
Luna duduk di depan canvas lukisan nya, bersiap ingin melukis objek yang sudah dia siapkan. Seekor burung yang di kurung dalam sangkar. Entah apa nama burung itu, yang jelas bulu dan bentuknya cantik, di mata Luna burung itu sangat menarik.
Baru tangannya hendak menggoreskan kuas, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sekali dering pesan masuk, kemudian di lanjutkan dengan dering panggilan.
Luna menunda niatnya untuk melukis, dia langsung menyambar ponsel nya yang tergeletak di atas meja. Senyum merekah pun terbit di bibir nya.
"Hallo Andra, apa kamu sudah tiba di rumah? Apa perjalanan mu baik baik saja?" terdengar suara Luna khawatir akan keselamatan kekasihnya.
Saat ini Andra sudah tiba di kampung halaman nya, dia berpamitan pulang ke kampung untuk mempersiapkan pernikahan mereka di sana.
Mereka berdua sudah merencanakan pernikahan di dua tempat. Satu di kampung dan satu di kota. Di rumah Andra akan diadakan acara pernikahan sekaligus resepsi nya.
Lalu, di rumah Luna akan di lanjutkan resepsi kedua. Mengingat teman teman Andra dan juga teman teman Luna banyak yang ada di kota.
"Iya sayang, aku sudah tiba dengan selamat dan aman" jawab Andra di iringi oleh hembusan nafas lega dari Luna.
"Syukurlah, sejak tadi aku menunggu kabar dari kamu"
"Sayang, kamu jangan khawatir ya. Andra nya Luna pasti baik baik saja, selagi Allah melindungi. Dan pastinya Allah akan selalu melindungi kita"
Luna mengangguk pelan, meskipun Andra tidak dapat melihatnya. Dia tersenyum senang, hati nya mulai merasakan rindu pada sang kekasih. Padahal baru tadi pagi dia mengantar Andra ke bandar udara.
"Halo..Sayang, kamu masih di sana?" tanya Andra, dia tidak mendengar suara kekasihnya.
"Iya Andra, aku masih di sini. Aku mendengar mu" jawab Luna.
"Aku kira kamu sudah membuang ponsel nya" kekeh Andra bercanda, Luna ikut tertawa mendengar nya.
"Ya sudah sayang, kamu jaga diri yah. Aku mau menemui ibu dulu"
"Iya sayang"
"Dah ."
"Dah"
Klik.
Panggilan pun berakhir, Luna memeluk ponselnya. Seakan dia sedang memeluk kekasihnya.
"Aku tidak sabar memeluk mu sebagai suamiku" gumam nya.
Luna kembali ke kursinya, dia akan melanjutkan melukis burung yang sudah menunggu sejak tadi.
"Maaf yah burung, aku harus menelfon kekasihku dulu tadi" kekeh Luna berbicara dengan burung.
Luna kembali melanjutkan aktivitas nya, dia melukis dengan sepenuh hati. Senyum manis tak pernah pudar dari bibir nya.
cling~
__ADS_1
Kembali ponselnya berbunyi, Luna menghentikan kegiatan nya. Dia berpikir jika itu adalah Andra.
"Baru saja nelfon, sekarang dia sudah mengirim pesan" Luna beranjak ke meja itu lagi, menyambar ponselnya, kemudian dia berbaring di atas sofa itu.
"Coba kita lihat, dia meng-" ucapan Luna terhenti, mata nya terasa panas saat melihat isi pesan yang di kirimkan oleh nomor yang tidak di kenal.
"Apa ini?" Gumam nya heran. Luna melihat pesan gambar, dia membuka dan Duaaarrr...
Seakan mendengar petir yang sengat kuat, bumi Luna seketika bergetar.
"Andra..."bibir Luna bergetar, tangan nya menutup bibirnya. Air mata nya mengaliri begitu saja, tanpa bisa ia hentikan.
"Hiks....Hiks..."
Bug.
Luna membiarkan ponselnya jatuh kelantai, dia tidak peduli lagi. Hati nya sakit, sangat sakit. Luna merasa dada nya terhimpit oleh benda yang sangat berat, sangat sesak.
"Hikss ..Hiks .. mengapa ini kembali terasa sesak" tangan nya mengusap pelan, sesekali dia memukulnya pelan. Berharap rasa sesak itu segera hilang. Namun, rasa itu semakin terasa sesak. Bahkan Luna merasa dadanya semakin terasa sesak.
Sementara itu, Andra tengah duduk di ruang tamu. Dia menatap gadis yang kini juga duduk di sofa rumahnya.
Awal nya mereka berbicara santai, seperti seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Andra santai, wanita itu juga santai. jadi tidak ada yang aneh.
Namun, tiba tiba saja wanita itu beranjak duduk di sebelah Andra.
"Seli, apa yang kamu lakukan?" tegas Andra. Dia berusaha menjauh dari Seli yang terus mendekat.
"Seli, menjauh lah. aku tidak mau orang salah paham!" marah Andra, dia mendorong tubuh Seli agar menjauh darinya.
"tidak Andra, aku rela kamu melakukan nya bersama mu. Ayolah Andra!!" desak Seli.
Mata Andra terbelalak, saat wanita itu dengan sendirinya merobek bajunya.
"Seli, hentikan! kamu gila!" marah nya.
Andra melirik ke sana kemari, dia memanggil ibunya. tapi, dia tersadar, jika ibu nya sedang tidak ada di rumah.
Seli dengan brutal menarik Andra, sehingga mereka jatuh ke lantai.
Bruk.
tubuh Andra menghimpit tubuh Seli, membuat adik kecil Andra bersentuhan dengan milik Seli, walaupun masih ada pembatas.
"Ahh...Tolong! Andra jangan, aku tidak mau" teriak Seli seolah olah Andra sedang membuat sesuatu yang tidak pantas padanya.
"Apa yang kamu bicarakan Seli!"marah Andra. dia hendak bangkit, tapi Seli malah menahan nya. dia berusaha menggoda Andra, tapi mulutnya berkata lain.
"Ahh ..Andra...Tolong hentikan" erangnya sembari menggesek gesekkan tubuhnya pada Andra.
__ADS_1
"Astaga, apa yang terjadi ini!" pekik seseorang dari luar.
Andra terkejut, secara paksa Andra mendorong Seli dan dia langsung berdiri.
"Apa yang kamu lakukan Andra!" teriak orang lain.
"Tidak, ini bukan seperti yang kalian pikirkan" Andra berusaha menjelaskan, tapi dia heran mengapa orang berkumpul dengan sangat cepat.
"Hiks...Hiks..."
Salah satu warga masuk ke dalam, dia membantu Seli berdiri. dia juga membuka jaketnya, untuk menutupi tubuh Seli yang entah sejak kapan terbuka.
"Apa ini" heran Andra. Dia tidak mengerti dengan situasinya saat ini.
Tak berapa lama, ibu Andra pun pulang. dia terkejut melihat banyak warga yang berkumpul di rumah nya
"Andra, ada apa ini. mengapa mereka berkumpul di rumah kita?"
"Bu Dewi, anda tidak tahu. anak Bu Dewi sudah membuat kampung kita kotor!" seru salah satu warga.
"Apa apaan ini, anak saya tidak mungkin melakukan itu!" serga Bu Dewi marah.
"Hiks..Hik..."
Dewi beralih melirik Seli, dia terkejut melihat keadaan Seli.
"Apalagi ini, kamu ngapain di rumah saya dalam keadaan seperti ini?" marah Dewi.
"Saya hanya mengobrol, tapi Andra memaksa saya .hiks ..hiks ." tangis Seli pecah, dia tidak sanggup menjelaskannya. wanita yang membantunya tadi memeluknya.
"Andra jelaskan sama ibu!"tekan Dewi.
"Bu Andra bersumpah, Andra tidak melakukan apapun. Wanita ini yang melakukan semuanya, dia memfitnah Andra bu" ucap Andra berusaha menjelaskan.
"Bohong. Sudah jelas kami melihat nya seperti ini. Kamu di atas Seli dan Seli sudah seperti ini. Kamu masih mau mengelak!"
"Dia kamu! jangan memfitnah anak saya."sangga Dewi.
"Bu Dewi, mentang mentang sudah kaya, kalian tidak boleh semena mena seperti itu. " sela salah satu warga lain.
"Tidak mungkin, putra saya tidak mungkin seperti itu!!" teriak Dewi marah.
"Sudah lah bapak ibu, ayo kita seret mereka ke balai. Pria ini harus bertanggung jawab!"
"Betul! ayo "
Mereka memegangi tangan Andra, menyeretnya keluar dari rumah.
"Tidak!!! jangan bawa putra ku! dia tidak bersalah!!" teriak Dewi menahan putranya. Namun, warga terlalu banyak, dia tidak bisa menahan putranya.
__ADS_1
"Andra!! Andra!!! jangan bawa putra ku!!!"