
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Pada 10 Desember, aku dan Gustavo membicarakan keadaan Numa. Gustavo khawatir luka ditubuh belakang Numa sudah tak terlihat daging lagi, yang ada hanya tulang. Aku lalu menghampiri Numa.
"Bagaimana keadaanmu, Numa? " Tanyaku sambil duduk di sampingnya.
Numa tersenyum kecil, "Aku merasa tidak akan hidup lebih lama lagi."
Aku menatap matanya yang pasrah. Dia menerima kematiannya dengan berani, dan aku menghormatinya dengan tidak berbohong padanya.
"Cobalah untuk bertahan. Kami akan segera mendaki. Kami akan ke arah barat."
"Ke arah barat adalah Cile, " Ia berkata pelan.
__ADS_1
"Aku akan sampai disana, atau aku akan mati."
"Kamu akan berhasil, Nando. Kamu kuat."
"Kamu juga harus kuat, Numa. Kamu akan bertemu keluargamu lagi. "
Numa tersenyum aneh. "Aku berpikir banyak orang yang mati dengan menyesali semua kesalahan yang mereka lakukan dalam hidup, tapi aku tidak menyesal. Aku telah berusaha menjalani hidup dengan baik, aku berusaha memperlakukan semua orang dengan baik. Aku berharap Tuhan melihat semua niat baikku." Dia memandangku dan berkata lagi, "Aku sudah siap, Nando."
Esok paginya, 11 Desember, Numa sekarat. Ia meninggal sore harinya.
Sudah cukup, aku berkata dalam hati. Cukup. Saatnya mengakhiri cerita ini. Aku mencari Roberto diluar pesawat. Ia sedang bersandar di dinding luar Fairchild.
Roberto memandang pegunungan sebelah barat. Aku melihat ia pun terguncang dengan kematian Numa.
"Ya. Aku siap. Saatnya untuk pergi."
.....
__ADS_1
Hari itu hari ke-enam puluh kami di Andes. Aku duduk dikursi pesawat yang kami tarik keluar, menghadap ke arah pegunungan yang yang menghalangi jalan kami untuk pulang.
Saat malam datang, pegunungan terbesar yang akan kudaki semakin gelap dan semakin terlihat menakutkan. Aku tidak melihat gunung ini sebagai musuhku, ia hanya sebuah gunung yang besar, berkuasa dan kejam. Sangat sulit untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa akhirnya hari yang telah lama kutunggu dan ku takuti telah dekat.
Pikiranku dihantui banyak pertanyaan. Bagaimana rasanya mati membeku? Aku bertanya-tanya. Apakah akan menyakitkan atau tidak? Akankan kematian datang dengan cepat, atau lambat? Sepertinya akan datang dengan lambat dan terasa sepi. Bagaimana rasanya mati karena kelelahan? Apakah hanya dengan terjatuh kemudian langsung mati? Sungguh mengerikan jika mati kelaparan, tetapi lebih baik jika mati kelaparan daripada terjatuh dalam jurang. Tuhan, tolonglah aku, jangan biarkan aku terjatuh. Ini adalah ketakutan ku yang terbesar, tergelincir jatuh ke dalam jurang yang kedalamannya beratus-ratus meter, hanya berpegangan salju, pasrah terjatuh dalam jurang bebatuan yang sangat dalam.
Bagaimana rasanya terjatuh dalam jurang sedalam itu? Apakah pikiranku dipenuhi dengan ketakutan, atau pikiranku akan terasa damai ketika terjatuh? Tuhan, kumohon, hindarkan lah aku dari kematian-kematian seperti itu.
Tiba-tiba sebuah wajah muncul dalam pikiranku. Aku melihat diriku dari atas, sebagai bentuk yang terdiam di permukaan salju. Nyawaku pergi dari tubuhku. Aku telah menemukan batas akhir kehidupanku, tempat dan saat-saat kematianku. Bagaimana situasi itu nantinya? Apakah hal terakhir yang akan kusaksikan? Apakah itu salju? Awan? Bayangan batu? Wajah teman-temanku? Atau aku akan sendirian? Apakah mataku akan terpejam? Apakah aku akan menerima kematianku dengan damai, seperti saat aku berada di bawah longsoran salju, atau aku akan kesakitan?Kematian terasa sangat nyata, sangat dekat, dan aku merasakan kehadirannya, aku mulai menggigil karena tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kematian.
Aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak ingin mati. Aku memutuskan untuk mengatakan pada yang lain bahwa aku berubah pikiran. Aku tidak akan berangkat. Mungkin Roberto benar, regu penyelamat akan menemukan kita. Namun, aku memiliki alasan lain. Jatah makan kami mulai menipis. Berapa lama lagi menunggu semuanya untuk habis dan menunggu kematian kami? Siapa yang akan mati selanjutnya? Berapa lama kami harus menunggu supaya daging kami siap untuk dipotong. Dan bagaimana rasanya menjadi satu-satunya yang mati terakhir kali?
Aku kembali memandang gunung itu, tidak ada lagi yang dapat kulakukan di sini, hidupku akan menjadi lebih buruk jika aku hanya diam dan menunggu di sini. Aku berkata pada gunung itu, berharap gunung itu bermurah hati saat kami berada di lereng-lerengnya.
"Beri tahu aku rahasiamu," aku berbisik. "Tunjukkan kepadaku cara mendaki lerengmu. "
Gunung itu hanya terdiam. Aku memandang kearah punggung pegunungan yang menjulang tinggi di hadapanku, tapi malam segera tiba. Lereng gunung menghilang dalam Kegelapan.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam pesawat, membaringkan tubuhku di samping teman-temanku untuk terakhir kalinya dan mencoba tidur.
(Bersambung)