menjagaku yang masih sangat awam dengan gunung ini."

__ADS_1


Setelah sampai di kaki gunung, Agas sangat senang. Mereka berdua turun gunung menghampiri teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang. Teman-temannya kaget melihat Agas dan bertanya, "Kamu dari mana saja Agas, kami sangat khawatir?" Agas menjawab, "Aku sama Mas Burhan, tenang aja aku sudah sampai sini kan dengan selamat." Salah satu temannya berkata, "Kamu tadi sama Mas Burhan." Agas menjawab, "Iya beneran, nih Mas Bur..." Agas terdiam karena di belakangnya tidak ada Mas Burhan. Teman-temannya langsung merangkul Agas, salah satu temannya berkata, "Mas Burhan sudah meninggal, dia jatuh ke jurang, Tim SAR yang menemukan Mas Burhan. Kita kira kamu sudah hilang ternyata kamu sampai di bawah dengan selamat." Agas duduk menangis, terbayang kenangan berjuang bersama dengan Mas Burhan, Mas Burhan selalu membantu dan menolong dirinya.


"Agaasss...." Agas terkejut dan mencari sumber suara yang memanggilnya. Agas kaget dan semakin menangis, Agas melihat Mas Burhan melambaikan tangan di kaki gunung tempat terakhir dia di antar oleh arwah Mas Burhan. Dalam hati Agas berkata, "Terima kasih Mas Burhan, anda telah memberikan ku banyak pengalaman untuk pendakian kali ini, aku gak akan pernah melupakan jasa mu. Semoga kamu tenang disana."


Salah satu temannya menghampiri Agas, "Ayo kita pulang le, jangan sedih terus. Ikhlaskan Mas Burhan supaya dia tenang di sana." Mereka pun meninggalkan tempat itu menuju ke rumah mereka masing-masing.


Akhirnya cerita perjalanan Agas sudah selesai. Semoga ada hikmah yang dapat di petik dari cerita ini. Apakah teman-teman sudah tau gunung apa yang di naiki oleh Agas?


-------------------------------------------


Jangan lupa teman-teman, nantikan kisah-kisah pendakian lainnya. Jangan lupa juga like, komen, dan share..

__ADS_1


Byee......


__ADS_2