Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 8


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Keesokan paginya, hari kesebelas kami di gunung itu. Roy Harley menemukan sebuah radio transistor yang sudah rusak. Dengan keahliannya, ia bisa membuat radio itu hidup lagi. Dengan sedikit upaya, kami bisa menangkap siaran radio dari Cile.


Setiap pagi, Marcelo mengajak Roy keluar ke arah sungai es. Ia menggerak-gerakkan antena sementara Roy memutar-mutar gelombang. Harapannya adalah mendengar berita tentang upaya penyelamatan, tapi sejauh ini yang tertangkap hanya siaran pertandingan sepakbola, laporan cuaca dan propaganda politik.


Pagi ini, Roy yang berusaha menghemat baterai hampir saja mematikan radio saat kami mendengar seorang penyiar membacakan berita: Setelah sepuluh hari pencarian yang sia-sia terhadap pesawat Uruguay yang jatuh di Andes pada 13 Oktober, usaha pencarian di hentikan secara resmi.


Setelah hening sejenak, Roy berteriak dalam ketidak percayaan dan mulai terisak. Marcelo mendekatinya dan bertanya dengan agak histeris.


"Apa? " Jerit Marcelo, "Apa katanya? "


"Suspendieron la busqueda!" Roy berteriak, "Mereka telah membatalkan pencarian! Mereka meninggalkan kita! "


Selama beberapa detik Marcelo memandang Roy dengan tatapan penuh amarah, kalau-kalau Roy hanya membual, tapi saat kalimat Roy berhenti, Marcelo jatuh berlutut dan meraung-raung penuh penderitaan.


Ini gila, benar-benar gila! Aku merasa diriku terjatuh ke ambang histeria.


Lalu suara ketakutan menarik perhatianku. Itu adalah suara Coco Nicolich yang berdiri disebelahku.


"Nando, kumohon, katakan bahwa ini tidak benar!" ia tergagap.


"Ini benar, " aku mendesis, "Carajo, kita akan mati."


"Mereka membunuh kita!" Jerit Nicolich, "Mereka meninggalkan kita disini sampai mati."

__ADS_1


Aku berbalik dan melihat beberapa teman kami muncul dari pesawat.


"Ada berita apa?" Seseorang berteriak, "Apakah mereka tahu keberadaan kita? "


Kami berdua melirik ke arah Marcelo yang duduk lunglai di salju. Aku mencoba bicara, tapi kata-kataku tercekat di kerongkongan. Akhirnya Nicolich mengajak mereka semua kembali ke pesawat untuk mengatakan kabar buruk tadi.


"Mereka telah menghentikan pencarian kita." Kata Nicolich cepat.


Beberapa orang menatap tak percaya. Yang lain langsung menangis, sisanya marah-marah dan memaki.


"Kita harus tetap tenang." Nicolich meneruskan, "Sekarang tergantung kita. Kita harus membuat rencana."


"Aku akan mencari pertolongan, " aku menyahut, "Aku tidak akan mati disini."


Gustavo menyahut, "Tenanglah Nando. "


"Persetan! Aku tidak akan tenang! Beri aku beberapa daging untuk kubawa, berikan aku jaket lagi. Siapa yang ikut bersamaku?"


"Tidak! Aku bisa melakukannya! Aku akan mendaki keluar dari sini! Tapi aku harus pergi sekarang! "


"Kalau kamu pergi, kamu pasti mati. " Gustavo menjawab.


"Aku mati kalau tetap disini! " Kataku, "t


Tempat ini adalah kuburan kita! "


"Nando, diam dan dengarkan! " Gertak Gustavo. "Kamu tidak punya pakaian musim dingin, kamu tidak punya pengalaman mendaki, kamu lemah, kita bahkan tidak tahu berada dimana. "


Gustavo dibantu Numa akhirnya berhasil menenangkanku yang panik. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka untuk mencoba mendaki. Minimal melihat ada apa dibalik gunung ini.

__ADS_1


Akhirnya Gustavo, Numa dan Daniel Maspons berangkat. Masing-masing membawa sepasang sepatu salju dari bantalan kursi dan sepasang kacamata dari sunvisor kokpit. Tapi diluar itu, mereka hanya memakai sweater dan kemeja katun. Tidak memakai sarung tangan juga tidak membawa selimut. Tapi hari itu cerah, angin semilir dan matahari cukup terik. Jika sesuai rencana mereka akan kembali ke pesawat sebelum hari gelap.


"Doakan kami," Gustavo berkata saat para pendaki berangkat. Kami mengamati mereka bertiga melangkah melintasi sungai es menuju puncak-puncak tinggi ke arah barat, menyusuri jalur bekas jejak Fairchild sebelum mengeruk gundukan salju. Saat mereka membuka jalan perlahan menaiki lereng dan semakin menjauh, tubuh-tubuh mereka semakin mengecil dan mengecil sampai hanya sebesar tiga titik kecil menapaki hamparan putih pegunungan. Mereka terlihat kecil dan rapuh saat mendaki. Seperti tiga ekor nyamuk, rasa hormatku untuk keberanian mereka akan abadi.


Sepanjang pagi kami memerhatikan mereka mendaki,sampai mereka hilang dari pandangan, lalu kami tetap berjaga sampai menjelang senja, mengamati lereng-lereng jika ada tanda-tanda pergerakan. Saat cahaya meredup, tetap tidak ada tanda-tanda kedatangan mereka. Kemudian kegelapan turun dan hawa dingin yang lebih menggigit memaksa kami kembali ke tempat perlindungan di dalam pesawat. Malam itu, angin kencang menghempas Fairchild dan memaksa terpaan salju masuk melalui setiap celah dan retakan. Saat berimpitan dan menggigil dalam tempat persembunyian yang mengurung, pikiran kami ikut bersama teman-teman kami di lereng-lereng terbuka.


Kami berdoa dengan sungguh-sungguh agar mereka kembali dengan selamat, tapi saat itu sulit untuk berharap. Aku mencoba membayangkan penderitaan mereka, terjebak di alam terbuka dengan pakaian tipis mereka, tanpa apa pun yang melindungi dari angin pembunuh ini. Kami semua mengenal wajah kematian dengan sangat baik, dan sangat mudah bagiku membayangkan teman-temanku terbaring kaku di hamparan salju. Aku menggambarkan mereka seperti tubuh-tubuh yang pernah kulihat dipemakaman di luar pesawat ini seperti dilapisi lilin, kulit pucat kebiruan, kebal, berwajah kaku, butiran-butiran salju lengket di alis dan bibir, merapatkan rahang, rambut memutih.


Aku melihat mereka seperti itu, terbarıng kaku dalam gelap, tiga orang teman lagi yang kini menjadi hanya makhluk beku. Tapi di mana tepatnya mereka berada? Pertanyaan ini mulai menarikku. Setiap orang memiliki tempat dan waktu yang tepat untuk kematiannya. Kapankah waktuku? Di mana tempatku? Apakah ada sebuah titik di pegunungan ini di mana aku akhirnya jatuh dan terbaring seperti yang lainnya, membeku selamanya? Apakah ada tempat seperti ini untuk kami semua? Apakah ini takdir kami, terbaring bertebaran di tempat tak bernama ini? Ibu dan adikku di sini di dekat pesawat; Zerbino dan yang lainnya di lereng-lereng; kami yang tersisa, dimana kami akan terbaring saat kematian memutuskan untuk menjemput? Apa yang terjadi jika kami berpikir bahwa melarikan diri adalah mustahil? Akankan kami duduk di sini begitu saja dan menunggu untuk mati? Dan jika kami melakukannya, seperti apa hidup yang akan dialami oleh yang akan mati berikutnya, atau, yang terburuk, untuk yang akan mati terakhir kali? Bagaimana jika yang terakhir itu adalah aku? Berapa lama aku bisa tetap waras, duduk sendiri dalam pesawat pada malam hari, hanya ditemani hantu-hantu, dan satu-satunya suara adalah desir angin yang tak pernah berhenti?


Angin bertiup sepanjang malam, tapi akhirnya pagi datang. Satu demi satu kami membersihkan embun beku dari wajah kami, memasukkan kaki-kaki kami kedalam sepatu yang membeku, dan memaksakan diri untuk berdiri. Kemudian kami berkumpul di luar pesawat dan mulai mengamati pegunungan mencari tanda-tanda tiga teman kami yang hilang. Langit tanpa awan, matahari telah menghangatkan udara, dan angin telah melemah menjadi semilir. Jarak penglihatan cukup baik, tapi setelah beberapa jam pengamatan, kami tidak melihat pergerakan apa pun di lereng-lereng. Kemudian, saat menjelang siang, seseorang berteriak.


"Ada sesuatu yang bergerak" katanya. "Di sana, di atas punggung pegunungan!"


"Aku juga melihatnya!"seseorang lain berkata.


Aku melihat ke arah gunung itu dan akhirnya melihat apa yang mereka lihat: tiga titik hitam di permukaan salju.


"Itu cuma bebatuan," seseorang menggerutu.


"Mereka belum pernah ke sana sebelumnya."


"Kamu berhalusinasi," seseorang lagi mengeluh.


"Lihatlah. Mereka bergerak."


Di tempat yang sedikit lebih rendah di lereng terdapat tonjolan batu berwarna hitam. Dengan menggunakan batu itu sebagai titik acuan, aku terus memandang titik-titik itu. Pada mulanya aku yakin mereka tidak bergerak, tapi setelah beberapa menit, jelas terlihat bahwa titik-titik itu bergerak mendekat ke tonjolan batu. Memang benar!


"Itu mereka!"

__ADS_1


"Puta carajo! Mereka masih hidup!"


(Bersambung)


__ADS_2