
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Mereka bertiga membutuhkan waktu dua jam untuk menuruni lereng dan melintasi sungai es, dan selama itu kami berteriak-teriak membangkitkan semangat mereka dan juga merayakannya seperti mereka telah kembali dari alam kematian.
Tapi perayaan itu berakhir dengan tak terduga saat mereka cukup dekat sehingga kami bisa melihat keadaan mereka. Mereka terbungkuk dan berantakan, terlalu lemah untuk mengangkat kaki mereka dari salju sehingga mereka menyeret kaki menuju pesawat, saling menyandarkan diri untuk
saling menopang. Mata Gustavo memicing dan mencari-cari seperti ia telah menjadi buta, mereka bertiga terlihat begitu tegang dan tidak stabil yang kupikir angin beku yang sangat kencang telah menghempas mereka. Tapi yang paling menyedihkan adalah raut wajah mereka. Umur mereka seperti dua puluh tahun lebih tua dalam semalam, sepertinya gunung telah menghancurkan masa muda dan kekuatan dari tubuh mereka, di dalam mata mereka aku melihat sesuatu yang belum pernah ada di sana sebelumnya, perpaduan yang tidak pasti antara rasa takut dan kepasrahan yang kadang-kadang terlihat di wajah orang-orang yang sudah sangat tua. Kami bergegas menyambut mereka, lalu membantu mereka masuk ke pesawat dan memberi bantalan untuk berbaring. Roberto segera memeriksa keadaan mereka. la melihat kaki mereka hampir beku. Kemudian ia melihat air mata menetes dari mata Gustavo yang muram.
"Disana... sinar mataharinya membuatku buta," Kata Gustavo."Rasanya seperti ada pasir tajam dimataku."
Roberto melilitkan kaos disekeliling mata Gustavo untuk melindunginya dari cahaya.
"Gunung itu terlalu curam. Disana seperti memanjat dinding. Dan udara sangat tipis. Aku berjalan lima langkah tapi rasanya seperti berlari lima kilometer." Gustavo berkata lirih.
"Mengapa kalian tidak kembali sebelum malam?" Aku bertanya.
Gustavo menjawab, "Kami mendaki sepanjang hari dan baru separuh jalan dari lereng. Gunung itu terlalu tinggi. Kami tidak ingin kembali dan mengatakan pada kalian bahwa kami gagal. Jadi kami memutuskan untuk mencari tempat perlindungan untuk melewati malam, lalu mendaki lagi setelah pagi."
__ADS_1
Para pendaki itu berkata kepada kami bahwa mereka menemukan tempat datar di dekat tonjolan batu. Mereka buat dinding yang pendek dari batu-batu besar di sekeliling mereka, dan berimpitan di belakang dinding itu, berharap batu-batu itu akan melindungi dari angin malam.
Setelah beberapa malam membeku di dalam pesawat, para pendaki itu mengira bahwa mungkin tubuh mereka akan terbiasa.
"Hawa dingin di lereng-lereng itu benar-benar tidak bisa diungkapkan," kata Gustavo.
"la merenggut hidup kalian. la menyakitkan seperti api. Aku tidak pernah mengira kami akan hidup sampai pagi." Mereka mengatakan kepada kami bagaimana mereka menderita sangat hebat akibat pakaian yang tipis, saling memukul lengan dan kaki agar darah tetap mengalir dalam urat nadi, dan berbaring saling berdekatan untuk berbagi kehangatan tubuh.
Saat waktu terus merangkak, mereka yakin keputusan mereka untuk bermalam di gunung akan mengorbankan nyawa mereka, tapi entah mengapa mereka bertahan sampai fajar, dan akhirnya mereka merasakan berkas cahaya pertama dari matahari yang menghangatkan lereng. Takjub karena masih hidup, mereka membiarkan cahaya matahari mencairkan tubuh mereka yang membeku, lalu mereka menuju lereng dan melanjutkan pendakian.
"Apakah kalian menemukan ekor pesawat?" Fito bertanya.
Kemudian mereka menjelaskan bagaimana mereka menemukan mayat-mayat orang yang jatuh dari pesawat, beberapa dari mereka masih terikat ditempat duduknya.
"Kami mengambil beberapa benda dari mayat-mayat itu. " Katanya sambil menunjukkan jam tangan, dompet, bandul salib dan semua benda berharga yang diambil dari mayat itu.
"Mayat-mayat itu jauh diatas lereng, tapi kamu masih jauh dari puncaknya. Kami tidak punya tenaga untuk terus mendaki dan khawatir terjebak lagi sampai malam" Kata Gustavo.
Kemudian malam itu, aku menghampiri Gustavo dan bertanya, "Apa yang kau lihat diatas sana? Apa yang ada dibalik puncak itu?"
Ia menggelengkan kepala dengan letih. "Puncak itu terlalu tinggi. Kami tidak bisa melihat jarak jauh."
__ADS_1
"Tapi kamu melihat sesuatu?"
Ia mengangkat bahu. "Aku melihat diantara dua puncak, di kejauhan.... "
"Apa yang kau lihat?"
"Aku tidak tahu, Nando, sesuatu yang kekuningan, kecoklatan, aku tidak yakin. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu: saat kami diketinggian gunung itu, aku memandang ke arah pesawat. Fairchild hanya bintik kecil di hamparan salju. Kamu tidak bisa tahu itu baru atau bayangan. Tidak ada harapan bahwa seorang pilot bisa melihat Fairchild dari pesawatnya. Tidak akan ada kemungkinan kita diselamatkan."
Sementara, Liliana yang terus dibujuk akhirnya mau makan daging mayat. Satu demi satu, Orang-orang yang awalnya menolak akhirnya melakukan hal yang sama.
Aku digerakkan oleh pemahaman bahwa teman-temanku, meski telah mati, memberi apa yang kubutuhkan untuk hidup. Aku tidak merasakan hubungan spiritual dengan yang sudah mati. Kini tubuh-tubuh itu hanya benda. Kami adalah orang bodoh jika tidak memanfaatkan mereka.
Seiring hari yang berlalu, kami menjadi lebih hemat dalam mengelola daging. Fito dan dua saudaranya bertanggung jawab mengiris daging dan membagikannya.
Dengan penuh rasa simpati padaku, yang lain telah berjanji untuk tidak menyentuh tubuh ibu dan adikku.
Untuk membuat makanan lebih tahan lama, kami kadang-kadang memakan ginjal, hati, bahkan jantungnya. Organ-organ dalam itu bergizi tinggi walau tampak mengerikan.
Ketakutan terbesarku, kami akan semakin lemah hingga meloloskan diri menjadi mustahil. Bagaimana jika semua mayat itu sudah habis dimakan? Mungkin kami akan semakin merana ditempat terbuang ini, saling berpandangan satu sama lain, menunggu teman kami mati agar bisa dimakan.
(Bersambung)
__ADS_1