
Andra pulang dengan wajah yang lesu. Niat nya ingin bertemu dan mengobrol dengan Luna. Tapi malah hanya bisa mengobrol dengan papa nya saja.
Malam semakin larut, Andra berjalan gontai ketika memasuki gang menuju ke kontrakan nya.
Saat dia baru saja masuk, dia melihat ada angkot yang berhenti di tepi jalan persimpangan gang.
"Fardan?" gumam Andra.
Fardan terlihat sama seperti nya, bahkan lebih lesu dari dirinya.
"Kenapa kamu?" tanya Andra.
Fardan menghela nafas berat, dia menggeleng pelan tidak ada nafsu untuk berbicara panjang lebar.
"Patah hati lagi?"tebak Andra.
"Hem..Kamu gak tahu kan, gimana rasa nya melihat orang yang kita suka duduk bersama cowo lain"
Dih, Andra menatap iba pada Fardan. Dia mampu merasakan apa yang sahabat nya ini rasakan.
Pasti sakit sekali, melihat Luna cuek saja Andra sudah merasa sangat sesak. Apalagi jika dia melihat Luna bersama cowo lain nanti.
"Kamu yang sabar saja, mungkin dia bukan jodoh mu"
Fardan tidak menyahut lagi, dia hanya berjalan menunduk. Sesekali dia menghela nafas berat.
Kedua pria itu berjalan menuju ke kos mereka. Tak ada yang memulai percakapan, hanya semilir angin dan suara jangkrik mengiringi langkah mereka.
"Aku masuk dulu"
"Iya, aku juga" balas Andra.
Keduanya langsung masuk dan menutup pintu kamar masing-masing.
Andra merebahkan tubuh nya di atas ranjang empuk nya. Matanya menatap lurus ke langit langit kamar.
Bibir nya tersenyum, saat melihat senyuman Luna di depan matanya.
Manis bibir Luna, masih terasa asli di bibir nya.
Hah, karena nafsu sialan. Aku jadi tidak dekat lagi dengan wanita cantik itu.
Andra mulai memikirkan perasaan nya. Memantapkan hatinya, jika ini adalah cinta.
Sibuk memikirkan perasaannya pada Luna. Andra pun tertidur lelap.
...----------------...
Pagi hari nya, Luna menghirup udara segar. Sudah lama rasa nya dia tidak bersepeda.
Sejak musim hujan ini, Luna selalu mengendarai mobil yang papa nya hadiahkan ketika ulang tahun nya.
Hari ini adalah hari libur, Luna akan menikmati waktunya dengan bersepeda mengelilingi kota.
Dia terlihat sangat cantik, memakai celana training dan kaos berwarna ungu lengan panjang.
__ADS_1
"Segar juga udaranya, setelah beberapa hari hujan deras" gumam nya menikmati perjalanan.
Seperti biasa, tujuan utama Luna adalah ke taman kota. Di sana pasti banyak orang orang yang sedang berolahraga.
"Luna!"
Luna mengerem sepedanya, kemudian menoleh kebelakang. Melihat siapakah yang memanggil namanya tadi.
"Luna!" panggil nya lagi.
Luna menyipitkan mata nya, dia melihat Andra tengah berlari kecil kearahnya.
"Ngapain dia?" dongkol nya dal hati.
Andra berdiri di depan Luna, menatap gadis itu dengan senyuman manisnya.
"Ada apa?" ketus Luna.
Andra tetap tersenyum, dia tidak mau terpancing emosi dan bertengkar lagi dengan wanita pujaan hati.
"Kamu kemana?" tanya Andra basa basi.
"Gak kemana mana, kalau gak ada yang penting aku cabut"
Luna bersiap mengayuh sepeda nya, dia malas berhadapan dengan Andra. Pria yang selama ini mengganggu pikiran nya.
"Eh Luna, kamu mau kemana."
Andra memegangi lengan Luna, sehingga gadis itu tidak jadi mengayuh sepeda nya.
Dengan kesal Luna menepis tangan Andra
Andra terdiam, hati nya sakit melihat sikap Luna yang begitu tidak suka kepadanya.
"Kenapa kamu sangat membenci aku lun? Aku tahu, kalau aku salah di masa lalu. Aku sadar aku khilaf. Tapi sumpah, aku tidak pernah berniat Seperti itu" ucap Andra nelangsa.
Luna tidak bergeming, dia hanya terdiam di atas sepeda nya.
Sebenarnya, luna juga tidak memiliki dasar yang kuat untuk marah pada Andra selama ini.
Waktu itu, dia marah dan kesal. Dia terkejut dan juga berdebar. Karena semua itu pertama kali bagi Luna.
Karena jantung nya yang berdebar, membuat Luna tidak karuan. Dia jadi marah dan terlihat seperti membenci Andra.
Luna turun dari sepeda nya, dia mendorong sepeda nya sambil berjalan pelan.
Melihat apa yang Luna lakukan, Andra pun mengiringi nya.
"Jadi gimana?" lirih Andra penuh harap.
"Apanya?" ketus Luna.
Andra tersenyum, setidaknya Luna sudah seperti sebelum mereka ada masalah. Dia memang selalu ketus saat bicara dengan Andra.
"Kamu mau kan memaafkan aku?" tanya Andra.
__ADS_1
"Hem..Asal jangan di ulangi lagi" jawab nya ketus.
Girang bukan main, Andra benar benar merasa sangat bahagia. Akhirnya dia berbaikan lagi dengan Luna. Ini benar-benar keberuntungan yang sangat luar biasa bagi Andra.
Mereka mulai mengobrol, kembali mengurai kedekatan yang pernah ada.
Ketika asik mengobrol sambil berjalan keliling taman kota. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping Luna.
Keduanya saling melirik, kemudian menatap mobil yang berhenti itu. Menunggu pemilik nya keluar.
"Luna"
"Bobi?" balas Luna.
Bobi menghampiri Luna, dia membawakan Luna bunga.
Dari sisi Andra, dia melihat ada kelembutan dari luna pada pria itu.
"Seperti nya Luna menyukai pria itu" pikir nya.
Perlahan, langkah Andra mulai menjauh. Tanpa Luna sadari Andra telah pergi.
"Bobi, aku kenalin kamu sama teman aku" kata Luna menoleh pada Andra .
"Sama siapa Luna?" tanya Bobi heran, karena dia tidak melihat siapapun di samping Luna.
"Sama teman aku Bob, tadi dia ada di sini. Tapi kok gak ada ya?"
Luna celingak celinguk kesana kemari, mencari keberadaan Andra yang begitu cepat pergi.
"Andra kemana?" pikir nya.
"Siapa Luna?" tanya Bobi lagi.
"Ah bukan siapa siapa, aku salah lihat" ujar Luna tersenyum.
Bobi mengangguk pelan, dia memang tidak melihat orang bersama Luna. Dia hanya melihat seorang pria yang tenga berjalan. Dia pikir orang itu hanya sedang maraton, bukan bersama Luna.
Hari yang cerah, matahari bersinar sangat terik. Bagi Andra awal nya memang sangat cerah. Bahkan terdapat Pelangi di hidupnya.
Namun, tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap dan turunlah hujan berserta dengan petir petirnya.
Betapa sakit nya hati Andra saat ini.
"Mungkin ini yang Fardan rasakan" pikir nya.
Andra merasa sebuah ikatan yang kuat antara dirinya dan Fardan. Mereka merasakan sesuatu yang secara bergantian menghampiri keduanya.
Andra memutuskan untuk pulang ke kos nya. Dia lebih baik menyendiri di bandingkan berjalan jalan di luar. Itu hanya akan membuat hati nya semakin sakit.
Saat menaiki anak tangga, dan melewati kamar kos Fardan. Andra tiba-tiba mendengar suara aneh.
"Ahh...Terus...Yah, begitu"
Andra mendekati pintu kamar Fardan, menempelkan telinga nya untuk lebih memperjelas pendengaran nya.
__ADS_1
"Ahh...Ahh.."
"Astaga, apa yang mereka lakukan? dengan siapa Fardan enak enak??" pikir Andra terkejut.