
"Bu, Andra pergi ke pos dulu yah." Pamit Andra seraya berjalan keluar rumah.
Seperti biasanya, Andra selalu kemana mana berjalan kaki. Sebenarnya ayah Andra memiliki sepeda motor, tapi dia tidak mau memakainya.
Menurut Andra, dia akan memakai motor jika itu hasil dari pekerjaan nya sendiri.
Andra melewati gang rumah Seli, dia sempat melirik dan berharap melihat wanita itu di sana.
Deg.
Sesuai harapan, ternyata benar Seli tengah berjalan keluar dari gang rumah nya.
"Andra" panggil Seli sambil berlari kecil mendekat pada Andra.
"Eh Seli"
"Kamu mau kemana?"tanya Seli. Mereka berjalan beriringan.
"Aku mau ke pos, kamu mau kemana?" Jawab Andra dan balik bertanya.
"Aku mau ke rumah Siti, dia seperti nya marah pada ku" wajah Seli terlihat muram, dia sedih mengingat sikap Siti dua hari yang lalu.
"Loh kalian tumben berantem?" tanya Andra heran. Setahu dia, Seli dan Siti sangat dekat, bahkan mereka terlihat dua wanita kembar.
Seli menghela nafas, dia menatap Andra dengan tatapan sendu.
"Aku tidak tahu Andra, dia tiba-tiba berubah. Akhir akhir ini dia sangat sensitif, dia suka marah tidak jelas pada ku. Bahkan, ketika aku mencarinya, dia tidak mau menemui ku"
"Wah,, parah ini Seli."
"Aku tidak tahu harus melakukan apa Andra, aku sangat bingung" gumam Seli.
Andra terdiam sejenak, dia mencoba memikirkan cara untuk menyatukan mereka kembali.
"Ah, Seli. Seperti nya kalian harus berbicara berdua. Kalian harus memperjelas masalah kalian ini. Jika tidak, kalian akan menjadi musuh" ujar Andra mengusulkan.
Seli menghentikan langkah kakinya, dia menghadap Andra yang kini juga berhenti.
"Nah aku juga berpikir begitu Andra, tapi permasalahannya adalah. Siti tidak mau menemui ku, dia tidak mau berbicara dengan ku!" Ujar Seli terlihat frustasi.
"Tenang saja Seli, nanti aku dan teman teman ku. Akan membantu mu" ucap Andra.
"Benarkah?" Seli menatap Andra berbinar.
Andra pun mengangguk yakin, dia tersenyum melihat Seli kembali senang. Tanpa dia duga, Seli malah memeluk dirinya.
Deg.
Andra terdiam membeku, dia benar benar terkejut dengan hal ini.
__ADS_1
Dari arah lain, seorang pria mengepalkan tangan nya menahan amarah yang kini bergejolak di dalam dada.
Bagaimana tidak, wanita yang kini menjadi kekasihnya sedang berpelukan dengan pria lain.
"Siapa pria itu! Berani sekali dia memeluk kekasih ku!" Geram nya marah, matanya melotot seakan memancarkan api emosi.
Pria itu adalah Alex,dia hendak melangkah cepat menghampiri mereka. Namun, seseorang menahan tangan nya.
"Siti?" Gumam Alex menyebut nama wanita yang merupakan sahabat kekasihnya.
Siti tidak menjawab, dia menarik tangan Alex dan membawanya ke tempat lain, agar tidak di lihat oleh Andra ataupun Seli.
Seli dan Andra kembali melanjutkan perjalanan mereka, menurut tujuan masing-masing.
Andra pergi ke pos, sedang kan Seli. Dia pergi ke rumah Siti.
Sedangkan Siti dan Alex, mereka sedang berada di sebuah warung. Di kampung itu, warung itu yang paling mewah. Memiliki tempat duduk seperti cafe.
"Duduk!" titah Siti pada Alex.
"Tidak, aku tidak mau. Aku mau pergi menemui pacar ku!" tolak Alex, dia hendak berlalu pergi. Namun, ucapan Siti membuatnya berhenti dan berbalik menatap Siti dengan tatapan tidak mengerti.
"Pergilah, jika kau ingin kehilangan Seli" ucap Siti seraya duduk dengan ekspresi santai.
Alex kembali mendekati Siti, dia menatap wanita itu dengan tatapan tidak mengerti. Namun, yang di tatapan nya malah terlihat santai dan biasa saja.
"Sayangnya, kamu salah orang Alex. Kamu tidak tahu apa apa tentang kekasih mu itu Alex" decih Siti tersenyum miring.
Brak!
"Kau yang tidak tahu apa apa, dan berhenti memprovokator aku dan pacar ku!" tegas Alex menggebrak meja. Dia menatap Siti dengan tatapan tajam.
"Hahaha...Alex Alex, kamu terlalu naif. Sudah jelas kamu melihatnya sendiri, lalu kamu masih percaya diri mengatakan jika kamu tidak akan kehilangan Seli?? Cih.."
Siti berdecih, dia membalas tatapan Alex dengan tatapan datar nya.
"Kamu lihat kan tadi, Seli yang memeluk Andra. Dia yang mencoba mencari kesempatan pada Andra!"
Raut wajah Alex mulai berubah, dia mulai memikir ucapan Siti.
"Tidak, bukan Seli yang mendekati Andra. Tapi, pria miskin itu yang mencoba mendekati nya!" ucap Alex tidak mau menyalahkan kekasihnya.
"Kamu buta yah, sudah jelas Seli yang memeluk Andra duluan" ucap Siti.
Alex tetap tidak mau menyalahkan kekasihnya, di matanya hanya Andra yang bersalah.
"Pria itu harus aku beri pelajaran, aku tidak akan membiarkan dia mendekati kekasihku lagi?" gumam Alex.
Siti yang mendengar hal itu, membuat dirinya panik. Memang Siti tidak suka Seli bersama dengan Andra, tapi dia juga tidak suka bila Andra di sakiti oleh Alex.
__ADS_1
"Sudah sudah, sekarang bukan itu intinya. Kamu urus pacar mu, aku akan urus Andra" ujar Siti.
Alex terdiam, dia menatap Siti dengan tatapan penuh selidik.
"Mengapa kamu menatap ku begitu?" tanya Siti merasa risih dengan tatapan Alex.
"Kamu menyukai Andra? seperti nya kamu sangat ingin memisahkan mereka"
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukainya! " sangkal Siti, dia mulai gelagapan.
"Terserah kamu saja, aku tidak peduli. yang penting bagiku, hanya Seli dan Seli!" ucap Alex.
Mereka mulai bersiasat, agar Seli dan Andra tidak bisa bertemu. Siti juga memastikan Alex tidak menyakiti Andra.
...----------------...
Di pos ronda, Andra duduk sendirian. Dia menunggu teman teman nya datang ke sana.
Biasanya, jam segini Kamil, Budi dan Aryo pasti sudah datang. Namun, sekarang sudah pukul 2 siang, mereka belum menampakkan batang hidungnya.
Kamil dan Aryo kemana sih?
"Andra!" panggil Kamil ketika dia melihat Andra duduk sendirian di dalam pos.
Andra pun menoleh, dia tersenyum menyambut kedatangan teman nya.
"loh, Aryo. Tumben kamu gak bawa Cakra?"
"Lah, kamu kaya gak tahu saja. Dia masih menangisi kepergian ayam nya" jawab Aryo.
"Lah, dia kehilangan Ayam?" tanya Kamil terkejut, dia tidak tahu jika Cakra Kehilangan Ayam.
"Kamu gak tahu? setelah kita maling ayam waktu itu, Cakra Kehilangan Ayam di pagi harinya"
"Huh?" mata Kamil membulat.
"Jadi, ayam yang kita sembelih itu. Ayam Cakra?" tanya Kamil tidak percaya.
Sedangkan Andra dan Aryo hanya bisa mengangguk pelan.
"Dia terlalu berlebihan" gumam Aryo.
"Bukan begitu, kalian kan tahu sendiri jika Cakra sangat menyayangi ayam jago nya itu" ujar Andra
"iya juga sih, tapi baik juga lah. Kita gak jadi berdosa pada tetangga kamu Ndra" Kamil.
"Iya juga sih"sahut Aryo.
Sambil menunggu kedatangan Budi dan Cakra, mereka bertiga membicarakan bagaimana cara menjelaskan pada Cakra, agar pria itu tidak marah tentang Ayam nya.
__ADS_1