Jejak Pendakian

Jejak Pendakian
Dimana Aku..? Part 1


__ADS_3

Jangan lupa like 👍, comment 📝, dan jadikan cerita favorit teman-teman.


Simak ceritanya. Enjoooyyy!!!


-------------------------------------------


Dicerita horor pendakian kali ini author membahasa seorang pendaki pemula bernama Agas, dimana dia mendaki sebuah gunung di Jawa Tengah. Author mengingatkan bahwa nama-nama di bawah ini adalah nama samaran.


Lanjuutt!!!


Perusahaan tempat Agas kerja mengadakan gathering tahunan kebetulan lokasi dan tema acara itu adalah ke gunung dengan konsep camping. Jumlah peserta pendaki gunung ini ada tiga puluh lima orang dan di bagi menjadi empat kelompok. Pertanyaannya, dimanakah mereka mendaki? Intinya ketika sampai di puncak gunung ini maka background nya adalah gunung merbabu, nah kalian tebak sendiri ya ini gunung apa?


Singkat cerita mereka sampai di lokasi jam delapan malam dengan menggunakan bus. Karena pendakian ke basecamp cukup curam mereka turun dari bus dan berjalan kaki menuju basecamp berjarak lima puluh meter. Karena Agas malas menunggu teman-teman nya yang masih rempong dengan barangnya maka Agas jalan deluan dengan teman nya bernama Dede. Pas di pertengahan jalan menuju basecamp Agas merasa engap atau ngos-ngosan dan di tinggal deluan oleh Dede. Agas duduk di pinggir tembok tanjakan ia menepi sambil merokok, tak lama Agas mencium bau janur yang sudah lama di timbun, lalu Agas mencari dimana sumber bau tersebut. Karena remang-remang Agas mengintip di sela-sela tembok yang berlubang ternyata di balik tembok itu penuh dengan makam plus pohon beringin yang sangat besar, lemas lah kaki si Agas.


Si Agas langsung ngacir mengejar si Dede yang jalan deluan, ternyata Dede berdiri diam menghadap si Agas, ketika sudah sampai di atas Agas terkejut melihat hamparan makam yang banyak banget dengan di batasin tembok tempar dia duduk tadi. Yang bikin seram itu, makam-makam kuno itu di buatkan kayak rumah-rumahan. Si Agas mikir "Di kaki basecamp aja kuburan, apalagi di atas.."


Tidak lama kemudian peserta lainnya menyusul mereka, sesampainya di basecamp mereka langsung di kumpulin oleh panitia untuk di absen, di periksa perengkapan dan lain sebagainya. Tim ranger atau guide di gunung memberikan beberapa peringatan diantaranya. Yang pertama, jangan membunuh makhluk apapun, bunuhlah waktumu. Kedua, jangan ambil apapun kecuali foto. Ketiga, jaga ucapan dan prilaku. Keempat, tidak boleh menebang pohon. Kelima, tidak boleh membuang sampah sembarangan.


Setelah itu mereka memulai pendakian dari basecamp jam dua belas malam. Perjalanan ke pos satu di awali dengan melewati kebun kentang jalanan masih landai dan masih ada lamput listrik di sebelah kanan dan kiri. Dari keempat kelompok tersebut, si Agas berada di kelompok pertama atau kelompok satu, setiap kelompok di beri jeda dua puluh menit untuk jalan deluan baru nanti kelompok lainnya menyusul.


Berangkatlah kelompok pertama deluan, baru berjalan tiga ratus meter mereka beristirahat di karenakan ada ibu-ibu di tim mereka kecapekan. Mumpung istirahat si Agas pun kencing sebentar di lahan kosong sekitar sepuluh meter dari kelompoknya, tiba-tiba Agas mendengar suara anak ayam, Agas bergumam dalam hati.


"Kok ada suara anak ayam, padahal dari tadi tidak menjumpai kandang ayam."


Pendakian pun di lanjutkan, jalan sudah masuk ke area pohon-pohon lebat, lampu jalan juga sudah tidak ada lagi. Agas dan kelompoknya sudah mulai memasuki jalan setapak penerangan hanya dari headlamp, Agas berjalan nomor dua dari belakang. Dua puluh menit pertama perasaan Agas masih aman-aman saja, tapi ketika mendekati pos satu ia pun mulai gelisah. Kanan dan kiri sudah semi jurang sangat gelap. Ranger pun memberi peringatan,


"Jangan sekali-sekali kita mandangin pohon atau semak-semak terus, kalau malam fokus lihat kaki teman atau badan teman kita yang ada di depan." ucap ranger memberikan peringatan.


Awalnya Agas mengajak ngobrol temannya yang paling belakang, lambat laun di jarang-jarangilah obrolannya. Tidak lama kemudian Agas curiga,


"Kok di belakangku sunyi senyap seperti tidak ada orang." ucap nya dalam hati.


Nah, ketika Agas nengok ke belakang ternyata temannya sudah tidak ada. Lalu Agas meminta stop kepada ranger untuk menunggu temannya tersebut. Mereka menunggu lima menit ternyata temannya tidak muncul-muncul, akhirnya ranger balik arah untuk mencari itu orang. Setelah menunggu lima belas menitan ranger dan teman si Agas itu kembali dan bergabung dengan kelompoknya. Teman si Agas di letakkan di tengah-tengah kelompok dan ranger menghitung kembali anggotanya.


Ranger pindah ke barisan paling belakang bertukar dengan temannya Agas yang di barisan kedua dari depan. Perlu di ingat kelompok Agas berjumlah delapan orang di luar ranger.


Tidak lama kemudian sampailah mereka di pos satu dimana tanah di pos satu dibuat seperti petakan dan mereka di beri waktu istirahat selama lima sampai sepuluh menit. Disela-sela istirahat, Agas sempat mengobrol dengan temannya yang tadi sempat hilang. Dan temannya ini cerita.


"Jadi aku ikutin arahan ranger untuk fokus ke arah kaki teman kita, aku nunduk lihatin kakimu. Tiba-tiba kamu lari, pas aku tengok ke depan ternyata sudah di tengah-tengah pepohonan sendirian. Aku menengok ke arah jalur pendakian kalian sudah sangat jauh, aku mau ngejar ragu takut kalau itu halusinasi jadi aku duduk menunggu tim selanjutnya, gak lama setelah itu ranger datang" ucap temannya Agas menjelaskan kejadian tersebut.


Di saa itu juga ranger menghampiri temannya Agas dan bertanya.


"Teman kamu yang satunya lagi mana, soalnya tadi saya lihat ada dua headlamp di posisi kamu berdiri tadi." tanya ranger.


Temannya Agas menjelaskan bahwa dia sendirian saja tidak sama siapa-siapa, ranger pun paham dan meninggalkan teman si Agas.


Jam setengah dua malam mereka melanjutkan perjalanan ke pos dua jalur pun sudah di dominasi dengan bebatuan dan tanjakan-tanjakan, suhu pada saat itu kurang lebih dua derajat dan kabut pun sangat tebal sehingga jarak pandang hanya sampai lima sampai enam meter saja.


Di barisan depan ada ibu-ibu yang merasa sumpek banget seperti di kelilingi banyak orang padahal mereka berjalan dengan berbaris, dia pun meminta kepada ranger untuk di pindahkan ke barisan belakang. Menuju pos dua banyak sekali yang meminta istirahat, setiap dua puluh meter pasti ada saja yang minta istirahat. Setelah ibu-ibu tadi pindah ke belakang, sekarang giliran bapak-bapak merasakan hal yang sama seperti ibu tadi dan pindah juga ke barisan belakang. Posisi si Agas menjadi nomor tiga dari depan karena pergesaran posisi, tanjakan demi tanjakan mereka lalui. Tiba-tiba ada temannya si Agas yang bernama Wahyu, dia merasakan hal yang aneh, hingga membuatnya bertanya.


"Berasa aneh gak disini?" tanya Wahyu.


"Kenapa Yu?" tanya Agas kembali.


"Di hutan atau gunung masa sih gak ada jangkrik atau belalang? Ini terlalu sunyi buat gua. Gak ada suara serangga sama sekali, yang ada bunyi kibasan daun bambu yang terkena angin" tanya Wahyu sedikit ketakutan.


"Bener juga, Lo! Disini aneh ya." jawab Agas singkat dan mendengarian sekelilingnya yang sunyi.


Posisi pada saat itu menjadi sangat hening, yang awalnya mereka mengobrol sekarang tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Kabut semakin tebal dan medan lebih curam, tiba-tiba Leader memberi informasi.


"Pak, Bu! Di depan sepertinya ada tenda dan ada orang pada berdiri rasanya area cukup untuk jumlah kelompok kita, gimana kalo kita istirahat sejenak disana?" tanya Leader.


"Emang keliahatan ya? Kalo memang ada boleh deh kita istirahatin dulu kaki sebentar." ucap anggota di barisan pertama.


"Boleh tuh saya juga mau pipis." ucap anggota di barisan kedua.


Mereka pun gembira mendengar hal tersebut karena semua merasa capek. Hawa dingin dan kabut tebal membuat mereka berharap besar bertemu dengan pendaki lain. Sedangkan Agas yang berada di barisan ketiga dari depan tidak dapat melihat tenda yang diberi tahu oleh Leader.


Jalan menuju ke tempat Leader melihat tenda tersebut membuat langkah mereka menjadi sangat cepat, tapi kok tidak sampai-sampai. Para anggotapun mulai bertanya-tanya.


"Om kok gak sampe-sampe ya? Bukan seharunya sudah di depan mata tuh." tanya salah satu anggota.


"Iya nih, itusih masih kelihatan sebentar lagi. Mereka melihat kita kok sambil melambaikan tangan." jawab si Leader.


Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga membuat Agas maju ke depan bertanya pada Leader.


"Mas, kok gak nyampe-nyampei? Lo, yakin ada orang di depan sana?" tanya Agas mulai kesal.


"Itu mas saya lihat kok, mungkin kita tertipu jarak pandang aja." jawab Leader.


Agas pun kembali ke barisannya dan berkata dalam hati.


"Masa iya sih...?"


Mereka pun berjalan lagi, baru berjarak tujuh meter Agas pun bertanya lagi.

__ADS_1


"Mas, mana nih? Harusnya dengan jarak pandang seginu, Elo, gak bisa lihat objek yang jauhnya di atas lima meter dari kita." ucap Agas dengan sangat kesal.


"Nah, itu mas setiap sudah makin dekat kok kayaknya dia menjauh lagi dikit." ucap Leader.


Tidak lama setelah itu ranger berlari ke depan dengan cepat.


"Mulai dari sini saya yang In-Charge ya, Leader sekarang pindah ke belakang jadi sweeper." ucap ranger.


Sontak mereka kaget melihat kelakuan ranger yang tiba-tiba seperti itu dia tidak menjelaskan apa yang terjadi dan tidak memberi tahukan apa yang di lihat Leader sebelumnya. Terus si Agas bertanya kepada ranger tersebut.


"Mas, tadi katanya di depan ada tenda dan orang? Kapan kita sampainya ya? Kasian ada yang mau pipis dan beristirahat" tanya Agas kepada ranger.


"Saya tidak saranin kita berhenti di area ini sampai dengan jarak dua ratus meter ke depan, gak jauh setelah itu, akan ada area yang cukup buat kita istirahat. Tapi harus di area itu ya." jawab ranger menjelaskan.


Agas pun pasrah, mereka melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan tidak ada tenda dan orang sama sekali, lebar jalan aja kurang lebih lima puluh senti.


Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di lokasi yang di maksud si ranger, langsung lah mereka semua istirahat. Di situ Agas mencoba bertanya kepada temannya yang bisa merasakan hal itu.


"Mas tadi tuh ada apaan sih?" tanya Agas.


"Namanya juga tempat yang jarang dikunjungi orang kadang kita suka ketipu mas." jawab temannya tersebut.


"Maksudnya tadi dia ngeliat penampakan?" tanya Agas lagi.


Teman si Agas langsung mengalihkan pembicaraan, tiba-tiba teman Agas yang lagi merokok di atas batu besar datang setengah lari ke arah Agas yang lagi ngobrol dan langsung jongkok. Agas pun bertanya,


"Kenapa lu mas?" tanya Agas.


"*****, aneh gua disini bray gak betah gua pengen buru-buru sampai di pos dua." ucap teman si Agas.


"Emang ada apa, udaranya dingin banget ya?" tanya Agas kembali.


"Itu tuh, tadi kan gua lagi selonjoran tuh sambil nyender di batu gede sana, masa gua tiba-tiba dengar ada suara anak kecil pada cekikikan kecil di belakang batu itu. Gak mungkin ada anak kecil di area kayak gini jam segini pula!" ucap teman si Agas menjelaskan apa yang terjadi.


Si Agas dan temannya yang bisa merasakan langsung diam seribu bahasa. Teman si Agas yang bisa merasakan ini bernama Mas Burhan.


"Tadi yang di lihat Leader emang benar adanya, tapi posisinya gak di sana sebenarnya melainkan di sini. Mereka cuma pengen beritahu bahwa mereka dulu pernah ada, coba aja tanya rangernya. Dulu disini pernah terjadi apa? Tapi omongan ini lanjutin entar aja mereka diam-diam menyimak soalnya." ucap Mas Burhan menjelaskan.


"Oke deh mas, terus tadi yang di bilang tentang anak kecil yang cekikikan itu gimana..?" tanya Agas melanjutkan obrolan.


Mas Burhan pun tidak menjawab pertanyaan Agas, tapi di berkata lain.


"Track disini rame gak jauh di depan nanti siapin masker ya bakal gak nahan sampeyan sama baunya, dari sini aja udah mulai berasa." ucap Mas Burhan. Si Agas bingung dengan pernyataan Mas Burhan.


"Jangan di pake nanti aja."


Agas menuruti perkataan Mas Burhan, ia tahu maksudnya. Mereka lanjut lagi berjalan , dua puluh menit kemudian di depan ada anggota kelompok yang kencang banget.


"Bau apa ni ya? Bau banget! Mas ranger kita melewati daerah apaan sih ini kok bau banget?" ucap anggota barisan paling depan. Terus ada lagi anggota yang bilang,


"Bau bangke nih..!" ucap salah satu anggota.


"Kalian kan sudah bawa masker atau buff silahkan di gunakan. Daerah disini karena dekat dengan lokasi penggalian gas alam jadi agak bau." ucap ranger. Mereka pun mengenakan masker dan melanjutkan perjalanan.


Jam menunjukkan pukul dua lewat lima belas dini hari. Info dari ranger bahwa tidak sampai empat ratus meter mereka sampai di pos dua. Ranger memberi arahan.


"Nanti di pos dua istirahat agak lama, karena kondisi yang lain sudah mulai letih." ucap ranger.


Ditengah perjalanan mereka mendapat lagi gangguan-gangguan yang menyerang psikis kelompok satu. Salah satunya anggota si Agas sudah mulai mual-mual. Melihat itu Mas Burhan turun tangan untuk membantu, menurut Mas Burhan mereka sudah mulai menyerang. Namun ranger menutupi bahwa itu karena kondisi peserta yang kecapekan aja bukan dari makhluk ghaib.


Karena kelompok satu banyak berhentinya, akhirnya kelompok dua pun berhasil menyusul dan akhirnya mereka barengan menuju ke pos dua. Di perjalanan Agas coba bertanya di kelompok dua apakah mereka mengalami kejadian-kejadian aneh, ternyata sama kelompok dua mengalami hal yang sama namun ada hal yang lebih menyeram kan yang di alami oleh Mbak Uwi salah satu peserta kelompok dua. Kejadiannya terjadi saat Mbak Uwi melintasi area pohon bambu, dia melihat ada orang turun dari atas lereng yang berkabut cepat banget, Mbak Uwi mengecek ke pinggir lereng tersebut ternyata tidak ada jalan setapak sama sekali.


Pukul tiga kurang lima belas menit sampailah mereka di pos dua, di pos ini mereka beristirahat cukup lama kurang lebih lima belas menit karena ada anggota kelompok dua yang kakinya terkilir. Ranger pun memutuskan harus ada tim khusus yang bareng beliau. Akhir nya dipilihlah peserta yang akan menemani beliau sampai enakan lagi kakinya.


Peserta yang di tunjuk sebagai tim khusus adalah Pak Nova (kaki yang terkilir), Mas David (ranger satu), Mas Galih (ranger dua), Mas Burhan, dan Agas. Mas Burhan dan Mas Galih sibuk memijitin kakinya Pak Nova dengan minyak tawon. Mas David kontek-kontekan dengan basecamp tentang progres pendakian.


Si Agas pun bertanya dengan Pak Nova,


"Sebenarnya apa yang terjadi Pak? Kepeleset ya Pak." tanya Agas.


"Saya juga bingung, padahal langkah saya tinggi-tinggi, gak saya seret di jalan, tapi gak tau kenapa pas di dekat tanjakan ketiga tadi kayak ada akar atau apalah gak jelas bikin saya kesandung. Padahal sebenarnya gak ada apa-apa." ucap Pak Nova menjelaskan.


"Batu mungkin pak!" celetuk Agas.


"Gak mas, kalau batu pasti bunyi kesandung, ini saya berasa kesandung sesuatu yang di bilang keras enggak lunak juga enggak. Kayak kesandung hewan kayak daging gitulah." jelas Pak Nova.


"Tapi kalau dari hewan kan pasti bersuara hewan nya kan." ucap Agas.


Pas Pak Nova lagi jelasin tiba-tiba Mas Galih dan Mas David saling tatap-tatapan seperti ada yang di sembunyikan oleh mereka berdua.


Tapi disini Mas Burhan belum buka suara. Readers perhatikan baik-baik karakter Mas Burhan.


"Ya sudah pak, sudah kuat jalan belum?" tanya Agas.


"Bentar lagi ya mas tunggu enakan dikit lagi." ucap Pak Nova.

__ADS_1


Tiba-tiba ada info dari basecamp kalau Mas David harus turun ke bawah untuk membantu kelompok tiga yang mendapat kendala di jalan. Mas David pun meluncur ke bawah, maka mereka tinggal berempat.


Mereka berempat sadar bahwa mereka tim terakhir yang berjalan di lintasan itu. Waktu sudah pukul tiga dini hari, Pak Nova pun sudah bisa bejalan lagi dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju pos tiga dengan komposisi. Mas Galih (Leader) kemudian Pak Nova, di susul Agas, dan Mas Burhan (Sweeper).


Lintasan yang mereka lalui semakin terjal, di kanan kiri terdapat pohon-pohon besar yang akarnya sampai menjalar ke permukaan tanah. Awal perjalanan tidak ada yang aneh-aneh kabut pun tidak begitu tebal seperti di bawah tadi, tiga ratus meter pejalanan Pak Nova minta istirahat lagi karena kakinya mulai ngilu. Akhirnya mereka beristirahat di tengah jalan setapak karena tidak ada spot lain untuk istirahat, tiba-tiba Mas Burhan menepok pundak Agas dan berbicara.


"Sampeyan tolong jaga Pak Nova ya kalau nanti ada apa-apa pokoknya dia itu di prioritasin itu ranger satu kayaknya tidak bisa di andalkan." ucap Mas Burhan.


"Iya mas, kenapa ya..? Apa karena dia orang baru ya..?" tanya Agas penasaran.


"Bukan tapi ada yang aneh aja cepat atau lambat kita pasti tau." jawab Mas Burhan.


Tidak lama kemudian mereka mendengar suara kerincingan.


Criinggg...criingg...criinnggg


Suara tersebut berasal dari arah depan mereka, Mas Galih langsung berdiri dan menyalakan senter halogen. Bunyi kerincingan itu di prediksi ada dua puluh meter di depan mereka. Pelan tapi pasti bunyi itu semakin mendekat. Mas Galih dan Pak Nova celingak-celinguk ke arah depan mencoba mencari suara tersebut. Sedangkan Mas Burhan tetap tenang seakan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Samar-samar terlihat ada siluet perempuan yang rambutnya panjang sesiku jalan ke arah mereka berempat. Sontak Agas ketakutan dan mulai lemas. Perempuan terus mendekat sekitar tujuh atau delapan meter dari mereka dimana cahaya senter sudah menyentuh tubuh perempuan tersebut tiba-tiba dia langsung belok kanan ke arah jurang seakan-akan ada jalan belokan di sebelah sana.


Mas Galih pun kaget dan berkata, "Hah? Mana mungkin?" Sontak Mas Galih reflek berlari ke arah perempuan tadi berbelok dan di ikuti oleh mereka bertiga, ternyata benar di situ sama sekali tidak ada belokan. Mas Galih langsung mengambil HT nya di menghubungi basecamp.


"Lapor basecamp, mohon ijin apakah diperbolehkan TimSus Emergency bisa langsung menuju ke basecamp melalui jalur pendakian awal. Kondisi tidak mendukung, cuaca gelap?" tanya Mas Galih.


"Negative ranger, kondisi jalur bawah steril buka cerah pukul tujuh." ucap dari basecamp.


Mas Galih pun terdiam sedangkan Pak Nova terlanjur emosi karena selain kakinya sakit ia merasa ada yang tidak beres. Pak Nova pun bertanya,


"Sorry Mas, ini sebenarnya ada apa sih? Saya dari awal sudah mencium gelagat yang tidak baik, tolong jelaskan sama saya." tanya Pak Nova.


Mas Burhan berusaha menenangkan keadaan


"Sabar pak, jangan emosi. Tolong Mas Galih apakah Mas bisa berikan kami penjelasan?" tanya Mas Burhan.


"Ugh... Oke, ini demi kebaikan kita juga dan kita memang mau tidak mau harus menempuh jalur berikutnya agar bisa sampai pos empat. Sebelum jam empat pagi." ucap Mas Galih.


"Apakah Mas yakin kita bisa sampai pos empat sebelum jam empat pagi? Mengingat kondisi Pak Nova seperti ini." tanya Mas Burhan.


"Itu lah... Saran saya kita maju ke tempat peristirahatan di depan jaraknya lima ratus atau enam ratus meter dari sini. Kemudian kita hanya bisa bertahan di sana sampai mendengar adzan subuh baru mungkin kita bisa lanjut." ucap Mas Galih.


Pak Nova sangat penasaran, "Tolong jelaskan ke saya ada apa?" tanya Pak Nova memaksa.


Mas Galih menjelaskan, "Baik pak, mohon maaf sebelumnya beberapa waktu lalu sempat ada kejadian di lintasan ini. Dan memang area ini sangat di hindari oleh pendaki yang Mengerti pada saat jatuhnya bulan purnama. Pada awalnya kami sudah memberikan penjelasan kepada panitia inti dengan Pak Aldo, tapi beliau bilang pihak perusahaan hanya punya kesempatan di minggu ini saja. Dan hal ini bukan isu bagi mereka, takhayul katanya. Makanya kami menyediakan ranger yang cukup banyak kali ini dan ternyata benar kejadian ini terulang kembali." jelas Mas Galih panjang lebar.


"Oke, seberapa parah kondisi kita kali ini Mas..?" tanya Mas Burhan.


"Kita hanya bisa bertahan Mas, sangat di hindari untuk turun kembali ke jalur pos dua dan pos satu, tapi sebenarnya pusatnya ada dilintasan inu Mas. Maka dari itu saran saya lebih baik kita bertahan di area luas yaitu di spot peristirahatan depan." jelas Mas Galih lagi.


Tiba-tiba Pak Nova mengeluarkan kata-kata cacian cukup kasar menyalahkan pihak panitia dan juga ranger, kagetlah mereka bertiga mengingat larangan mendaki Jangan Ngomong Sembarangan atau jangan mengeluarkan kata-kata kasar. Tidak lama kemudian berhembus angin yang sangat kencang dari lereng kanan di sertai dengan rintik-rintik hujan. Pelan tapi pasti kabut mulai menyelimuti kaki mereka.


"Baik, sepertinya sudah saatnya kita lanjut, Mas Galih buka jalur saya akan jaga belakang." ucap Mas Burhan tiba-tiba.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Tidak lupa Mas Burhan kembali mengingatkan apa yang dikatakan kepada Agas, prioritaskan Pak Nova. Beberapa meter berjalan tiba-tiba ada suata auman macan dari arah belakang. Spontan Mas Burhan balik badan takut macan betulan.


Mereka semua dia tidak bergerak, auman macan terdengar berkali-kali tapi jaraknya di situ-situ aja tidak mengikuti mereka. Mas Galih menyenter ke arah auman tersebut tapi senter nya tidak dapat menembus kabut karena senter halogen. Tidak lama kemudian Mas Burhan berbalik badan menyuruh mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah lebih cepat.


Mereka berjalan dengan tergopoh-gopoh karena lintasan cukup sempit dan dahan pohon sangat rendah hingga membuat mereka membungkuk. Auman macam sudah sayup-sayup terdengar, mereka pikir mulai aman. Tiba-tiba saja dari arah belakang Mas Burhan teriak dan pada saat yang sama Agas menoleh ke belakang seperti ada selendang kuning melesar menyentuh wajahnya dan meluncur ke arah Pak Nova dan Mas Galih. Pada saat Agas menoleh ke arah depan terlihat selendang itu meluncur menembus kabut, spontan si Agas teriak hingga membuat Pak Nova kaget terpelanting di tanah dan Mas Galih terperosok ke semak-semak.


Mereka semua diam sejenak sambil menenangkan diri saling memandang satu sama lain, mereka berpikir kalau ini sudah bukan main-main lagi. Mas Burhan pun membuka pembicaraan.


"Gimana? Lanjut gak nih?" tanya Mas Burhan.


"Lanjut Burhan, saya gak mau disini selamanya! Mending kita buru-buru sampai. Hey Galih! Saya gak percaya sama kamu di depan ganti posisi kamu di belakang biar Burhan yang ada di depan! Mulai sekarang saya yang komando disini bukan kamu! Kamu dan lainnya sudah di bayar perusahaan saya! Jadi kamu diam aja!" ucap Pak Nova.


Si Agas sangat kaget mendengar perkataan Pak Nova. Mereka pun bertukar posisi dan melanjutkan perjalanan, mereka sampai di lintasan agak lebar waktu menunjukkan waktu pukul tiga lewat tiga puluh delapan menit, sebentar lagi jam empat. Jangan senang dulu tapi!!!


Perjalanan di lanjutkan, mereka belum menemukan hal-hal aneh lagi. Tiba-tiba Mas Burhan menghentikan perjalanan dan memberikan komando kepada mereka bertiga bahwa jangan bersuara dan matikan semua headla**mp. Ada sepuluh menit mereka diam yang terdengar hanya suara jangkrik dan rintikan hujan, kemudian Agas tengok kanan dan kiri ternyata mereka ada di sekitar pepohonan pinus. Tiba-tiba Agas melihat ada cahaya empat atau lima cahaya bukan headlamp, warna agak kuning kemerahan melayang dari arah kiri kedepan seperti kejar-kejaran. Tidak lama kemudian cahaya itu berkumpul menjadi satu terbentuk menjadi cahaya besar bewarna biru kemudian hilang.


Mas Burhan belum memberi aba-aba untuk lanjut. Tiba-tiba Agas mendengar sayup-sayup suara orang minta tolong, suara rintihan itu benar-benar menyayat hati. Agas membuka omongan berbisik.


"Mas Burhan, ada yang minta tolong tuh!" ucap Agas.


"Burhan, itu gimana tuh? Kenapa mereka?" tanya Pak Nova.


"Maaf Pak, gak mungkin ada yang disana pak, itu jejeran tebing pak." ucap Mas Galih.


Harapan si Agas pada saat itu dia pingsan dan bangun-bangun sudah pagi karena dia sudah merasa tidak kuat mengalami hal-hal begitu. Mas Burhan tetap diam tidak memberikan aba-aba sama sekali, dia hanya memberi isyarat menunjuk bibir yang artinya diam. Tidak lama kemudian suara tersebut tersapu angin dan hilang.


Kemudian Mas Burhan berjalan tanpa memberi isyarat lebih lanjut dan di ikuti oleh mereka bertiga. Setelah melewati daerah tersebut, lintasan kembali terjal dan berbatu. Mereka berjalan harus memegang tebing karena di sebelah kanan mereka adalah jurang. Perjalan berlanjut, mereka tidak menemukan gangguan aneh-aneh lagi. Akhirnyan mereka sampai di tempar peristirahatan yang di maksud Mas Galih, mereka menunggu di situ sampai matahari terbit dengan aman.


Tapi di tempat itu mereka mengalami kejadian yang sangat parah, karena kejadian tersebut menyingkap sejarah dan kejadian masa lalu. Tidak hanya masa lalu tempat itu tetapi masa lalu mereka berempat.


-------------------------------------------


Teman-teman penasaran kan siapa wanita yang memakai krincingan di kakinya yang belok ke jurang. Dan teman-teman pasti penasaran kan apa yang di tutup-tutupi oleh Pak Nova dari mereka bertiga. Tunggu Part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2