Jodoh Andra

Jodoh Andra
Nasehat Ayah


__ADS_3

Pagi pagi sekali, Andra ikut ayah nya memanen sawit. Karena ayah nya kurang sehat, jadi Andra setuju ikut membantu.


"Dengan siapa kamu berkelahi kemarin?"


Deg.


Andra terkejut mendengar pertanyaan ayah nya. Kemarin ayah nya terlihat acuh, tapi sekarang ayah nya malah bertanya.


"Tidak ada ayah, kami hanya berlatih!" jawab Andra berbohong.


Prank.


Parang yang tadi nya di pegang oleh ayah Andra, melayang ke atas pondasi ladang pemilik kebun.


Ada apa dengan ayah, mengapa dia sangat marah?. Apa ayah tahu soal permasalahan aku dan Alex?.


Andra mulai harap harap cemas, ayah nya pernah memperingatkan Andra, jangan berkelahi hanya karena seorang wanita.


"Kamu ingat kan, apa yang pernah ayah kataka sama kamu?"


Andra mengangguk pelan, dia tidak berani membalas tatapan ayah nya.


Di perkampungan itu, ayah Andra sangat disegani oleh masyarakat. Bukan karena dia memiliki banyak ilmu hitam, atau memiliki jabatan tinggi. Namun, ayah Andra adalah pria yang jarang membuat masalah dengan masyarakat lain, malah dia yang paling sering membantu orang lain.


"Ayah paling tidak suka, kamu berkelahi hanya karena seorang wanita!" ucap ayah Andra kembali mengulang peringatan nya pada putranya.


"Iya ayah, Andra tahu"


"lalu! Mengapa kamu berkelahi dengan Alex, hanya karena Seli!" Bentak ayah Andra penuh emosi.


Seperti yang sudah Andra duga, Aya nya mengetahui permasalahan nya dengan Alex.


"Maaf ayah, tapi aku tidak pernah melakukan hal itu" Andra menunduk salah. Tempat duduk nya pun terasa bergetar, karena dia yang bergetar ketakutan.


Orang yang paling di takuti oleh Andra, hanya dua. Ayah dan ibu nya, hanya dua orang itu yang paling dia takuti.


"Ayah tidak menanyakan kamu salah atau tidak Andra! Mengapa hal ini bisa terjadi! Apa kamu menyukai dia?"


"Maaf ayah, Andra rasa semua ini hanya salah paham. Alex membabi buta membawa pasukan nya menyerang Andra, menuduh Andra dekat dengan Seli. Padahal Seli yang selalu mencari cara agar mendekati Andra. Andra sudah berusaha menghindar!" Ucap Andra menjelaskan semuanya.


"Apa kamu menyukai nya?"


Andra semakin tertunduk, pertanyaan ayah nya sulit untuk dia jawab.


Ayah Andra menatap putranya, dia sudah tahu jawaban nya apa.


"Tidak perlu di jawab, ayah sudah tahu!" Ujar nya.


Andra menghela nafas, mau di jawab apalagi. Dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata , karena sejujurnya Andra masih bingung.


"Ayah tidak marah kamu menyukai siapapun,ayah tidak suka ana ayah kalah, lihat lah dirimu. Wajah tampan mu masih terlihat lebam!"


Andra mendongak, dia terkejut mendengar ucapan ayah nya. Apalagi saat ini tangan ayah nya mengusap wajahnya yang masih membiru.


Malik Sanjaya, merupakan ayah yang jarang banyak komentar pada anak nya. Jika Andra melakukan kesalahan,maka Malik akan mengatakan pada istrinya.

__ADS_1


Jika sudah terlalu fatal, maka Malik akan turun tangan dan berbicara dengan putranya. Seperti saat ini, dia mengajak putra nya bekerja.


Andra masih menatap kaget ayah nya, sungguh sangat mengejutkan.


"Ayah.. Andra,"


"Sudah lah, kamu masih terlalu muda untuk soal cinta. Hati dan pemikir kamu masih labil. Jika kamu suka, kamu boleh menikmatinya. Kamu boleh menikmati rasa suka itu. Ingat! Jika ingin mengambil keputusan, pikirkan terlebih dulu apa sebab dan akibatnya untuk masa depan!" Nasehat Malik.


Andra tersenyum, dia mengangguk pelan membalas nasehat ayah nya yang akan dia inga sampai mati.


"Terimakasih ayah!"


"Dan satu lagi Andra, jika berkelahi, dan itu bukan salah mu, jangan biarkan orang lain menyentuh tubuh mu, apalagi sampai seperti ini. Jika ini terjadi lagi, ayah akan menambah luka ini!"


"Baik ayah!"


Andra semakin bersemangat, dia bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat mendukung dirinya. Ayah dan ibu yang sangat pengertian.


Hari itu Andra dan ayah nya memanen sawit. Namun, baru setengah hati. Ayah Andra sudah menyuruh putra nya pulang.


Awal nya Andra menolak, dia ingin membantu ayah nya bekerja. Tapi, Malik dengan tegas mengatakan anak nya masih memiliki masa depan yang panjang. Meskipun tidak bisa sekolah tinggi, setidaknya putranya tidak bekerja seperti nya.


Andra pulang dengan perasaan bersalah, dia berjalan sambil menunduk. Di dalam pemikiran nya, dia harus mendapatkan pekerjaan yang layak.


Sementara itu di dalam kamar nya, Siti menangis sejadi jadinya. Dia mengurung dirinya di dalam kamar.


"Kenapa sih Andra, kamu tidak bisa menyukai aku."


"Apa kurang aku? Kecantikan aku hampir sama dengan Seli. Mengapa kamu tidak melihat ku???"


Siti semakin menangis, tangan nya memukul mukul bantal gulingnya, sebagai pelampiasan kemarahan nya.


"Siti, ayo makan!" teriak Maria dari luar kamar. Dia khawatir pada putrinya yang sejak kemarin mengurung diri di dalam kamar nya.


Siti melirik ke pintu kamar nya, tangan nya terangkat menghapus air mata yang terus mengalir.


"Aku gak lapar Bu!" balas Siti dengan suara serak nya.


Mendengar perubahan suara putrinya, Maria menjadi khawatir.


"Nak, kamu kenapa? Sejak kemarin gak keluar kamar?"


"Aku gak papa Bu, hanya lagi haid dan malas keluar "jawab Siti berbohong.


"Hm..Kamu belum makan sejak kemarin! Nanti kamu sakit sayang!" bujuk Maria, dia masih tidak kehabisan cara untuk membujuk putrinya.


Dengan susah payah Siti menelan salivanya, berdehem agar suaranya kembali normal.


"Aku gak papa kok Bu, aku juga sudah siapkan cemilan di kamar"


"Benarkah?"


"Iya Bu" jawab Siti meyakinkan.


"Hm..Yasudah, kalau kamu lapar keluar yah. Ibu sudah memasak makanan kesukaan kamu" ujar Maria pasrah. Kemudian pergi dari depan kamar putrinya.

__ADS_1


Siti kembali menangis, dia memeluk bantal guling nya dan menangis dalam diam.


"Kamu jahat Andra, kamu jahat!" Lirih nya.


*******


Sesampainya di rumah, Andra langsung memeluk ibu nya. Mengungkapkan rasa bersyukur nya bisa memiliki kedua orang tua seperti ibu dan ayah nya sekarang.


"Eh eh, Andra apa yang kamu lakukan nak? Ibu sedang memasak" gerutu Dewi.


Andra tidak peduli, dia tetap memeluk ibu nya yang sudah mulai menua. Bertopang dagu pada bahu yang mulai membungkuk.


"Makasih sudah menjadi ibu untuk Andra Bu" bisik Andra.


Dewi tersenyum, dia meletakkan spatula nya, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap pada putranya menatap wajah putranya yang semakin terlihat tampan.


"Kamu sudah bicara dengan ayah?" tanya Dewi.


Andra mengangguk, dia tersenyum sendu, kemudian memeluk ibu nya erat.


"Maaf Bu, Andra masih belum bisa menjadi anak yang berbakti. Maafkan Andra Bu"


Dewi mengangguk pelan, mengusap pelan punggung putranya. Bagi Dewi, Andra adalah segalanya, apa yang telah andra lakukan untuk nya dan suaminya adalah sebuah bakti.


Mau bekerja apa saja demi menghidupi keluarga, di usianya yang sekarang. Andra sudah bekerja serabutan dan menyerahkan semua uang nya pada ibunya.


"Nak, kamu jangan ngomong kaya gitu. Bagi ibu dan ayah, Andra sudah menjadi anak yang sangat baik"


"Tapi, Andra belum bisa membuat ibu dan ayah bahagia, belum bisa membuat ayah dan ibu bangga"


"Sttt...." Dewi merenggangkan pelukan putranya, menatap putranya dengan senyum manis meskipun sudah terlihat menua.


"Kamu anak ibu yang baik, kamu selalu membuat ibu dan ayah bangga"


Andra kembali memeluk ibu nya, dia meneteskan air mata haru mendengar ucapan ibu nya barusan.


Cukup lama mereka berpelukan, Andra mencium aroma tidak sedap. Dia melepaskan pelukan ibunya.


"Apa ibu mencium nya? "


"Cium apa?" Tanya Dewi sambil menghirup udara sebanyak banyaknya mencari aroma yang di katakan putranya.


"Ehh..." Dewi langsung berbalik dan melihat ke dalam kuali. Ikan yang tadi dia goreng sudah berubah warna menjadi hitam dan di penuhi oleh asap hitam.


Dewi langsung mematikan kompor nya, mengangkat ikan tersebut dengan penyaringan.


"Yah.. Gosong "gumam nya dengan bibir mengerucut.


Andra berdiri di samping ibu nya, menahan senyum melihat ikan yang sudah menghitam.


"Bu, apa yang ibu masak? Kenapa warna nya hitam?"ucap Andra sengaja menggoda ibu nya.


"Ini semua salah kamu, membuat drama dan suasana melow. Lihat kan, ikan nya gosong"


Andra semakin tertawa mendengar dumelan ibu nya yang menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Maaf ibu"kekeh nya.


Dewi hanya menekuk bibirnya, kemudian kembali mengambil stok ikan di dalam kulkas.


__ADS_2