Jodoh Andra

Jodoh Andra
Jalan Malam


__ADS_3

Andra menghela nafas dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan. Masalah silih berganti, seakan tengah menguji kekuatan cinta dirinya dan Luna.


Mendapatkan wanita setangguh Lun menjadi hal yang terindah bagi Andra. Masalah yang mereka lewati tidak kah masalah yang ringan. Namun, dengan sabar dan pikiran dewasa. Luna mencari kebenaran nya, dia datang mencari Andra untuk mencari titik terang.


Bersyukur, sekarang mereka kembali menyatu. Seakan masalah itu bukan lah apa apa di bandingkan dengan besarnya cinta Luna terhadap Andra.


"Maafkan aku yah Lun, karena aku. Kamu jadi capek capek ke sini" sesal Andra, dia memegang kedua tangan calon istri nya. Tatapan teduh membuat hati Andra terasa nyaman melihatnya.


"Ini bukan salah kamu Andra, ini sudah takdir. Seli hadir untuk menguji kekuatan cinta kita" balas Luna bijak.


Andra tersenyum, dia kembali kagum dengan sikap dewasa Luna.


"Calon istri idaman" gumam Andra memeluk Luna.


Kedua orang tua Luna tiba di kampung, mereka pulang ke rumah nenek Luna. Kemudian pergi ke rumah Andra untuk memperjelas apa yang terjadi.


Setelah itu, mereka semua berkumpul di rumah Andra. Mereka langsung membicarakan pernikahan untuk Andra dan Luna.


"Jadi, acaranya kapan?" Tanya Dewi tersenyum lebar. Dia sudah tidak sabar ingin menjadikan Luna sebagai calon menantunya.


"Bagaimana kalau bukan depan di laksanakan pertunangan nya. Kemudian, bulan depan nya lagi di langsungkan acara pernikahan nya" jawab Mila tak kalah semangat nya dari pada Dewi.


Kedua wanita paru baya itu terlihat sangat antusias, bahkan melebihi semangat kedua calon pengantin.


"Ide bagus itu mama Luna, semakin cepat semakin baik" balas Dewi.


Gunawan dan Malik yang mendengar nya, hanya bisa geleng kepala. Bagi mereka istana tanpa ratu tak lah terasa lengkap. Jadi mereka menuruti segala yang istri istri mereka mau.


"Bagaimana Luna, Andra?" tanya Mila, di benarkah oleh anggukan kepala Dewi.


"Secepat nya lebih baik nak" sahut Dewi.


Andra melirik Luna, meminta pendapat wanita nya tentang jawaban mereka terhadap kedua orang tua mereka. Sedangkan yang di tatap malah ikutan bingung.


"Terserah sih ma, Bu. Kalau Luna kapan pun mau sih" jawab Luna jujur.


"Yea, bagus. Itu yang kami tunggu" seru Mila seraya Tos dengan Dewi, kemudian mereka saling berpelukan.


"Dasar wanita tua" cibir Malik meledek istri nya. Kemudian dia tertawa bersama Gunawan.


Merasa semuanya sudah lega, Andra mengajak Luna pergi jalan jalan mengelilingi kampung nya. Namun, mereka pergi menaiki mobil.


Sebenarnya Luna ingin naik sepeda saja, namun Andra tidak mau. Dia hanya ingin berdua dengan Luna, tanpa ada yang melihatnya. Bukan maksud sombong telah memiliki semua nya, namun Andra hanya ingin private time bersama Luna.


Entah kemana, Andra tidak tahu mau pergi kemana. Akhirnya, dia membawa Luna pergi ke rumah Siti. Ketempat bibi nya.


Siti terlihat sangat senang, sejujurnya dia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Andra. Dia sudah melupakan semuanya dan menerima Alex sebagai pasangan hidupnya.


"Wahh Andra, kamu datang juga akhirnya ke rumah aku" sambut Siti senang. Dia menarik Luna masuk ke dalam rumah nya penuh semangat.


"Hai Luna, aku Siti. Teman sekaligus saudara" ujar Siti memperkenalkan dirinya sendiri.


"Hai, aku Luna." Balas Luna ramah.


Siti terus mengajak Luna mengobrol, sedangkan Alex, suami Siti,mengobrol dengan Andra.

__ADS_1


Segala masa lalu telah mereka lupakan. Andra tidak mau tali persaudaraan nya terputus, jadi dia lebih memilih untuk melupakan semua nya. Membuka lembaran baru dan hidup damai dan tentram bersama orang orang yang dia sayangi.


"Kamu cantik banget yah, pantesan Andra gak bisa lepas dari kamu" canda Siti membuat Luna tersenyum malu. Dia melirik Andra yang sedang ngobrol dengan Alex.


"Iya, aku juga begitu. Begitu banyak drama yang telah kami lewati. Tidak mudah untuk melupakan nya begitu saja" jawab Luna.


Siti tersenyum tulus, dia tidak menyangka hidup nyabakan seindah ini. Dulu, dia selalu merasa di dalam neraka, mencintai Andra yang mencintai orang lain.


Namun, setelah Siti ikhlas dan menerima Alex. Hidupnya menjadi aman, tentram dan lebih utama nya adalah. Kini Siti sangat bahagia.


"Kita hanya butu ketenangan, kebahagiaan dan kenyamanan. Harta bukanlah hal yang utama untuk kehidupan kita"


"Benar, harta bisa di cari. Selagi mau berusaha. Maka kita akan mendapatkan uang" sahut Luna. Mereka tersenyum bersama.


"Seperti nya Siti dan Calon istri kamu cocok yah. Wanita cantik yang menjadi pahlawan di kehidupan seorang suami" ujar Alex.


Tak jauh berbeda, Alex juga merasakan kebahagiaan dan ketenangan setelah menikah dengan Siti. Wanita yang dengan telaten dan sabar menghadapi dirinya yang ke kana kanakan.


"Calon istri ku, adalah wanita yang suka berteman. Dia ceria dan yah seperti yang kamu lihat" balas Andra bangga.


"Benar" sahut Alex.


Hari itu, jadi nya Andra dan Luna menghabiskan waktu di rumah Siti dan Alex. Mereka mengobrol tanpa ingat waktu.


Tidak terasa waktu cepat berlalu, kini Andra dan Luna sudah 4 jam di rumah Alex dan Siti. Obrolan abstrak mereka membuat waktu terasa cepat berlalu.


"Duh, udah malem banget. Kita balik yuk" ajak Luna. Andra melirik jam tangan nya, kemudian mengangguk.


"Benar juga, yaudah kita balik dulu yah" kata Andra berpamitan.


"4 jam itu udah lama, sekalian aja tidur sini" canda Andra, mereka tertawa bersama.


"Andaikan kita udah nikah" kekeh Luna.


"Udah ah, kita balik dulu. Nanti di kira aku bawa Luna ke mana mana lagi" kekeh Andra


"Yaudah, hati hati yah" Alex.


"Dah"


Luna dan Andra pulang ke rumah. Andra mengantar Luna ke rumah nenek nya, kemudian barulah dia pulang ke rumah nya.


"Hati hati yah sayang, jangan sampai tergoda lagi" peringat Luna.


"Iya sayang, aku tidak akan tergoda dengan orang lain" balas Andra mengecup kening Luna. Kemudian turun ke bibir.


Cukup lama mereka bergulat bibir, hingga keduanya saling melepaskan gulatan karena kekurangan oksigen.


"Dah turun lah, istirahat. Besok kita akan pergi fitting baju pertunangan" kata Andra.


"Iya sayang"


Cup.


Kecupan terakhir mengakhiri perjumpaan mereka malam itu.

__ADS_1


Luna memperhatikan kepergian Andra, setelah pria itu sudah tak terlihat lagi. Barulah dia masuk ke dalam rumah.


"Semoga kita bahagia bersama Andra, aku sangat mengharapkan itu" doa Luna di dalam hati.


Sedangkan di rumah besar, seorang gadis duduk di depan rumah nya.


Air mata mengalir tiada henti, meratapi nasib yang kini telah menjadi sangat buruk.


Semenjak kejadian itu, Seli menjadi cemoohan orang banyak. Dia tak di hargai lagi, tak ada yang suka padanya termasuk ibu nya sendiri.


Karena gagal menikahi Andra, Gea pun menganggap putrinya tidak berguna. Apalagi semua orang sudah tidak suka pada putrinya itu.


"Dasar tidak berguna"


"Tidak tahu diri"


"Wanita murah"


Itulah yang selalu dia dengar di setiap langkahnya ketika di luar rumah.


*Mengapa semuanya jadi begini. Kenapa aku harus menanggung nya sendiri?


Inikah jalan terburuk yang harus aku tempuh? kenapa?? Kenapa tuhan*.


Seli menangis tiada henti, tak ada yang peduli padanya. semua orang seakan menghilang dari sisi nya.


Tik Tik.


Hujan turun tiba-tiba langsung sangat deras. Namun, dia terlihat tidak peduli dan acuh saja.


"Apa aku mati saja?" Seli langsung menggeleng, dia tidak mau memikirkan hal sekeji itu.


Seberat apapun hidupnya, dia tidak akan stres ataupun bunuh diri. Ini jalan yang dia tempuh. Jadi dia harus menerimanya.


"Pergi. yah, aku harus pergi dari sini. aku tidak mau tinggal lagi di sini"


Seli masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup. Dia mengabaikan teriakan ibu nya yang memarahinya masuk dalam keadaan basah.


Namun, Seli tidak perduli. dia tetap melangkah masuk dan mengambil semua pakaian nya.


"Dasar anak tidak berguna!"


"Kotor semua rumah ku!"


"Pergi saja kau!"


Makian Gea semakin menggelegar, dia tidak menyukai putrinya lagi.


Tidak tahan mendengarnya, Seli berbalik menatap ibu nya. Mata sembab nya terlihat mengerikan ketika menatap tajam seperti itu.


Gea sempat terdiam, dia takut melihat putrinya.


"Ingat! mulai saat ini, aku bukan lagi putri mu!"


Seli berbalik, kemudian melangkah pergi tanpa ragu, tanpa ada penyesalan lagi.

__ADS_1


"ya, pergi lah! tidak usah kembali lagi!" ucap Gea mengiringi langkah kaki putrinya yang saat ini dalam keadaan hancur.


__ADS_2