
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Aku beristirahat penuh pagi harinya. Beberapa hari berada di luar pesawat memberiku suatu pandangan, sekarang aku telah terbiasa untuk melihat pemandangan yang mengerikan ini setiap hari. Ada banyak tulang yang berserakan di luar pesawat. Bagian-bagian tubuh seseorang seperti lengan, bagian pinggul sampai dengan jari kaki semuanya tersimpan di dekat pintu masuk pesawat. Potongan lemak tersebar di atap pesawat untuk dikeringkan. Untuk kali pertamanya, aku melihat tengkorak manusia pada tumpukan tulang.
Saat kali pertama makan daging manusia, kami semua hanya memakan bagian dari daging-daging yang besar. Waktu terus berlalu dan persediaan makan kami mulai menipis, kamı tidak mempunyai pilihan selain mengatur pola makan. Terkadang, kami makan hati, ginjal, dan jantung manusia karena persediaan daging hanya tinggal sedikit, dan kadang satu-satunya yang tersisa adalah mengambil bagian dalam dari tengkorak manusia, yaitu otak. Selama kami pergi, untuk menghilangkan rasa lapar, beberapa teman terpaksa makan paru-paru, bagian tangan dan kaki, bahkan makan gumpalan darah dari pembuluh darah di dalam jantung.
Sesuatu yang sulit untuk dipahami oleh akal sehat, tetapi tidak bagi kami, insting untuk bertahan hidup begitu kuat, dan karena kematian terasa begitu dekat. Tetapi, meskipun kelaparan tidak tertahankan, dan selalu kesulitan untuk mencari mayat yang dapat dipotong, mereka tidak pernah melanggar janji mereka terhadap Javier dan diriku. Jenazah ibuku, adikku, dan Liliana, semuanya berada dekat dengan pesawat, tapi tidak ada seorang pun yang menyentuhnya, mereka masih terbaring dengan utuh di bawah salju.
Minggu pertama Desember, kami bersiap memulai perjalanan menuju barat. Fito dan sepupunya memotongkan daging untuk bekal kami dan menyimpannya di dalam salju, sementara aku, Antonio, dan Roberto mengemasi semua pakaian dan peralatan. Timbul perasaan yang aneh saat kami bersiap-siap dalam ekspedisi yang terakhir ini, rasa gembira dan suram bercampur menjadi satu. Kekuatan Andes telah mengecilkan hati saat kami gagal dalam pendakian pertama dan saat perjalanan ke arah timur, tapi Andes juga melatih kami untuk mempertahankan kelangsungan hidup selama di gunung.
Kami masih berusaha untuk melengkapi peralatan kami dalam menantang keganasan gunung ini, kami benar-benar mengerti bahwa gunung ini sangat berbahaya. Kami mengetahui dua tantangan besar yang akan kamı hadapi dalam perjalanan nanti. Tantangan pertama adalah kami harus mendaki tempat-tempat yang tinggi hanya dengan mengandalkan tubuh kami. Kami belajar dari pengalaman bahwa udara di pegunungan hanya sedikit dan dengan cepat mampu melemahkan tekad dan stamina kami. Tidak ada yang bisa kami lakukan, kecuali terus bergerak sebelum kami semakin lemah, dan memaksakan diri untuk tetap mendaki.
Tantangan kedua adalah melindungi tubuh kami dari perubahan cuaca, terutama setelah matahari terbenam. Pada saat-saat ini, kami beranggapan bahwa siang hari suhu udara tidak terlalu dingin, tapi hawa dingin malam hari bisa membunuh kami, dan kami tahu bahwa kami tidak akan menemukan tempat berlindung di tengah-tengah hamparan salju yang luas. Kami harus menemukan cara untuk bertahan dari dinginnya malam, dan sebuah isolasi kain yang kami ambil dari bagian ekor pesawat adalah solusinya. Isolasi itu kecil, berbentuk potongan persegi panjang, setiap potong berukuran sebesar majalah. Meskipun sangat lembut dan tipis, tetapi dapat berguna sebagai pelapis pakaian agar melindungi dari kedinginan.
Saat sedang bertukar pikiran untuk merencanakan perjalanan ini, kami menemukan ide untuk menjahit potongan-potongan isolasi kain itu menjadi sebuah selimut besar yang cukup untuk menghangatkan kami semua. Kemudian dengan melipat selimut itu menjadi dua dan menyatukan unjung-ujungnya, kamı juga membuat sebuah kantong tidur yang cukup besar untuk tidur kami bertiga. Dengan panas tubuh kami bertiga yang berimpit di dalamnya, kami optimistis akan mampu mengatasi dingin udara malam.
Carlitos yang mengambıl tantangan ini. Waktu ia masih kecil, ibunya mengajarkan cara menjahit. Dengan menggunakan jarum dan benang yang kutemukan di dalam tas ibuku, ia mulai bekerja. Dia harus bekerja dengan teliti, ia harus memastikan bahwa semua jahitannya kuat. Untuk mempercepat proses ini, Carlitos mengajarkan yang lain menjahit, yang kemudian bekerja secara bergantian, rupanya kebanyakan dari kami memiliki tangan yang lincah untuk bekerja seteliti ini. Carlitos, Coche, Gustavo, dan Fito adalah penjahit terbaik dan tercepat.
__ADS_1
Saat yang lain masih bekerja, aku dan Tintin menyiapkan peralatan untuk perjalanan, tetapi Roberto terlalu lamban mengemasi barang-barangnya. la mengkhawatirkan pendakian ini, lalu pada suatu sore aku mendekatinya saat ia sedang beristırahat di luar pesawat.
"Sebentar lagi kantong tidur itu akan selesai," aku berkata. "Semuanya telah siap. Kita harus berangkat sesegera mungkin."
Roberto menggelengkan kepalanya. "Suatu tindakan bodoh jika kita pergi sementara tim penyelamat sedang mencari kita. "
Aku menatapnya geram. "Kita telah sepakat. Radio tak bisa diperbaiki, kita berangkat."
Roberto menatapku dengan sorot mata tajam, lalu menggertak, "Apa kita akan meninggalkan tempat ini sementara regu penyelamat sedang berusaha mencari kita??"
"Mereka tidak mencari kita. Mereka mencari mayat kita. Mereka tidak akan terburu-buru menemukan kita." Jawabku.
Roberto tampak marah dan pergi meninggalkanku.
Pertengahan Desember kantong tidur sudah selesai. Semua bersiap untuk keberangkatan kami, kecuali Roberto, yang selalu menemukan alasan gila untuk membatalkan perjalanan.
Pertama, ia mengeluh mengenai jahitan kantong tidur yang menurutnya tidak cukup kuat untuk menghangatkan kami bertiga dan memaksa mereka untuk menguatkannya kembali. Lalu, ia tidak ingin meninggalkan Coche, Roy, dan lainnya ketika mereka sangat membutuhkan perawatannya. Terakhir, ia memberitahukan kepada kami semua bahwa ia masih membutuhkan waktu istirahat yang cukup banyak untuk memulihkan tenaganya supaya cukup kuat melanjutkan perjalanan.
Fito dan sepupunya memaksanya untuk berangkat, tapi Roberto menolaknya dengan kasar. Dia mencaci maki semua orang, dan siapapun yang menyarankannya untuk segera berangkat, ia menjelaskan dengan tegas bahwa ia tidak akan pergi sebelum ia siap.
Sementara semua teman merasa makin terganggu dengan keras kepalanya, Roberto menjadi sering marah dan bersikap memusuhi. Dia menjajah teman-teman kami yang lemah. Dia memulai perkelahian tanpa alasan jelas. Pernah suatu kali, setelah bertengkar karena hal sepele, tiba-tiba ia menarik rambut Alvaro Mangino, kemudian membenturkan kepalanya ke dinding pesawat.
__ADS_1
Namun akhirnya, Roberto merasa sangat menyesal, ia meminta maaf dan memeluknya, aku lelah melihatnya seperti ini. Aku menuruti Roberto, dan menunggu hingga saat kami hanya berdua.
"Sudah cukup Roberto. Kamu tahu ini waktunya untuk berangkat."
"Ya." Katanya, "Kita berangkat setelah cuaca tenang. "
"Aku lelah menunggu."
"Aku sudah bilang! " Ia menggertak, "Kita berangkat setelah cuaca tenang! "
Aku berusaha tetap tenang, tetapi suara Roberto yang semakin meninggi membuatku marah.
"Lihat sekelilingmu!" aku berteriak. "Kita telah kehabisan makanan! Teman-teman kita sekarat. Coche mulai meracau pada malam hari. la tidak akan bertahan lebih lama lagi. Roy lebih parah, kulit dan tulangnya semakin memburuk. Javier mulai melemah, dan teman-teman kita yang lebih muda, Sabella, Mangino, Bobby, mereka sangat lemah. Dan, sekarang lihatlah kita! Aku dan kamu semakin tidak berguna. Kita harus mendaki sebelum kita terlalu lemah untuk berdiri dan berjalan."
"Dengarkan aku, Nando," Roberto membalasku, "Dua hari yang lalu, kita mengalami sebuah badai yang mengerikan. Kamu ingat itu? Jika itu menimpa kita lagi di lereng gunung ini, maka kita akan mati."
"Longsoran salju juga bisa membuat kita mati," aku berkata. "Kita bisa juga mati karena jatuh ke dalam jurang salju. Kita bisa juga kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam jurang bebatuan! Kita tidak dapat menyingkirkan semua risiko dan kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"
Roberto melihatku sekilas, tidak menghiraukan pernyataanku. Aku berdiri.
"Aku akan pergi pada 12 Desember. Jika kamu belum siap juga, aku berangkat tanpamu."
__ADS_1
(Bersambung)