Jodoh Andra

Jodoh Andra
Menunggu Kesempatan


__ADS_3

Seperti biasa, Andra dan teman teman nya duduk di pos ronda. Mereka menunggu job,dan juga sambil menunggu adanya kesempatan kerja.


"Eh, kalian nongkrong di pos gak bakalan ada kemajuan!"


Andra, Kamil dan Budi menoleh, melihat Gea yang tengah berjalan bersama Seli melewati pos. Seli terlihat menunduk, seperti ya dia malu mendengar ucapan ibu nya.


"Bu, gak baik seperti itu" bisik Seli. Namun, ibunya tetap tidak peduli. Dia tetap mencaci para pemuda yang masih menunggu perubahan nasib.


Kamil tersenyum miring, dia berdiri menghadap ke jendela pos.


"Kami hanya menunggu wanita cantik datang dan menyerahkan dirinya. Wanita yang di simpan eh malah menjajakan nya"sindir Kamil.


Andra terkejut mendengar ucapan Kamil, tapi dia tidak menegurnya.


"Wah..Siapa itu Kamil?" Celetuk Budi ikut nimbrung. Dia berdiri di samping Kamil menatap ibu dan anak itu.


"Kurang ajar, apa maksud kamu anak miskin!" Bentak Gea hendak menyerang mereka. Tapi, Seli menahan nya.


"Udah lah Bu..." Seli semakin menunduk, dia pikir mereka menyindir dirinya. Seli melirik Andra, dia pikir mungkin Andra menceritakan pada teman teman nya.


"Mendapatkan menantu seperti Alex, sama saja menjual anak mu Bu. Lebih baik beri sama kamu saja. Walaupun kami tidak kasih uang, tapi setia ahahah.....,"Budi dan Kamil tertawa keras, membuat Gea semakin marah.


"Heh, Anak miskin seperti kalian itu tidak akan ada yang mau. Sama seperti kedua orang tua kalian, susah laku nya " hina Gea.


Kamil dan Budi terlihat tidak emosi, dia biasa saja. Menatap Gea dan Seli dengan senyum miring.


"Tentu saja cepat laku bu, karena sering di jajakan"


Wkwkwk....


Gea semakin emosi, dia merasa di rendahkan.


"Bu, udah lah. Ngapain ladenin mereka" ujar Seli, dia berusaha membawa ibu nya pergi dari sana.


"Awas kalian yah!"geram Gea. Kemudian pergi bersama putrinya dengan geram hati.


"Hu..Dasar wanita tua" dengus Kamil.


"Tau ah, dah tua tapi mulut seperti biawak." Sahut Budi.


"Kalian kenapa sih, orang tua di kawan. Yah walaupun dia Gilak" kekeh Andra di ujung kalimatnya.


Semua orang kampung tahu, bagaimana mulut Gea. Menghina ke sana kemari, meremehkan anak orang.


"Jika aku ada uang, sudah ku beli mulutnya" gumam Kamil.

__ADS_1


"Ahaha ..Kalian aja tempe nya" sahut Budi.


"Ogah, sudah lisut itu" ujar nya, kemudian di lanjutkan oleh tawa mereka.


"Eh btw, Cakra sama Aryo mana?"tanya Kamil. Andra mengangguki pertanyaan Kamil.


"Oh mereka baru saja mendapatkan pekerjaan, kemarin paman Aryo menawarkan pekerjaan."


"Lah, kenapa kita gak di ajak?" Sahut Andra.


"Bukan gak di ajak, orang dia butuhnya 2 orang. Saat itu malah hanya ada Aryo sama Cakra di pos ini" jawab Budi menjelaskan.


"Yah." Kamil dan Andra mendengus kesal.


"Udah lah, nikmati dulu waktu kita seperti ini. Nanti pasti ada waktunya,dimana kita berada di atas" kata Budi bijak.


"Jika aku mendapatkan waktu itu, aku tidak akan menyia nyiakan waktu untuk membalas Gea!" tekad Kamil.


"Nah, karena itulah kamu gak bakalan ada di atas" sela Andra.


"Hanya dendam yang ada di pikiran mu" lanjutnya.


"Ahah...Itu wajib Ndra, mereka harus di balas" tutur Budi.


"Cerdas" celetuk Kamil.


"Jika aku mendapatkan kesempatan itu dari Allah, aku akan membuat ibu ku di segani satu kampung!"ujar Andra penuh tekat.


Mereka semua kembali duduk dengan resah, setelah pembicaraan khayalan mereka.


Sedangkan di rumah nya, Seli menatap tidak suka pada ibu nya.


"Ibu kenapa sih, ngomong seperti itu sama mereka!"gerutu Seli marah.


"Kenapa memangnya? Kamu tidak suka ibu menghina pria miskin itu? Ibu hanya ingin mereka sadar diri dan berhenti mengganggu kamu!"


"Tapi mereka teman Seli Bu, Seli gak mau mereka jauhin Seli hanya karena mulut pedas ibu!" bantah Seli.


Gea menatap putrinya tidak percaya, dia jadi teringat dengan ucapan Kamil tadi.


"Jadi, kamu berteman dengan mereka? Apa kamu mau di sentuh sentuh oleh mereka?" Gea memegang kedua bahu putrinya, menggoyang goyangkan agar putrinya segera menjawab.


"Tidak ibu, aku tidak mungkin melakukan hal yang pernah ibu lakukan"


Plak!

__ADS_1


Gea langsung menampar putrinya, dia tidak pernah mengajarkan putrinya berkata seperti itu.


"Sejak kapan kamu mulai melawan ibu Seli? Apa kamu tidak berpikir? Kamu bisa seperti ini hanya karena ibu!" Bentak Gea menatap taj putrinya.


"Iya, karena ibu juga aku tidak memiliki teman. Beruntung Siti mau berteman dengan ku dan tahan dengan ucapan ibu!" Lawan Seli, membuat Gea semakin marah.


"Ibu membiarkan kamu berteman dengan Siti, karena dia masih selevel dengan kita!"


"Tidak ibu, aku butuh teman teman yang lain, bahkan Siti juga berteman dengan mereka"


"Aku juga ingin berteman dan berpacaran dengan pria yang aku suka!"


"Apa?" Gea semakin menatap tajam putrinya, mencengkram kuat bahu Seli hingga gadis itu mengadu kesakitan.


"Kamu jawab jujur, kamu menyukai Andra?"


Seli memalingkan wajahnya, menghindari tatapan menusuk ibu nya.


"Apa yang kamu pikirkan Seli? Menikah dengan orang miskin? Hidup susah?" Bentak Gea.


"Cih, ibu selalu mengatakan itu. Ibu tidak tahu bagaimana rasanya di rendah kan oleh orang yang ibu anggap cocok dengan aku!"


Seli mulai menangis, mengingat setiap hari Alex melecehkan dirinya. Melakukan sesuatu yang sebenarnya dia tidak suka.


"Itu agar dia betah dan tidak bosan Seli, makanya ibu membiarkan saja" ujar Gea.


"Tapi itu dosa Bu, apa ibu tidak peduli dengan hal itu" bantah Seli mengingatkan ibunya.


"Ibu tahu Seli, tapi ibu lihat kamu menikmatinya. Bahkan kamu terlihat menginginkan nya!" Gea tersenyum miring, dia pernah melihat putrinya di cumbui oleh Alex. Dan seperti yang terjadi waktu itu, Seli sangat muda terangsang dan malah dia yang meminta pada Alex untuk di sentuh, di kalah pria itu berhenti menggoda.


Seli kembali memalingkan wajah nya, dia memang melakukan hal itu.


"Karena itu juga aku bersedia di sentuh oleh pria yang aku suka, walaupun aku tahu, aku tidak bisa bersama nya" lirih Seli.


Plak!


Lagi lagi, Gea menampar putrinya. Dia tidak pernah mengajarkan hal bodoh seperti itu.


"Kamu merendahkan harga diri kamu huh? Bagaimana mungkin orang miskin menikmati tubuh kamu Seli!" Bentak Gea marah.


"Bukan kah ibu bilang tadi, terkadang aku menikmatinya. Mereka lebih lihai di bandingkan Alex. Dia hanya mencoba untuk menikmati tubuh ku saja"


"Apa bedanya dengan mereka bodoh!" Dengus Gea.


"Setidaknya aku melakukan nya dengan cinta"

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Seli pergi dari hadapan ibu nya. Dia sudah tidak tahan berdebat terus dan terus dengan ibunya hanya karena hal ini.


Seli merasa kurang beruntung mendapatkan seorang ibu. Bukan menjaga agar anak nya jadi mutiara, ibu nya malah membiarkan dirinya semakin terlihat rendah.


__ADS_2