Jodoh Andra

Jodoh Andra
Fardan Cemburu


__ADS_3

Sepulang kuliah, Andra dapat telfon dari Gunawan. Pria itu mengundang Andra datang ke rumahnya.


Tentu saja hal ini membuat Andra merasa sangat senang. Karena jika Gunawan menghubungi nya dan menyuruhnya datang.


Hal itu berarti mereka telah kembali dari kampung. Andra berpikir jika dirinya akan bertemu lagi dengan Luna.


"Kalo ini, aku harus berbicara dengan Luna" tekat Andra.


Pria itu bergegas menaiki angkot menuju ke rumah mewah Gunawan. Setelah berhenti di depan gerbang perumahan, Andra langsung berjalan masuk.


"Mang" sapa Andra pada satpam perumahan itu.


"Ya, dek Andra ke rumah pak Gunawan?" tanya mang Dadang.


"Iya mang, tadi dia menyuruh saya datang"


"Oo.." balas mang Dadang tersenyum.


Andra terus berjalan menuju ke rumah Luna. Dia melangkah masuk saat melihat gerbang rumah Luna terbuka.


"Assalamualaikum" ucap Andra sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam"


Ceklek.


Mila membuka pintu, dia tersenyum hangat saat melihat siapa yang berdiri di depan rumah nya.


"Andra, ayo masuk. "Ajak Mila.


Andra pun masuk, dia melirik ke seluruh ruangan di rumah Gunawan. Mata nya menjelajah mencari sosok yang membuat nya gunda gulana.


"Ayo nak, mari sini. Suami bibi ada di belakang" ucap Mila menuntun Andra menemui suaminya yang duduk di meja belakang rumah.


Saat hendak melangkah, tiba-tiba Luna turun. Dia menatap lurus ke depan.


Andra tertegun, dia bersiap hendak menyapa Luna. Namun, gadis itu tidak melihat kearahnya. Dia terus berjalan melewati Andra.


Huh..


Dengan resah, Andra menemui pak Gunawan.


"Halo Andra, ayo sini duduk"


Andra mengangguk sopan, dia duduk di kursi samping Gunawan.


"Ayo di minum nak, suami saya sejak tadi menunggu kamu"kata Mila .


Mereka duduk santai di teras belakang rumah Gunawan. Senda gurau pun terdengar di sana.


Berbeda dengan Luna, dia merasa kesal saat melihat Andra berada di rumah nya.


Sebenarnya, Luna tidak mau seperti ini. Namun, egoh nya terlalu tinggi untuk bersikap seperti dulu pada Andra.


Malam ini, Luna pergi bersama Bobi. Janji yang sudah tertunda 7 hari. Mereka bertemu di cafe yang biasa Luna jadikan tempat nongkrong.

__ADS_1


"Selamat datang, silahkan masuk" sambut pelayan.


Luna pun masuk dan memilih meja sudut, dimana dia sering duduk.


"Selamat malam nona, mau pesan apa?"


"Uhm..mau pesan minum deh. Cappucino oreo keju"


"Makanan nya nona?" Tanya pelayan itu lagi.


"UM nanti saja, saya lagi nunggu teman" jawab Luna tersenyum rama.


Pelayan itu pun mengangguk pelan, kemudian dia berlalu dari sana untuk membuatkan pemesanan Luna.


Pelayan itu tampak tersenyum bahagia, wanita yang selama ini dia kagumi telah kembali.


"Mimpi apa aku semalam, dia datang dan terlihat semakin cantik" gumam Fardan di dalam hati.


Yah, dia adalah Fardan. Sahabat dan tetangga kos Andra. Mereka menyukai wanita yang sama.


Tanpa kedua nya ketahui, ternyata mereka menyukai wanita yang sama. Orang yang mereka ceritakan satu sama lain itu adalah Luna.


Setelah selesai membuatkan minuman untuk Luna. Fardan kembali ke depan, langkah nya terhenti saat melihat meja yang menjadi tujuan nya.


Fardan melihat kuna tengah tertawa bersama pria lain. Dia jauh lebih tampan dan kaya dari dirinya.


"Apa dia teman yang gadis tadi katakan?" Gumam nya kecewa.


Dengan wajah lesu, Fardan mengantarkan minuman Luna. Kemudian berlalu pergi tanpa menanyai pesanan untuk pria yang bersama Luna.


"Mas, tolong dong teman saya mau pesan minum" panggil Luna.


Mau tidak mau, dengan berat hati Fardan kembali berbalik. Dia menatap Bobi dengan tatapan tidak suka.


"Mau pesan apa?"tanya nya ketus.


Maklum saja, pria ini sedang mode cemburu.


"Pesan kentang goreng sama Teh susu, terus ayam goreng boleh deh" kata Bobi.


"Ada lagi?" Tanya Fardan.


"Itu saja" jawab Bobi.


"Baiklah"


Fardan berbalik dan pergi ke dapur. Dia memberikan catatan nya pada teman nya.


"Ni, pesanan untuk meja 30" kata nya dengan nada lesu.


Teman Fardan tentu sangat terkejut. Biasanya, Fardan sangat semangat ketika melayani meja 30 . Semua pelayan di cafe ini tahu, jika Fardan tengah mengagumi wanita itu.


"Tumben banget" ujar teman nya heran.


"Udah, buatin aja" seru Fardan. Dia mengambil waktu istirahat nya lebih awal. Kebetulan cafe juga sedang sepi.

__ADS_1


Teman Fardan pun membuatkan pesanan untuk meja 30. Kemudian dia mengantar kan nya.


"Pantes Fardan lemas, ternyata ini alasan dia gak mau melayani meja ini" pikir teman Fardan saat melihat wanita yang Fardan suka tengah bersama orang lain.


Teman Fardan menghidangkan pesanan nya, kemudian mempersilahkan mereka untuk makan.


"selamat menikmati" ucap nya dengan ramah.


"ini baru top pelayan. beda sama yang tadi" puji Bobi.


Teman Fardan hanya tersenyum kikuk, mendengar pujian Bobi untuk nya. padahal dalam hati, dia mengatakan jika Fardan lah pelayan yang paling ramah.


"jika bukan kamu, maka Fardan adalah orang yang ramah" gumam nya dalam hati.


setelah pelayan itu pergi, Luna mengatakan pada Bobi. Bahwa sebelum nya pelayan yang tadi tidak seperti itu.


"pelayan pertama itu baik kok. Awal aja tadi dia ramah banget sama aku. Biasanya juga dia ramah banget."


"Tapi kok, tadi dia gak ramah. malah sangat ketus" sahut Bobi.


"Mungkin dia ada masalah. makanya kaya gitu" balas Luna lagi.


Bobi hanya mengangguk pelan, kemudian mengalihkan pembicaraan mereka ke tour tour yang terlewati oleh Luna.


Bobi mengatakan pada Luna, bahwa dirinya sudah menyelesaikan tugas Luna. Jadi Luna tidak perlu mengulang tour nya sendiri.


"Ini file nya, kamu bisa cek sendiri dan pahami. Supaya kamu bisa membuat presentasi nya" kata Bobi sembari memberikan flashdisk pada Luna.


mata Luna berbinar, dia sangat senang menerimanya.


"Makasih yah kak. Aku jadi gak ribet lagi deh"


Bobi tersenyum senang, bagi nya itu bukan lah hal yang sulit. Terpenting bagi Bobi, Luna bisa lebih dekat dengan dirinya.


"Jika kamu butuh sesuatu, kamu boleh cari aku" ucap Bobi.


Luna hanya tersenyum, dia mulai merasakan ada sesuatu yang lain dari Bobi.


Namun, Luna berusaha untuk menepis pemikiran nya. dia hanya menganggap Bobi seperti kakak tingkat nya saja. Tidak lebih dan tidak kurang.


Cukup lama mereka mengobrol, akhirnya Luna mengajak Bobi untuk pulang.


"Kak, sudah hampir jam 9. Aku harus pulang" kata Luna.


"Oh yaudah, aku antar yah" tawar Bobi.


Luna menggeleng cepat, dia tentu tidak akan mau di antar oleh Bobi.


"tidak usah kak, aku bawa mobil. Aku bisa pulang sendiri" tolak Luna.


"Oh yaudah,aku antar sampai depan deh"


Luna pun mengangguk, setelah proses pembayaran. Bobi menggandeng tangan Luna menuju ke luar cafe.


sebenarnya Luna tidak nyaman, beberapa kali Luna menyingkirkan tangan Bobi. namun pria itu kembali menggandeng nya.

__ADS_1


__ADS_2