
"Aku tidak menyangka, akhirnya aku bisa melihat mu kembali." ucap Andra menatap Luna penuh rasa rindu.
Saat ini mereka duduk di salah satu bangku taman. Di bawah sinar rembulan yang bersinar terang.
Luna duduk dengan wajah menunduk, dia masih mencerna situasi saat ini. Dia masih belum bisa mempercayai, bahwa Andra ada di samping nya dan menjadi milik nya.
Luna berpikir semua ini mimpi, penantian dan kesabaran nya dalam penyembuhan luka akhirnya terbayar.
"Luna" Andra menggenggam kedua tangan Luna, menarik dagu nya agar ia bisa melihat wajah cantik Luna dengan sangat jelas. wajah yang selama ini sangat dia rindukan.
"Kenapa kamu menunduk?" gumam Andra mengulas senyum.
Luna menarik nafas dalam, dengan bibir bergetar dia membalas ucapan Andra.
"Aku takut Andra, aku sangat takut" ucap Luna, mata nya mulai berair.
Hal itu tentu membuat Andra terkejut, dia merengkuh tubuh Luna masuk ke dalam pelukan nya.
"tidak, tidak akan ada yang berani mengganggu kamu Luna. Aku di sini, bersama mu" ucap Andra meyakinkan.
"Tidak Andra, aku tidak takut pada orang lain, tapi aku takut bahwa aku bangun dari mimpi ku!"
Dua garis mengerut terlihat di kening Andra. dia mengurai pelukan nya pada Luna, lalu menatap wajah yang kini telah basa oleh air mata.
"Sttt...Berhentilah menangis sayang, aku di sini. Aku ada di dekat mu. Aku ada di dalam mimpi dan juga dunia nyata mu. Tak akan pernah membiarkan mu sendirian" janji nya.
"Apa kamu tidak berbohong?" Luna kembali memeluk Andra, pelukan erat, seakan takut di tinggalkan.
Andra mengerti dengan ketakutan wanita yang dia cintai ini. Selama 4 tahun mereka berpisah tanpa ada kata perpisahan. Bahkan tanpa ada kepemilikan.
Andra mengurai pelukan Lina, dia berdiri dari duduk nya.
Luna terkejut, dia menatap bingung pada nya.
"Kamu ngapain?" kaget Luna saat melihat Andra tiba-tiba berlutut di hadapan.
Luna berdiri, dia berusaha menarik Andra berdiri. Tapi, pria itu tidak mau. Dia tetap berlutut, lalu mengambil sesuatu yang telah dia siapkan sebelum datang ke kota.
"Hhh"
"Luna, mungkin ini memang takdir. Setelah berpisah lama, tanpa kepastian, bahkan tanpa ungkapan perasaan."
"Dengan keyakinan yang tinggi, bahwa kita saling mencintai dan sudah di takdirkan untuk bersama"
"Kini, aku berlutut di hadapan mu, mengungkapkan perasaan yang sudah lama aku pendam" ucap Andra sembari membuka kotak kecil berwarna hitam.
__ADS_1
"Luna, aku mencintai mu. Maukah kamu menikah dengan ku?"
Deg.
Luna terkejut, dia tidak menyangka Andra melamarnya. Cincin berlian terlihat berkilau ketika terkena sinar rembulan.
"Andra, apa ini nyata?" gumam Luna menutup mulut nya.
"Tentu nak, ini semua nya" Gunawan.
"Ini lah buah dari kesabaran mu sayang" Mila.
Luna semakin terkejut, kedua orang tuanya tiba tiba muncul dari balik pohon besar.
Bukan hanya kedua orang tuanya. Bahkan juga beberapa orang yang tidak Luna kenal.
"Ayo nak, lontarkan jawaban mu" seru seorang wanita yang tak lain tak bukan adalah Dewi. Calon ibu mertua Luna.
Luna kembali menatap Andra, dengan senyum bahagia dan air mata haru. Luna menganggukkan kepalan nya pelan. Pertanda jawaban nya yang menerima lamaran Andra.
"Yes!" Andra langsung berdiri dan memeluk Luna. Dia sangat bahagia. Luna menerima lamaran nya.
"Akkkk, Terima Kasih sayang" teriak Andra bahagia.
"Kamil!! Aku sudah tidak sendiri lagi" teriak Nya pada Kamil yang berdiri di samping pak Malik.
Mereka tertawa bersama, Sanga bahagia melihat Andra dan Luna bahagia.
Empat tahun lama nya, tanpa kepastian. Sama sama memendam rasa. Mereka kembali di persatuan dengan hati yang memang utuh sejak awal. Sungguh, Luna merupakan jodoh terbaik untuk Andra.
Kamil memeluk lengan pak Malik, dia turut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
"Kamu segera lah menyusul" ujar Malik menyindir Kamil.
"Hehe..Iya pak, doakan yah" balas Kamil terkekeh.
"Oh kamu masih jomblo Kamil?" sahut Mila.
"Yah, ketahuan deh. Padahal di rahasiakan" lirih Kamil dengan wajah sedihnya.
Dewi menghampiri Mila, dia tidak tahu bahwa putra nya berjodoh dengan orang sebaik Mila dan Gunawan.
Putra nya yang seperti orang yang tidak tahu diri. Mereka menerimanya dengan sangat baik.
Setelah di biayai kuliah, di tuntun hingga sukses. Kini malah mendekati putranya.
__ADS_1
Tapi, Gunawan dan Mila bukan lah orang tua yang menentang perasaan anak nya. Selagi itu membuat anak nya bahagia, maka mereka akan mewujudkan nya.
Dewi sangat bersyukur, mendapatkan besan yang baik seperti mereka.
"Bu Mila, makasih yah. Kalian sangat baik pada putra kami. Jasa kalian sungguh berharga bagi kami" ucap Dewi.
"Iya pak Gunawan, Bu Mila. Kami tidak menyangka kalian mau menerima putra kami" tambah Malik.
Gunawan tersenyum, dia menepuk bahu Malik pelan.
"Bang, kita itu satu kampung. Kita adalah saudara, kenapa kita harus membeda bedakan orang. Harta, tahta bukan lah sesuatu yang besar."
"Memang, harta bisa membuat kita memiliki apapun yang kita mau. Tapi kebahagiaan? "
"Kebahagiaan tak bisa di beli dengan Harta. Kesederhanaan juga bisa membuat kita bahagia" ujar Gunawan bijak.
"Benar pak Gunawan, saya setuju. Dan saya yakin, karena sifat anda yang bijaksana ini, hidup anda pasti akan selalu sejahtera "
"Amin" balas Gunawan dan Mila tersenyum senang.
"Lagi pula, Andra orang yang berbeda. Dia rajin dan bersemangat. Niat nya sangat bagus" ucap Mila.
"Ah ibu bisa aja" sahut Andra tersenyum malu.
"Tapi dia jahat!"
Jleb.
Semua orang langsung terdiam, tatapan mata terfokus pada Luna.
"Kenapa sayang, kenapa aku yang jahat?" tanya Andra terkejut.
"Tentu saja kamu jahat, tega ninggalin aku selama 4 tahun!" Rajuk nya.
"Hei...Aku tidak pernah meninggalkan kamu. Aku selalu melihat kamu. Hanya saja, kamu tidak pernah tahu." jawab Andra.
"Iya nak, Andra selalu menanyakan kabar kamu. Bahkan sebelum pergi ke luar negeri, Andra selalu melihat kamu. Mau di kampus ataupun di rumah." timpal Mila.
Luna terkejut, dia selama ini tidak mengetahui jika Andra memperhatikan nya.
Selama 4 tahun Luna benar benar tidak pernah melihat Andra. Setiap malam dia menahan sesak di dadanya.
"Benarkah? kenapa mama tidak pernah mengatakan sama Luna?"
"Itu mama lakukan agar kamu bisa meyakinkan diri mu , bahwa Andra adalah pria yang kamu cinta. Mama tidak mau kamu salah mengartikan perasaan mu" jelas Mila.
__ADS_1
Luna tersentak, ternyata selama ini dia menyalahkan takdir. ternya takdir berada di pihaknya.
Ternyata selama ini aku lah yang salah, aku yang bodoh. Tidak mengetahui apapun. Ya Tuhan, maafkan aku yang bodoh ini.