
Siang hari nya, ketiga teman teman Andra berkumpul di rumah Kamil. Mereka menggeram marah melihat kondisi Kamil dan Andra yang babak belur.
"Kok bisa sih, kalian jadi kaya gini?" tanya Aryo.
Andra hanya menghela nafas berat menanggapi pertanyaan Aryo. Sedangkan Kamil, dia masih menggeram menahan amarah yang tidak tersalurkan.
"Aku sejak tadi malam menggeram kesal, untu g saja Andra menahan ku, kalau tidak,....Hem.."
"Apa?" sela Budi.
"Kalau tidak, dia pasti sudah kabur" jawab Andra mewakili Kamil.
Ketiga teman nya langsung memutar mata jengah, mereka pikir Kamil akan melawan, ternyata dia hanya ingin kabur.
"Heheh...Bukan begitu, mereka itu berempat dan kami berdua. Lagi pula, tidak ada yang menang atau kalah. Mereka yang pergi duluan" ujar Kamil menjelaskan.
"Memangnya, ada masalah apa? sampai mereka datang dan menghajar kamu Andra?" tanya Cakra.
"Mereka menuduh Andra mendekati Seli, padahal kan Wanita itu yang ngebet ngejar Andra" celetuk Kamil.
"Wahh ..Gak bisa di biarkan ini, kita harus balas Ndra"
"Betul apa kata Budi, jangan sampai mereka anggap remeh geng kita" sahut Aryo membenarkan ucapan Budi.
"Andra, bagaimana menurut mu?" tanya Budi menanyakan pendapat Andra.
Andra tersentak, dia menoleh kearah teman teman nya yang menunggu jawaban dari nya.
"Apa nya?"
Andra berpura-pura tidak mendengar pembicaraan teman teman nya. Menurut Andra semua ini hanya kesalahpahaman saja. Jadi, mereka tidak perlu membesar besarkan nya.
"Andra, kamu jangan berpura pura tidak tahu!" dengus Kamil.
Huff....
"Sudah lah, jangan di besar besarkan. Kali ini, biarkan saja mereka. Aku tidak mau membuat masalah. Kalian tahu sendiri orang tua ku bagaimana" ujar Andra.
"Hem..Baik lah, kali ini mereka bebas. Tapi tidak lain kali!" ujar Kamil.
"Benar!" sahut Cakra dan Aryo serempak. Sedangkan Budi hanya mengangguk saja.
Hari itu, Andra dan teman teman nya menghabiskan waktu di rumah Kamil.
Andra harus membuat alasan yang tepat, agar ibu dan ayah nya tidak marah kepadanya.
Jika ibu tahu aku berantem, waduh bisa mati aku.
Andra menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia sibuk memikirkan soal alasan nya.
"Eh, kamu kenapa?" tanya Kamil.
Andra menggeleng, dia memilih berbaring di atas kasur milik Kamil.
"Set dah ah, ni bocah" dengus Kamil.
Di rumah itu saat ini hanya ada dirinya dan juga Andra. Cakra dan Aryo pamit pulang, mereka harus membantu ayah mereka memanen padi.
Sedangkan Budi, dia pamit pulang untuk mengantar ibu nya ke pasar.
Nah, hanya Kamil dan Andra yang selalu memiliki waktu luang. Karena itulah mereka lebih sering terlihat bersama.
__ADS_1
"Ah, aku pulang dulu mil!" ujar Andra seraya bangkit.
"loh, kok tiba-tiba?"
"Gak papa, aku mau jumpa ibu"
Andra segera keluar dari kamar Kamil, kemudian pergi ke dapur untuk menemui ibu Kamil.
"Bu, aku pamit pulang yah" pamit Andra.
Ibu Kamil terkejut, dia berpikir jika Andra akan kembali bermalam di rumah nya.
"Loh kok cepat banget Ndra? ibu pikir kamu masih di sini bermalam. Soalnya biar ada temen Kamil."
"Aman itu ma Bu, kalau Kamil takut di rumah sendiri, suruh aja ke rumah. Atau nanti aku ke sini lagi" jawab Andra sopan.
"Idih, kaya aku anak kecil aja gak berani di rumah sendiri" sahut Kamil dengan nada suara kesal.
"Wkwkw...Bukan kah kamu masih SD?" kekeh Andra bercanda.
"Tau ah, pulang Soni!!" Rajuk Kamil pura pura mengusir Andra.
Andra semakin tertawa, dia juga berjalan menuju pintu keluar rumah Kamil.
"Aku pulang yah" pamit nya.
Andra pun pulang ke rumah nya berjalan kaki. Wajah nya masih terdapat memar akibat pukulan Alex semalam.
Perbedaan ibu Kamil dan ibu Andra. Jika ibu Kamil, melihat luka lebam di wajah anak nya, dia tidak akan panik dan rusuh.
Berbeda dengan ibu Andra, sedikit saja luka atau memar di wajah putranya. Maka bersiaplah untuk di interogasi.
Siti terlihat kaget melihat wajah Andra yang di penuhi oleh bekas memar.
Kenapa harus jumpa lagi sih sama dia. Nanti berantem lagi sama Seli.
"Andra" sapa Siti.
Andra hanya tersenyum membalas sapaan Siti, dia terlihat enggan bertemu dengan wanita itu saat ini.
"Wajah kamu kenapa Andra? kok lebam gitu?" tanya Siti khawatir.
Andra mengelak, saat tangan Siti hendak menyentuh wajah nya.
"Semalam aku berkelahi" jawab Andra singkat.
"Kelahi? sama siapa? kenapa?" tanya Siti bertubi tubi.
"Sama teman teman aku, latihan ilmu bela diri" jawab Andra lagi.
"Benarkah?" Siti terlihat tidak percaya dengan ucapan Andra barusan. Dia menatap wajah Andra lekat, mencari kebohongan di sana.
"Aku tidak percaya, kamu pasti berkelahi dengan orang lain kan?"
"Bilang sama aku Andra, sama siapa kamu berkelahi?" desak Siti, membuat Andra semakin jengah.
"Sudah lah Siti, dengan siapapun itu. bukan urusan kamu. Kamu permisi"
Andra pergi begitu saja dari hadapan Siti. Dia terpaksa melakukan hal itu, Andra tidak mau Siti berharap dan berantem dengan Seli karena dirinya.
"Andra!"
__ADS_1
"Andra!"
Panggil Siti, namun Andra tidak mendengarkan nya. Dia tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang.
"Hiks...Andra, kenapa kamu terlihat tidak memberi ku ruang? apa salah ku? apa kekurangan ku?" tangis Siti menatap kepergian Andra.
"Assalamualaikum, ibu aku pulang!" ucap Andra ketika masuk ke dalam rumah. Dia langsung mencari keberadaan ibu nya.
Meskipun nakal, meskipun dia sering berbuat salah. Namun, Andra tetap lah anak yang berbakti. Dia sangat menyayangi ibu dan ayah nya.
Sekali pun, Andra tidak pernah membantah ucapan ibu nya. Walaupun, hal itu akan bertentangan dengan hati nya.
"Pulang juga kamu ternyata" sahut Dewi dari dapur.
Andra terkekeh pelan, dia menghampiri ibunya. Kemudian dia duduk di samping ibunya yang sedang menggiling cabe.
"Masak apa siang ini?" tanya Andra lembut.
"Mau masak hati dan air mata!" jawab Dewi ketus.
Andra terkejut, kata kata ibu nya sungguh menyayat hati.
"Ibu kenapa? kok ngomong gitu?" tanya Andra pelan.
Dewi menghentikan kegiatan nya, dia menatap wajah putranya yang di penuhi oleh luka lebam.
"Katakan pada ku, dengan siapa kamu berkelahi?"
Andra terdiam, dia merasa ragu untuk menceritakan pada ibu nya.
"Ayo Andra, cerita pada ku. Sebelum ayah mu melihat wajah babak belur mu ini!" desak Dewi lagi.
"Uhm..Aku tidak tahu ibu percaya atau tidak, tapi ini lah kenyataan nya. Alex dan teman teman nya menghadang jalan Ki, dia mengeroyok aku dan juga Kamil. Di jalan perkebunan jagung. Karena dia memukul ku lebih dulu. Jadi, aku membalas nya!" Andra menceritakan segalanya pada ibu nya. Tidak ada rahasia apapun diantara mereka.
"Memangnya apa yang menyebabkan dia menghadang mu?"
"Aku tidak tahu persis ibu, tapi dia bilang sih karena aku mendekati Seli"
Brug!
Dewi memukul batu ulekan nya dengan kuat. Andra sempat terkejut mendengar nya.
"Ada apa ibu?"
"Jawab ibu jujur! apa kamu mendekati Seli?" tanya Dewi.
Andra menggeleng, dia tidak pernah mendekati Seli. Tapi, Seli lah yang mendekatinya. Meskipun dia memiliki rasa terhadap wanita itu.
"Bagus, aku tidak mau menanggung malu karena kau mengejar anak dari wanita mata duitan" ujar Dewi.
"Tapi...Aku sedikit suka padanya ibu" ujar Andra.
"Pikirkan Andra, Pikirkan tentang kehinaan keluarga kita di mata keluarga mereka" titah Dewi.
Andra menjadi terdiam, apa yang ibu nya katakan memang benar. Keluarga Seli, sungguh sangat arogan. Sudah sering keluarga mereka menghina keluarga nya.
"Sudah lah ibu, aku mau ke kamar dulu" ucap Andra mengakhiri pembicaraan nya dengan ibu nya. Lalu, pria tampan itu berlalu pergi ke kamar nya.
Huff....
"Dasar anak nakal, jangan dekati dia, jika kamu tidak mau sengsara" batin Dewi. Dia menatap kepergian putranya yang sudah menghilang di balik pintu kamar nya.
__ADS_1