
"Kamu dari mana aja sih, ibu sejak tadi menghubungi kamu!" Omel Mila pada putrinya.
Sejak pagi, pukul 9 Luna keluar dari rumah. Dia berpamitan pergi ke rumah teman nya. Hingga siang hari dia baru pulang. Hal itu tentu saja membuat hati seorang ibu khawatir.
Ini kota besar, apapun bisa saja terjadi. Mila menjewer telinga putrinya yang sejak tadi hanya tercengir padanya.
"Aaa sakit ma, sakit, iya iya Luna tidak akan mengulangnya lagi" teriak Luna sambil memegang tangan mama nya.
Fyu..
"Untung gak terlepas" ucap Luna bernafas lega. Mama nya akhirnya mau melepaskan telinga nya.
"Awas saja yah, sekali lagi kamu mengulangi hal yang sama. Mama aduin sama papa kamu!"
Mendengar ancaman mama nya, membuat mata Luna melotot. Dia tidak mau jika papa nya sampai tahu akan hal ini.
"Ihh jangan dong ma, nanti kalau papa mata gimana?"
"Biarin, siapa suruh tidak mau mendengar omongan mama"
Mila berlalu dari sana, dia meninggal putrinya yang terus merengek pada nya.
"Ihh mama, kok tiba-tiba berubah jahat sih. Kalau tahu gini, lebih baik aku tinggal sama nenek saja."
Luna Barak, gadis 17 tahun yang baru saja lulus SMA. Kemarin dia pergi liburan ke rumah nenek nya di kampung.
Luna sangat suka bersepeda, jika di kampung dia memiliki satu sepeda. Di rumah nya ini dia memiliki 2 sepeda.
Gadis cantik ini mengulum senyum nya, ketika dia teringat dengan pertemuan kedua nya dengan seorang pria.
"Siapa dia, pria yang sudah membantu aku untuk kedua kalinya" gumam nya.
Luna berlalu ke kamar nya, dia membersihkan diri. Kemudian, kembali ke ruang makan. Sebelum dia di omelin mama nya lagi, lebih baik dia makan siang sekarang.
...----------------...
Malam yang indah, Andra duduk di atas ranjang nya. dia berniat menghubungi kedua orang tua nya. dia harus segera memberikan kabar baik ini.
Drrt.... Drrr...
Andra memanggil kedua orang tuanya, dering kedua, panggilan langsung terhubung.
"Hallo.."
Andra terdiam, mendengarkan suara ibu nya di seberang sana.
"Hallo Andra, apa kamu mendengarkan ibu?" panggil Dewi lagi, karena putranya tak kunjung menyahutnya.
"iya Bu, Andra dengar kok"
"kenapa kamu tidak menjawab ibu tadi, ibu jadi khawatir. Bagaimana keadaan mu di sana, apakah sudah mendapatkan tempat tinggal? mengapa kamu tidak menghubungi kami setelah tiba di sana"
Andra tersenyum haru, ibu nya melontarkan pertanyaan secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"ibu, pertanyaan mana yang harus aku jawab terlebih dulu?" balas Andra. Dia terkekeh pelan, dia sangat merindukan Omelan ibu nya.
"Kau ini, nakal yah. mentang mentang ibu tidak bisa memukul mu"
"Ah ibu, aku sangat merindukan kalian"
"baru saja pergi 2 hari, kamu sudah merindukan aku? bagaimana nanti kalau kamu menikah. apa kamu tidak akan lepas dari ketiak ku hm?"
Andra kembali terkekeh mendengar ucapan ibu nya.
"Ibu, aku sudah mendapatkan pekerjaan. Besok sudah bisa bekerja"
"benarkah? Alhamdulillah, baru sehari kamu sudah mendapatkan pekerjaan" ucap Dewi bersyukur.
mendengar ucapan Istri nya, Malik langsung mendekati istri nya.
"ada apa? apa yang dia katakan?" tanya Malik penasaran.
"sayang, putra kita sudah mendapatkan pekerjaan"
"benarkah?" Malik merebut ponsel dari tangan istrinya.
"Hallo Nak, bener kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Malik.
Andra mengangguk, meskipun dia tahu ayah dan ibu nya tidak dapat melihatnya. namun, Andra dapat membayangkan bagaimana ekspresi bahagia ayah dan ibu nya saat ini.
"iya ayah, aku sudah mendapatkan pekerjaan. "
"Kerja apa nak?" tanya Malik lagi.
"Benarkah? wah bagus itu. kamu harus baik baik bekerja. Apapun pekerjaan nya, yang penting halal. Jadikan tempat kamu bekerja sebagai sekolah. Carilah pengalaman sebanyak banyaknya. Jika sekarang hanya kuli, mungkin bisa saja nanti kamu jadi mandor. intinya kamu jangan bosan dan monoton. Harus mau belajar!" nasehat Malik.
"Iya ayah, Andra akan selalu mengingat pesan ayah sama ibu"
"Bagus, sekarang. Kamu istirahat lah, sudah jam 9 malam ini. Besok kamu kerja bangun lagi, jangan lupa sholat dan berdoa"
"Iya ayah, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Andra menatap ponsel butut nya, membawanya ke dalam dadanya.
Ayah, ibu. Tunggu dan lihat kesuksesan putra kalian. Aku janji, akan membuat kalian bangga dan tidak akan di hina orang lagi.
Sebelum tidur, Andra memutuskan untuk mencuci pakaian terlebih dulu. Agar, besok sebelum berangkat kerja dia bisa menjemurnya.
...----------------...
Kembali dengan gadis cantik dan imut ini.
Luna tengah kebingungan, dia harus memilih universitas mana untuk di jadikan tempat menimba ilmu.
"Huaaa....Aku bingung, harus memilih universitas mana" erang Luna frustasi.
__ADS_1
Ceklek.
Luna menoleh saat seseorang membuka pintu kamar nya. Ternyata, itu adalah papa dan mama nya.
"Mama..Papa" kaget Luna, namun dia senang melihat kehadiran kedua orang tuanya.
Luna langsung bergelayut manja di lengan papa nya.
"Sayang, apa kamu sudah memutuskan untuk masuk ke universitas mana?" tanya Gunawan. Dia membelai rambut panjang milik putrinya.
"Handehh...Palingan dia masih bingung, namanya juga Luna" cibir Mila.
Wanita ini selalu saja meledek putrinya, bagi Mila. Putri nya selalu saja mencuri suaminya dari dirinya.
Keduanya sering berdebat, sering saling mengejek. namun, sejatinya kedua wanita ini sangat kompak. Apalagi ketika berada di dalam mall.
"Mama kok bisa tahu? padahal Luna gak ada ngasi tahu loh" ujar Luna pura pura polos.
"Memangnya pilihan nya apa aja? " tanya Gunawan.
Luna pun segera mengambil tabletnya. Kemudian, membawa kehadapan papa nya.
"Ini pa, Ada Universitas D, C, dan Y. " kata Luna menyebutkan satu persatu.
Mila pun mendekati suami dan putrinya, dia ikut melihat foto universitas yang Luna sebutkan tadi.
"Universitas D bagus, yang C juga. memangnya kamu mau ambil jurusan apa?"
"Uhhmm..."Luna tampak berpikir, dia masih belum memutuskan pilihan nya.
"Jangan bilang kamu belum memutuskan nya Luna"tebak Mila.
Luna hanya bisa tercengir, karena dia memang belum memikirkan soal itu.
"Huh..Punya anak satu, tapi lol nya minta ampun" dengus Mila menghembuskan nafas nya.
Sedangkan Gunawan, dia mulai mengotak Atik tablet putrinya. mencari website milik salah satu universitas itu.
"Umm...Jika di lihat lihat, Universitas D dekat dengan rumah. kamu bisa naik sepeda ke sana. Jurusan nya juga banyak. Mau hukum, Seni, atau mau ke bidang pendidikan" jelas Gunawan..
"Nah, kamu pilih yang mana?" celetuk Mila.
Luna kembali berpikir, dia masih pusing.
"Yaudah ma, pa. Kalau aku milih Seni gimana?"
"Bagus, keterampilan Senin kamu tidak terlalu buruk" ujar Gunawan.
"Huh, gak terlalu buruk pa? hancur baru tepat!" sela Mila menyangkal ucapan suaminya
"Ihh mama, ucapan nya gak ada kiasan sama sekali. Aku kan jadi sedih" lirih Luna pura pura sedih. dia berniat ingin memprovokasi papanya.
"Mama...Jangan gitu ih, kasian Luna nya"
__ADS_1
Tuh kan, Luna berhasil. Gunawan membela dirinya. Membuat Mila seketika menatap tajam putrinya.