Jodoh Andra

Jodoh Andra
Restu??


__ADS_3

Gunawan memperhatikan putrinya, dia penasaran. Ada apa Antara putrinya dan juga Andra.


Setiap kali Andra datang, Luna terlihat seperti menghindar. Berbeda dengan Andra yang selalu mencoba mencari kesempatan berbicara dengan Luna.


Karena sangat penasaran, Gunawan pun memanggil Andra ke ruangan kerja nya.


Tuk!! tuk!!


"Masuk!" seru Gunawan dari dalam.


Andra pun masuk, dia menghampiri pak Gunawan.


"Duduk" titah pak Gunawan.


Andra pun duduk di depan pak Gunawan. Andra menduga duga, apa yang ingin pak Gunawan bicarakan dengan dirinya. Mengapa harus memanggilnya ke ruangan kerja, mengapa tidak seperti biasanya.


"Andra"


"iya pak" sahut Andra.


Suasana ruangan pak gunawan terasa semakin mencekam, Andra merasa aurah pak Gunawan tidak seperti biasanya.


Apa yang terjadi, mengapa pak Gunawan memanggil ku ke ruangan nya.


Pak Gunawan menatap Andra cukup lama, dia mempersiapkan kata kata yang akan dia keluarkan pada Andra. Alih alih takut Andra tersinggung.


"Andra, saya cuma mau tanya sama kamu. Terlepas benar atau salah nya dugaan saya"


Deg.


Jantung Andra mulai berdegup kencang, entah apa yang akan pak Gunawan tanyakan kepada dirinya.


"Apa itu pak?" tanya Andra penasaran.


"Apa yang terjadi, antara kamu dan Luna?"


jleb.


Benar, seperti yang Andra duga. Pak Gunawan pasti sudah merasakan keganjalan ini.


"Sejujur nya saya malu sama bapak, tapi saya juga tidak bisa menahan diri. Entah takdir atau apapun saya sungguh tidak bisa mengendalikan nya"


Pak Gunawan diam, dia mendengarkan penjelasan Andra.


"Mungkin bapak mengira saya tidak tahu diri, saya tidak tahu malu, tidak tahu terimakasih."


"Saya menyukai Luna pak, ini sudah terjadi sejak lama. Namun, saya tidak pernah menyatakan pada Luna. saya hanya mengaguminya"


"Namun, kami pernah Deket. Karena sebuah kesalahpahaman, Luna menghindari saya" lirih Andra dengan wajah murungnya. Dia menunduk malu di hadapan Gunawan.

__ADS_1


Sedangkan Gunawan, dia memahami apa yang di ceritakan oleh Andra.


"Apa kesalahpahaman itu?" tanya Gunawan, membuat Andra terkejut.


Dia tidak menyangka Andra menanyakan hal itu, bukan nya memarahi dirinya. Andra berpikir Gunawan akan memaki dan mencaci dirinya yang tidak tahu diri ini.


"Maksud bapak?" balas Andra.


"Yah, apa kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian berdua itu?"


Andra semakin bingung, namun dengan percaya diri dia menceritakan semuanya pada pak Gunawan.


"Jadi, kamu dan anak Gea itu tidak punya hubungan apa apa?" tanya Gunawan memastikan.


"Tidak pak, sama sekali tidak" jawab Andra yakin.


Andra menatap Gunawan, menerka apa sebenarnya yang sedang di pikirkan oleh panutan nya ini.


Dengan ragu, Andra bertanya apakah Gunawan marah dan benci kepada dirinya yang tidak tahu diri ini.


"Apa bapak tidak marah?"


"Kenapa saya harus marah? hati dan takdir tidak ada yang bisa menghindarinya. " jawab Gunawan bijak sana.


"Benarkah? apa bapak memperbolehkan saya mendekati putri bapak?"


Dengan senyum tulus, Gunawan mengangguk. Bagi nya, kebahagiaan putrinya adalah hal yang paling dia utamakan.


"Apapun demi putri ku bahagia. Tapi ingat!" ucap Gunawan serius.


"Sekali kamu sakiti dia, maka kemana pun kamu lari. Aku pasti akan menemukan kamu!" sambungnya.


"Saya tidak akan pernah menyakitinya pak, tidak akan pernah. Saya sangat mencintai Luna"


"Bagus, selagi hal itu positif. Aku akan mendukung kalian."


Andra tersenyum bahagia, restu Keluarga Luna sudah dia dapatkan. Hanya tersisa meyakinkan orang nya saja.


"Sebelum nya Andra, kamu harus sukses terlebih dulu. Kamu harus menyelesaikan kuliah kamu. Begitu juga dengan Luna. Saya tidak mau masa depan putri saya suram" jelas pak Gunawan.


"Setelah masalah saya dengan Luna selesai, saya akan menyelesaikan kuliah saya secepat nya pak. " jawab Andra yakin.


Gunawan senang, semangat Andra membuatnya bahagia.


Semoga putri ku bahagia bersama mu. Aku hanya berharap akan hal itu.


Andra kelewat bahagia, setelah mengobrol dengan pak Gunawan. dia kembali ke kos nya, dia harus istirahat dan menyelesaikan seminar besok.


Sesampainya di kos, Andra melihat Bu Wati dan Fardan duduk di depan kos nya. Mereka terlihat sangat akrab dan yah, mesra.

__ADS_1


Andra jadi teringat dengan suara suara yang dia dengar beberapa waktu lalu di kamar Fardan.


"Apakah itu suara Bu Wati?" Andra menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran semacam itu. Bu Wati tidak mungkin seperti itu.


Cup.


Tubuh Andra membeku, saat melihat Bu Wati dan Fardan berciuman. Lebih parah nya, mereka secara terang terangan melakukan itu di tempat umum.


"Apa ini???" teriak Andra di dalam hati. Apa yang di lihat nya barusan, semakin membuat dugaan nya menjadi nyata.


Cup.


Fardan kembali mengecup bibir Bu Wati, seperti nya mereka tidak menyadari kehadiran dirinya.


"Ekhem" Dehem Andra keras. Dia berpikir, jika mereka akan terkejut atau bagaimana. Tapi, nyatanya mereka tetap santai. Bahkan Bu Wati menyapa Andra sambil merangkul Fardan.


"Andra, kamu udah pulang?" sapa Bu Wati.


"Kalian.."


Bu Wati tersenyum, dengan santai dia duduk di atas pangkuan Fardan.


"Kami sepasang kekasih. Aku tidak tertarik lagi pada Luna. Kamu ambil aja dia" ketus Fardan.


"Huh?"


Andra semakin heran, setahu nya Bu Wati memiliki suami. Sekarang mengapa dia secara terang terangan bercumbu dengan Fardan.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan Andra. "celetuk Bu Wati keenakan, dia dengan perlahan menggoyangkan duduk nya di atas tubuh Fardan, sehingga membuat fantasi nikmat.


"Suami saya sudah meninggal Andra, saya sangat kesepian, apalagi selama menikah saya selalu sendiri. Hanya sesekali di belai" ucap Bu Wati sendu.


Fardan yang mendengar ceritanya, langsung memeluk Bu Wati dari belakang.


"Tidak apa apa, aku ada di sini untuk mu. memuaskan nafsu mu" lirih Fardan.


"Makasih sayang"


Andra bergidik ngeri, bisa bisa nya mereka seperti ini.


"Tapi setidaknya, jangan di luar. " sanggah Andra.


"Kenapa? tidak akan ada yang peduli. Ini kota, area bebas. Hukum alam nya, siapa Lo, siapa gue. Apapun yang kamu lakukan, bukan urusan mereka" balas Fardan.


"Huh, terserah deh. Aku mau masuk dulu" pamit Andra berlalu dari sana.


Bu Wati dan Fardan tidak peduli, mereka tetap memadu kasih di depan kos. Di bawah matahari bersinar, menikmati tiupan angin panas, Wati merasakan dahaga yang teramat.


Karena sudah tidak bisa menahan nya, Bu Wati menyeret paksa Fardan ke dalam kamar kos pria itu.

__ADS_1


"Ayo babu, tuntas kan ini. Aku sudah tidak tahan" ujar nya merem melek, karena saat ini Fardan menjadi bayi di dadanya.


"Ahh...Yea, begitu. Ayo, begitu...Yes...Ahhh"


__ADS_2