
"Tiaraaaaaaappppp...!" Teriak Yuni histeris.
Kami serempak menjatuhkan diri ke tanah. Hembusan angin yang besar lewat diatas badan kami, tapi aku sama sekali tak melihat apapun.
"Aa... ada mahkluk hitam **.. ttadi.. " Yuni tergagap, tak lama dia mulai menangis.
"Udah Yun, diem dulu jangan cerita." Kata Bang ldan.
"Makhluk it... Itu.. Mengincar Bang Amran." Yuni seperti tak mendengar himbauan Bang Idan.
Bang Amran yang namanya disebut menelan ludah, wajahnya pucat pasi.
"Kamu pikir begitu Yun?" Tanya Bang Amran.
"lya bang," Jawab Yuni, lalu menambahkan, "Makhluk itu sejak tadi mengikuti kita, matanya selalu menatap Bang Amran. Dia
mengincar Bang Amran."
Kami semua menatap Bang Amran, lalu kemudian saling bertatapan satu sama lain. Raut-raut ketakutan tergambar jelas di
wajah kami. Omongan Yuni barusan membuat jantungku semakin merasa diremas-remas. Penghuni Dempo bukan cuma berniat menganggu, tapi berniat mencelakakan kami.
"Makhluk itu juga yang tadi menarik kaki Alpin." Tambah Yuni, "Tadi aku lihat dia sembunyi dibalik pohon."
Sekarang giliran aku yang pucat. "Memang bukan akar kan Yun? Aku juga lihat tangan hitam yang tadi narik kakiku." Yuni mengangguk, "Tadi aku mau kasih tau, tapi udah terlambat."
Mendengar obrolanku dan Yuni kami semua serentak beristighfar dengan pelan.
"Sudah.. Sudah jangan dipikirkan. Kita lanjut lagi fokus dan jangan sampai terpisah. Kita harus cepat. Kita pasti selamat. Percayalah, kita punya Tuhan!" Bang ldan memotong obrolan kami agar tidak semakin jauh. Kami semua menurut.
Kami tarik nafas panjang untuk menenangkan diri, lalu mulai berjalan lagi. Sambil berjalan itu, aku yang masih penasaran bertanya lagi pada Yuni. "Yun, jadi kamu tadi benar lihat kan yang
narik aku? Aku beneran ngga bohong tadi itu yun. Tadi tangan Yun, bukan akar."
"lya. Makhluk itu tadi pin, aku lihat, mau bilang tapi sudah terlambat." Jawab Yuni.
Ale yang berjalan di belakangku ikut nimbrung, "Kalo aku nda liat tangan, Pin. Tapi aku liat diatas pohon ada monyet besar banget, matanya merah. Dia ngikutin kita terus, tapi aku ngga berani ngomong. Takut dibilang halusinasi."
Dari belakang Bang ldan berteriak membentak kami, "Cukup! Ngga usah cerita ini itu! Sekarang fokus aja jalan biar cepet selamat! Berdoa bukan cerital!" Kami bertiga langsung menciut dan kembali jalan.
__ADS_1
Dan suara-suara gaib kembali terdengar saat kami semua diam. Di balik semak jelas ku dengar suara langkah kaki, juga tawa dan tangisan. Kadang suara ranting patah lalu geraman-geraman yang berat. Namun
yang paling mengganggu adalah suara-suara dari jurang yang memanggil setiap nama kami berulang-ulang.
"Fokus!" Kata Bang ldan, tegas, " Yang dipanggil jangan noleh!" Bang Idan benar. Kami yang hanya fokus pada nafas yang mulai habis karena lelah akhirnya tak mendengar suara apapun lagi, baik dari hutan atau dari jurang di kiri kami. Begitu juga dengan segala penampakan, tiba-tiba hilang begitu saja.
Hampir selama setengah jam kami berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan apapun ketika tiba-tiba Anes di belakangku berteriak kencang.
"PUJI TUHAN! PUJI TUHAN! TUHAN YESUS SELAMATKAN KAMI!!
Anes histeris, matanya melotot memandang sesuatu di arah depan.
Bang ldan dengan sigap memeluk dan langsung mendudukkan Anes yang terus menerus melotot dan tangannya menunjuk
sesuatu yang tak bisa kami lihat.
"Tenang Nes. Tenang. Doa menurut keyakinanmu." Kata bang ldan.
Kami mengelilingi Anes yang histeris. Tubuhnya menggigil ketakutan.
"Kenapa Nes?" Tanya Bang Amran.
"Jangan jalan Bang! Jangan jalan. Didepan ada Harimau Bang. Sepasang harimau!" Anes kini mulai menangis.
Disebelah Anes, Yuni mulai ikut menangis sambil berdoa. Wajah Anes basah oleh peluh, lehernya tampak kaku dengan pandangan lurus ke depan.
"Ayo Nes, jalan lagi." Pinta Bang ldan lembut.
"Jangan Bang, jangan. Harimau Bang." Anes menolak untuk berdiri.
Lalu penampakan dan ketawa cekikikan membahana lagi seakan mengejek. Suara panggilan dari jurang juga merangkak naik
memanggil-manggil Anes.
"Anes...Anes... Anes... "
"Jangan Noleh Nes." Kata Bang ldan, sambil menghalangi pandangan Anes ke arah jurang.
Tapi fokus Anes tak teralihkan. Dia masih terus menatap ngeri ke arah depan. Diantara isak tangisnya, berkali-kali dia mengulang kata yang sama.
__ADS_1
"Harimau.... Harimau...."
Setelah beberapa saat, Anes dan Yuni kembali tenang. Nafas Anes juga mulai teratur. Dan ketika Bang ldan mengajak untuk bergerak, Anes menurut.
Kami berasumsi sepasang harimau yang dilihat Anes sudah pergi.
"Rapatkan jarak. Jangan terlalu jauh." Perintah Bang ldan.
Bang Amran yang paling depan kembali berjalan, disusul Yuni, aku, Ale, Anes dan Bang ldan. Kami berjalan dengan lebih rapat.
Lalu tiba-tiba kami semua bertabrakan. Rupanya Bang Amran berhenti mendadak. Dia tampak tertarik dengan sebuah daun
keladi hutan yang bergerak-gerak sendiri. Dengan santai dia diam memperhatikan sambil menyoroti daun yang bergerak ganjil itu dengan senter.
Seperti yang bisa kuduga, suara Bang ldan kembali terdengar,
"Am, kenapa berhenti? Ngapain nyenterin daun keladi? Biarkan aja itu Am! Kalo mau istirahat, matiin aja senternya, hemat Am!"
Tapi Bang Amran seakan tak menggubris pertanyaan Bang ldan Dia terus saja menyenteri daun itu. Kami semua saling
berpandangan, tak tahu harus bagaimana.
Lalu pelan-pelan Bang Amran berbalik ke arah kami, sebuah senyuman aneh tersungging di bibirnya. Dia menatap kami satu persatu, lalu tawanya pecah dengan keras. Kami semua reflek mundur, ketakutan. Bang Amran masih terus tertawa terbahak-bahak sambil terus bergantian menatap kami.
Lalu dengan suara keras dia menyanyikan reff sebuah lagu yang sedang ramai diputar di radio.
"Andaaaaaai di pisaaaaah! Andaiii dipisaaah!" Bang ldan langsung maju, tapi Bang Amran melompat mundur sambil terus bernyanyi dan tertawa. Dan seperti bukan gerakan manusia, tiba-tiba saja Bang Amran melompat ke pohon terdekat. Bang ldan bergerak cepat menariknya dan menenangkannya.
Kami kembali dicekam ketakutan dan mulai menangis melihat dua orang yang kami tuakan sedang bergumul.
Ketika akhirnya Bang Amran mulai tenang, kami berinisiatif membantu memegangi tubuhnya. Kekhawatiranku adalah jika
Bang Amran melompat ke jurang di sisi kiri kami. Walau sudah tak bergerak, tapi Bang Amran tak berhenti tertawa dan bernyanyi
sambil terus-terusan memelototi kami. Sesekali dia mengomel dengan bahasa Jawa, lain waktu dia menangis seperti perempuan.
"Semua doa," Perintah Bang ldan, "Nes, Yun, kamu juga berdoa menurut caramu."
Tidak ada satu pun dari kami yang mengerti cara menghadapi orang kesurupan. Yang bisa kulakukan hanya istighfar tanpa henti.
__ADS_1
Kudengar Anes dan Yuni juga mengulang-ulang doa yang sama, memohon pertolongan pada Tuhan Yesus. Itulah kepercayaan mereka.
-Tbc-