Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Gunung Dempo Part 5


__ADS_3

Dan seperti sebelumnya, tiap kali ada kejadian, sekeliling kami riuh dengan berbagai suara dan tawa cekikikan seakan mengejek. Aku sempat melihat sekilas ke pohon besar di belakang kami, tapi aku langsung membuang muka. Disana berkumpul banyak Kuntilanak, pocong dan genderuwo.


Sadar karena tak bisa berlama-lama ditempat seperti ini, Bang Idan memegangi Bang Amran dan mulai berjalan lagi. Senter


diserahkan pada Anes yang terpaksa berjalan paling belakang.


Beberapa kali Bang Amran tersadar dan bertanya pada Bang Idan,


"Heh kenapa aku Das?"


Tapi tak lama, dia mulai kesurupan lagi. Matanya kembali melotot dan marah-marah menebarkan ancaman, bahwa kami tak akan bisa selamat dari gunung ini. Sesekali dia juga berkata dengan marah.


"TINGGALKAN! TINGGALKAN!


KALIAN HARUS TINGGALKAN DISINI!! "


Tapi kami tak mengerti maksudnya, apa yang ditinggalkan? Atau siapa yang ditinggalkan? Bang ldan memberi kode agar kami mengabaikan saja ocehan Bang Amran. Ucapan itu dia ulang terus, tapi kami tak menghiraukannyya. Tak lama berjalan, kami tiba di sebuah tempat yang lumayan datar di bawah sebuah pohon. Tempat datar itu kira-kira sekitar satu meter persegi. Disitu kami beristirahat lagi.


Sesungguhnya aku tak tega pada Bang Idan. Sambil terus menjaga kami dia juga dengan ketat memegangi Bang Amran yang selalu memberontak sambil marah-marah. Tapi keadaannya memang sungguh berbahaya, tidak perlu melompat ke jurang di sisi kiri, jatuh di turunan-turunan ekstrim ini pun akan fatal akibatnya.


Ditempat istirahat ini Bang ldan memejamkan matanya sambil tangannya terus merangkul Bang Amran. Aku mendekati Ale yang sejak tadi hanya diam dan mengajaknya ngobrol.


"Le, maksud Bang Amran apa ya teriak-teriak 'tinggalkan' itu?" Tanyaku pada Ale.


Tapi Ale seakan tidak mendengar pertanyaanku. Matanya menatap kosong pada satu titik dibelakang pohon. Jari tangannya saling menggenggam dengan erat dan dililit menggunakan syal. Aku mengulangi lagi pertanyaanku karena kupikir Ale tak mendengar, "Le, kamu tak dengar kah? Aku tadi tanya, Kira-kira apa maksud Bang Amran bilang 'tinggalkan tinggalkan' itu?"


Kali ini Ale menatap mataku. Wajahnya seputih mayat, bibirnya gemetaar.


"Pin, aku takut sekali Pin." Suaranya terdengar bergetar saking takutnya.


"Ada apa, Le?" Tanyaku.


"Itu si Monyet besar itu dari tadi terus mengintai kita Pin."


"Monyet apa Le? Makhluk yang tadi cengkram kakiku?" Tanyaku sambil pandanganku menyapu hutan berkabut di sisi kananku, mencari keberadaan makhluk yang Ale maksud.


"Bukan, Pin. Beda. Dia udah ngikutin kita dari atas. Matanya merah menyala, badannya besar berbulu."Jawab Ale setengah berbisik, "Dia terus-terusan ngomong ke aku, Pin. Aku takut, Pin."


"Ngomong apa dia, Le?" Tanyaku penasaran. Mata Ale terlihat semakin ketakutan, wajahnya kian pucat.

__ADS_1


"Dia bilang, cepat dorong temanmu itu. Cepat dorong temanmu itu." Jawab Ale, " "Begitu terus menerus, Pin. Aku takut dikuasainya dan kesurupan kayak Bang Amran, makanya ku ikat tanganku ini."


"Siapa yang didorong maksudnya, Le?" Tanyaku lugu.


"Kamu, Pin."


Sekarang aku yang ketakutan setengah mati.


"Yang benar, Le?" Tanyaku memastikan.


"Bener, Pin. Demi Allah demi Rasullulah! Aku benar-benar takut, Pin."


Tiba-tiba Bang ldan membuka matanya dan menghardik kami berdua. "Heh, ngomong apa kalian?!"


Lalu Ale menjelaskan yang sebelumnya sudah dia ceritakan padaku. Bang ldan mendengarkan dengan serius. Alis matanya


bertaut, dia tampak kesal. Setengah berteriak dia bertanya ke Ale.


"Mana makhluk itu?! Tunjuk, Le!!"


Dengan ketakutan Ale menunjuk sebuah titik dibelakang pohonbbesar. Bang ldan menyenteri tempat itu, tapi tidak ada yang


"Bener omonganmu itu, Le?!" Tanya Bang ldan lagi.


Ale mengangguk pelan. Nafas Bang ldan naik turun. Nampaknya dia semakin muak dengan keadaan ini. Lalu dia meminta kami


berdiri dan mulai bergerak lagi. Bang ldan mengambil tangan Bang Amran dan mulai memapahnya lagi. Bang Amran terus ngoceh sendiri dalam bahasa yang kami tak mengerti. Satu-satunya yang kumengerti adalah jika dia mulai mengulangi lagi kalimat, 'Tinggalkan. Tinggalkan saja dia disini.'


Tapi kali ini ucapan itu ditimpali Bang ldan dengan emosi.


"NGGA ADA YANG DITINGGALKAN DISINI!"


Kami semua menciut mendengar Bang ldan mulai emosi. Aku yang tadinya mau menanyakan sesuatu pada Ale terpaksa mengurungkan niatku.


Semakin turun ke bawah, kabut semakin pekat. Kami kembali merapatkan posisi, khawatir akan terpisah di tengah kabut. Kuntilanak-kuntilanak masih berjejeran di pohon-pohon. Aku berdoa semoga mereka tetap seperti itu pada kami, jangan pernah


mendekat.


Kami terus turun dalam diam. Tubuhku rasanya sudah remuk akibat kelelahan, juga lapar dan haus. Setelah berjalan selama beberapa lama, kami tiba di sebuah tempat yang lumayan rata di bawah sebuah pohon. Disitu Bang Idan meminta kami kembali beristirahat.

__ADS_1


Aku celingak-celinguk melihat tempat kami beristirahat, lalu mendekati Bang ldan.


"Bang, ini bukannya tempat yang tadi?" Tanyaku takut-takut.


"Jangan ngawur! Ngga ada itu!" Sembur Bang ldan, "Kita udah jalan turun lama tadi. Jangan ngawur!"


Aku tidak berani membantah Bang ldan. Tapi aku yakin, ini tempat tadi kami beristirahat. Baru saja aku hendak bertanya pada Ale, kami mendengar Anes berteriak-teriak histeris. Tangannya mengibas-ibas ke udara.


"PERGI! PERGI!! TUHAN YESUS, TOLONG AKU!! PERGII..!"


Kami semua terperangah melihat Anes dengan panik menepuk-nepuk udara kosong. Apakah kali ini Anes yang kesurupan?


"Nes! Ada apa Nes?" Tanyaku setengah berteriak padanya.


Tak kusangka dia menjawab, walau masih terus memukul dan menendang-nendang udara kosong.


"Tolong, Pin! Aku mau dibawa kuntilanak!"


Dalam kekalutan itu, aku bingung harus bagaimana? Bagaimana caraku menolong jika aku tak melihat apapun? Sementara Anes terus nampak bergulat dengan sesuatu yang tak kasat mata sambil mulutnya terus menerus meminta pertolongan pada Tuhannya.


Yuni menangis sambil berdoa, sementara Bang Amran yang masih kemasukan terus saja berteriak.


TINGGALIN AJA! TINGGALIN AJA! BAWA!! HAHAHA!!


Bang ldan sambil memegangi Bang Amran yang berusaha berontak, berteriak pada kami, "Jangan diam aja! Bantu doa!"


Yuni kembali menangis dan berteriak-teriak dengan histeris. Sementara Ale tiba-tiba saja menjatuhkan dirinya dan meringkuk


dengan tubuh gemetar. Dengan menyeret Bang Amran bersamanya, Bang ldan mendekati Ale.


"Le, kenapa Le?" Bang ldan bertanya sambil


mengguncang-guncangkan bahunya. Ale tak bereaksi apa-apa, tubuhnya malah semakin meringkuk, tangannya ditangkupkan menutup telinganya dengan erat. Kali ini Bang ldan bertanya lagi sambil sedikit menepuk pipinya,


"Le, ada apa Le??"


Ale yang tiba-tiba menyadari Bang ldan ada didekatnya, menjawab dengan suara yang gemetar karena takut, "Bang, tolong aku bang."


"Ada apa, Dek. Bilang sama Abang." Balas Bang ldan dengan lembut.

__ADS_1


-Tbc-


__ADS_2