Jodoh Andra

Jodoh Andra
Berangkat


__ADS_3

"Bu, ayah. Andra pamit yah. Doakan Andra bisa cepat mendapatkan pekerjaan di kota. "


"Iya nak, ibu sama ayah, pasti akan mendoakan kamu" Dewi


"Doa orang tua mu akan selalu merestui langkah mu" Malik.


Andra mencium punggung tangan ibu dan ayah nya, memeluk wanita paru baya yang sangat dia cintai. Kemudian, dia beralih pada pria yang sudah tampak menua.


"Ayah .."


Andra memeluk ayah nya, merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.


"Aduhhh Drama sekali yah, padahal merantau untuk menjadi babu saja" ucap Gea.


Andra menatap tidak suka pada wanita itu, dia memang menyukai Seli. Namun, melihat sikap ibu nya yang seperti ini. Membuat Andra melupakan rasa suka itu.


"Tidak masalah menjadi babu, asalkan uang nya halal. Tidak hasil dari menjual anak nya!" Balas Dewi.


"Ibu..." Andra menahan ibu nya, agar tidak terpancing emosi.


"Jaga ucapan mu yah Dewi! Kamu pikir aku menjual putri ku?"


Gea semakin melangkah mendekat ke halaman rumah Andra .


"Lepas Andra, ibu akan membuat wanita itu menutup mulut busuk nya!"


"Sudah ibu, tidak perlu di balas!" Cegah Andra.


"Kau hanya memanfaatkan putri mu, agar mendapatkan lelaki yang ber uang. Meskipun putri mu di jadikan budak pelampiasan" ujar Dewi skakmat.


"Cih, kamu hanya marah. Karena anak mu tidak bisa mendapatkan putri ku kan" Gea tersenyum angkuh.


Suasana semakin memanas, Malik dan Andra hanya bisa memijat pelipis mereka. Merasa pusing melihat dua Wanita itu saling berdebat.


Tetangga yang ada di sekitar sana hanya melihat sebentar. Mereka sudah tidak heran lagi melihat pertengkaran Gea. Setiap hari, ada saja yang dia debatkan dengan masyarakat lain.


"Cuih...Aku tidak akan pernah sudi putra ku mendapatkan wanita murah seperti putri mu. " Balas Dewi tak mau kalah.


"Bu, sudah Bu..Gak usah di lawan"lerai Malik menarik istri nya sedikit lebih masuk ke dalam rumah nya.


Brmm....


Kamil datang membawa sepeda motor nya, dia akan mengantar Andra ke terminal.


"Eh ada nenek lampir?" Gumam Kamil pada Gea.


"Dasar anak orang miskin, mulut tidak pernah di sekolahkan" dengus Gea.


Kamil tersenyum mengejek, ucapan Gea seolah menyebut dirinya sendiri.

__ADS_1


Kamil beralih pada Andra, dia turun dari atas motor nya. Salim dengan kedua orang tua Andra seperti pada kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam" balas Andra dan kedua orang tuanya.


"Yuk, Ndra. Kamu sudah siap?"tanya Kamil melihat Andra yang sudah gagah, terlihat juga ada 1 tas ransel besar di samping Andra.


"Sedikit amat"gumam Kamil.


"Cih, orang miskin tentu hanya bis membawa baju jelek dan bekal ubi kayu" sahut Gea dari tepi jalan depan rumah Andra.


Wanita itu masih berdiri di sana, melihat keluarga Andra yang mengacuhkan nya.


"Aduhh nenek lampir, kehilangan tongkat nya yah. Yaudah pake ini aja " Kamil memberikan sapu lidi milik Andra pada Gea.


"Ambillah dan pergi. Kamu sedang tidak ingin bertarung dengan roh jahat" usir Kamil.


Warga yang mendengar ucapan Kamil tertawa, namun mereka tidak berani untuk mengeluarkan suara. Bagaimana pun, mereka tetap membutuhkan Gea. Sebagian banyak orang bekerja di sawah Gea.


"Dasar orang miskin!" Dengus Gea melenggang pergi


"huss...Huss..," usir Kamil.


Fyuu...


Andra kembali menatap ibu dan ayah nya, dia menatap hari pada kedua orang yang sudah tua itu.


"Bu,Andra berangkat dulu yah."


"Ayah, baik baik yah di rumah. Andra pasti akan segera kembali dan merubah semua ini"


"Ya. Kamu harus segera kembali, dan menyumpal mulut wanita gila itu!" sahut Dewi.


"Betul itulah Bu, aku sangat setuju" celetuk Kamil, Andra langsung menghadiahkan nya dengan pukulan di lengan.


"Ini adalah langkah awal Andra, kita tidak boleh mengantarnya dengan rasa kesal" ucap Malik.


"Yasudah, Andra berangkat Bu, ayah" pamit Andra.


Kamil pun ikut pamit, dia memboncengi Andra dengan motor butut milik Budi.


"Hati hati nak, sampai di sana kabari ibu yah!"


"Iya Bu"


Andra pun pergi meninggalkan rumah, mengadu nasib di negeri orang. Apapun yang akan terjadi nanti, Andra siap menanggung resikonya.


"Andra janji Bu, ayah, Andra akan berhasil untuk kalian!"tekad Andra di dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu menoleh ke belakang, mata nya masih menangkap sosok ibu dan ayahnya berdiri di depan rumah.


Pemandangan itu pun menghilang, saat mereka berbelok ke tikungan jalan besar.


Siti berdiri di balik pohon besar, dia melihat kepergian Andra. Air matanya menetes di pipi nya.


"Semoga kamu sukses Andra, meskipun bukan menjadi milik ku. Setidak nya aku bisa melihat mu bahagia" batin Siti, mendoakan Andra.


Setiba nya di terminal, Kamil langsung mengantar Andra masuk ke dalam bus. Dia menepuk bahu Andra pelan.


"Semoga sukses saudara ku. Aku harap kamu tidak mendapat kesulitan di sana" ucap Kamil.


Andra tersenyum tipis, dia mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


Mereka saling berpelukan.


"Terimakasih saudara ku, aku akan kembali dan merubah hidup kita. Kamu dan aku itu sama" gumam Andra.


"Yah, kamu harus kembali dengan kondisi yang sudah sukses. Karena kita akan menyumpal mulut wanita gila itu" sahut Kamil menepuk bahu Andra lagi.


Andra tersenyum, dia menggeleng pelan mendengar ucapan sahabatnya.


"Ayo!! ayo!! Masuk. Bus akan segera berangkat!" Teriak knet.


"Aku harus pergi sekarang"kata Andra. Dia segera masuk ke dalam bus, mencari tempat duduk dekat jendela kaca bus. Andra memangku tas nya.


Dari tempat duduk nya, Andra melambaikan tangan nya pada Kamil. Begitu juga dengan Kamil, dia membalas lambaian tangan Andra.


"Hati hati!!" Teriak Kamil.


"Yah!!"


Bus yang di tumpangi Andra pun mulai berjalan.


Seli tiba di terminal, dia mencari cari bus yang menumpangi Andra. Dengan nafas terengah Seli menoleh kesana kemari. Dia tidak melihat keberadaan Andra.


Sebuah bus melintas di depan Seli, terlihat Andra tengah melihat kearahnya.


"Andra!" Panggil Seli, dia berlari mendekati bus yang masih berjalan pelan menuju ke gerbang terminal.


"Andra!!" Panggil Seli lagi.


Namun, pria itu tidak bereaksi. Dia hanya menatap wanita itu datar. Ucapan Gea masih terngiang di telinganya. Apalagi sikap Seli yang selama ini memberikan harapan palsu.


"Hidup memang harus realistis, tapi cinta tidak bisa memandang materi. Kamu tidak cocok dengan Ku" ucap Andra dalam hati. Dia memalingkan wajah nya, saat bus melintas tepat di depan Seli.


Seli tersentak oleh kenyataan, dia terkejut melihat sikap Andra.


"Semoga kamu berhasil Andra" batin Seli tersenyum getir.

__ADS_1


__ADS_2