Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 10


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Cerita menyeramkan itu terus membayangiku, dan kadang-kadang aku tidak mampu mengalihkannya sampai-sampai aku mengabaikan harapan teman-temanku yang lain. Tapi malapetaka dari ekspedisi Gustavo telah memberiku pemahaman baru tentang seberapa sulitnya pendakian.


Seperti semua yang lain, aku menutup mata dari apa yang telah terjadi dengan Gustavo, yang terkenal karena ketangguhan dan staminanya di lapangan. Mengapa aku harus percaya aku dapat menaklukkan pegunungan itu jika aku memang tidak mampu?


Pada saat-saat lemah seperti ini aku ingin menyerah pada keputusasaan. Lihatlah pegunungan itu, aku berkata pada diriku


sendiri. Ini mustahil, kita terjebak di sini. Kita telah berakhir. Semua penderitaan kita telah sia-sia.


Aku memikirkan pendakian, dan itulah yang menenangkanku akan janjiku kepada ayahku. Setelah dua minggu di atas pegunungan, rasa cinta pada ayahku telah menjadi kekuatan yang tak terbendung. Aku tahu bahwa suatu hari nanti akan mendaki walaupun aku mendaki menuju kematianku


sendiri. Apa yang menjadi masalah? Sekarang pun aku sudah mati. Mengapa tidak mati di pegunungan, berjuang dalam setiap langkah hingga saat aku mati, aku akan mati selangkah lebih dekat dengan rumah?


Aku sudah siap menghadapi kematian, tapi karena kematian tak dapat dielakkan, aku tetap merasakan adanya percikan harapan bahwa aku akan bergelantungan


melintasi ganasnya alam dan pulang ke rumah. Pikiran untuk meninggalkan pesawat ini membuatku takut, meskipun aku ingin segera pergi dari sini. Aku tahu bahwa bagaimanapun aku akan menemukan keberanian untuk menghadapi pegunungan itu, aku juga tahu aku tidak akan pernah cukup berani untuk menghadapinya sendiri. Aku butuh teman untuk perjalanan itu, seseorang harus membuatku lebih kuat dan lebih baik, kemudian aku mulai mempelajari teman-teman lain, mengukur kekuatan mereka, watak mereka, kemampuan mereka menahan tekanan, mencoba membayangkan siapa dari anak-anak muda itu yang paling kuinginkan.


Sehari sebelumnya pertanyaan itu pasti telah memiliki jawaban sederhana: aku ingin Marcelo, kapten kami dan Gustavo yang kekuatannya luar biasa. Tapi kini Marcelo sudah putus asa dan hancur. Sementara Gustavo telah dibutakan oleh gunung. Jadi aku berpaling pada yang lain, beberapa orang dengan cepat menarik perhatianku.


Fito Strauch telah membuktikan keberaniannya dalam percobaan pendakian pertama, dan telah mendapatkan rasa empati kami untuk ketenangan dan kejernihan berpikirnya selama kami ditempat ini. Sepupu-sepupu Fito, Eduardo dan Daniel Fernandez, adalah pembangkit kekuatan bagi Fito, dan aku ingin tahu pada saatnya nanti bagaimana ia akan beraksi di pegunungan, tapi Fito pasti jauh di depanku. Begitu juga Numa Turcatti. Numa telah membuatku kagum sejak permulaan, dan semakin lama rasa simpatiku padanya semakin dalam. Walaupun ia orang asing bagi kami sebelum kecelakaan, ia telah mendapatkan persahabatan dan kekaguman dari semua orang yang selamat. Numa telah menjadi orang yang heroik, tidak ada yang berjuang lebih keras untuk kelangsungan hidup kami, tidak ada yang memberi inspirasi tentang harapan, dan tidak ada yang menunjukkan kepedulian yang begitu banyak untuk orang-orang yang sangat menderita. Meskipun ia teman baru bagi kebanyakan kami, aku percaya Numa adalah lelaki yang paling dicintai di gunung ini.


Daniel Maspons, yang dengan berani telah mendaki bersama Gustavo, adalah kandidat yang lain. Begitu juga Coco Nicholich, yang ketulusan dan kesabarannya membuatku kagum. Antonio Vizintin, Roy Harley, dan Carlitos Paez yang sehat dan kuat. Dan selanjutnya ada Roberto, yang paling sulit, dan karakter paling rumit gunung ini.


Roberto selalu sulit untuk dikendalikan. Anak dari seorang radiolog terkenal di Montevideo, ia brilian, percaya diri, sombong dan tidak tertarik mengikuti aturan selain aturannya sendiri. Karena sifatnya yang selalu melawan, ia selalu bermasalah di sekolah, dan sepertinya, ibunya selalu dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk menerima persidangan lagi karena


ulah Roberto.


la dengan mudahnya menolak semua yang harus dikerjakan. Misalnya, Roberto punya seekor kuda yang ia tunggangi ke sekolah setiap pagi, meski Christian Brothers berkali-kali melarangnya untuk tidak membawa binatang memasuki halaman sekolah. Roberto mengabaikannya begitu saja. la mengikat kudanya di tempat parkir sepeda, kuda itu melepaskan diri dari tambatannya, dan satu atau beberapa jam kemudian para bruder akan melihatnya berkeliaran di taman, mengunyah semak dan bunga-bunga.

__ADS_1


Roberto juga memacu binatang besar itu melewati jalanan kudanya Carrasco yang padat, menjingkrak-jingkrakkan kudanya hingga derap kaki kudanya berderap sangat cepat. Para pengemudi membanting setir dan para pejalan kaki menghindar dengan sangat terkejut. Tetangga-tetangga kami terus mengeluh, dan beberapa kali polisi membicarakannya dengan ayah Roberto, tapi Roberto tetap saja melakukannya.


Berharap menemukan penyaluran yang positif untuk kebengalan Roberto, Christian Brothers mendorongnya untuk bermain rugby, di mana kekuatannya membuatnya hebat di lapangan. Ia bermain sebagai left wing, posisi yang sama dengan Panchito yang di sebelah kanan, tapi ketika Panchito mengelak dengan anggun dan berkelit melewati para tackler menuju try-line, Roberto malah berlari mendekati musuh, sebuah tubrukan adu-muka terjadi lagi. la bukanlah pemain yang berbadan besar, tapi lengannya yang padat terbentuk sungguh memukau sehingga, sepadan dengan tonjolan otot-ototnya, mereka memanggilnya Músculo-"otot". Dengan didukung badan yang tegap dan sifat yang agresif, Roberto bahkan bukan tandingan bagi lawan-lawan yang lebih besar, dan tidak ada yang lebih disukainya selain merendahkan pundaknya dan memberikan beberapa oversize, menerbangkan para tackler.


Roberto mencintai rugby, tapi itu tidak menyembuhkan kebandelannya seperti harapan Christian Brothers. Roberto adalah Roberto, di lapangan maupun di luar lapangan, bahkan pada saat-saat genting sebuah pertandingan, ia menolak jika diberi tahu apa yang harus dilakukannya. Pelatih mempersiapkan kami dengan baik untuk setiap pertandingan, dengan alur permainan dan strategi, dan kami semua berusaha sekuat kemampuan kami untuk menjalankan rencana permainan. Tapi Roberto selalu diberi hak untuk melakukan improvisasi sesuai dengan kemauannya sendiri. Biasanya ini artinya ia akan menahan bola saat ia seharusnya melakukan umpan, atau akan berlari dengan cepat ke arah lawan saat pelatih kami menyuruhnya bergerak ke area terbuka. Saat ia enggan melakukan perintah pelatih kami, tatapan gelap dari matanya yang tajam terlihat menantang dan gegabah. Ia kesal jika ada yang memberi tahu apa yang harus dilakukannya. la merasa caranya lebih baik. Dan ia menjalani cara ini dalam setiap sisi kehidupannya. Tekad Roberto itu menjadikannya seorang teman yang menarik, bahkan dalam kehidupan kami yang nyaman di Carasco, ia tetap saja arogan dan emosional.


Di dalam pesawat yang penuh tekanan ini, kelakuannya sering kali tidak bisa ditoleransi. la berkali-kali mengabaikan keputusan-keputusan kelompok dan berpaling kepada orang yang menantangnya, memaki-maki dan menghina dengan suara menantang yang ia keluarkan saat darahnya mendidih. la bisa sama sekali tidak memedulikan orang lain, jika malam hari ia harus keluar dari pesawat untuk buang air kecil. Misalnya, ia begitu saja melangkah di atas kaki dan lengan siapapun yang tidur di sepanjang jalannya untuk keluar. la tidur dimana pun ia suka bahkan jika ia harus mendorong yang lain agar bergeser dari tempat yang telah mereka pilih. Berhadapan dengan temperamen dan perilaku Roberto membuat kami stres dan kehilangan banyak energi, dan beberapa kali kelakuannya


hampir menimbulkan perkelahian.


Namun, di samping sifat-sifatnya yang menyusahkan, aku menaruh simpati pada Roberto. la adalah seorang yang paling cerdas dan cerdik dari kami semua. Tanpa perawatan medisnya yang cekatan setelah kecelakaan, beberapa pemuda yang kini mulai pulih dari luka-luka mereka pasti telah mati, dan pemikirannya yang kreatif telah memecahkan berbagai masalah yang membuat kami merasa lebih aman dan nyaman di gunung ini.


Robertolah yang menemukan bahwa pelapis tempat duduk di Fairchild dapat dilepas dan digunakan sebagai selimut, sebuah inovasi yang telah menyelamatkan kami semua agar tidak membeku. Sebagian besar peralatan sederhana yang kami gunakan dan pemilihan persediaan obat-obatan, dikembangkan oleh Roberto dari bahan-bahan yang ia kumpulkan dari onggokan puing. Dan untuk semua perilaku egoistis nya, aku tahu ia merasa memiliki rasa tanggung jawab yang besar


terhadap kami semua.


Pernah suatu malam Roberto meneriaki dan memaki-maki Arturo dan Rafael yang kesakitan agar diam. Paginya, Roberto menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat hammock untuk dua orang itu.


Aku tahu kecerdikan Roberto akan luar biasa menguntungkan untuk usaha meloloskan diri. Aku juga memercayai pandangan realistisnya tentang situasi kami. Ia paham tentang keputusasaan, dan bahwa satu-satunya harapan kami adalah menyelamatkan diri. Tapi lebih dari apa pun aku menginginkan ia bersamaku karena ia yang paling paling tegar dan berkemauan keras yang pernah kukenal. Jika ada seseorang di kelompok kami yang mampu berdiri sendiri di Andes dengan


"Kita harus melakukannya Roberto, kamu dan aku." Kataku.


Ia membentak ku. "Kamu gila, Nando! Lihat pegunungan terkutuk ini. Apa kamu tahu seberapa tinggi disana?! "


Aku menatap kearah puncak itu.


"Kelihatannya mungkin dua tiga kali lipatnya Pan de Acuzar, " Aku menjawab.


Roberto mendengus. "Idiot! Tidak ada salju di Pan de Acuzar! Lagian itu bukan gunung, lebih pas dibilang gundukan tanah, tingginya cuma 150 meter! Gunung ini kira-kira seratus kali lebih tinggi! "


"Mungkin kita akan gagal. Mungkin kita akan mati. Tapi diam disini pun kita pasti mati. Aku tidak bisa melakukannya sendiri Roberto, kumohon, ikutlah bersamaku."


Untuk sesaat Roberto mengamatiku dengan tajam, kemudian ia mengangguk dan berjalan menuju pesawat.

__ADS_1


"Ayo masuk. Omonganmu ini mulai membuatku menggigil."


Situasi masih genting, tetapi mulai dapat dirasakan bahwa kami telah berhasil melewati masa-masa kritis.


Sepertinya keadaan mulai stabil. Kami telah mengatasi ancaman-ancaman yang tiba-tiba datang menghadang dan sekarang kami akan melewatkan waktu dengan menunggu, beristirahat dan mengumpulkan kekuatan menanti cuaca berubah menjadi lebih tenang, lalu kami akan mendaki.


Mungkin kami telah menyaksikan ketakutan-ketakutan kami untuk terakhir kalinya. Mungkin dua puluh tujuh orang dari


kami ditakdirkan untuk selamat. Apakah ada alasan lain mengapa Tuhan menyelamatkan kita? Banyak di antara kami merasa nyaman dengan pemikiran ini ketika memasuki pesawat pada malam 29 Oktober dan bersiap untuk tidur.


Waktu itu angin bertiup kencang. Aku duduk di lantai, dan Liliana berbaring di sampingku. Terkadang ia berbicara pelan dengan Javier, yang berbaring dekat dengannya. Seperti biasa, mereka berbicara tentang anak-anak mereka.


Tak lama Javier mencoba untuk tidur, dan Liliana menoleh ke arahku.


"Bagaimana kepalamu Nando, apa masih sakit? " Tanyanya.


"Masih sedikit sakit." Kataku, "Aku lega akhirnya kamu mau makan. "


"Aku ingin bertemu dengan anak-anakku. Kalau aku tidak makan, aku akan mati. Aku melakukan ini untuk mereka." Jawab Liliana.


Malam itu sebelum tidur kami berbincang cukup lama. Aku merasakan kerinduannya pada anak-anak nya yang masih kecil dirumah. Juga membayangkan ketakutan anak-anak itu tanpa ayah dan ibunya.


Lalu sesuatu terjadi.


Awalnya adalah bunyi gemuruh yang berasal dari pegunungan. Roy Harley yang malam itu tak bisa tidur dan kebetulan berada diluar mendengarnya. Suara gemuruh itu semakin besar dan memekakkan telinga. Harley walau tak bisa melihat apa yang terjadi karena gelap secara reflek berlari menjauh dengan panik.


Hanya dalam hitungan detik, longsoran salju menyapu pesawat. Harley sendiri terbenam salju sampai ke pinggulnya. Dengan kepalanya sendiri dia melihat kami semua terkubur salju saat sedang tidur.


Sambil menangis dan berteriak memanggil nama kami, dia membebaskan dirinya dari salju dan mulai menggali salju dengan tangannya mencari kami.


Dengan cepat ia menemukan Carlitos, Fito dan Roberto. Setiap orang yang berhasil ditemukan langsung ikut menggali mencari yang lain. Dengan kalut mereka bekerja keras tapi usaha ini tidak mampu menyelamatkan semua dari kami.


Marcelo meninggal. Begitu juga teman-temanku yang kuanggap kuat seperti Enrique Platero, Coco Nicholich dan Daniel maspons. Carlos Roque dan Juan Carlos Menendez meninggal tertimpa dinding yang roboh. Diego Storm yang menyelamatkanku di hari ketiga, tewas tertimbun salju. Gustavo membantu Javier mencari Liliana dalam timbunan salju yang tebal, tapi terlambat. Liliana yang beberapa waktu lalu berbicara tentang kerinduan pada anaknya telah meninggal saat ditemukan.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2