Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 12


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Hari-hari yang kami lalui selama terjebak di bawah longsoran salju merupakan saat-saat yang menyeramkan. Kami tidak bisa tidur, tidak bisa menghangatkan tubuh kami sendiri maupun mengeringkan pakaian yang basah. Saat terperangkap di dalam, mesin pembuat air milik Fito tidak berguna lagi untuk kami, dan satu-satunya cara untuk mengurangi rasa haus adalah dengan menggerogoti bongkahan salju yang kami gunakan untuk merangkak dan tidur.


Kelaparan menjadi masalah yang rumit


bagi kami. Karena kami tidak dapat keluar, kami tidak memiliki makanan dan mulai melemah. Kami menyadari bahwa mayat-mayat korban longsoran salju berada di dekat kami, tetapi kami tidak tega melakukannya. Sejak kali pertama kami memotong daging untuk kami makan, daging-daging itu dipotong di luar pesawat dan tidak ada yang menyaksikannya kecuali mereka yang memotongnya. Kami tidak tahu tubuh siapa yang telah diambil dagingnya.


Setelah selama beberapa hari terkubur di bawah salju, mayat-mayat di luar pesawat itu telah sangat beku sehingga dengan mudah kami menganggap mereka sebagai benda mati. Sedangkan kini kami tidak bisa menganggap mayat-mayat didalam pesawat sebagai makanan. Sehari sebelumnya mereka masih hidup dan hangat. Bagaimana mungkin sekarang kami makan daging segar yang kami potong dari tubuh seorang yang baru saja meninggal di hadapan kami? Diam-diam kami sepakat bahwa kami lebih baik kelaparan selama menunggu badai mereda.


Namun, pada 31 Oktober, hari ketiga di bawah longsoran salju, kami tahu bahwa kami tidak dapat menahan rasa lapar ini lebih lama lagi. Aku tidak ingat, mungkin Roberto atau Gustavo, tetapi salah seorang dari mereka menemukan pecahan kaca, lalu membersihkan salju dari salah satu mayat, kemudian mulai memotongnya.


Sungguh mengerikan, melihatnya memotong daging dari tubuh teman kami, mendengarkan bunyi halus potongan kaca merobek kulit dan menggergaji urat tubuh mayat itu. Ketika sepotong daging diberikan padaku, aku menolak. Biasanya, sebelum dimakan, daging itu telah dikeringkan di bawah sinar matahari, membuat rasanya lebih enak untuk dimakan, tapi sekarang potongan daging yang diberikan Fito kepadaku lembut, berminyak, berlapis darah, dan sedikit terdapat tulang muda yang masih basah. Aku hampir muntah ketika daging itu kumasukkan ke mulut, aku harus mengerahkan seluruh kemauanku untuk mengunyahnya. Fito memaksa kami semua untuk memakannya ia bahkan memaksa sepupunya, Eduardo, untuk memakannya. Beberapa orang, termasuk Numa dan Coche yang memiliki stamina yang bagus, tidak terbujuk untuk menelan potongan daging manusia. Aku terganggu dengan sifat keras kepala Numa. Dia adalah seorang petualang, sumber kekuatanku, pelindungku, dan aku tidak ingin mendaki pegunungan ini tanpa dirinya.


"Numa, kamu harus makan. Kamu harus tetap kuat." Kataku padanya.


Numa menyeringai dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah makan daging manusia sebelumnya. Aku tidak tahan. Maafkan aku Nando."

__ADS_1


Selama di gunung, aku jarang bermimpi aku jarang tidur dengan nyaman tetapi pada suatu malam, saat aku tidur di bawah longsoran salju, aku melihat diriku terbaring dengan kedua lenganku telentang. Mataku tertutup rapat.


"Apakah aku sudah mati? Aku bertanya pada diriku sendiri. Tidak, aku bisa berpikir, aku terjaga."


Kemudian terlihat sesosok bayangan hitam berdiri di dekatku.


"Roberto? Gustavo? Siapa kamu? Siapa disana?"


Hening, tidak ada jawaban. Aku melihatnya menggenggam sesuatu yang mengkilat, ternyata ia sedang memegang pecahan kaca. Aku mencoba berdiri, tetapi aku tidak dapat bergerak.


"Menyingkir dariku! Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan! "


Bayangan itu mendekatiku kemudian berlutut dan mengiris tubuhku dengan pecahan kaca. Dia mengiris daging dari lenganku dan memberikannya ke bayangan yang berada di belakangnya.


Sedangkan bayangan lainnya memasukkan potongan dagingku kedalam mulut, lalu mengunyahnya.


"Tidak! Jangan! Jangan potong tubuhku!" Aku menangis.


Bayangan itu terus mengiris-iris tubuhku, memotong daging di lenganku. Aku tahu ia tidak bisa mendengarku dan aku sadar bahwa aku tidak merasa sakit.


"Ya Tuhan, apa aku sudah mati?"

__ADS_1


Kemudian aku tersentak bangun.


...........


Kondisi fisik beberapa teman kami mulai melemah, terutama Moncho Sabella, tetapi sejauh ini hanya Arturo dan Rafael yang keadaannya paling parah. Arturo menjadi lebih sering diam, nampaknya ia telah kehilangan semangat hidup.


"Bagaimana keadaanmu Arturo?" Tanyaku.


"Aku sangat kedinginan Nando. Aku tidak lagi merasakan sakit. Mungkin waktuku sudah dekat."


"Cobalah bertahan Arturo."


"Nando, tolong sampaikan pada keluargaku bahwa aku menyayangi mereka."


"Kamu sendiri yang akan mengatakannya."


Arturo tersenyum. "Aku sudah siap Nando. "


Sepanjang hari pada minggu pertama November, Arturo semakin lemah dan menarik diri. Pedro Algorta, sahabatnya, selalu berada di dekatnya dalam keadaan apa pun, memberinya minum, menghangatkan tubuhnya, dan mendoakannya.


Pada suatu malam, Arturo mulai menangis pelan. Saat Pedro menanyakan Arturo kenapa ia menangis, Arturo menjawab dengan tatapan yang kosong, "Karena aku merasa sangat dekat dengan Tuhan."

__ADS_1


Hari berikutnya Arturo mengalami demam yang sangat tinggi. Selama dua hari, ia selalu mengigau dan tidak sadarkan diri. Pada malam terakhirnya, kami menurunkannya dari hammock supaya dekat dengan Pedro, dan sebelum pagi tiba, Arturo Nogueira, salah seorang teman yang paling berani, meninggal dengan tenang di pelukan sahabatnya.


(Bersambung)


__ADS_2