
Luna baru saja tiba di bandar udara. Dengan langkah mantap, dia melangkah keluar dan masuk ke dalam taxi.
Jantung nya berdegup kencang, entah fakta apa yang akan dia dengar nanti. Luna berharap semua ini hanya mimpi, mimpi buruk yang tak pernah di harapkan.
Selama 3 jam perjalanan, Luna jalani dengan hati yang berdebar. Air mata nya mengalir tanpa bisa dia hentikan.
"Sudah sampai non"
Luna tersentak, dia melirik ke luar kaca mobil. Ternyata dia sudah tiba di depan rumah Andra. Luna segera mengambil uang di dalam tas nya, kemudian membayar ongkos taxi.
"Ini pak"
"Makasih non"
Luna langsung turun, berjalan cepat masuk ke rumah Andra yang terlihat sepi. Tidak ada orang di sana, tapi rumah Andra terbuka lebar.
"Eh nak Luna. Kapan datang?" tanya Malik yang juga baru pulang dari kebun nya. Dia juga tidak tahu apa apa tentang masalah putranya.
Luna meraih tangan Malik, mencium nya sebagaimana rasa hormat kepada orang tua.
"Pak, Andra mana?"
Satu alis mata Malik terangkat, dia melirik rumah nya yang terbuka lebar.
"Apa dia tidak ada di rumah? Perasaan tadi pagi dia baru saja tiba. Mungkin tidur" jawab Malik.
Luna semakin gelisah, dia tida mengerti dengan situasi saat ini. Andra terlihat tidak ada di rumah, sementara ayah nya tidak mengetahui apapun.
"Ayo nak masuk" ajak Malik. Sejujurnya Malik heran melihat calon menantunya. Datang tanpa sepengetahuan putranya, bahkan dia malah menanyakan putranya dengan ekspresi sedih seperti ini.
"Ada apa sebenarnya ini?" pikirnya,hati nya mulai gelisah.
Saat Luna hendak masuk, tiba tiba Aryo datang dengan tergesa gesah.
"Pak" ucap Aryo salim tangan Malik.
"Nak, ada apa? Kok kamu tergesa gesah gitu?"
"Aduh pak, panjang ceritanya. Bapak baru pulang dari kebun?" tanya Aryo dengan deru nafas tersengal-sengal.
"Iya ada apa nak? " tanya Malik lagi.
"Pantes bapak tidak tahu yang terjadi pada Andra" balas Aryo.
"Memangnya apa yang terjadi pada Andra?"
Aryo menatap wanita di hadapan nya, dia tidak mengenali siapa wanita ini.
"Dia calon istri Andra"ujar Malik mengenalkan pada Aryo.
__ADS_1
"Huh?"pekik Aryo terkejut. Dia menatap Luna lekat.
"Kamu beneran pacar Andra?" Tanya Aryo memastikan.
"Banyak tanya, cepat katakan ada apa dengan Andra!" Desak Luna.
Aryo terlonjak kaget, dia baru mengingat tujuan nya datang ke rumah Andra.
"Oh ya ampun, saya lupa. "Ucap Aryo menepuk keningnya, kemudian berlari masuk ke dalam rumah Andra.
Luna dan Malik menatap heran pada pria itu, bukan nya menjawab dia malah masuk begitu saja.
Aryo kembali keluar, di berdiri di antara keduanya.
"Jika mau Thai, ayo ikut ke balai desa" ujar nya berlalu pergi.
"Balai desa?" Gumam Luna terkejut. Apa yang terjadi sehingga mereka harus ke balai desa.
"Tidak beres, ayo pergi"sahut Malik ikut berjalan cepat mengikuti Aryo. Mau tidak mau, Luna pun harus ikut, dia juga ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Situasi semakin riuh. Waktu sudah menjelang malam. Tapi permasalahan ini masih belum selesai.
Begitu pula dengan Mila yang gelisah di rumah nya. Dia menunggu suaminya pulang kerja dan akan menceritakan semuanya pada suaminya.
Cling~
Lunaku#
Fyu..
Mila menghembuskan nafas lega, setidak nya sekarang dia sedikit tenang mengetahui putrinya tiba dengan selamat.
"Assalamualaikum"
Mila langsung berdiri, dia berlari menghampiri suaminya yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Melihat istrinya yang begitu panik, Gunawan pun jadi ikut panik.
"Ada apa ma,kenapa mama panik Seperti ini. Apa yang terjadi, mengapa Luna pergi ke kampung secara mendadak?" tanya gunawan bertubi tubi. Mila sempat melongo beberapa detik mendengar nya.
"Aduh, papa pertanyaan nya terlalu banyak!" Dengus nya.
"Aduh Ma, jangan membuat papa semakin panik dong"
"Bukan begitu pa, sesuatu terjadi di kampung. Seperti apa ceritanya mama gak tahu."
"Apa yang terjadi?" Tanya Gunawan semakin panik.
"Seseorang mengirimkan foto ini sama Luna." ucap Mila sembari memperlihatkan foto yang sudah putrinya kirim tadi.
__ADS_1
Gunawan mengambil ponsel istri nya, menatap foto yang membuat mata nya membulat besar. Tangan nya mencengkram erat ponsel Mila.
"Siapa yang mengirimnya?"tanya pria itu dengan nada suara tertahan.
"Aku tidak tahu pa, Luna juga tidak tahu." Jelas Mila.
Gunawan memperhatikan foto itu, dia melihat seperti ada yang menjanggal dari foto itu.
"Kita harus ke kampung sekarang. Pesan tiket nya!"seru Gunawan.
Mila pun langsung bergegas mengambil tas yang sudah dia persiapkan.
"Ayo pa, mama sudah siapin semuanya" Mila menghampiri suaminya, kemudian mereka pun langsung berangkat menuju ke bandara.
Di balai desa masih terjadi riuh, warga masih penasaran siapa yang benar. Seli atau Andra yang merupakan pemuda sukses.
"Hiks..Hiks...Saya tahu, saya memang mata duitan. Tapi, bukan berarti saya di rendahkan Seperti ini. Hiks..Hiks ..Bukan berarti dia yang sukses, memiliki banyak uang. Bisa semena mena kepada saya. Padahal saya hanya ingin bersilahturahmi setelah mendengar dia pulang dari kota" lirih Seli memilukan.
Setengah warga masih bingung, setengahnya lagi membela Seli. Mereka termakan oleh tipuan drama Seli yang terlihat sangat menyedihkan.
"Oo putri ku, maafkan ibu nak. Karena ibu tidak bisa menjaga mu. Tapi, ibu akan membuat pria ini bertanggung jawab kepada mu" ucap Gea memeluk putrinya.
Dewi memutar mata nya jengah, drama ibu dan anak ini membuatnya muak.
"Seli, berhentilah merendahkan dirimu. Mengapa kamu harus melakukan semua ini? Kamu cantik, kamu itu bisa berubah menjadi gadis idaman. Tapi, dengan kamu seperti ini. Kamu akan semakin terlihat rendahan" ucap Andra datar.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Andra, berwibawah dan terhormat.
"Tutup mulut kamu Andra, kamu tidak boleh merendahkan putri ku seperti itu!" Sanggah Gea.
"Kenapa aku tidak boleh, aku hanya mengajarinya!" Balas Andra.
"Kamu tidak pantas melakukan ini semua, karena apa yang kamu lakukan lebih rendah. Kamu berbicara omong kosong seakan kamu tidak bersalah" ucap Gea.
"Tentu saja bibi, aku memang tidak bersalah"
"Mana buktinya, berikan kepada kami bukti kalau kamu tidak bersalah!" Tantang Gea. Dia yakin jika Andra tidak akan bisa membuktikan nya.
"Betul itu, buktikan jika kamu tidak bersalah"
"Ayo buktikan"
"Buktikan!!"
Andra tersenyum mendengar ucapan para warga, dia menatap Gea dan Seli iba.
"Tunggu saja, setelah Aryo kembali. Kami akan membuktikan nya" sela Kamil.
"Kenapa harus menunggu" ucap Gea. Dia mulai terlihat panik. Jika putrinya ketahuan bersalah. Maka selesailah sudah drama ini.
__ADS_1
"Aku di sini!"
Semua orang langsung menoleh, mereka berbalik menatap ke pintu balai desa.