Jodoh Andra

Jodoh Andra
Luna dan Andra


__ADS_3

Selama 6 bulan, Andra fokus dengan tugas kuliahnya. Dia akan menyudahi semester 4 nya. Setelah itu, tersisa waktu 4, tahun lagi bagi Andra untuk mendapatkan gelar.


Setelah itu, dia akan memulai merintis karirnya. Andra akan sukses, dia berjuang sendirian. Dengan dia restu kedua orang tua dan semangat hidupnya. dia akan meraih semua itu.


Andra duduk di tepi sungai, dia menatap jauh ke sebrang sana. Ingin sekali Andra bertemu dengan Luna. Memeluk nya, menyatakan pada nya bahwa dia sangat mencintai nya.


Namun, semua itu harus dia tahan. Andra ingin menyudahi perjuangan nya dan datang sebagai seorang pria yang pantas bagi Luna.


Seperti janji nya pada pak Gunawan, dia tidak akan menghancurkan masa depan Luna.


Bagaimana dengan Seli? Andra sudah tidak peduli dengan gadis itu. Sejak pertemuan nya di depan kampus, andra tak pernah bertemu lagi dengan nya.


Kalau tak salah, Andra pernah mendengar dari mulut Aryo jika Seli telah pulang.


Suasana malam yang tenang membuat Andra merasa semakin damai.


Sementara itu, di rumah nya. Luna menatap ke langit malam. Langit yang saat ini juga di tatap oleh Andra.


Dia merasakan kegelisahan yang berat, Luna ingin bertemu Andra. Dia merindukan pria itu. Namun, Luna tidak tahu Andra ada di mana.


Sejak kejadian di kampus waktu itu, Luna tak lagi melihat Andra. Bahkan pria itu tak lagi datang ke rumah nya.


"Apa dia sudah pergi?" gumam nya bertanya tanya tanpa ada yang menjawab nya.


Luna menatap layar ponsel nya, di sana terdapat foto Andra yang diam diam dia ambil.


Seulas senyum terukir di bibir tipisnya. Dia mengingat kenangan bersama Andra, betapa perhatian nya Andra pada dirinya ketika mereka masih dekat dulu.


Tapi, Luna kembali merasakan sesak di dada nya. Rasa nyeri yang beberapa waktu belakang ini menggerogoti hati nya.


"Apa dia kembali bersama wanita itu?"


Luna menekan dada nya, terasa begitu sesak ketika membayangkan Andra bersama wanita lain.


Apakah ini cinta?


Tentu saja, Luna sudah lama menyadarinya. Semenjak kejadian Andra mencium nya. Luna menjadi tak menentu, dia selalu merindukan pria itu.


Namun, apalah daya. Nasi telah menjadi bubur. Hati sudah jatuh, jatuh ke hati yang bukan milik nya.


Hufff...


Luna mengurai air matanya, dia harus menyembuhkan luka nya sendiri. Sebelum dia membuka hatinya pada orang lain.


Bagaimana dengan Bobi?

__ADS_1


Luna sudah tidak mau di dekati pria itu. Bukan tidak mau memberi kesempatan. Tapi, Luna hanya tidak mau membuat Bobi semakin sakit hati.


Cukup!. Sudah cukup dia merasakan sakit mencintai orang yang tidak mencintai nya.


Dengan menghilangnya Andra dari hidupnya, Luna menganggap itu sebagai jawaban. Bahwa Andra tidak mencintainya.


Tuk tuk.


"Masuk"


Luna segera menghapus air matanya, dia tidak mau mama nya mengetahui jika dia sedang menangis.


Ceklek.


"Luna, apa kamu sudah tidur?" Mila melangkah masuk. Dia membawakan susu coklat kesukaan putrinya.


Melihat kedatangan mama nya, Luna memaksakan untuk tetap tersenyum. Terlihat baik baik saja, walaupun sebenarnya dia sakit.


"Belum ma, aku baru saja mau tidur"


"Benarkah?" Luna mengangguk meyakinkan mama nya. Dia tersenyum, kemudian memeluk mama nya.


Mila ikut tersenyum, dia membalas pelukan putri nya. Dia dapat merasakan kesedihan yang saat ini putrinya rasakan.


Luna mengangguk pelan, mama nya selalu mengerti tentang dia. Meskipun sering berdebat, tetap saja mama adalah teman sejati yang Allah berikan padanya.


"Makasih ma" bisik Luna.


"Sekarang, minum susunya. Setelah itu. Kamu tidur yah. Besok ada mata kuliah gak?" ucap Mila mengurai pelukan nya.


"Ada ma, tapi agak siang. Dosen menunda jam kuliah besok"


"Ya sudah, kamu tetap harus istirahat yang cukup"


"Iya ma" balas Luna. Dia langsung meneguk habis susu coklat yang mama nya berikan.


Setelah itu, Luna pun berbaring. Memejamkan matanya dengan sangat rapat. Berusaha mengusir bayangan Andra dari matanya.


"Selamat tidur sayang" bisik Mila. Dia merapikan selimut putrinya, mengecup lembut kening Luna.


Mila pun beranjak keluar dari kamar putrinya, menutup pintu dengan sangat pelan.


Di ruang tengah, Gunawan menunggu kedatangan istri nya.


"Bagaimana, apa Luna masih sedih?" tanya Gunawan sangat penasaran.

__ADS_1


"Dia sudah tidur pa,dia tidak sedih. Lebih tepatnya menyembunyikan sedihnya " ujar Mila.


Huff..haa


Terdengar helaan nafas berat dari suaminya. Mila tahu suaminya Sanga mengkhawatirkan putri mereka. Karena itu dia memeluk suaminya, berusaha memberikan ketenangan dan keyakinan bahwa putri mereka akan baik baik saja.


"Semuanya akan baik baik saja" bisik Mila. Gunawan pun mengangguk, dia juga yakin akan hal itu.


"Sebaiknya kita juga istirahat " ujarnya. Karena mereka memang butuh istirahat.


"Aku yakin pada mu Andra" batin Gunawan, dia tersenyum lalu mengikuti istrinya masuk ke kamar nya.


...----------------...


Keesokan hari nya, Andra akan pergi ke kampus. Dia mampir terlebih dulu ke rumah Gunawan. Oh bukan, dia tidak mampir. Namun, dia hanya berdiri dari kejauhan. Melihat Luna keluar dari rumah, memastikan gadis yang dia cintai baik baik saja.


Setelah melihat Luna, barulah Andra pergi ke kampus. Dia mengambil waktu kilat. Tidak mau sama dengan teman teman sekelasnya. Andra ingin segera lulus.


Semua mata kuliah di ambil secara cepat oleh Andra. Dia menggunakan seluruh otak nya untuk belajar.


Jika dia mendapatkan kendala, maka Andra akan menemui Gunawan di kantor pusat dia bekerja.


Andra belajar di kampus dan meminta juga pada Gunawan untuk membimbing nya. Andra ingin menjadi seorang yang cerdas seperti Gunawan.


Andra tiba di kampus, kini dia sudah memiliki sepeda. Gunawan menghadiahkan untuk nya.


Saat dia memarkirkan sepeda nya. Tanpa sengaja Andra berpapasan dengan Luna. Cepat cepat Andra berlari dan bersembunyi.


"Ah, aku seperti melihat Andra" gumam Luna ragu. Dia melihat keluar kaca mobil nya. Namun, dia tidak melihat siapapun.


"Mungkin hanya perasaan ku saja"


Luna memarkirkan mobil nya, dia melihat ada sepeda cantik dan unik di samping mobil nya.


Luna tidak pernah melihat sepeda itu, dia bahkan tidak pernah melihat orang yang mengendarai sepeda ini.


"Bagus juga" gumam nya memuji sepeda itu.


Tanpa berpikir apapun, Luna pun bergegas menuju ke kelasnya. Dia melewati pagar tanaman, dimana Andra bersembunyi di sana.


Tanpa Luna tahu, Andra tersenyum mendengar pujian nya tentang sepeda baru nya itu.


"Aku tahu itu kesukaan mu" batin Andra.


Setelah memastikan Luna benar benar pergi. Barulah Andra keluar dan bergegas pergi ke kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2