Jodoh Andra

Jodoh Andra
Bermuka Dua


__ADS_3

Seli tiba di rumah Siti, dia mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah nya.


"Assalamualaikum..."


Tuk! Tuk!


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.." sahut Dewi dari dalam.


Seli tersenyum, ketika melihat ibu Siti membukakan pintu rumah.


"Eh nak Seli"


"Iya Bu, Siti nya ada?"tanya Seli tersenyum manis.


"Siti?"guna Dewi bingung, putrinya tadi pamit pergi ke rumah Seli, tapi mengapa sekarang Seli mencari putrinya.


"Loh, nak Seli. Tadi Siti pamit sama ibu, katanya pergi ke rumah kamu" jelas Dewi.


Seli terkejut, dia sama sekali tidak ada bertemu dengan Siti. Bahkan tadi di jalan dia tidak ada berselisih dengan sahabat nya itu.


"Tidak Bu, saya tidak ada bertemu dengan Siti. Bahkan di jalan saya tidak ada berpapasan dengan nya."


"Kemana dia yah, tadi dia pergi sekitar 20 menit yang lalu. Jika kamu juga berjalan kaki ke sini, kalian pasti bertemu" kata Dewi.


"Kemana Siti?" Pikir Seli.


"Oh yauda Bu,mungkin dia mampir ke rumah teman nya yang lain."


"Oh mungkin juga nak,soal nya tadi dia benar-benar pamit ke rumah kamu" sahut Dewi.


"Yaudah Bu, saya pamit dulu yah. Siapa tahu Siti sedang ada di rumah"


"Oh iya iya"


"assalamualaikum " salam Seli, lalu dia berlalu pergi dari rumah Siti.


"Waalaikumsalam " balas Dewi. Wanita itu menggeleng pelan memikirkan tingkah putrinya. Pamit nya ke mana,pergi nya kemana.


Seli berjalan sedikit lebih cepat, dia berpikir jika Siti benar kerumah nya.


Agar lebih cepat sampai, Seli memilih jalan pintas. Dia lewat perkebunan tebu, jalur pintas dari rumah Siti ke rumah nya.


Saat di pertengahan jalan kebun tebu, Seli melihat sosok Siti tangah berjalan gontai. Seperti nya dia sedang ada masalah.


"Itu Siti" Seli segera berlari mendekati sahabat nya.


"Siti!" Panggil Seli.

__ADS_1


Yang di panggil pun tersadar, dia menghentikan langkah kaki nya. Matanya menatap datar pada Seli.


"Kamu dari mana Siti? Aku mencari mu ke rumah tadi" ujar Seli bertanya.


Siti terdiam,dia ingat alasan dia keluar pada ibunya, adalah bertemu dengan Seli.


"Aku juga dari rumah mu, tapi melihat pintu rumah mu tertutup"bohong Siti. Dia sama sekali tidak pergi ke rumah Seli.


"Aduh maaf yah Siti, aku tidak tahu. Aku pikir tadi, kamu ada di rumah" ucap Seli penuh penyesalan.


"Tidak apa apa, aku juga sekalian meraton kok"


Siti berusaha menghilangkan ekspresi tidak suka nya pada Seli. Dia harus bisa bersikap normal, agar Seli tidak curiga padanya.


"Kamu nyari aku ada apa?"tanya Siti.


Seli menipiskan bibirnya, dia meraih kedua tangan Siti, menggenggam tangan sahabat nya erat.


"Siti, aku tidak tahu telah berbuat salah apa padamu. Tapi, aku tidak mau hubungan persahabatan kita hancur Siti. Kamu sahabat aku satu satunya, cuma kamu yang cocok berteman dengan ku" ucap Seli panjang lebar.


"Tidak ada kok Seli, kamu dan aku tidak ada masalah. "


"Tapi, mengapa kemarin kamu ketus dan juga sensitif pada ku!" tanya Seli heran. Dia yakin telah membuat kesalahan pada Siti.


"Tidak Seli, kamu tidak salah. Aku hanya lagi haid, makanya sensitif dan mudah marah. "Siti menjelaskan.


Siti pun terpaksa mengangguk, dia memaksa bibirnya untuk tersenyum hangat seperti biasanya.


"Kamu memang tidak ada salah Seli, hanya saja aku tidak suka kamu menyukai Andra. Tidak kah kamu cukup menyukai Alex? Apakah kamu seserakah itu?" Ucap Siti, dan pastinya hanya di dalam hati nya saja.


Seli merasa sangat senang, dia meraih tubuh Siti untuk memeluk nya.


"Makasih Siti, makasih telah menjadi sahabat ku" ungkap Seli.


Sedangkan Siti, dia memperlihatkan wajah aslinya ketika Seli memeluknya. Kemudian kembali tersenyum setelah Seli melepas pelukan nya.


"Yaudah, karena sudah sore. Aku mau pamit pulang dulu Siti"


"Iya Seli, aku juga mau pulang"balas Siti tersenyum palsu.


Mereka pun berpisa di sana, pergi kearah yang berlawanan. Setelah berjalan beberapa langkah, Siti berbalik menatap Seli.


"Kamu terlalu polos Selo, terlalu cantik untuk mendapatkan dua pria! " Gumam nya.


...----------------...


Kembali ke pos ronda, Andra dan keempat teman nya menatap Cakra dengan tatapan bingung. Mereka berniat ingin mengatakan yang sebenarnya pada Cakra, bahwa ayam yang mereka sembelih itu, adalah ayam milik nya.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?"tanya Cakra ketus, dia masih terlihat murung.

__ADS_1


Kamil dan Budi mencolek lengan Andra, memberi kode agar Andra segera bicara.


"Uhm...Cakra, kamu masih sedih. Soal ayam kamu?" tanya Andra ragu ragu, dia melirik teman teman nya, dan mereka mengangguk memberikan keyakinan agar Andra segera memberitahu Cakra.


"Tentu saja aku masih sedih,dia sudah hilang 3 hari. Entah kemana pergi nya" balas cakra terdengar sedih.


"uhm...Cakra, seperti nya ayam yang kita..."


"Diam Andra! tidak perlu di teruskan. Aku juga sedang berusaha menerima nya" potong Cakra.


Andra dan teman teman nya saling melirik.


"Jadi kamu sudah tahu?"celetuk Aryo.


"Huh..Mau marah, tapi aku juga ikut memakan nya. Tidak marah, tapi aku sedih. makanya aku galau." lirih Cakra.


"Sabar yah Cak, mungkin ini karma buat kamu" sahut Budi.


Mendengar ucapan Budi, Cakra langsung menatap nya.


"Jadi, semua ini hanya karena ku?" Cakra mulai emosi, teman teman nya berkata seolah dia yang bersalah sendiri. padahal mereka memakan dan berencana bersama.


"Bu-bukan begitu Cakra, tapi kamu yang paling bersemangat " timpal Kamil membenahi perkataan Budi.


"Huh, aku juga tidak tahu. Arti senang ku malah membuat ku berduka" lirih nya.


"Sudah lah, nanti kamu bakalan dapat gantinya kok. Kan sekarang istri ayam mu tengah mengeram!" kata Andra.


Raut wajah Cakra langsung berubah, dia baru teringat dengan hal itu.


"Oh iya, kenapa aku bisa lupa. Ya sudah, aku mau lihat dulu. Apakah anak jago telah menetas" gumam nya berlalu pergi.


"Lah, dia langsung pergi " decak Kamil.


Mereka semua menatap kepergian Cakra, pria itu terlalu berobsesi pada ayam nya.


"Begitulah kalau tidak punya istri. Jika dia punya istri, pasti dia tidak akan ingat dengan ayam nya!" ujar Budi.


"Yah pasti lah, dia hanya ingat kawin saja" celetuk Aryo. Mereka langsung terbahak mendengar nya.


Andra terdiam, dia teringat dengan janji nya pada Seli.


"Oh iya guys, aku membutuhkan bantuan kalian." ucap Andra menatap teman teman nya satu persatu.


"Tumben Andra meminta bantuan, ada apa kah ini?" gumam Kamil, kedua teman nya yang lain mengangguk setuju.


Sangat jarang bagi mereka mendengar Andra meminta bantuan. pria itu terlalu sempurna menyelesaikan semua urusan nya.


Namun, kali ini dia meminta bantuan mereka.

__ADS_1


__ADS_2