
Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.
Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!
-------------------------------------------
Malam kedua itu, Roberto terlihat muram saat kami terbaring dalam kantong tidur.
"Kita akan mati jika terus mendaki, gunung ini terlalu tinggi. " Ia berkata.
"Apa yang bisa kita lakukan selain mendaki?" Tanyaku.
"Kembali." Dia menjawab.
"Kembali dan menunggu mati? " Aku bertanya ketus.
Dia menggelengkan kepalanya. "Kamu lihat diseberang sana, garis hitam gunung itu? Sepertinya itu sebuah jalan. "Roberto menunjuk ke seberang lembah ke arah pegunungan yang berkilo-kilo jaraknya.
"Entahlah. Sepertinya cuma deretan batu. "
"Kamu buta! " Dia menghardikku, "itu sebuah jalan!"
"Apa yang kamu pikirkan Roberto?"
"Kupikir kita sebaiknya kembali dan menyusuri jalan itu. Jalan itu pasti menuju suatu tempat." Katanya.
Itulah hal terakhir yang ingin kudengar.
Semenjak kami meninggalkan pesawat, diam-diam aku merasa tersiksa dengan keraguan dan kekhawatiran. Apakah yang kami lakukan benar? Bagaimana jika regu penyelamat datang saat kami di gunung ini? Bagaimana jika daerah pertanian Cile tidak di belakang bukit itu? Rencana Roberto benar-benar gila, tapi itu memaksaku untuk mempertimbangkan pilihan lain, dan aku tidak berani melakukannya saat ini.
"Gunung itu pasti dua puluh lima kilometer dari tempati ni", kataku. "Kalau kita berjalan ke sana dan mendaki menuju garis hitam itu, dan ternyata itu hanya batu-batu yang berjajar, kita tidak lagi punya kekuatan untuk kembali."
"Itu sebuah jalan, Nando, aku yakin itu!"
"Mungkin itu sebuah jalan, mungkin juga bukan," aku menyahut. "Yang pasti Cile berada di barat pegunungan ini."
Dengan marah Roberto berkata. "Kamu telah mengatakannya berbulan-bulan, tapi kita akan mati sebelum sampai di sana!"
Aku dan Roberto berdebat tentang rute perjalanan selama berjam-jam, dan saat kami bersiap tidur, aku tahu masalah belum terpecahkan.
Aku bangun keesokan paginya di bawah langit yang cerah.
__ADS_1
"Kita beruntung dengan cuaca ini, "Roberto berkata. la masih di dalam kantong tidur.
"Apa yang kamu putuskan?" aku bertanya padanya. "Apakah kamu akan kembali?"
"Aku tidak yakin," katanya. "Aku butuh berpikir."
"Aku akan mendaki," kataku, "Mungkin kita akan segerabmencapai puncak."
Roberto mengangguk. "Tinggalkan barang-barang mu disini," ia berkata. "Aku akan menunggu sampai kamu kembali"
Aku mengangguk. Mendaki tanpa Roberto menakutkan ku, tapi aku tidak setuju untuk kembali. Aku menunggu Tintin mengemasi barang-barangnya, lalu kami melangkah ke lereng dan mulai mendaki. Setelah beberapa jam perjalanan yang lambat, kami terjebak di dasar jurang dengan dinding yang menjulang ratusan meter di atas kami. Permukaan nya benar-benar vertikal dan tertutup salju tebal.
"Bagaimana kita bisa mendakinya?" Tintin bertanya.
Aku memerhatikan dinding itu. Pikiranku buntu, tapi aku teringat tongkat aluminium di dalam tasku.
"Kita butuh tangga," aku berkata. Aku menarik tongkat itu dari punggungku, dengan ujungnya yang tajam aku mulai menancapkan ke dinding jurang. Menggunakan pijakan-pijakan itu sebagai anak tangga, kami terus mendaki. Benar-benar pekerjaan berat, tetapi aku melakukannya dengan daya tahan binatang ternak, dan kami naik satu demi satu langkah pelan.
Tintin mengikuti di belakangku. Aku tahu ia sangat ketakutan, tapi ia tidak pernah mengeluh. Bahkan, aku sering tidak menyadari keberadaannya. Perhatianku hanya tertuju pada tugas di tangan ku. Gali, mendaki, gali, mendaki. Aku merasa, pada saat itu, Kami mendaki dinding pencakar langit yang membeku, dan sangat sulit menjaga keseimbangan ku saat aku menggali, tapi aku tidak lagi mengkhawatirkan ruang kosong di belakangku. Aku menyadarinya, dan aku telah belajar untuk memahami keberadaan nya. Seorang manusia, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya menjadi terbiasa dengan segala hal.
Sebuah proses yang menyakitkan, merangkak menaiki gunung dengan cara itu, dan waktu berjalan lambat. Menjelang siang aku melihat langit biru di atas bukit dan berusaha mencapainya. Setelah beberapa kali mendaki puncak yang salah, aku belajar menjaga harapan-harapanku, tetapi kali ini, saat aku sampai di ujung jurang, lereng-lereng menjadi datar dan aku berdiri di bebatuan yang suram dan berangin. Aku menyadari bahwa tidak ada lagi gunung di atas ku. Aku telah mencapai puncak.
Aku tidak ingat apakah aku merasakan kebahagiaan atau kesuksesan saat itu. Jika aku ingat, semua itu segera lenyap saat melihat sekelilingku. Puncak ini memberiku pemandangan dunia 360 derajat. Dari sini aku bisa melihat cakrawala mengitari bumi seperti bibir mangkuk yang sangat besar, di setiap arah memudar menjadi warna biru yang jauh, mangkuk ini disesaki gunung-gunung berselimut salju, Masing-masing lerengnya sangat curam dan berbahaya seperti lereng yang baru saja aku daki. Aku segera menyadari bahwa kopilot Fairchild telah melakukan kesalahan besar. Kami belum melewati Curicó. Kami tersesat di dekat perbatasan barat Andes. Pesawat kami jatuh di suatu tempat di tengah bentangan coldillera.
Dibalik gunung ini nyatanya hanyalah bentangan pegunungan yang lebih luas.
Kebenaran yang selalu kuyakini, semua kerja kerasku, harapanku, janjiku untuk Ayah dan diriku, akan berakhir seperti ini. Kami akan mati di pegunungan ini. Kami akan tenggelam di dalam salju, kesunyian akan menyelimuti kami, dan semua orang yang kami sayangi tidak akan pernah tahu betapa beratnya perjuangan kami untuk kembali kepada mereka.
Dalam keputusasaanku, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang tajam terhadap belaian lembut lbu dan Susy, serta hangat pelukan Ayah. Cintaku pada Ayah membuncah di hatiku, dan aku menyadari blahwa, betapapun tanpa harapannya situasiku, ingatan akan dirinya membuatku gembira. Ini mengguncangkanku: pegunungan ini, dengan semua kekuatannya, tidak lebih kuat daripada cintaku untuk Ayah. Pegunungan tidak mampu menghancurkan kemampuanku untuk mencinta. Sejenak aku merasakan ketenangan dan kejernihan.
"Apakah kamu melihat warna hijau, Nando?" Suara Tintin memanggilku dari bawah.
"Semua akan baik-baik saja," aku berkata padanya. "Katakan pada Roberto untuk naik dan melihatnya sendiri."
Selama aku menunggu Roberto mendaki, aku menarik kantong plastik dan lipstik dari tas punggungku. Menggunakan lipstik untuk krayon, aku menuliskan MT. SELER di tas itu dan menaruhnya di bawah batu. Gunung ini adalah musuhku, pikirku, dan sekarang aku memberikannya untuk Ayahku. Apa pun yang
terjadi, akhirnya aku melakukannya sebagai balas dendamku.
Membutuhkan tiga jam bagi Roberto untuk memanjat tangga-tangga buatanku. la memandang sekeliling selama beberapa saat, menggelengkan kepalanya.
"Kita semua telah berakhir," dia berkata datar. "Kita tidak punya kekuatan lagi untuk mendaki."
__ADS_1
"Pasti ada jalan keluar dari pegunungan ini," kataku. "Apakah kamu melihatnya, dikejauhan, dua puncak yang lebih rendah dan tidak tertutup salju? Mungkin pegunungan ini berakhir di sana. Aku rasa kita harus ke sana."
Roberto menggelengkan kepalanya. "Jaraknya pasti lima puluh kilometer," dia berkata. "Dan siapa tahu berapa jauh lagi setelah kita tiba di sana? Dengan kondisi kita, bagaimana mungkin menempuh perjalanan sejauh itu?"
"Lihat ke bawah," aku berkata. "Ada lembah di dasar gunung ini. Apakah kamu melihatnya?"
Roberto mengangguk. Lembah itu membelah gunung berkilo-kilometer lebarnya, di arah yang sama dengan dua puncak yang lebih rendah itu. Di dekat gunung-gunung kecil itu, lembah itu terbagi menjadi dua cabang. Kami tidak bisa melihat lagi cabang itu saat ia melebar ke belakang gunung, tetapi aku yakin lembah ini akan mengantar kamı ke tempat yang kami inginkan.
"Salah satu cabang pasti menuju gunung gunung yang lebih kecil," kataku. "Cile berada di sana, hanya lebih jauh dari perkiraan kita."
Roberto mengerutkan dahinya. "Itu terlalu jauh," dia berkata. "Kita tidak akan berhasil. Bekal makanan kita menipis."
"Kita bisa menyuruh Tintin kembali," kataku. "Setidaknya dengan sisa makanannya dan yang kita miliki, kita bisa bertahan dua puluh hari."
Roberto berbalik dan memandang ke timur. Aku tahu ia masih memikirkan jalan itu. Aku kembali memandang ke barat, dan jantungku berdegup saat berpikir untuk melakukan perjalanan ini seorang diri.
Sebelum senja, kami kembali ke perkemahan. Saat kami makan, Roberto berkata kepada Tintin. "Besok, kami berdua akan mengirimkanmu kembali," katanya. "Perjalanan ini akan lebih lama daripada perkiraan kita, dan kami butuh makananmu. Lagi pula, berjalan berdua lebih cepat daripada bertiga."
Tintin menganggukkan kepalanya dengan mata berbinar yang menunjukkan kelegaan. Pagi harinya Roberto berkata kepadaku ia memutuskan untuk berjalan ke barat bersamaku. Kami memeluk Tintin dan mengirimnya menuruni gunung.
"Ingat, " Saat ia akan pergi, "kami berdua akan selalu menuju barat. Jika regu penyelamat datang, minta mereka mencari kami. "
Kami beristirahat sepanjang hari itu untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Sore harinya kami makan beberapa potong daging dan masuk ke kantong tidur. Malam itu, saat
matahari tenggelam ke belakang bukit, Andes dihiasi cahaya paling mengagumkan yang pernah kulihat. Matahari menjadikan pegunungan itu berwarna keemasan, dan langit di atasnya berwarna lembayung.
Terpikir olehku bahwa Roberto dan aku
mungkin manusia pertama yang menyaksikan keagungan alam ini. Aku merasa istimewa dan bersyukur, seperti yang sering kali dirasakan manusia ketika melihat keajaiban alam, tapi inı hanya berlangsung sesaat. Setelah pendidikanku selama di pegunungan, aku mengerti bahwa semua keindahan ini bukan untukku. Andes telah mempertontonkan pemandangan ini selama berjuta-juta tahun, jauh sebelum manusia ada di bumi, dan akan terus seperti ini setelah kita semua tiada. Hidup dan matiku tidak akan membuat banyak perbedaan. Matahari tetap akan terbenam, dan salju akan tetap turun.
"Roberto," aku berkata, "apakah kamu dapat membayangkan betapa indah tempat ini jika kita berdua bukan orang mati?"
Tangannya memegang bahuku. la adalah satu-satunya yang memahami besarnya hal yang telah kami lalui dan apa yang masih harus kami lakukan. Aku tahu ia sangat ketakutan seperti diriku, tetapi aku memperoleh kekuatan dari kedekatan
kami. Kini kami seperti saudara. Kami saling memperbaiki satu sama lain.
Esok paginya kami kembali mendaki semua tangga itu menuju puncak. Roberto berdiri di sampingku. Aku melihat ketakutan dari matanya, tapi aku juga melihat keberanian, dan aku segera memaafkannya untuk segala kesombongan dan keras kepalanya.
"Mungkin kita sedang berjalan menuju kematian kita," kataku. "Tetapi lebih baik aku berjalan menyongsong kematianku daripada menunggunya menjemputku."
Roberto mengangguk. "Kita bersahabat, Nando, katanya. "Kita telah melalui banyak hal. Sekarang, mari kita mati bersama. "
__ADS_1
Kami berjalan ke bibir puncak gunung sebelah barat, memandang lautan puncak pegunungan Andes, dan mulai turun.
(Bersambung)