Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Teror Di Gunung Dempo Part 1


__ADS_3

Walau tenaga sudah nyaris habis, tapi aku bersyukur karena sudah berhasil mencapai Puncak Dempo dan Puncak Merapi berturut-turut.


Sekarang yang kami perlukan tinggal menuju Pelataran, masuk tenda dan istirahat. Kami berenam, lima laki-laki: Amran, ldan, Anes, Ale, aku, dan satu orang perempuan: Yuni. Kami semua masih sekolah, hanya Bang Amran dan Bang Idan yang sudah lulus.


Dalam pendakian Dempo ini, Bang Idan bertindak sebagai pemimpin rombongan karena selain lebih tua, dia juga pernah kesini sebelumnya, begitupun Bang Amran dan Yuni. Sementara buat yang lainnya, termasuk aku, ini adalah pendakian perdana.


Ada kekhilafan konyol namun akibat yang ditimbulkan tak pernah terbayangkan oleh kami. Tanpa sengaja Bang ldan membawa kartu remi bergambar porno di carriernya. Bang ldan menemukan kartu itu di kantong celananya ketika baru saja berganti pakaian setelah kami baru sampai di Pelataran.


"Gituan kenapa dibawa Dan? Kau ini ngajarin ngga bener aja." Kata Bang Amran ketika melihat tumpukan kartu itu.


"Tak sengaja aku Am." Jawab Bang ldan malu-malu, lalu menambahkan sambil cengar-cengir, "Habis kami mainkan kemarin malam, eeh kok malah ikut terbawa packing."


"Hati-hatilah Dan. Mereka ini masih sekolah, apalagi ada perempuan." Sambung Bang Amran.


Bang ldan cuma garuk-garuk kepala sambil tersenyum malu. Tapi insiden itu segera kami lupakan, malah kami justru bersyukur, kartu-kartu remi bergambar porno itu segera kami mainkan walau terpaksa sambil menahan air liur melihat gambar-gambar syur nya.


Menjelang magrib aku mendekati Anes dan Yuni yang sedang memasak nasi di luar tenda, mengabarkan kalau kami hendak


sholat magrib berjamaah dulu.


"Aku sholat magrib dulu Nes, Yun." Kataku.


Anes menganggukkan kepalanya dan menjawab, "lya Pin, aku disini

__ADS_1


nemenin Yuni. Dia haids ternyata."


"Tadi ngga?" Balasku.


"Baru banget dapet." Kali ini Yuni yang menjawab tanpa menoleh ke arahku.


Akhirnya kami berempat sholat magrib berjamaah, sedang Yuni dan Anes berbeda keyakinan.


Selesai sholat bersamaan nasi matang. Tapi baru saja kami bersiap untuk makan, tiba-tiba gerimis disertai angin kencang yang disusul oleh badai menerjang. Kami semua langsung buru-buru masuk tenda.


Rasa lapar sudah tak terpikirkan lagi. Hujan besar dan angin kencang seakan berniat ingin merubuhkan tenda kami. Frame tenda terdengar bergemeretak menahan tekanan badai. Kain tenda yang lepas dari pasaknya berkibar-kibar menghasilkan suara yang menciutkan nyali. Aku melihat satu persatu wajah pucat pasi teman-temanku. Ini adalah pengalaman pertama kami dihantam badai dahsyat di atas gunung. Nyaliku turun hingga titik terendah, apalagi tidak ada orang lain di gunung ini selain kami.


Yang paling aku takutkan adalah jika tenda kami diterbangkan badai, karena aku rasakan semakin lama tiupan angin malah semakin kencang. Aku lalu berinisiatif keluar untuk mengecek dan mengencangkan pasak-pasak tenda.


Bang Amran ikut keluar bersamaku. Masing-masing kami memegang sebuah senter karena gelap sudah mulai turun.


Tapi selain badai angin ini ada suara lain yang menarik perhatianku dan Bang Amran. Suara itu hilang timbul diantara desingan suara angin badai, namun yang jelas intensitasnya semakin meningkat. Suara itu bagaikan berasal dari dalam tanah, rasanya aku juga bisa merasakan getaran di bawah kakiku.


Lalu mataku melihat sesuatu yang paling mengerikan yang pernah aku lihat. Bang Amran juga tampak membelalak seakan tak


mempercayai penglihatannya. Sekian detik, kaki kami berdua seakan tertancap ke tanah tak mampu digerakkan. Lalu saat kesadaranku pulih, sekuat tenaga aku berteriak pada teman-teman di dalam tenda.


"AIR BAH!! KABUR! KABUR!! LARI!!" Aku berteriak-teriak dengan panik.

__ADS_1


Mendengar teriakanku, teman-temanku langsung berhamburan keluar tenda dan dengan mata kepala sendiri melihat pemandangan paling mencekam yang pernah kami lihat.


Dengan ngeri kami melihat dari atas Puncak Merapi air bah turun bergulung-gulung ke arah kami. Tanpa berpikir lagi kami langsung lari tunggang-langgang ke arah yang lebih tinggi. Waktu seakan bergerak lambat bagi kami, sementara dibelakang suara air bah terdengar semakin mendekat dengan cepat. Yuni berlari sambil terjatuh-jatuh karena panik.


Kami tiba ditempat yang aman tepat waktu. Dengan mata kepala sendiri, kami menyaksikan air bah menerjang tenda kami,


mengoyaknya dan hilang terbawa aliran banjir. Aku lihat Yuni terjatuh lalu menangis. Teman-teman yang lain juga terlihat shock. Aku memandangi kedua tanganku yang gemetar hebat. Kami hampir saja mati barusan. Aku tak menyangka air di kawah Puncak Merapi bisa naik dan menimbulkan air bah. Terlambat sedikit saja, kami akan ikut terseret seperti nasib tenda kami. Untunglah tidak ada orang lain selain kami di Pelataran.


Malam semakin gelap. Badai sudah kehilangan kekuatannya, tapi hujan rintik masih belum berhenti. Kami berkumpul berdesak-desakan, bingung harus berbuat apa. Tenda dan seluruh peralatan kami sudah hilang tak berbekas. Yang tersisa hanya senter yang aku dan Bang Amran pegang.


Malam semakin pekat. Tak dapat lagi kami bedakan mana tanah dan mana langit. Puncak Merapi hanya terlihat sekilas ketika petir menyambar. Setelahnya kembali hanya kegelapan. Bang ldan akhirnya mengambil keputusan untuk turun. Semakin lama kami diam ditempat tanpa tenda akan semakin berbahaya. Apa lagi kami masih harus melewati Puncak dempo untuk turun. Belum lagi suhu dingin ditambah hujan rintik, hypothermia bisa menerkam kami kapan saja.


Kami berjalan pelan. Jalanan berbatu ke arah puncak Dempo menjadi licin akibat hujan. Kami harus berhati-hati. Bang Amran


berjalan di depan sambil mengarahkan senternya memperhatikan jalur yang kian menanjak. Di belakangnya mengekor adalah aku, Yuni, Ale dan Anes. Senter satu lagi kuserahkan pada Bang ldan yang berjalan paling belakang.


Aku sedang konsentrasi pada nafasku ketika tiba-tiba petir menyambar pucuk pohon cantigi di belakang kami. Jantungku


hampir copot karena kaget. Sebuah titik api terlihat di bekas sambaran petir tadi sebelum akhirnya hilang tersiram hujan. Kami semua saling berpandangan tanpa berkata apa-apa.


Belum juga hilang rasa kaget kami, sebuah petir yang lain menyambar pohon cantigi yang lebih dekat. Lalu petir yang lain menyambar sebuah batu besar yang jaraknya lebih dekat lagi. Batu itu langsung terbelah dan terbakar api. Jantungku berderap kencang. Firasat ku mengatakan ada sesuatu yang salah. Instingku berteriak-teriak agar aku cepat lari dari situ. Petir-petir ini mengejar kami!


Dan tanpa komando lagi, kami semua berlarian dengan panik semampu yang kami bisa. Petir- petir terus menyambar di

__ADS_1


belakang kami, semakin mendekat. Tiap kali suaranya menggelegar jantungku seakan berhenti berdetak. Dalam kepanikan itu sesekali aku dengar isak tangis Yuni yang ketakutan.


-Tbc-


__ADS_2