Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Tragedi Andes Part 7


__ADS_3

Sebelum teman-teman melanjutkan alangkah baiknya saling membantu. Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Suatu malam, dalam kegelapan pesawat, aku memutuskan untuk berbicara pada Carlitos Paez yang berbaring disebelahku.


"Carlitos," Aku berbisik, "Apakah kamu belum tidur?"


"Ya," Ia menjawab dengan muka masam, "Siapa yang bisa tidur dalam freezer seperti ini?"


"Apakah kamu lapar?" Tanyaku membuka arah obrolan.


"Puta carajo," ia menyahut. "Menurutmu? Aku belum makan beberapa hari ini."


"Kita semakin kelaparan disini," kataku, "aku rasa para penolong tidak akan menemukan kita."


"Kamu tidak tahu itu." Carlitos menjawab.


"Aku tahu, dan kamu juga tahu itu, " aku membalas, "Tapi aku tidak akan mati disini. Aku akan pulang."


"Apa kamu masih berpikir untuk mendaki kesana? " ia bertanya, "Nando, kamu terlalu lemah."


"Aku lemah karena belum makan."


"Tapi kamu bisa apa?" Katanya, "Disini tidak ada makanan."


"Ada." Jawabku. "Kamu tahu maksudku. "


Carlitos menggeser posisi tidurnya dalam kegelapan, tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"Aku akan mengiris daging pilot kita, " Aku berkata lirih, "Dia yang membawa kita ke tempat ini, mungkin dia akan membantu kita keluar dari sini."


"Persetan Nando, " Carlitos berbisik.


"Ada banyak makanan disini, " Aku berkata, "Tapi kamu harus menganggapnya semata-mata hanya daging. Teman-teman kita tidak memerlukan tubuh mereka lagi."


Sejenak Carlitos duduk tanpa bersuara sebelum ia bicara.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. " Katanya lirih.


Pada hari berikutnya Carlitos mendiskusikan percakapan kami dengan beberapa yang lain. Beberapa orang mengaku punya gagasan yang sama. Terutama Roberto, Gustavo da Fito yang percaya itulah satu-satunya kesempatan kami untuk bertahan hidup. Selama beberapa hari kami mendiskusikan ini diantara kami sendiri. Kemudian kami mengadakan rapat dan membicarakan masalah itu secara terbuka. Kami semua berkumpul dalam pesawat. Saat itu hampir senja dan cahaya mulai redup. Roberto mulai berbicara.


"Kita sedang kelaparan." ia serius dengan kata-katanya, "Tubuh kita sedang menggerogoti dirinya sendiri. Kalau kita tidak segera makan protein, kita akan mati."


Suasana hening.


Roberto melanjutkan. "Dan satu-satunya protein disini ada ditubuh teman-teman kita."


Tiba-tiba seseorang berteriak. "Apa katamu?! Kita makan mayat!? "


Wajah orang-orang tampak takjub dan ngeri mendengar ucapan Roberto. Lalu Liliana berkata pelan. "Aku tidak bisa melakukannya."


"Kamu tidak akan melakukannya untuk dirimu sendiri, " Kata Gustavo, "Tapi kamu harus melakukannya untuk anak-anakmu. Kamu harus bertahan hidup dan pulang untuk mereka. "


Seseorang bertanya, "Apa Tuhan akan memaafkan perbuatan seperti ini.. "


"Jika kalian tidak makan, kalian memilih mati. " Roberto menjawab. "Aku yakin Tuhan ingin kita melakukan apapun agar kita bertahan hidup."


"Dan jika kita harus berjuang keluar dari sini sendiri, kita memerlukan kekuatan atau kita akan mati di lereng-lereng itu." Fito menambahkan.


"Fito benar," kataku, "Dan kalau tubuh teman-teman kita bisa membantu kita untuk selamat, mereka tidak akan mati sia-sia. "

__ADS_1


Diskusi itu berlanjut sepanjang sore. Banyak dari orang-orang itu seperti Liliana, Javier, Numa Turcatti, dan Coce Inciarte antaranya, menolak untuk makan daging manusia, tapi tidak seorang pun yang berusaha mengungkapkan gagasan mereka.


Dalam keheningan, kami menyadari bahwa kami telah mencapai sebuah keputusan. Kini persediaan makanan yang mengerikan harus dihadapi.


"Bagaimana cara melakukannya?" seseorang bertanya. "Siapa yang berani mengiris daging teman sendiri?" Ruangan di pesawat itu kini menjadi gelap, aku hanya bisa melihat bayangan cahaya suram, tapi setelah kesunyian yang lama, seseorang bicara. Aku mengenal suara itu adalah suara Roberto.


"Aku yang akan melakukannya," ia berkata.


Gustavo berdiri dan berkata lirih, "Aku akan membantu."


"Tapi siapa yang akan dipotong lebih dulu?" tanya Fito.


"Bagaimana kita memilihnya?"Kami semua memandang ke arah Roberto.


Gustavo dan aku akan mengurusnya, ia menjawab.


Fito berdiri. "Aku ikut," katanya.


"Aku juga akan membantu," kata Daniel Maspons, seorang wing forward di Old Christians dan sahabat Coco.


Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun beranjak, kemudian kami semua saling mendekat maju, menyatukan tangan, dan berjanji bahwa jika salah seorang dari kami mati di sini, yang lain boleh menggunakan tubuhnya untuk dimakan.


Setelah janji itu, Roberto bangkit dan menggeledah pesawat sampai ia menemukan beberapa pecahan kaca, lalu ia memimpin tiga asistennya keluar menuju kuburan. Aku mendengar mereka berbicara pelan saat mereka bekerja, tapi aku tidak


tertarik untuk melihat mereka. Ketika mereka kembali, mereka menggenggam potongan-potongan daging yang tidak terlalu besar. Gustavo menawariku sepotong dan aku menerimanya.


Warnanya putih keabu-abuan, keras seperti kayu dan sangat dingin. Aku mengingatkan diriku bahwa ini bukan lagi bagian tubuh manusia; jiwa orang ini telah meninggalkan tubuhnya. Tetap saja, aku pelan-pelan mengangkat daging itu ke bibirku. Aku menghindar dari tatapan orang-orang, tapi setiap sudut yang kulihat adalah orang-orang yang mengelilingiku. Beberapa orang duduk seperti aku dengan daging di tangan mereka, mengumpulkan keberanian untuk memakannya. Yang lain menggerak-gerakkan rahang mereka dengan ngeri.


Akhirnya, aku menemukan keberanian dan memasukkan daging itu ke mulutku. Daging itu tidak ada rasanya. Aku mengunyahnya, sekali atau dua kali, lalu memaksa diriku untuk menelannya. Aku tidak merasa bersalah ataupun malu. Aku melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup. Aku mengerti besarnya pantangan yang telah kami langgar, tapi jika aku merasa ada emosi yang kuat, ini adalah rasa kemarahan bahwa takdir telah memaksa kami untuk memilih antara kengerian ini atau kengerian akan kematian.


Memakan daging tidak memuaskan rasa laparku, tapi menenangkan pikiranku. Aku tahu bahwa tubuhku akan memanfaatkan protein untuk menguatkan dirinya dan memperlambat proses mati karena kelaparan. Malam itu, untuk kali pertama sejak kami mengalami kecelakaan, aku merasakan sepercik harapan. Kami harus bertahan dengan suramnya kenyataan ini, dan menemukan bahwa kamı memiliki kekuatan untuk menghadapi kengerian yang tak terbayangkan.

__ADS_1


Keberanian kami telah memberikan kekuatan untuk mengendalikan keadaan ini, dan memberi kami waktu yang sangat berharga. Kini tidak ada lagi khayalan. Kami semua tahu perjuangan kami untuk bertahan hidup akan semakin buruk dan lebih mengerikan daripada yang pernah kami bayangkan, tapi aku merasa, bahwa sebagai sebuah kelompok, kami telah membuat sebuah pernyataan kepada gunung bahwa kami tidak akan menyerah.


(Bersambung)


__ADS_2