
Semenjak malam itu, di mana Gunawan menawarkan pada Andra soal meneruskan jenjang pendidikan. Sejak saat itu lah Andra sering ke rumah orang itu.
Entah itu menanyakan sesuatu pada pak Gunawan, ataupun Mila yang datang mengundangnya.
Dengan begitu, semakin sering pula Andra dan Luna bertemu. Dan semakin sering pula kegaduhan terdengar di rumah Mila.
Sudah hampir melihat kegaduhan itu setiap hari, Mila dan Gunawan menjadi terbiasa.
seperti hari ini, Andra dengan sengaja menggoda Luna dan membuat gadis itu mencak mencak.
"Dasar plastik, harusnya kan dijadikan bawa makanan, barang belanjaan. Itu kok di muka sih" gumam nya.
"Maksud Lo apa? ngomong idola gue plastik! " Luna menatap Andra tajam. Terlihat kobaran peperangan berkibar di atas kepalanya.
" Eh emang plastik kan? kalo gak pake plastik, pasti mereka gak tampan." Balas Andra lagi.
Luna semakin emosi, dia paling tidak suka jika idola nya di bilang plastik plastik. Padahal muka mereka pada asli semua, gak ada yang plastik.
"Diem lu yah, kalau lu ga diem. Jangan salahin gue numpuk pala lu!" ancam Luna serius. Dia memegang remote tv, dan bersiap ingin melempar pad Andra.
"Mendingan aku, tampan nya asli. Bukan plastik plastik" ucap Andra membanggakan diri. Sedangkan Luna, dia memperlihatkan ekspresi muntah.
"Mana ada cowo kaya Lo tampan, yang ada kere" ledek Luna.
"Penting gak plastik wekk..."balas Andra tidak mau kalah.
Luna yang memang dasar nya emosian, tidak suka di ledek. langsung terpancing emosi.
Gadis itu langsung menyerang Andra, melempar pria itu dengan remote tv. kemudian berhamburan memukul mukul pria itu dengan tangan nya.
"Rasakan ini, ha rasakan! enak!" geram nya.
Andra tertawa keras, dia mencoba menangkis serangan Luna. Tanpa sengaja kaki Luna terpeleset di pinggiran sofa.
Bruk.
Gadis itu terdiam, matanya menatap lurus ke bawah. Dimana Andra juga terdiam dengan mata menatap lurus keatas.
Jarak mereka sangat dekat, Andra dapat merasakan hembusan nafas Luna di wajah nya.
Saat itu, rumah dalam keadaan sepi. Mila dan Gunawan sedang pergi.
deg
deg
deg
Luna tiba tiba merasakan jantungnya berdetak tidak normal. Dia tersadar dan hendak menarik tubuh nya dari atas tubuh Andra. Namun, pria itu menahan nya.
"Jika di lihat dari dekat, kamu sangat cantik!" puji Andra kelepasan.
"Lepasin aku Andra bego!" maki Luna. Dia ingin segera lepas dari Andra, dia tidak mau pria itu mendengar suara detak jantung nya. Bisa bisa Andra kembali meledek nya.
"Aku masih nyaman dengan posisi ini Luna, kehangatan mu membuat aku merasa hidup"gumam Andra tanpa sadar.
Bug...Bug.
Luna memukul mukul dada Andra, agar oria itu melepaskan dirinya. Dia sungguh tidak tahan lagi, di tatap sedekat ini oleh Andra membuat dirinya gugup
"Eh ." lenguh Luna, tangan nya di tarik dan di taha oleh Andra. sehingga tubuh mereka semakin menempel dan berhimpitan.
Luna, kamu sangat cantik.bahkan mengalahkan kecantikan Seli dan Siti.
"Andra lepas!" ujar Luna berusaha mendorong dada Andra.
Bukan nya terlepas, Andra malah semakin memeluk Luna.
__ADS_1
Cup.
Kedua mata Luna membulat, bibir nya dan bibir Andra saling menempel.
Belum sempat mengumpulkan kesadaran nya, Andra sudah melahap keranuman bibi Luna.
"Lembut" lirih Andra di sela aktivitas nya.
Bug.
Bug.
Plak!
Luna mendorong sekuat tenaganya, kemudian melayangkan tamparan keras di wajah Andra.
"Dasar pria brengsek!, bisa nya cari kesempatan saja" bentak Luna menatap Andra penuh amarah.
"Luna, aku.." ucap Andra terhenti melihat Luna pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari nya.
"Luna! Luna!!" panggil Andra, namun Luna tidak mendengarkan nya.
Huh..
"Maafkan aku Luna" lirih Andra menyesal, dia khilaf dan terbawa suasana.
Sejak saat itu, hubungan antara Luna dan Andra semakin renggang. Terlihat sangat jelas, Luna menghindari Andra.
Setiap kali Andra datang ke rumah, Luna selalu saja tidak ada di rumah. dia sibuk ini dan itu. Bahkan ketika Andra sengaja datang dan berlama lama di rumah nya. Luna malah memilih untuk tidur dan makan di dalam kamar.
Hal ini membuat Andra kacau. Jujur saja dia sudah mulai merasakan benih benih cinta tumbuh di hatinya.
Karena tingkah bodoh ku, aku malah jadi seperti ini dengan Luna.
Andra duduk sendirian di dalam kost nya. Memikirkan tentang apa yang dia lakukan pada Luna.
Jika itu pada Seli, dan Siti. Mungkin mereka aka dengan senang hati menyambutnya.
Benar benar wanita idaman, istri Sholehah.
Tuk!! Tuk!!
Andra tersentak oleh suara ketukan pada pintu kamar kos nya.
"Siapa?" seru nya.
"Ini aku , Fardan" sahut dari luar. Dia adalah tetangga kos Andra.
Andra membuka pintu, dia tersenyum dan mempersilahkan Fardan masuk ke dalam kos nya.
"Ayo masuk"
Fardan mengangguk, wajahnya tampak datar dan kondisi dirinya sangat kacau.
Mereka duduk di tepi kasur milik Andra. Fardan cukup terkesima melihat kerapian kamar Andra. Berbeda jauh dengan kondisi kamar nya. Cenderung berantakan dan yah memang seperti itulah dia.
"Kamu kenapa, kok kacau begini?" tanya Andra memberanikan diri. Dia sebenarnya tidak bermaksud ikut campur dengan urusan Fardan, tapi melihat kondisi pria ini seper itu,at Andra menjadi penasaran dan tidak tega bila membiarkan nya saja.
Huh..
Fardan menghempaskan tubuhnya, dengan nada lemas dia berkata.
"Aku galau"
dua kalimat itu mampu membuat Andra menahan tawa.
"Kamu galau? hmpp.." Tanya Andra berusaha menahan tawa nya.
__ADS_1
"Aku tahu ini lucu, ini sangat memalukan. Tapi, aku sangat kacau, aku sangat tidak baik baik saja Andra" sahut Fardan.
Andra menahan tawa karena, dulu pernah kondisi ini ada di posisi Andra. Pria itu galau karena Luna menjauhi nya.
Dengan pongah nya Fardan mengatakan.
"Hanya orang lemah yang mengalami galau Andra. Kami? hahahaha..."
Malam itu Fardan tertawa keras. Di masa itu dia tidak percaya akan cinta, tidak percaya akan rasa gundah.
Kini, semua itu menghampiri dirinya. Dia merasakan yang namanya galau. Lima huruf itu membuat semua kata kata nya menjadi berbalik.
"Fardan, Fardan. Kehidupan itu bak seperti roda. Selalu berputar. Mungkin saat ini kita tidak percaya, atau memandang remeh sesuatu yang belum pernah kita alami. "
"Setelah semua itu kita rasakan,barulah kita tahu. Bahwa yang mereka rasakan saat itu benar ada. Kuat atau lemah nya seseorang, tidak melalui pandangan kita. Coba lah lihat mereka dari sudut pandang mereka sendiri, atau dari apa yang saat itu mereka alami"
Fardan menatap Andra tidak berkedip. Dia tidak menyangka sobat nya ini bisa berbicara sangat bijak.
"Kamu belajar dari mana Andra? mengapa kata kata mu terdengar seperti ibu ku yang sedang menceramahi aku" cibir Fardan di akhir kalimatnya.
Sedangkan Andra, dia hanya bisa terkekeh pelan.
"Memang nya, kamu galau kenapa sih? tumben banget"
Fardan menghela nafas, dia memperbaiki posisi duduk nya dengan baik.
"Aku menyukai seseorang, tapi sepertinya dia tidak menyukai ku" ceritanya.
"Dari mana kamu tahu, kalau dia tidak menyukai mu?" tanya Andra heran.
Fardan mendengus kesal, Andra menjengkelkan sekali baginya.
"Yah kita kan bisa merasakan nya, dia menyukai kita atau tidak" sungut Fardan geram.
"Mana bisa begitu Fardan, seperti saat ini. apa kamu tahu, aku menyukai kamu atau tidak? bisa saja aku jengkel pada mu yang mengganggu waktu ku"
Mata Fardan membesar. "Jadi, kamu merasa aku mengganggu mu?"
"Ups.." kekeh Andra menutup mulut nya.
Fardan sudah akan pergi, dia langsung tersinggung dengan candaan Andra.
"Lihat lah, kamu sudah marah. itu kan tanda nya kamu tidak tahu apa yang orang rasakan saat bersama kita."
"Bisa saja mereka terlihat menyukai kita, padahal tidak. Bisa juga mereka terlihat membenci kita, selalu marah mara ketika kita di dekatnya. Tapi mereka ternyata menyukai kita. "
"Bisa saja semua sikap real dengan yang terlihat "
Lagi dan lagi, Fardan melongo mendengar kata kata bijak Andra.
"Terus aku harus gimana Andra?" tanya Fardan putus asa.
"Yah, kamu tinggal ungkapin sama dia. Apakah dia menerima mu atau tidak. " jawab Andra enteng.
Di dalam hatinya, Andra berkata.
Urusan orang kelar, lah urusan pribadi? malah melar melar..
"Humm.. benar juga, aku harus menyatakan cinta aku sama dia." gumam Fardan penuh tekad.
"Nah gitu dong, baru gentle man."
Fardan tersenyum puas, berbicara dengan Andra memiliki akhir yang bagus.
"Terimakasih Andra" ucap Fardan memeluk Andra.
"Sama sama" balas Andra.
__ADS_1
Setelah itu, Fardan pamit kembali ke kamar nya. Dia akan menyiapkan sebuah rencana untuk menyatakan cinta pada wanita pujaan nya.
...----------------...