
Semua orang terkejut, mereka menatap Aryo dan Luna berdiri di depan pintu. Tak lupa juga Malik dengan ekspresi wajah bingung menatap istri dan juga putra nya.
"Ada apa ini,mengapa banyak orang berkumpul di balai desa. Andra, Dewi, kenapa kalian juga ada di sini?"
Dewi hendak menjelaskan pada suaminya, namun Gea lebih dulu menjawab.
"Begini Malik, putra mu telah menodai putri ku. Sekarang dia tidak mau bertanggung jawab!"
"Hiks..Hiks.."
Malik sangat terkejut, dia melirik seli sekilas, kemudian menatap putranya. Malik tidak bisa mempercayai ini, putra nya melakukan itu dengan rendah.
Tidak!
Malik tidak akan percaya begitu saja, putra nya itu sopan, berwibawah. Dia tidak akan melakukan hal seperti ini.
"Kenapa Malik, apa kamu tidak percaya? Sayang sekali, putra mu tidak seperti yang kau bayangkan" cibir Gea tersenyum sinis. Dia sangat senang melihat Malik menahan malu.
Namun, di luar dugaan. Malik mendekati putranya. Menepuk wajah putranya pelan. Dia tersenyum, mengusap wajah nya.
"Wajah mu sangat mirip dengan ku, sampai orang tega melakukan ini pada mu"
Andra mengerutkan dahi nya, apa maksud kata kata ayah nya itu mempercayainya?
"Bapak, percayakan sama Andra?"
"Tentu saja, kenapa bapak tidak mempercayai putra bapak sendiri hm?"
Andra tersenyum, dia memeluk ayah nya erat. Dia memang sudah yakin sejak awal, ayah nya pasti akan memihak kepadanya.
"Apa ini, anak salah jangan di bela seperti itu!" Sanggah Gea.
Malik berbalik, dia menatap Gea dengan tatapan tegas.
"Kamu bahkan percaya kepada putri mu, ke apa kami tidak boleh percaya kepada putra ku!"
Dewi tersenyim, dia menghampiri Luna yang masih plonga plongo di samping Aryo.
"Tidak kah kamu berpikir, anak mu yang memfitnah putra ku? Bahkan jika pun dia tidak menfitnah, lihat lah. Putri mu yang mengejar outra ku ke rumahnya" sambung Malik.
"Sudah jelas ada yang melihat nya, warga yang memergokinya" seru Gea sembari menoleh pada warga yang tadinya memergoki putrinya.
"Benar, kami dengar sendiri Seli berteriak meminta tolong!"seru warga.
"Kami dengar dan memergoki Seli sudah di bawah Andra, mereka melakukan nya di lantai" sahut yang lain.
__ADS_1
Luna yang mendengar nya langsung menoleh, tangan nya bergetar mendengar kenyataan itu. Namun, Luna berusaha untuk kuat, dia bersabar dan mendengarkan persidangan ini hingga akhir.
Dewi menggenggam tangan Luna, mengisyaratkan agar calon menantunya bersabar dan tetap tabah.
"Lihat lah! Apakah baju putra ku lusuh? Apa kalian sebodoh itu di tipu oleh mereka?" Tegas Malik.
"Benar, kalian akan menyesali ucapan kalian terhadap Andra setelah menonton ini!"seru Aryo mengangkat ponsel Andra yang tadi dia jemput.
"Video apa?" Tanya Gea mulai panik. Dia melirik putrinya yang juga sama panik nya.
" Tidak perlu takut Bu Gea, Seli. Ini hanya rekaman cctv ruang tamu rumah Andra. Semua nya akan jelas setelah kita melihat ini"jelas Kamil.
"Benar ibu bapak, kita tidak perlu rusuh. Sekarang mari kita lihat video yang menjadi bukti dari segala kebenaran ini" ucap kepala desa.
"Betul "
"Betul"
Akhirnya mereka semua menyiarkan video itu di layar proyektor, mereka semua bisa melihat semuanya dengan jelas.
Semua adegan yang terjadi siang itu, terpampang nyata. Seli yang memaksa Andra dan merobek baju nya sendiri.
"Astaga"
Sedangkan Seli, dia menahan malu karena perbuatan nya telah terbongkar.
"Itu editan! Tidak mungkin putri ku melakukan ini"teriak Gea menarik ponsel Andra, kemudian melemparnya ke lantai.
"Dasar, tidak tahu malu!"
"Benar, aku sudah gila mempercayai ini"
"Buang buang waktu saja"
Warga mulai berangsur bubar, mereka mencibir Gea dan Seli yang tidak tahu malu. Ada yang melempar botol aku, ada yang menyiram mereka dengan air yang ada di atas meja.
"Memalukan!"
"Cih, tidak tahu malu"
Cibiran demi cibiran terus terdengar di telinga Gea dan Seli. Andra dan keluarga nya hanya tersenyum melihat nya.
Andra menoleh, dia melihat ada kekasih nya berdiri di samping ibu nya. Dengan langkah lebarnya, Andra menghampiri Luna.
"Kamu di sini, ada apa? Apa kamu merindukan aku?"tanya Andra setengah bercanda.
__ADS_1
"Aku datang untuk mendoakan penjelasan yang sudah mereka jelaskan" jawab Luna, mata nya melirik ke arah Seli dan ibu nya. Lalu, dia melangkah mendekatinya.
"Apa kalian tidak punya malu? Kamu juga " Luna menatap Seli tajam.
"Tidak kah kamu punya harga diri? Apakah kamu tidak tahu mulia nya seorang wanita???"
"Aku sebagai wanita, merasa malu melihat sikap mu seperti ini. Aku juga tahu, kamu kan yang mengirim foto ini kepada ku. Agar aku membenci Andra dan membatalkan pernikahan kami!"bentak Luna sembari memperlihatkan foto yang ia terima.
Andra terkejut, dia mendekati Luna. Merebut ponsel Luna dan melihat foto apa yang Seli kirimkan.
Mata Andra melebar, bagaimana bisa Seli mengirimkan foto itu. Siapa yang telah mengambilnya?.
Jangan..jangan..Andra menatap Gea, wanita paru baya yang salah tingkah saat Andra menatapnya.
"Jangan bilang, ibu juga berkomplot untuk masalah ini?"
"Sungguh tega, ibu benar-benar tidak punya malu! Saya tidak menyangka ibu tega melakukan semua ini kepada saya!" Andra menggeleng, dia benar benar tidak menyangka apa yang dia ketahui ini. Gea benar benar licik.
"Gea, kamu sungguh bukan manusia " sahut Dewi.
"Iya, kami memang bukan manusia! Ibu tidak bersalah, aku yang melakukan semua ini. Aku yang meminta ibu melakukannya"
Seli sudah tidak tahan lagi, sudah terlanjur malu. Dia lebih baik Melakukan nya sekarang.
"Aku melakukan semua ini untuk kamu Andra! Cinta ku sama kamu!!! Kenapa kamu tidak mengerti sih!" Raung Seli. Dia memeluk Andra, membiarkan tubuhnya terekspos.
"Kenapa kamu tidak sadar Andra, aku rela melakukan apapun demi kamu!" Histerisnya.
Melihat yang di lakukan Seli, Luna pun tidak tinggal diam. Dia menarik tangan Seli, kemudian mendorong nya menjauh dari Andra.
"Dia milik ku, calon suami aku! Kamu tidak boleh menyentuhnya" tegas Luna berdiri di depan Andra.
"Benar, dia milik Luna. Dia jauh lebih mulia di bandingkan wanita seperti kamu" sahut Dewi membela Luna.
Seli tidak peduli, dia menatap Andra dengan tatapan memohon.
"Apa kurang ku Andra? Dulu, kamu menyukai ku. Kenapa sekarang kamu berubah?" Lirih nya. Bagi yang tidak tahu sikap Seli sebenarnya, mungkin mereka akan kasian padanya.
"Lihat lah sikap mu, bagaimana orang akan menyukai mu seperti ini." Dengus Luna.
"Mulai saat ini, Andra tidak akan bisa melirik mu. Dia milik ku. Aku tidak akan membiarkan kamu mendekati nya!" Peringat Luna menatap Seli penuh penekanan, perkataan nya penuh kepemilikan.
"Ayo Andra, Bu, pak. Kita pergi" ajak Luna menarik tangan Andra, dan mengajak mertuanya meninggalkan balai desa. Meninggalkan Gea dan Seli berdua di sana bersama sedikit aparat yang masih ada sebagai penengah mereka.
"Dasar tidak berguna!" Dengus Gea. Dia ikut meninggalkan putrinya sendiri begitu saja tanpa memikirkan kerapuhan putrinya.
__ADS_1