
Andra masih termenung di depan kamar kos Fardan. Dia terkejut mendengar suara yang tidak wajar di dalam sana.
Baru kemarin Fardan galau, dan sekarang dia main gila dengan seorang wanita.
"Apa itu wanita yang Fardan suka?"
Andra sangat penasaran, namun dia juga tidak bisa berlama lama berdiri di sana. Dia takut adik kecil nya ikutan berdiri. Apalagi lenguhan halus itu terdengar sangat sexy.
Keadaan kos yang sepi, suasana libur, anak kos banyak yang pulang. apalagi kamar mereka berada di lantai atas. Tentunya sangat mendukung adegan tersebut. Tidak ada yang akan mengganggu mereka.
Meskipun ada, tentu mereka hanya acuh tak acuh. Terserah deh, itu urusan nya. Dosa dia yang tanggung.
Andra masuk ke dalam kamar nya, tidur terlentang menatap langit langit kamar.
"Luna, apa kamu menyukai pria itu?" gumam nya.
Andra mulai patah semangat. Baru saja dia merasakan kebahagiaan, eh malah mendapat kegelapan lagi.
Cuaca yang terik seakan mengkhianati dirinya yang sedang mendung.
Andra mengusap dada nya yang mulai terasa sesak. Dia mulai berpikir, beginilah rasanya jika melihat wanita yang di cintai bersama orang lain. pikir Andra.
"Fardan, kamu benar. Tidak akan ada orang yang mengerti apa yang kita rasakan. Kecuali kita sendiri" monolog nya sendiri.
Sementara di tempat lain, Luna memutuskan pulang setelah mengobrol sebentar dengan Bobi. Dia heran, baru saja berbaikan. Tapi, pria itu malah kembali membuatnya kesal.
Pria yang di maksud Luna bukan Bobi, melainkan Andra. Kalian mungkin sudah bisa menebak nya.
Luna masuk ke kamar nya, duduk di tepi ranjang empuk milik nya.
"Awas aja kalau ketemu nanti. Aku geprek kau" geram nya mengepalkan kedua tangan nya.
Tuk!! Tuk!!
"Luna, apa kamu di dalam?" teriak Mila setelah mengetuk pintu kamar putrinya.
"Iya ma, aku di dalam.." sahut Luna.
Mila pun masuk, dia membawa sekotak makanan yang tadi di buatnya.
"Lun, kamu gak ada acara lagi kan?"
"Gak ma, kenapa?" tanya Luna.
"Anterin ini gih, ke kos Andra" titah nya.
"Malas ah, lagi gak mau gerak" tolak Luna.
Melihat putri nya menolak, Mila langsung cemberut. Dia duduk di samping putrinya dengan ekspresi nelangsa.
"Huh, siapa coba yang akan mama suruh selain kamu"
"Yah kasih ojol kek, atau gimana terserah"
Luna beranjak masuk ke kamar mandi, dia lebih baik mandi dari pada terus duduk bersama mama nya.
"Ehh ..Kalau kamu gak mau, maka kamu akan mama aduin sama papa"ancam Mila.
__ADS_1
Luna berhenti, berbalik menatap mama nya dengan ekspresi bingung.
"Aduin apa?"
"Yah apa aja, penting kamu bakalan kena marah" jawab nya.
Luna memutar bola matanya, mama nya memang tidak jelas.
"Yaudah beliin tiket nonton deh, terserah nonton apa" putus Mila dengan pasrah.
Luna langsung berbinar, dia kembali duduk di samping mama nya.
"Konser boleh?"
"Tidak, hanya tiket nonton " bantah Mila.
"Huh, yaudah deh. iya, nanti aku anterin" jawab Luna nelangsa.
Tidak dapat tiket konser, tiket nonton film terbaru jadilah.
"Oke, ini makanan nya. Kamu anterin yah, keburu dingin nanti" ucap Mila senang.
Dengan girang Mila meletakkan kotak makanan itu ke atas nakas samping tempat tidur Luna.
Mila tahu jika putri nya sedang tidak baik dengan Andra. Jadi, dia sengaja memasak makanan banyak. Kemudian menyuruh putrinya mengantar pada Andra. Agar keduanya kembali baikan.
Mila tidak tahu, jika Luna dan Andra mulai berbaikan. Bagi Mila, Luna dan Andra itu sangat cocok. Apalagi mereka juga tahu Keluarga Andra seperti apa.
Setelah selesai mandi dan berpakaian santai. Luna pun pergi mengantar makanan ke kos Andra.
Luna menggunakan sepeda nya, meletakkan kotak makanan di dalam keranjang.
Fyuu..
"Baguslah, cuacanya gak panas" gumam Luna bernafas lega.
Gadis itu mengayuh sepeda nya dengan santai. Melewati jalan komplek menuju ke kos Andra.
"Neng..." sapa Bu Wati.
Luna tersenyum membalas sapaan Bu Wati. Dia sempat merasa aneh melihat penampilan Bu Wati . Wanita itu terlihat sedikit kacau.
"Tumben Bu Wati sedikit kurang rapi" pikir nya. Namun, Luna tak terlalu memperdulikan hal itu. Dia terus mengayuh sepeda nya, karena sedikit lagi dia sampai.
Mengapa Luna tahu kos Andra? karena, selain pernah berpapasan ketika Luna hampir menabrak Andra dengan sepeda nya. Luna juga pernah mengantar Andra dengan mobil nya, atas perintah papa nya.
Slet.
Luna memarkirkan sepeda nya di depan pagar kos. Dia melihat sekeliling kos yang terlihat sepi sekali.
Sempat Luna merasa kurang nyaman, namun dia tetap memberanikan diri naik ke lantai atas. Lokasi yang di dalam perumahan dan di tepi jalan. Jadi, rasa ngeri nya sedikit berkurang.
Ceklek.
Luna terkejut, pintu kos pertama yang dia lewati tiba tiba terbuka.
"Nona?" kaget orang itu, membuat Luna terkejut. Pelayan cafe tempat dia biasa nongkrong juga tinggal di kos yang sama dengan Andra.
__ADS_1
"Eh mas" balas Luna biasa saja.
Fardan tersenyum malu, dia berpikir Luna datang mencarinya. Dengan percaya diri dia menanyakan apa tujuan Luna datang ke sini.
"Mau cari siapa mbak?" mata Fardan melirik ke kotak makanan di tangan Luna.
"Oh ini, saya di suruh sama mama saya antar makanan buat Andra"
Jleb.
Dada Fardan terasa sesak, ternyata wanita yang dia suka mengenal Andra.
"Memang nya hubungan kalian apa?" tanya Fardan menahan sesak.
"Oh, kami satu kampung. Jadi mama saya mau memberinya ini" jawab Luna jujur.
"Ooh"
Bak di hempaskan ke bumi, lalu di benamkan di dalam lautan. Fardan sungguh terguncang mendengarnya. Pikiran soal orang yang Andra suka mulai merayap di dalam pemikiran nya.
"Yasudah, saya permisi yah" ucap Luna tersenyum tipis, lalu berjalan menuju ke kamar Andra yang berada di sudut.
Fardan mengangguk, dia memperhatikan Luna sampai gadis itu berdiri di depan pintu kamar Andra.
Tuk! Tuk!
"Andra!"
"Andra!"
Panggil Luna, namun dia tak kunjung mendapat sahutan dari pria itu.
"Apa dia tida di rumah?" pikirnya.
Luna kembali mengetuk pintu kamar Andra sedikit lebih kuat. Hingga sebuah sahutan terdengar dari dalam.
Ceklek.
Andra membuka pintu kamar nya, dia terkejut melihat Luna berdiri di depan pintu kamar nya.
"Andra" sapa Luna tersenyum manis
"Eh Luna, kamu-"
"Ini, mama suruh antar kasih kamu." sela Luna sembari memberikan kotak makan pada Andra.
Andra terlihat gugup, dia tidak percaya Luna akan datang ke kos nya. Ingin sekali Andra menyuruhnya masuk, tapi Andra kembali mengingat peristiwa tadi pagi.
"Makasih yah, tapi saya tidak bisa ajak masuk" ucap Andra tidak enak.
"Tidak apa, aku juga cuma mengantar itu aja" jawab Luna cepat.
Andra mengangguk, dan membalas senyum Luna yang sebenarnya hampir membuat tubuh nya lunglai.
Andra menoleh kearah kos Fardan, dia tersenyum kecut pada sahabat nya. Suara tadi, masih terngiang di telinga Andra. Dia harus menanyakan siapa yang ada bersama nya tadi.
Berbeda pemikiran, Fardan menatap Andra penuh tanya. Apa hubungan antara Luna dan Andra. Apakah wanita yang Andra suka adalah Luna. Atau mereka hanya dekat.
__ADS_1