Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 6


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Kami semua berdoa setiap malam, memohon kepada Tuhan untuk mempercepat kedatangan penyelamat. Aku tetap menanti-nanti gemuruh suara helikopter yang mendekat. Aku mengangguk setuju saat Marcelo mendorong kami untuk tetap yakin. Tapi tetap saja, keraguanku tak pernah berhenti, dan setiap detik yang membisu, pikiranku melayang ke arah barat, ke arah lereng-lereng raksasa yang mengurung kami. Serbuan pertanyaan berhamburan keluar dari otakku.


Apa yang terjadi jika kami harus mendaki ke sana? Apakah aku akan bertahan dalam perjalanan? Seberapa curam lerengnya? Seberapa dingin malamnya? Apakah pijakannya stabil? Jalur mana yang harus kulewati? Apa yang terjadi jika aku jatuh? Apa yang ada dibalik punggung gunung itu?


Setelah kematian Susy, tersisa dua puluh tujuh orang yang selamat. Sebagian besar dari kami memar dan terkoyak. Roberto dan Gustavo hanya cedera ringan. Sementara yang lain lebih berat, seperti: Liliana, Javier, Pedro Algorta, Moncho Sabella, Daniel Shaw, Bobby Francois dan Juan Carlos Mendendez. Sementara Del gado dan Alvaro Mangino yang patah kaki masih terus dirawat. Antonio Vizintin yang hampir mati kehabisan darah, dengan cepat memulihkan kekuatannya.


Tinggal dua orang yang benar-benar terluka parah: Antonio Nogueira, yang kedua kakinya patah dan Rafael Echavarren yang otot betisnya sobek hingga lepas dari tulangnya. Keduanya terus menerus merasakan sakit yang hebat. Dan melihat mereka menderita adalah kengerian tersendiri bagiku.


Awalnya Rafael dan Arturo berbagi penderitaan tidur dilantai pesawat seperti kami semua. Tapi sedikit saja kami bergeser atau mendorong akan menyebabkan mereka kesakitan luar biasa. Lalu Roberto membuatkan semacam hammock bagi mereka. Ditempat tidur gantung itu, mereka tidak bisa berbagi kehangatan dari himpitan tubuh yang lain dan mereka lebih menderita karena hawa dingin. Tapi bagi mereka hawa dingin adalah kesengsaraan yang lebih ringan daripada rasa sakit.


Setelah Susy meninggal, Liliana menjadi satu-satunya wanita yang selamat. Pada awalnya ia diperlakukan berbeda, kami memintanya tidur bersama orang-orang yang cedera diruang bagasi yang lebih hangat. Ia melakukannya beberapa malam saja, sesudah itu ia tidak mau mendapatkan perlakuan istimewa. Ia terus khawatir dengan keadaan anak-anaknya yang masih kecil dirumah. Disini, ia menjadi ibu bagi kami semua.

__ADS_1


Disini aku mulai lebih mengenal teman-temanku dari sebelumnya. Coche Inciarte dengan lelucon jorok dan senyum hangatnya. Pedro Algorta yang ternyata luar biasa cerdas dan seorang pemikir handal. Fito Strauch, seorang pendiam tapi mentalnya paling stabil diantara kami. Arturo, yang selalu berpakaian kumal dan anti agama tapi selalu khidmat jika berdoa. Enrique, yang perutnya tertusuk besi, tapi justru selalu khawatir dengan keadaan orang lain. Coco, yang selalu membuat orang tergelak. Dan kemudian ada Bobby Francois yang sudah tidak mau lagi bertahan hidup. Jika malam hari selimutnya tersibak, ia tidak akan berusaha menyelimuti tubuhnya lagi. Jadi kami semua memperhatikan dan menjaganya.


Saat itu musim dingin di Andes, badai seringkali mengamuk sepanjang waktu, membuat kami terjebak didalam pesawat. Tapi pada hari-hari cerah, kami menyeret beberapa kursi keluar dan menatanya seperti kursi malas untuk berjemur.


Tapi tidak lama matahari akan turun dilereng sebelah barat, udara kembali membeku, dan kami kembali masuk ke pesawat, bersiap untuk kesengsaraan malam.


Udara dingin ditempat yang tinggi benar-benar jahat dan agresif. Badan pesawat melindungi kami dari angin yang hendak membunuh kami, tapi tetap saja udara di dalam sangat dingin dan kejam. Kami punya korek api, tapi sangat sedikit benda yang bisa dibakar disini.


Kami telah membakar semua buang kertas yang kami punya. Tapi ketika api padam, hawa dingin yang terasa justru semakin memburuk. Pertahanan terbaik kami melawan dingin adalah berimpitan bersama dan menarik selimut tipis ditubuh kami.


Aku selalu tidur dengan selimut menutupi kepalaku untuk mengurung kehangatan embusan napasku. Kadang aku berbaring dengan kepala didekatkan dengan wajah


seseorang di sebelahku, untuk memperoleh sedikit embusan napas, sedikit kehangatan, darinya.


Suatu malam kami bercakap-cakap, tapi itu pun sangat sulit, gigi-gigi kami menggeretak dan rahang kami menggigil dalam udara yang sangat dingin. Sering kali aku mencoba mengalihkan diriku dari kesengsaraan ini dengan berdoa, atau dengan membayangkan ayahku di rumah, tapi dingin ini tidak bisa diabaikan dalam waktu yang lama. Kadang-kadang tidak ada yang bisa dilakukan selain menyerah kepada penderitaan dan menghitung detik-detik hingga pagi datang. Sering kali, dalam saat-saat tak tertolong itu, aku yakın akan menjadi gila.


Pada hari-hari awal cobaan berat ini, lapar bukanlah masalah besar bagi kami. Hawa dingin dan tekanan mental yang kami tanggung, bersamaan derngan depresi dan ketakutan, telah membuat kami tidak bernafsu untuk makan. Dan sejak kami

__ADS_1


diyakinkan bahwa para penyelamat akan segera tiba di sini, kami cukup puas mendapatkan sedikit jatah makan yang dibagi secara hemat oleh Marcelo. Tetapi pertolongan tidak juga muncul.


Suatu pagi menjelang akhir minggu pertama di pegunungan itu, aku berdiri di luar pesawat, menatap sebiji kacang


berlapis cokelat di telapak tanganku. Persediaan kami telah habis, ini adalah makanan terakhir yang diberikan padaku, dan dengan putus asa aku memutuskan untuk menjadikan kacang ini bertahan lama. Pada hari pertama setelah itu, aku perlahan


mengisap cokelat hingga hanya kelıhatan kacangnya, lalu kumasukkan kacang itu ke saku celanaku. Pada hari kedua dengan


hati-hati aku membagi kacang itu menjadi dua bagian, memasukkan satu bagian ke sakuku lagi dan menaruh setengahnya lagi di mulutku. Aku mengisap kacang itu perlahan selama berjam-jam, dan hanya mengızinkan diriku untuk menggigit sedikit demi sedikit. Aku melakukan hal yang sama pada hari ketiga, dan akhirnya saat aku menggigit kacang itu hingga tak habis, tidak ada lagi makanan yang tersisa.


Aku menghabiskan waktu mengaduk-aduk otakku berusaha berpikir kemungkinan sumber makanan. Mungkin ada tumbuh-tumbuhan yang hidup disuatu tempat, atau serangga-serangga dibawah baru. Mungkin pilot kami menyimpan makanan kecil di kokpit. Barangkali ada makanan yang terjatuh saat kami menyeret kursi keluar? Aku harus memeriksa tumpukan rongsokan lagi. Apakah kami telah memeriksa semua saku orang yang sudah mati sebelum mereka dikubur?


Lagi dan lagi aku tiba pada kesimpulan yang sama: kecuali kami ingin memakan pakaian yang kami kenakan, tidak ada sesuatu disini selain alumunium, plastik, es dan batu.


Saat itu hampir sore dan kami sedang berbaring didalam pesawat bersiap menyambut malam. Pandanganku tertuju pada luka di lengan seorang teman yang berbaring didekatku. Bagian tengah luka itu basah dan mengelupas dan ada kerak darah yang mengering di bagian pinggirnya. Aku tidak bisa berhenti menatap kerak darah itu, aku merasa nafsu makanku muncul.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2