
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Malam itu saat kami dalam pesawat, Roberto menjelaskan alasan kami kembali. Dia menjelaskan kami menemukan ekor pesawat dan beberapa koper.
Mereka mendengarkan dengan seksama saat Roberto menjelaskan rencananya untuk memperbaiki radio panggil Fairchild. Pantas untuk dicoba, mereka semua setuju, tetapi sepertinya mereka kurang begitu antusias.
Ada tatapan aneh dari mata mereka, letih akan keadaan ini. Beberapa orang menunjukkan tatapan suram dan kosong seperti orang-orang di kamp konsentrasi yang pernah kulihat di foto-foto. Beberapa minggu yang lalu, mereka adalah pemuda-pemuda yang penuh semangat. Sekarang mereka berjalan bungkuk dan tertatih-tatih, seperti orang tua, dan baju yang lusuh menempel di tubuh mereka yang kurus. Mereka benar-benar seperti mayat berjalan walaupun keadaanku tidak lebih baik.
Aku merasakan semangat mereka tidak lagi menyala, dan aku tidak bisa menyalahkan. Kami telah melewati begitu banyak penderitaan, dan muncul banyak pertanda buruk, meskipun telah berjuang dengan berani, Rafael akhirnya meninggal.
Perjalanan kami menuju timur telah gagal. Dua kali percobaan mendaki gunung ke arah barat berakhir dengan bencana.
Keesokan harinya aku dan Roberto mulai bekerja untuk melepas radio panggil Fairchild. Ruang kokpit penuh dengan macam-macam tombol dan instrumen yang rumit. Kami harus mengira bagian mana yang berhubungan dengan radio dan mana yang bukan.
Akhirnya, kami menyimpulkan bahwa radio tersebut terdiri dari dua komponen utama, satu komponen berada di dalam panel kontrol ruang kokpit dan satu kompenen lainnya tersembunyi di belakang panel plastik di dinding bagasi pesawat. Komponen yang berada di panel kontrol dengan mudah kami keluarkan setelah membuka beberapa baut penguatnya. Komponen kedua, terselip di dinding pesawat yang gelap, sempit, tertancap lebih dalam dan sulit untuk diambil. Dengan hanya menggunakan tangan serta sedikit dibantu benda logam dan plastik, kami berusaha melepaskan beberapa baut dan penjepit yang menahan transmiter itu, tetapi kami berhasil melepasnya setelah berusaha selama dua hari. Ketika akhirnya dapat mengeluarkan dan merangkainya dengan komponen dari kokpit, aku melihat usaha kami sia-sia. .
"Carajo! Lihatlah kekacauan ini! Tidak mungkin bisa, Roberto!" Aku berteriak.
Setiap komponen memiliki kabel-kabel kecil yang tersusun acak. Roberto tidak menanggapi ku, dengan hati-hati dia menghitung kabel dari setiap komponen.
Aku terus menerus mengomel dan bicara tentang betapa tak berguna nya radio ini. Ekspresi Roberto menunjukkan kemarahan.
"Radio ini dapat menyelamatkan hidup kita! Kau sudah berjanji untuk coba memperbaiki sebelum kita mendaki gunung! " Bentaknya.
"Baik! Baik! Akan ku minta Roy memeriksanya." Kataku mengalah.
__ADS_1
Roy berteriak, "Tidak, tidak! Aku tidak bisa memperbaikinya. Komponen ini terlalu rumit."
Roberto berkata dengan dingin, "Kami akan membawa radio ini ke ekor pesawat. Kamu ikut."
Wajah Roy berkerut dan mulai menangis. Dia sangat ketakutan karena harus meninggalkan pesawat, pada hari berikutnya ia memohon kepada teman-teman supaya diizinkan untuk keluar dari tim ekspedisi ini.
Fito dan sepupunya bersikap tegas, memaksa ia untuk tetap pergi. Mereka memaksa Roy untuk memikirkan keselamatan kami semua. Mereka bahkan memaksa Roy untuk melatih fisiknya supaya kondisinya lebih baik. Roy tidak mau menuruti mereka, dan sering kali dia menangis saat melangkah di atas salju.
Roy bukanlah pengecut. Aku telah mengenalnya jauh sebelum kecelakaan itu, dari caranya bermain rugby dan dari caranya menjalani hidup. Pada awal cobaan berat ini, saat fisiknya masih kuat, ia adalah salah seorang yang paling giat bekerja. Sesaat setelah pesawat jatuh, Roy selalu berada di sisi Marcelo untuk mengatur segala sesuatu serta membuat sebuah dinding untuk melindungi kami dari hawa dingin. Dan aku tidak akan pernah melupakan jasa Roy saat longsoran salju menimbun kami semua, ia cepat bertindak dengan mencari dan menolong kami, tanpa dirinya, kami semua tidak akan mungkin selamat.
la masih terlalu muda. Aku merasakan penderitaan telah menghancurkan keberaniannya, dan tampak jelas bahwa cobaan berat ini telah merusak kesehatannya. Sekarang ia seperti mayat berjalan, salah seorang teman kami yang paling kurus dan lemah, aku menaruh rasa iba kepadanya seperti yang kurasakan untuk teman-temanku lainnya. Selama berada di gunung, aku jarang marah terhadap teman-temanku. Aku memahami rasa takut mereka, tekanan yang mereka hadapi, terutama teman-teman kami yang lebih muda, sehingga lebih mudah untuk bersabar ketika rasa takut telah menjadikan mereka egois dan malas.
Roy merasakan penderitaan yang sama dengan kami semua, tetapi saat kondisi fisik dan mentalnya semakin lemah, aku menjadi marah karena ia semakin sering menyusahkan kami. Untuk beberapa alasan, sulit menunjukkan kebaikanku padanya. Sehingga, saat ia memohon kepadaku dengan putus asa untuk tidak diikut sertakan dalam ekspedisi ini, aku bahkan tidak menatap matanya.
Selama beberapa hari ini, Roberto hanya mengutak-atik radio pesawat, dan saat aku menunggunya untuk memperbaiki radio itu, aku semakin mencemaskan kondisi Numa. Semenjak kami memintanya untuk tidak ikut serta dalam ekspedisi ini, semangatnya mengendur. Dia menarik diri dan menjadi pemurung, ia menjadi frustrasi dengan dirinya sendiri dan dengan tubuhnya karena telah mengkhianatinya. Dia menjadi lekas marah dan murung, dan yang terburuk, ia sama sekali tidak mau makan.
"Apakah kamu mau makan Numa? Besok kami berangkat ke ekor pesawat. "
"Tapi kamu harus makan, itu hanyalah sepotong daging." Kataku.
"Aku hanya makan saat akan melakukan perjalanan. Sekarang, aku tidak punya alasan apapun untuk makan."
"Jangan menyerah Numa. Kita akan segera keluar dari tempat ini. " Kataku lagi.
Numa menggeleng. "Aku sangat lemah Nando. Aku merasa tidak dapat hidup lebih lama lagi."
"Jangan berkata seperti itu. Kamu tidak akan mati. "
"Tidak apa Nando. Aku telah menjalani hidupku. Jika besok aku mati, setidaknya aku pernah memiliki hari-hari bahagia. "
__ADS_1
Aku tertawa, "Panchito selalu berkata begitu. Dia orang yang nekat. "
"Dia terkenal dengan cara hidupnya. Berapa umurnya? " Tanya Numa.
"Delapan belas tahun. Hidupnya penuh petualangan, ia macho, populer diantara gadis-gadis. " Jawabku.
"Mungkin itulah kenapa dia mati, " Kata Numa, "Agar gadis-gadis itu bisa berkencan dengan kita."
"Ada banyak gadis cantik untukmu, Numa. Tapi kamu harus mau makan dan tetap hidup."
Dia tersenyum dan mengangguk.
Keesokan harinya pukul 08.00, kami memulai perjalanan,dan bergerak cepat saat menuruni lereng gunung. Ketika telah mendekati ekor pesawat, aku melihat tas kulit berwarna merah tergeletak di atas salju, aku mengenali tas itu, itu adalah tas kosmetik milik ibuku. Di dalamnya aku menemukan beberapa lipstik yang dapat ku gunakan untuk melindungi bibirku dari sinar matahari, beberapa bungkus permen, dan sedikit peralatan menjahit. Aku menyimpan barang-barang itu di tas gunung kami dan terus berjalan. Setelah hampir dua jam meninggalkan Fairchild, untuk kedua kalinya kami sampai di bagian ekor pesawat.
Hari pertama kami gunakan untuk beristirahat. Roy dan Roberto mulai bekerja memperbaiki radio.
Mereka bekerja keras, mencoba mencari sambungan kabel yang sesuai dengan baterai, tapi mereka hanya menduga-duga. Dan ketika mereka merasa membuat kemajuan, kabel-kabel itu memercikkan bunga api, mendesis, dan terdengar bunyi letupan. Roberto meminta Roy untuk lebih berhati-hati memperbaikinya dan mereka mengulangi lagi dari awal.
Pada saat siang hari, suhu udara mulai terasa lebih sejuk, dan salju di sekitar ekor belakang pesawat mulai mencair. Beberapa hari yang lalu, sebagian koper masih terkubur di dalam salju, tetapi sekarang bermunculan di atas permukaan tanah.
Ketika Roy dan Roberto memperbaiki radio pesawat, aku dan Tintin menggeledah koper-koper yang bermunculan di sekitar ekor pesawat. Kami menemukan dua botol Rum di salah satu koper itu.Kami membuka satu dan meminum beberapa teguk.
"Jangan dihabiskan," aku berkata. "Kita simpan untuk perjalanan." Tintin mengangguk.
Kami berdua tahu, bahwa radio itu tidak dapat berfungsi kembali, tetapi Roy dan Roberto bekerja keras untuk memperbaiki nya. Mereka memperbaikinya sepanjang hari. Aku semakin cemas dengan percobaan ini, aku ingin kembali ke pesawat sehingga kami dapat mempersiapkan pendakian kami.
"Berapa lama lagi menurutmu, Roberto?" Aku bertanya. Dia hanya menatapku sekilas dengan pandangan yang menjengkelkan.
"Akan selesai jika memang selesai." Katanya.
__ADS_1
(Bersambung)