
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Matahari terbit pada hari ke sepuluh perjalanan. Kami bangun jam enam pagi, menatap ke seberang sungai, melihat asap api unggun, dan seorang pria berdiri di sisinya. Disebelah nya, dua pria lain masih duduk diatas kuda.
Aku segera berlari ke ujung tebing. Pria itu memberikan isyarat agar aku menuruni sisi tebing menuju sungai. Walau cukup dekat, tapi suara aliran sungai yang kerasbmembuat sulit untuk berkomunikasi. Tapi pria itu mengambil sehelai kertas, menuliskan sesuatu lalu membungkus sebuah batu dengan kertas tadi, lalu melemparkannya.
Aku mengambilnya, isi kertas itu, "Nanti ada aku suruh orang untuk menjemputmu. Apa yang kamu inginkan?"
Aku mulai menulis dikertas itu. Kedua tanganku gemetar.
".... Aku datang dari pesawat yang jatuh di pegunungan. Aku berasal dari Uruguay. Kami telah berjalan selama sepuluh hari. Di tempat pesawat kami jatuh masih ada beberapa temanku yang terluka parah, sekitar empat belas orang di sana. Kami harus secepatnya keluar dari sini dan kami tidak tahu caranya. Kami tidak punya makanan lagi. Kami lemah. Kapan kalian akan datang menjemput kami? Tolonglah kami. Kami bahkan tidak dapat berjalan."
Aku mengikat kembali kertas itu sama seperti yang dilakukan pria itu dan melemparkannya kembali ke seberang sungai.
Aku mengawasi dengan cemas dan berdoa selagi orang itu membuka kertas dan membaca pesannya. Petani itu akhirnya menengadah dan memberikan isyarat mengerti. Diambilnya sepotong roti dari kantongnya dan melemparnya ke arahku.
Aku kembali pada Roberto dengan memeluk roti itu.
"Lihat. Lihat apa yang aku bawa. " Kataku sambil menghampiri Roberto.
Roberto hampir menangis menatapku dan roti yang aku bawa.
Aku lalu membaginya jadi dua. "Ini, ayo kita makan."
"Tidak," Kata Roberto. "Kamu makan saja. Aku tidak berguna. Aku tidak pantas mendapatkannya."
Tapi dia akhirnya mengambilnya setelah ku paksa. Kami duduk dan memakan roti itu. Dan itu adalah roti terenak yang pernah aku makan.
Sekitar pukul sembilan pagi, kami melihat seseorang datang dengan menaiki sesekor keledai, kali ini ia berada di sisi sungai tempat kami menunggu. Dia bernama Armando Serda. Dia mengambil beberapa potong keju dari dalam kantongnya dan diberikan kepada kami, kemudian ia menyuruh kami untuk menunggunya sementara ia akan menggembalakan domba-dombanya di padang rumput terlebih dahulu.
Beberapa jam kemudian ia kembali. Ketika ia melihat Roberto tidak dapat berjalan lagi,
ia membantu Roberto naik ke atas keledai, lalu menuntun kami menuju ke bagian sungai yang lebih dangkal supaya kami dapat menyeberangi sungai tersebut.
Setelah selama kurang lebih tiga puluh menit berjalan dalam hutan yang lebat, kami sampai di dataran terbuka. Ada sebuah pondok disana.
"Kami dimana? " Tanyaku.
__ADS_1
"Los Maitenes," kata Armando, menyebut kan nama kawasan pegunungan di wilayah Cile, Provinsi Colchagua, berdekatan dengan Sungai Azutre.
"Kami menggunakan pondok ini untuk beristirahat saat kami berada di dataran tinggi."
"Kami masih memiliki beberapa teman, mereka masih digunung," Kataku. "Mereka sedang sekarat dan secepatnya membutuh kan pertolongan."
"Sergio telah mencari bantuan untuk kalian." jawab Armando.
Dia menjelaskan kepada kami mengenai Sergio Catalan, penunggang kuda yang kali pertama melihat kami pada malam sebelumnya. "Seberapa jauh jarak dari Sini untuk mencari pertolongan?" Aku bertanya.
"Kantor polisi terdekat berada di Puente Negro," Ia menjawab. "Sekitar sepuluh jam dengan menunggang kuda."
Kemudian, seorang petani keluar dari dalam pondok yang lebih besar, Armando memperkenalkan nya kepada kami, nama nya Enrique Gonzales. Dia mengajak kami menuju api unggun di dekat pondok besar itu, kami duduk di atas bekas tebangan pohon. Enrique memberi kami keju dan susu. Armando memulai memasak dengan panci besar di atas perapian, dan dalam sekejap saja ia telah menyajikan makanan yang masih mengepul di hadapan kami sepiring kacang, makaroni, dan roti gandum. Kami memakan semua yang ia hidangkan untuk kami, dan ia tertawa saat mengisi kembali piring-piring kami.
Setelah kami kenyang, kami diajak menuju pondok kayu yang kedua, di sana tersedia dua tempat tidur. Tidak ada kasur di atasnya, hanya bulu-bulu domba di atas tempat tidurnya, tetapi kami sangat berterima kasih pada Armando atas segala bantuan yang ia berikan, tidak lama kemudian kami tertidur lelap.
Kami bangun saat menjelang malam. Armando dan Enrique telah menyediakan makanan untuk kami. Keju dan susu, daging rebus dan kacang, ditambah dengan roti yang diolesi dengan karamel dulce de leche, serta kopi panas.
Dengan bercanda aku berkata, "Sepertinya kami menghabiskan persediaan makan kalian," Tapi kedua petani itu hanya tertawa dan memaksa kami untuk makan lebih banyak. Setelah selesai makan, kami beristirahat bersama di dekat perapian.
Armando dan Enrique terkesima saat Roberto bercerita tentang penderitaan kami selama berada di gunung, tapi kemudian cerita itu terhenti oleh kedatangan dua polisi Cile yang menyusuri hutan menuju pondok kami, dengan diikuti lebih dari sepuluh orang patroli polisi berkuda. Salah seorang yang bersama para polisi itu adalah Sergio Catalan.
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku," Ia berkata dengan tenang, dan saat kami memeluknya, ia hanya berbisik pelan dan berkata, "Terima kasih Tuhan, terima kasih.."
Ketika kapten polisi gunung itubmemperkenal kan dirinya kepada kepada kami, aku menjelaskan kepadanya bahwa masih ada empat belas orang lagi yang berada di lokasi kecelakaan pesawat.
Dia menginginkan nama-nama teman kami, tetapi aku menolak memberikannya.
"Beberapa teman kami hampir mati saat kami meninggalkan mereka," Aku menjelaskan. "Aku takut beberapa orang mungkin telah mati. Jika Anda memberitahu kan nama-nama mereka, ini akan memberi harapan palsu kepada orangtua mereka, dan para orangtua itu akan kehilangan anak-anak mereka untuk kedua kalinya."
Kapten polisi itu mengerti. "Di mana lokasi jatuhnya pesawat itu?" Ia bertanya. Aku menatap Roberto. Sangat jelas bahwa kapten polisi ini tidak mengerti betapa sulitnya usaha penyelamatan yang akan dilakukan, tetapi ketika kami menggambarkan perjalanan kami selama sepuluh hari, dan kira-kira lokasi jatuhnya pesawat, kapten polisi tersebut dengan cepat menyadari bahwa anak buahnya tidak dapat mencapai lokasi jatuhnya pesawat dengan menunggang kuda.
"Aku akan mengirimkan beberapa anak buahku untuk kembali ke Puente Negro," katanya, "Dan menghubungi Santiago untuk mengirimkan helikopter."
"Butuh waktu berapa lama?" aku bertanya.
"Jika cuacanya bagus, besok mereka akan sampai ditempat ini," Katanya.
Setiap waktu yang berlalu, aku semakin khawatir akan teman-temanku yang masıh berada di pesawat, tetapi kami tidak memiliki pilihan lain selain harus menunggu. Kami berbicara dengan Armando, Enrique, dan beberapa polisi. Kemudian aku pergi tidur. Aku menghabiskan malam yang penuh kegelisahan ini dengan tidur dalam pondok, mencemaskan keesokan paginya, tetapi ketika aku bangun dan keluar dari pondok, aku merasa khawatir karena melihat kabut tebal turun di Las Maitenes.
"Apakah menurutmu helikopter dapat mendarat dalam keadaan berkabut seperti ini?" Aku bertanya pada Roberto.
__ADS_1
"Mungkin kabut ini akan segera hilang," Ia menjawab.
Enrique dan Armando menunggu kami untuk makan pagi di dekat perapian. Sergio dan beberapa polisi bergabung bersama kami, dan ketika sedang makan, kami mendengar suara kerumunan yang mendekat. Hanya dalam beberapa detik, kami terkejut dengan datangnya sekelompok reporter berlari menyusuri jalanan menuju ke pondok kami. Mereka memburu begitu melihat kami.
"Apakah mereka korban kecelakaan pesawat itu?" Mereka berteriak.
"Roberto? Fernando?"
Sekarang semua kamera mengarah kepada kami, microphone tepat berada di depan muka kami para wartawan surat kabar bersiap dengan kertas dan alat tulisnya, dan saling bersahutan mengajukan pertanyaan.
"Berapa lama perjalanan kalian?"
"Siapa lagi yang masih hidup? Bagaimana bisa kalian mengatasi hawa dingin? Apa yang kalian makan?"
Aku menatap Roberto dengan tercengang.
"Bagaimana mereka bisa menemukan kita?" Aku menggerutu, "Dan bagaimana mereka bisa sampai di sini sebelum helikopter tiba?"
Kami di kelilingi oleh beberapa wartawan televisi maupun surat kabar dari seluruh penjuru dunia. Kedatangan mereka yang tak terduga mengejutkan kami, pertanyaan-pertanyaan mereka yang bertubi-tubi sedikit membingungkan kami, tapi kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan baik, meskipun kami menyimpan beberapa fakta yang sensitif. Kapten polisi itu hanya memberi sedikit waktu untuk wawancara, kemudian ia menjauhkan kami dari para wartawan.
"Kabut masih tebal," Ia berkata kepada kami. "Sepertinya helikopter tidak akan mungkin tiba hari ini. Aku akan mengirim kalian ke Puente Negro, menunggu kedatangan para tim penyelamat di sana. Mungkin akan lebih mudah bagi mereka untuk mendarat di sana."
Kami menganggukkan kepala, kemudian aku dan Roberto menaki kuda, mengikuti dua orang petugas menuruni hutan, dengan dikejar-kejar oleh para wartawan. Tiba-tiba semua suara bising itu berhenti, semua perhatian kami tertuju Kelangit yang mendung. Terdapat keributan di atas sana, ada tiga buah helikopter besar dari Angkatan Udara Cile yang mendarat di padang rumput dekat pondok itu.
Komandan Garcia menggelengkan kepalanya dan berkata."Tidak mungkin kami terbang dalam cuaca seperti ini." Katanya.
"Kami harus menunggu kabut tebal ini pergi. Sementara itu, dapatkah Anda memberi tahu kami tentang lokasi jatuhnya pesawat?"
Sekali lagi, aku menggambarkan perjalanan kami dari Pegunungan Andes. Garcia mengerutkan dahinya, terlihat kebingungan, kemudian ia mengambil peta penerbangan dari dalam helikopter dan membentangkan nya di atas rumput.
"Apakah Anda dapat menunjukkan kepada kami melalui peta ini?" ia bertanya sekali lagi. Dia menunjuk peta dengan menggunakan jarinya dan berkata, "Kita berada di sini." Aku menatap peta itu, dan setelah aku berpikir beberapa saat, ternyata lebih mudah untuk melacak jalur yang telah aku lalui bersama Roberto.
"Di sini," Aku berkata, menunjuk peta pada ujung lembah yang berada di kaki gunung bernama Mount Seler. "Mereka berada di sisi gunung ini."
Massa dan Garcia saling memandang penuh dengan keraguan.
"Jaraknya lebih dari tujuh puluh kilometer dari sini. " kata Garcia. "Dan gunung ini terlalu tinggi untuk kalian daki, apa kalian yakin?"
Aku mengangguk cepat. Dia masih menatapku tak percaya.
(Bersambung)
__ADS_1