
"Seli, kamu kok ada di sini?" tanya Andra terkejut melihat sosok Seli di depan nya.
Dengan senyum senang telah berhasil menemukan Andra, Seli pun menjawab
"Aku datang untuk mengejar cinta ku"
Jleb.
Luna yang mendengar jawaban gadis yang dia tidak kenal, merasakan satu pukulan kuat di hatinya.
"Andra, kamu kenal sama dia?" tunjuk Luna, suaranya mulai terdengar berat.
"Lun, dia itu-"
"Kekasih Andra sewaktu di kampung" jawab Seli memotong ucapan Andra.
"Seli!" sanggah Andra. Dia hendak menjelaskan pada Luna, namun gadis itu lebih dulu berdiri dan mengambil tas Selempang nya.
"Kalian ngobrol lah dulu, aku masih ada urusan."
Luna berlalu dari sana, membuat Seli tersenyum menang. Sedangkan Andra menatap nanar kepergian Luna. Dia hendak mengejar, tapi Seli malah menahan tangan nya.
"Andra, masa kamu mau ninggalin aku sih. Aku datang ke sini itu, demi cari kamu. Aku tinggalkan semua nya demi kamu"
"Aku tidak pernah meminta kamu melakukan hal itu" tegas Andra.
Seli meletakkan tas nya, kemudian memeluk Andra.
"Hiks...Hiks...Andra, kamu kenapa sih begini, aku tahu kamu cinta kan sama aku. Kenapa kamu malah kaya gini, aku ada di sini, tidak akan ada yang bisa melarang kita bersama" tangis Seli.
"Aku tidak punya siapa siapa, Andra kamu gak akan ninggalin aku kan??", tambahnya.
Huh..
Andra menghembuskan nafas pasrah, dia mengurai pelukan Seli. Menatap gadis itu datar.
"Kamu tinggal di mana,aku antar kamu pulang" ucap Andra.
Seli tersenyum senang, dia tahu Andra tidak akan meninggalkan. Seli yakin Andra masih memiliki perasaan pada dirinya.
"Aku tahu itu Andra", batin nya.
Sedangkan di luar, Luna masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat.
"Mengapa rasanya dada ku sesak sakli?" Luna mengusap pipi nya yang mulai di basahi oleh air mata nya. Dia yang mulai memiliki rasa untuk Andra, namun harus meneguk rasa sakit hati.
"Ternyata dia sudah punya kekasih" gumam nya.
Tangan Luna mencengkram kuat stir mobilnya, dia juga menambah kecepatan mobil nya agar segera tiba di rumah.
Masih teringat jelas di mata Luna, betapa terkejutnya Andra melihat gadis itu datang. Bahkan Andra tidak mengejar dirinya.
"Hiks...Hiks..." Tangis Luna semakin pecah, rasa sakit di dadanya kian menusuk.
Rasa percaya diri yang tinggi, saat Luna berpikir jika Andra juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Kini hilang di landa oleh rasa kekecewaan.
Setiba nya di rumah, Luna langsung masuk ke dalam kamar nya. Mengabaikan mama nya yang bertanya apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Ada apa dengan gadis itu" gumam Mila heran. Dia melihat putrinya berjalan begitu cepat melewatinya.
Bruk~
Luna menelungkup di atas ranjang, menangis meluapkan rasa sesak di dadanya.
"hiks..Hiks...Kenapa harus sesakit ini" lirihnya dalam tangis.
Ceklek.
Mila masuk ke dalam kamar putrinya, dia sangat terkejut mendapati putrinya menangis seperti itu.
"Hei Luna, ada apa?" Mila langsung memeluk putrinya, mengusap pipi putrinyayang basa oleh air mata.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu nangis gini?"
"Mama..." Luna membalas pelukan mama nya, dia tidak berbicara, tapi dia hanya menangis terisak.
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?"
"Ayo cerita sama mam" bujuk nya.
Luna tidak bergeming, dia hanya butuh meluapkan rasa sakit ini dengan tangisnya.
Setelah tangis nya mulai mereda, Luna mengurai pelukan nya pada mama nya.
"Ma.."lirih Luna.
Ingin sekali Luna menceritakan semuanya pada mama nya, tapi dia tidak bisa. Lidah nya terlalu Kelu untuk mengatakan nya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang menyakiti kamu?" tanya Mila lembut, dia mengusap pipi putrinya yang lembab.
Mila pun tersenyum, dia mengerti jika putrinya belum siap berbagi cerita dengan nya. Mila tidak akan memaksa putrinya untuk bercerita.
"Yasudah, sekarang kamu istirahat yah. Mama mau siapin makan malam buat kita nanti"
"Mau Luna bantu gak?"tawarnya.
"Gak usah sayang, kamu istirahat saja yah" Mila membaringkan putri nya, menyelimuti setengah tubuh Luna dengan selimut tebal.
"Apapun yang kamu rasakan, ingat. Kamu gak sendirian, mama dan papa ada di samping mu" ucap Mila terdengar tulus.
Luna mengangguk, dia tersenyum bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya. Sangat mendukung apapun yang dia inginkan dan lakukan.
Hufff haaa...
Luna menarik nafas berat, kemudian menghembuskan nya perlahan. Rasanya sangat berat, namun Luna juga tidak bisa terlalu larut di dalam rasa sakit ini.
Di kasus ini, Luna juga tidak bisa menyalahkan Andra. Dia yang memutuskan untuk menjatuhkan hatinya pada Andra. Bukan Andra yang meminta atau menyuruhnya.
Jadi, sakit sepihak ini hanya milik nya. Tidak ada pihak yang harus di salahkan.
...----------------...
Di kamar kos nya, Fardan tengah duduk lesu di tepi jendela, mantap ke langit sore yang terlihat mulai menggelap.
Seperti nya sebentar lagi akan turun hujan.
__ADS_1
Tuk!! Tuk!!
Fardan tersentak, secara refleks dia menatap kearah pintu kamar nya.
"Siapa?" seru Fardan.
"Ini aku" sahut dari luar.
dengan langkah gontai, Fardan berjalan mendekati pintu, kemudian membukakan pintu untuk Bu Wati.
"Fardan, apakah kamu sibuk?"
"Tidak Bu, ada apa?" jawab Fardan balik bertanya.
Sikap Fardan atau Bu Wati terlihat seperti biasanya. Mereka tidak terlihat seperti orang yang pernah bergumul.
Duarrrr!!!!
Bu Wati langsung melompat ke dalam pelukan Fardan, ketika tiba-tiba petir menggelegar.
Blam!
Fardan menutup pintu, nafas nya dan nafas Bu Wati saling bersahutan.
Hujan deras pun turun, hawa dingin merambat ke tubuh keduanya.
"Fardan...Aku sangat takut" lirih Bu wanita mempererat pelukan nya pada Fardan. Kepala nya menempel pada dada bidang Fardan, sehingga Bu Wati dapat merasakan detak jantung Fardan.
"Bu Wati, ini sangat tidak nyaman" ujar Fardan.
"Maaf, tapi aku sangat takut" lirih nya.
Fardan pun merasa tidak tega, dia mengangkat tubuh Bu Wati, kemudian membawanya ke tepi kasur.
Lantai kamar nya yang masih semen, tida baik untuk mereka berdiri di sana ketika petir begini.
Di dalam kesunyian, dan kegelapan remang remang. Kedua insan beda usia itu mulai termakan nafsu.
Fardan merasa adik kecil nya mulai ereksi. gundukan besar milik Bu Wati terasa bergesekan dengan dadanya.
"Bu.."lirihnya.
"Fardan, sejak bertemu dengan mu, dan merasakan milik mu. Ibu selalu memimpikan nya. Ibu sangat ingin merasakan ini" tangan Bu wati mulai merambat ke bawah. Mengusap batang adik kecil Fardan.
"Ahh..." Fardan mendesah, jangan nya tangan Bu Wati mulai mempengaruhi dirinya.
Jantung Fardan mulai berdetak tak karuan, dia juga merasakan hal yang sama dengan Bu Wati.
Saat melihat Luna, sekarang Fardan tidak merasakan apapun lagi. Dia hanya memikirkan hu Wati.
"Apakah aku menyukai Bu Wati?" pikirnya.
Fardan mulai bereaksi, dia mulai larut dalam godaan Bu Wati.
Sore itu, di iringi guyuran hujan deras di luar sana. Mereka kembali memadu kasih. Kenikmatan yang selama ini hi Wati dambakan, kembali ia rasakan.
"Ahh...Ahh..."
__ADS_1
Tak henti hentinya Bu Wati mengerang nikmat. Dia menerima segala cumbuan nikmat dari Fardan.