
"Ma! Nanti jangan sampai telat yah!"
"Luna berangkat duluan, Luna harus menyiapkan segalanya" ucap Luna sedikit tergesa gesah. Dia tadi terlambat bangun. Karena itulah saat ini terlihat tergesa gesah.
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Luna. Galeri nya mengadakan pameran. Ada banyak tamu dan juga media yang akan meliputnya.
Luna harus mempersiapkan semuanya secara sempurna. Tidak boleh ada cela atau kekacauan.
"Nak, hati hati yah. Jangan lupa memakan sarapannya " teriak Mila.
"Iya!!" Sahut Luna. Dia menyambar roti lapis yang sudah di siapkan oleh mama nya.
Luna langsung berlari keluar rumah, masuk ke dalam mobil dan langsung melaju pergi.
"Apa dia kesiangan?" tanya Gunawan, dia mendengar keributan putrinya dari dalam kamarnya ketika mandi tadi.
"Biasalah pa, bukan putri papa jika dia tidak telat" balas Mila.
"Apa gak kebalik?" Sindir Gunawan.
Mila hanya terkekeh pelan, semua orang tahu. Gunawan adalah suami yang paling ontime. Tanpa harus di jelaskan.
"Iya iya, papa pria yang paling ontime. Suami terbaik di muka bumi ini" ujar Mila. Dia menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
Sementara di galery nya, Luna dan anggota nya langsung menyiapkan segalanya. Dia membuka galery, menyusun semua lukisan yang telah mereka siapkan untuk acara ini.
Pukul 1 siang, para tamu telah berdatangan. Mila dan Gunawan juga sudah ada di sana.
Para reporter juga sudah banyak yang datang. Luna tersenyum senang, dia sangat bangga dengan dirinya sendiri. Akhirnya dia bisa membuat pameran ini. Semua orang bisa melihat karya nya.
Di tengah tengah acara, tiba tiba Luna di kagetkan oleh sosok yang selama ini menghilang. Dia berdiri di antara para tamu, ketika Luna menjelaskan makna dari lukisan yang paling istimewa di acaranya ini.
Tak dapat berkata kata, mulut Luna terasa terkunci. Matanya menatap lurus seakan terhipnotis.
"Bagaimana perasaan anda setelah berhasil membuat para tamu undangan terpukau dengan karya karya anda non Luna?" Seorang reporter melempar satu pertanyaan, membuat Luna tersentak dan kembali fokus dengan acaranya.
Sesekali mata Luna masih melirik kearah sosok itu. Dia berpikir hanya halusinasi, namun sosok itu tidak pergi.
Sedangkan Mila dan Gunawan tersenyum melihat putrinya yang tampak berbeda setelah melihat kedatangan Andra.
Yah, sosok yang membuat tubuh Luna membeku adalah Andra. Sosok yang sangat ia rindukan.
"Selamat Luna, kamu telah sukses seperti yang kamu impikan" ucap Andra mengulurkan tangan memberi selamat pada Luna. Dia menghampiri wanita itu setelah acara selesai. Namun, masih banyak orang yang melihat lihat karya Luna.
Luna kembali membeku, dia tidak sanggup mengangkat tangan nya untuk menerima uluran tangan Andra. Dia melirik kearah kedua orang tuanya, seakan menanyakan soal keaslian Andra yang dia lihat ini.
Mila mengangguk, dia memberikan keyakinan pada putrinya.
"Dia benar benar Andra sayang" seru nya.
Luna pun kembali menatap Andra, satu tetes air mata berhasil jatuh ke pipi nya.
"Kamu benar benar ada di sini?"tanya Luna terdengar konyol.
Tanpa menjawab, Andra langsung merengkuh tubuh Luna. Melepaskan rasa rindu yang selama ini dia tahan.
__ADS_1
"Yah, ini aku Luna" ujar Andra.
Barulah Luna membalas pelukan Andra, dia terisak di dalam pelukan Andra, saking bahagianya dia bisa bertemu dengan pria itu lagi.
Namun, di saat mereka saling melepas rindu. Tiba-tiba Luna mengurai pelukan nya dengan Andra. Dia mendorong pria itu agar menjauh dari nya
"Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan" batin Luna, dia berusaha menguatkan hatinya dan dirinya.
Andra terkejut, begitu juga dengan papa dan mama nya.
"Ada apa sayang?" Tanya Mila.
"Tidak apa apa ma, Luna mau menjamu tamu dulu" lirih nya, kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Andra yang terperangah melihat sikap Luna.
"Ada apa, mengapa Luna seperti ini?"
"Apa dia sudah memiliki orang lain?"
"Apa dia sedang menjaga hati orang lain?"
Berbagai macam pertanyaan hinggap di pikiran Andra. Dia terlihat kaku, saat Luna pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Andra dapat merasakan betapa Luna merindukan dirinya, tapi mengapa? Mengapa dia seakan menghindari dirinya??
"Nak, bersabar lah. Kamu bisa berbicara secara perlahan dengan Luna" ucap Gunawan memegangi bahu Andra.
"Iya pak" jawab Andra.
Mereka pergi keluar, memilih duduk di bagian tamu galery Luna. Di sana di sediakan Sofa VIP untuk berkonsultasi atau mengobrol ketika ada tamu yang masuk.
Luna melayani semua tamu, dia berusaha untuk tetap sibuk. Meskipun sebenarnya dia tidak bisa fokus. Pikiran nya tetap saja tertuju pada Andra.
Apa dia sudah menikah dengan wanita itu??
Apa mereka sudah memiliki anak?
Lalu, mengapa Andra kembali mengganggunya??
Hufff
Luna menghela nafas berat, ini sungguh berat baginya. Setelah 4 tahun berlalu, dia masih mencintai Andra.
Galery telah tutup, Luna sudah bersiap ingin pulang. Dia merasa tubuh nya sangat lelah. Tubuh, pikiran dan juga hatinya sangat lelah.
Huff..
Luna menarik nafas dan menghembuskan nafas lega. Akhirnya hari ini selesai juga. Dia bisa pulang dan beristirahat.
Deg.
Langkah kaki Luna terhenti, matanya terpaku pada Andra yang duduk di depan mobil nya. Stelan jas yang membuat pria itu terlihat sangat tampan.
"Mengapa dia masih di sini? Bukan nya dia sudah pergi bersama mama dan papa?" batin Luna.
Wanita itu bersikap seperti biasanya, dia bejalan santai seperti tidak melihat siapapun di parkiran mobil nya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Luna dan hendak masuk ke dalam mobil. Cepat cepat Andra mencegatnya.
"Luna, tunggu" panggil Andra memegangi lengan Luna. Membuat wanita itu berbalik menatap kearahnya. Yah, walaupun dengan wajah datar.
"Luna tunggu sebentar, aku ingin berbicara dengan mu" kata Andra.
"Berbicara apa lagi?" Balas Luna malas.
Andra terdiam, dia menarik nafas dalam kemudian menatap Luna lekat.
Karena terlalu lama menyiapkan diri, Luna kembali berbalik dan hendak membuka pintu mobilnya.
"Eh mau kemana?" cegah Andra kembali menarik Luna ke posisi semula.
"Kamu terlalu lama, dan membuang buang waktu ku" ketus nya.
"Kamu kenapa sih, seakan menghindari aku? Aku salah apa?" Lirih Andra sedih.
Luna berdiri tegap, dia menatap Andra dengan tatapan mengerikan yang dia punya.
"Kamu pikir waktu 4 tahun itu, mampu membuat aku melupakan segalanya?"
"Aku tidak akan tertipu lagi Andra. Suda cukup selama ini kamu menipu ku" imbuh Luna.
Andra melongo mendengarnya, dia sama sekali tidak pernah menipu Luna. Mengapa tiba tiba wanita ini menuduhnya menipu.
"Maaf Luna, tapi, aku tidak pernah menipu mu"sangkal Andra.
Bug.
Luna memukul dada bidang Andra, dia semakin marah karena Andra masih saja bersekukuh membodohi diri nya.
"Sudah cukup! Aku tidak mau kesalahpahaman ini berlanjut. Sudah cukup selama 4 tahun kamu salah paham pada ku" kata Andra menangkap tangan Luna yang memukul dadanya.
Luna terdiam, dia seakan terhipnotis oleh tatapan mata Andra yang terasa sangat tulus.
"Luna, kamu salah paham soal Seli. Aku dan dia tidak pernah berpacaran. Dia hanya masa lalu yang pernah aku kagumi ."
"Tapi-" Andra menutup mulut Luna dengan tangan nya. Dia menarik pinggang Luna mendekat ke tubuhnya.
Mata mereka saling menatap dalam, terlihat jelas di kedua mata mereka tersirat rasa rindu yang terpendam.
"Jangan berbicara, biarkan aku menjelaskan semuanya pada mu" ucap Andra.
"Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita itu. Aku hanya pernah mengaguminya, selayaknya pria normal."
"Jauh sebelum aku bertemu dengan mu. Apalagi ketika aku dan kamu bertemu di kampung, saat sepeda mu rusak"
Luna mengerjakan matanya, dia juga masih ingat ketika pertama kali merek bertemu.
"Aku mulai menyadari perasaan ku padamu, ketika kamu menjauhi ku Karen sebuah insiden di ruang tv" sambung Andra.
"Ciuman pertama ku untuk wanita yang mampu menarik dan memberiku arti cinta."
Cup.
__ADS_1
Andra melepaskan tangan nya, kemudian mengecup lembut bibir Luna.
Tapi, Luna malah diam membisu. Dia sama sekali tidak bergerak, seakan terhipnotis oleh penjelasan Andra. Hingga Andra kembali mengecupnya dan mulai bermain di sana. Mengecup berkali kali, tanpa penolakan. Meluapkan rasa rindu yang selama ini terpendam.