
Burung berkicau sangat merdu, Luna tersenyum mendengar nya. Saat ini dia tengah duduk di taman kota yang terkenal dengan keindahan alam nya.
Setiap akhir pekan, Luna sering datang ke situ. Walaupun sedikit jauh dari rumah nya, Luna tetap semangat mengayuh sepeda ke sana.
Hufffha..
Wajah sumringah yang tampak semakin cantik tengah menghirup udara segar.
Rasa lelah nya terbayar dengan apa yang dia rasakan di taman ini.
"Semoga alam ini akan tetap terjaga, agar aku bisa menikmati bersama anak ku nanti" gumam nya.
Luna mengeluarkan kresek berwarna merah dari keranjang sepedanya. Di dalam kresek itu terdapat cemilan dan sebotol air mineral.
Sambil makan, Luna melihat alam sekitar. Pohon pohon rindang dan beberapa burung tampak menghinggapi dahan pohon tersebut.
Tanpa sengaja Luna melihat sosok yang pernah dia lihat sebelum nya.
Orang itu pun tanpa sengaja menoleh kearahnya. Tatapan mereka pun bertemu, Luna tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Aduh, kenapa dia ada di sini?"batin nya. Mendadak Luna menjadi gugup ketika bertemu dengan pria yang sudah dua kali membantunya.
"Jangan, jangan kesini!" Gumam Luna ketika mendengar suara langkah kaki mendekat pada nya.
"Hey, bukan kah kamu." Gumam Andra ragu.
Duhh...
Luna mendongak, dia dengan senyum gugup nya menatap wajah Andra.
"Hai.." cicit Luna melambaikan tangan nya.
"Benar, ternyata aku tidak salah lihat" gumam Andra lega. Ternyata dia tidak salah mengenali orang. Meskipun mereka belum berkenalan.
Luna hanya tercengir, dia mempersilahkan Andra duduk di samping nya. Dia membereskan kresek nya, agar Andra bisa duduk dengan nyaman.
"Kamu sendirian?"tanya Andra terdengar konyol di telinga Luna.
"Apa kamu melihat ada orang di sini?"sahut nya.
"Hm.. Siapa tahu kamu sedang menunggu seseorang. "Balas Andra lagi.
Luna hanya bergidik bahu, kemudian dia kembali memakan cemilan nya.
Melihat Luna yang seperti acuh pada nya,membuat Andra merasa tertarik untuk mendekatinya.
__ADS_1
"Gadis yang unik, dia tidak seperti Seli dan Siti" batin nya.
"Dua kali telah bertemu, dan sekarang untuk ketiga kalinya kita bertemu. Tidak kah takdir menyuruh kita berkenalan?"
"Aku Andra, perantau di kota ini" ucap Andra mengulurkan tangan nya.
Sedangkan Luna, dia menatap ukuran tangan Andra.
"Sorry, aku tidak butuh berkenalan dengan mu. Mau 10 kali bertemu pun, aku tidak percaya yang namanya takdir!" Luna segera bangkit, dia membawah sampah cemilan nya, kemudian dia menaiki sepeda nya.
Sebelum pergi, Luna kembali menatap kearah Andra.
" Untuk bantuan mu di pertemuan pertama dan kedua, aku ucapkan terimakasih."
Luna mengayuh sepeda nya, dia meninggalkan taman dengan hati yang kesal.
Luna pikir, Andra hanya memanfaatkan pertemuan mereka.
"Cih, hanya karena bertemu beberapa kali. Dia mengatakan takdir? Huh... Bagaimana dengan aku yang sering bertemu kang Oman. Apakah jodoh?"kekeh Luna meledek perkataan kuno Andra, dan membandingkan nya dengan pertemuan tukang siomay di sekolahnya.
Sedangkan di taman, Andra masih menatap kepergian Luna. Dia merasa tertantang dengan sikap gadis itu.
Awal nya Andra berpikir dia gadis yang manis dan lembut. Ternyata dia sangat jutek dan lumayan dingin.
"Penipu" kekeh Andra. Dia sempat tertipu di awal. Sekarang, dia malu sendiri kan. Mengajak gadis itu berkenalan.
Hari itu adalah hari libur bekerja, jadi Andra memutuskan untuk berkeliling kota tempatnya mencari uang.
Tanpa terasa, Andra sudah 2 Minggu berada di kota ini. Dia merasa nyaman dan mulai terbiasa dengan kebisingan dan aktivitas yang tidak berhenti meskipun di malam hari.
Andra sering membandingkan keadaan di kota dengan keadaan kampungnya.
...----------------...
Sesampai nya di rumah, Luna melihat papa nya tengah bersantai di depan rumah.
Luna mendekati papa nya yang tengah membaca koran.
Gunawan melirik putrinya sebentar, lalu kembali fokus pada koran yang dia baca.
"Ada apa? kenapa wajah mu di tekuk seperti itu?" tanya nya tanpa menoleh pada putri tercintanya.
"huh..Papa tahu gak, tadi tu aku ketemu sama orang aneh!" adu Luna.
Gunawan mulai tertarik dengan cerita putrinya. apalagi soal bertemu dengan orang aneh, itu artinya orang asing.
__ADS_1
Gunawan langsung melipat koran nya, dia menatap putrinya intens.
"Dengan siapa kamu bertemu? apa dia jahat. kamu jangan mudah di percaya yah. Kamu harus hati hati."
Luna melongo, melihat papa nya terlalu banyak cerocos.
"Persis seperti mama"batin Luna.
"Papa, dengerin dulu. Luna belum cerita Lo" sanggah nya.
Gunawan terkekeh, instingnya sebagai orang tua langsung keluar tanpa bisa di kontrol.
"maaf sayang, keceplosan" kekeh nya.
Luna memutar bola matanya jengah. Dia kembali melanjutkan ceritanya.
"Luna pernah bertemu dengan nya dia kali, dan dia menolong Luna. Ketika sepeda Luna rusak di kampung. terus, beberapa hari lalu dia Luna tabrak pake sepeda"
Gunawan terkejut mendengar cerita terakhir putrinya.
"Kok bisa kamu tabrak? memang nya dia salah apa?" tanya Gunawan khawatir.
Luna lagi lagi menatap papa nya kesal, "Papa, Luna belum selesai cerita!",
"hehe...Iya iya lanjut sayang. papa hanya penasaran "
"Jadi, kami sudah bertemu dua kali. dan tadi, kita bertemu lagi di taman. Papa tahu apa yang dia katakan sama Luna?"
"apa?" tanya Gunawan penasaran.
"Dia bilang, kita harus kenalan setelah bertemu tiga kali. Kan aneh. Emang dia pikir Luna apaan" gerutu Luna emosi.
Gunawan melongo, dia tidak menemukan masalah yang besar dari cerita putrinya.
"Kenapa papa diam saja?"ujar Luna melihat papa nya seperti kambing congek setelah mendengar ceritanya.
"Begini nak, dari ekspresi dan nada suara Luna yang menggebuh gebu, membuat papa berimajinasi bahwa orang ini kurang ajar kepada mu. Namun, setelah papa mendengar cerita kamu. Papa tidak mendengar dan menemukan suatu masalah yang serius. Dan semua itu hal yang wajar" jelas Gunawan panjang lebar.
Luna menatap papa nya dengan wajah datar.
"Papa gak ngerti? anak papa di ajak kenalan dengan cara begitu. Apa papa gak ngerasa dia seperti ada niat lain?"
"Sayang, jika memiliki niat lain kepada mu. Maka semua yang terjadi di antara kalian pasti sudah dia rencanakan. Sekarang, kejadian yang kamu alami itu, di sengaja atau tidak?" ucap Gunawan bertanya. Pertanyaan nya membuat putri nya terdiam.
Iya juga yah, bukan kah sepeda rusak dan juga kejadian di depan gang itu tidak di sengaja?
__ADS_1
"Ah serah papa deh, semua laki laki memang sama. Saling membela!" gerutu Luna kesal, dia pergi begitu saja masuk ke dalam rumah. Berbicara dengan papa nya, sama tidak ada gunanya.