Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 19


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Roberto memanggilku lagi. "Nando?"


"Aku siap," kataku.


Kami melambaikan tangan untuk terakhir kalinya dan mulai mendaki.


Tidak banyak yang kami bicarakan saat menyusuri lereng sungai es dan menaiki lereng pegunungan yang rendah. Kami pikir kami tahu apa yang terbentang di depan kami, dan betapa berbahayanya gunung ini. Kami telah belajar bahwa badai paling lemah pun bisa membunuh jika ia mengurung kami di daerah terbuka. Kami paham bahwa salju di daerah tinggi tidak stabil, dan bahwa longsoran salju kecil pun dapat menggulingkan tubuh kami menuruni gunung seperti sapu yang menyapu remah-remah. Kami tahu bahwa jurang-jurang salju yang dalam tersembunyi di bawah kerak tipis salju yang membeku, dan bahwa batu-batu sebesar televisi sering kali datang menghempas dari pecahan batu besar jauh di atas gunung. Tapi kami tidak tahu apa pun tentang teknik dan strategi pendakian, dan ketidaktahuan kami sudah cukup untuk membunuh kami.


Kami tidak tahu, misalnya, ternyata altimeter Fairchild salah, lokasi kecelakaan bukan berada di ketinggian dua ribu meter, seperti dugaan kami, tapi mendekati empat ribu meter. Kami juga tidak tahu bahwa gunung yang akan kami taklukkan adalah salah satu yang tertinggi di Andes, menjulang hampir lima ribu meter, dengan lereng-lereng sangat curam dan sulit yang bakal menguji para ahli pendakian sekalipun.


Para pendaki yang berpengalaman, kenyataannya, tidak akan pernah mendekati gunung ini tanpa berbekal peralatan khusus, termasuk piton baja, sekrup es, tali pengaman, dan perlengkapan lain yang dirancang agar mereka menaiki lereng dengan aman. Mereka harus membawa kapak es, tenda tahan cuaca, dan sepatu crampon.

__ADS_1


Mereka berada dalam kondisi fisik puncak, tentu saja, dan akan mendaki sesuai dengan waktu yang mereka tentukan sendiri, dan memilih rute paling aman menuju puncak. Kami bertiga mendaki hanya mengenakan pakaian santai, dengan peralatan sederhana yang kami buat dari barang-barang yang kami temukan di pesawat. Tubuh kami hancur oleh kelelahan, kelaparan, dan terpaan selama berbulan-bulan, dan latar belakang kami tidak banyak membantu untuk pendakian ini. Uruguay adalah negara yang hangat dan terletak di dataran rendah. Tidak ada satu pun dari kami yang pernah melihat gunung sebelumnya.


Sebelum kecelakaan pesawat, Roberto dan Tintin belum pernah melihat salju. Jika kami tahu sesuatu tentang pendakian, kami akan melihat bahwa situasi kami sekarang benar-benar terkutuk. Untungnya, kami tidak tahu apa-apa, dan ketidaktahuan kami memberi satu-satu nya kesempatan.


Tugas pertama kami adalah memilih jalur untuk menaiki lereng. Seorang pendaki berpengalaman akan cepat memilih punggung pegunungan yang membujur dari puncak ke arah sungai dengan jarak kurang dari satu kilometer di sebelah selatan lokasi kecelakaan. Jika kami cukup paham untuk mendaki menuju punggung bukit itu dan terus mendakinya, kami akan menemukan pijakan yang lebih baik, lereng yang lebih rata, dan jalur yang lebih aman dan lebih cepat ke puncak.


Kami bahkan tidak pernah memerhatikan punggung pegunungan. Selama berhari-hari aku menandai dengan mataku titik di mana matahari berada di balik punggung pegunungan, dan, berpikir bahwa rute terbaik adalah rute terpendek, kami menggunakan titik itu untuk memetakan jalan langsung ke barat. Itu adalah kesalahan fatal yang memaksa kami mendaki lereng yang paling curam dan berbahaya.


Permulaan kami, bagaimana pun, cukup menjanjikan. Salju dari sisi gunung yang lebih rendah keras dan cukup datar. Paku-paku di sepatu rugby ku menancap dengan baik di kerak salju yang membeku. Dikendalikan oleh adrenalinku yang menggelora, aku bergerak cepat menaiki lereng, dan dalam waktu singkat telah berada sejauh lima puluh meter di depan mereka.


Tapi seketika itu juga aku harus memperlambat langkahku. Lereng ini semakin curam, dan sepertinya semakin bertambah curam saat semakin jauh melangkah. Upaya itu membuatku terengah-engah di udara yang tipis, dan harus beristirahat, dengan kedua tangan memegang lututku, setiap berjalan beberapa meter.


Ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat teman-temanku juga berjuang dengan susah payah. Aku menatap matahari di atas kami, dan menyadari bahwa kami menunggu terlalu lama pagi tadi untuk mulai mendaki. Menurut logika, lebih baik jika kami mendaki pada siang hari, jadi kami menunggu matahari bersinar. Para pendaki berpengalaman, sebaliknya, tahu bahwa waktu yang tepat untuk mendaki adalah sebelum fajar, sebelum matahari membuat lereng-lereng menjadi bubur. Gunung ini membuat kami menanggung kesalahan-kesalahan seorang amatir. Aku bertanya-tanya kesalahan apalagi yang akan menghadang kami, dan berapa orang yang bisa bertahan.


Akhirnya, semua kerak es mencair, dan kami terpaksa mendaki melalui timbunan salju tebal yang terkadang sedalam pinggulku.


"Ayo kita mencoba sepatu saljunya!" Aku berteriak.

__ADS_1


Yang lain mengangguk, kemudian kami mengeluarkan sepatu salju buatan Fito dari tas gunung dan mengikatkannya di kaki. Benda itu bekerja dengan baik pada awalnya, memudahkan kami mendaki tanpa tenggelam ke salju. Tapi ukuran dan alas sepatu itu memaksa kami untuk membungkukkan kaki saat berjalan, dan untuk mengayunkan kaki kami secara melingkar lebar untuk mencegah sepatu bertubrukan. Yang lebih buruk, lapisan bawah sepatu itu cepat menjadi basah oleh salju yang mencair. Dalam kondisiku yang letih, aku merasa seperti mendaki gunung dengan penutup lubang got menempel di sepatuku. Semangatku meredup dengan cepat. Kami berada di ambang kelelahan, sementara pendakian yang sebenarnya belum dimulai.


Lereng gunung semakin curam. Kecuramannya memaksa kami melepas sepatu salju.


Saat siang, kami telah sampai di tempat yang sangat tinggi. Di sekeliling kini bukan hanya salju dan bebatuan, kami juga diselimuti oleh awan biru dan cahaya matahari. Kami benar-benar mendaki sampai ke awan!


Hamparan lereng-lereng yang terlihat dari ketinggian kami membuatku terpukau. Ketinggian yang sangat curam dan hamparan lereng membuatku terpana oleh rasa tidak percaya. Sekarang gunung ini meluncur curam di belakangku sehingga ketika aku memandang Roberto dan Tintin di bawahku, aku hanya melihat kepala dan bahu mereka dengan latar belakang hamparan langit setinggi enam ribu meter.


Sudut kemiringan lereng itu sama curamnya seperti tangga untuk ke atap, tetapi bayangkan tangga yang dapat dinaiki sampai ke bulan! Ketinggian membuat kepalaku melayang dan memberi kejang sepanjang urat lutut dan tulang belakangku. Menoleh untuk melihat ke belakang seperti menari di balkon gedung pencakar langit.


Di lereng yang curam dan terbuka ini, di mana ketinggian seakan siap menggelincirkan ku dari permukaan gunung dan pegangan sulit didapatkan, seorang pendaki berpengalaman akan menggunakan tali pengaman untuk menambatkan pasak bajanya ke dalam batu atau es, dan mereka menggunakan paku besi pada sepatu botnya untuk memberi pijakan. Kami tidak memiliki benda-benda itu, tapi hanya dengan lengan, kaki, ujung jari, dan jari kaki yang semakin lemah untuk menahan kami agar tidak terjatuh ke dalam jurang kosong di belakang.


Tentu saja aku sangat ketakutan, tapi aku tidak akan pernah menyangkal keindahan alam liar di sekelilingku, awan biru yang kosong, pegunungan bersalju, hamparan salju tebal tak terjamah.


Semuanya terlihat begitu luas, begitu sempurna, begitu sunyi dan agung. Tapi sesuatu yang tidak bersahabat bersembunyi di balik keindahan ini sesuatu yang purba dan mengancam. Aku melihat ke bawah ke lokasi kecelakaan. Dari ketinggian ini tempat itu hanya sebesar titik kecil yang mengotori permukaan salju. Aku melihatnya sebagai sesuatu yang benar-benar tidak pada tempatnya, betapa salah secara fundamental.


Semua tentang kami salah di tempat ini, kedatangan kami yang kasar dan gaduh, penderitaan kami, keributan dan kekacauan yang kami lakukan untuk bertahan hidup. Tidak ada yang sesuai di sini.

__ADS_1


Kehidupan tidak sesuai di sini. Semua itu merupakan gangguan bagi ketenangan sempurna yang bertakhta di tempat ini selama jutaan tahun. Aku merasakannya sejak kali pertama mengamati tempat ini. Kami telah merusak keseimbangan yang purba, dan keseimbangan itu harus dipulihkan. la berada disekeliling ku, di dalam keheningan, dalam hawa dingin. Ada sesuatu yang ingin keheningan sempurna itu kembali seperti sedia kala, sesuatu dalam pegunungan ini ingin kami diam.


(Bersambung)


__ADS_2