
Malam yang sepi, Andra berdiri di depan pagar rumah mewah milik gadis yang mulai dia suka.
"Tumben lampu nya mati" gumam nya heran melihat ke arah kamar Luna. Tidak ada cahaya, dan tidak mungkin jika dia sudah tidur. Andra sangat tahu kebiasaan gadis itu.
Luna gadis yang suka begadang, di sengaja atau tidak. Luna baru merasa ngantuk ketika malam memasuki pukul 11 malam. Sekarang baru pukul 7 malam.
Andra menarik pintu gerbang, namun tidak bisa. Dia mengecek, ternyata di gembok.
"Di gembok?" Gumam nya.
"Apa mereka tidak di rumah?" Pikirnya.
Andra berkacak pinggang, dia menoleh ke kiri dan kanan. Dia melihat mang Dadang, satpam di komplek ini.
"Mang"panggil Andra Sera menghampiri nya.
"Eh nak Andra, mau kemana?" tanya Dadang.
"Ini mang, saya mau ke rumah pak Gunawan. Tapi pintu nya di gembok" jelas Andra.
"Oo pak Gunawan emang gak di rumah. Tadi, sebelum pergi beliau menitip pesan buat jaga rumah beberapa hari" ujar mang Dadang menjelaskan.
"Pergi? Kemana yah mang"
"Kalau itu saya tidak tahu den, tadi kalau gak salah mereka berangkat pukul 6 den"
Andra terdiam, dia tidak di beri kabar oleh pak Gunawan. Mungkin mereka pergi mendadak makanya tidak sempat memberitahu.
"Aden kan deket sama mereka, kok gak tahu?" tanya mang Dadang heran. Siapa yang tidak tahu, satu komplek ini ada jika Andra adalah kerabat pak Gunawan. Makanya dia bisa kapan aja keluar masuk di perumahan elit itu.
"Tadi saya kuliah full mang, mungkin mereka perginya mendadak" balas Andra.
"Mungkin juga den, emang si mereka seperti tergesa gesah gitu"
"Yaudah de mang, saya pamit dulu. Mau balik ke kos" pamit Andra ramah.
"Oh iya iya, hati hati ya den"
Andra mengangguk dan tersenyum seadanya. Lalu dia berbalik pergi.
Niat nya ingin memperbaiki hubungan nya dengan Luna gagal total. Dia kembali lesu, hati nya kembali merasa kegelisahan.
"Hmm...Mereka kemana yah, kok aku gak di kabarin" gumam nya berpikir sambil berjalan.
Andra tidak langsung pulang ke kos, dia pikir sudah terlanjur di luar kenapa tidak nikmati saja dulu.
__ADS_1
Dia pergi ke cafe tempat Fardan bekerja. Bertemu dengan pria itu, setidak nya akan membuat dia tertawa.
Di tempat yang berbeda, seorang gadis tiba tiba teringat pada seorang pria. Dia sudah berusaha untuk melupakan pria itu. Dia tidak mau terlibat terlalu jauh dengan nya.
Iss..
Luna berdesis kesal, seperti orang di Landa kegalauan. Hal ini terekam di mata Mila. Dia memperhatikan putrinya sejak tadi seperti orang gelisah.
"Kamu kenapa sih?" tanya Mila tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Gak papa ma" jawab nya singkat.
Saat ini, mereka berada di dalam mobil menuju ke kampung halaman. Saudara Gunawan menjemput mereka di bandara.
Mila masih memperhatikan putrinya, dia yakin saat ini ada yang mengganggu pikiran putrinya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang l. Gunawan dan saudara nya berbincang di jok depan. Sedangkan Luna dan mama nya di jok tengah. Sesekali terdengar Mila menyahuti pembicaraan suami dan ipar nya.
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan rumah sakit x. Sesuai permintaan Gunawan, dia ingin langsung ke rumah sakit melihat ibu nya.
"Ayo nak" ajak Mila pada putrinya.
Mereka pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit, menyusuri rumah sakit menuju ke ruangan inap ibu Gunawan.
Luna berjalan cepat, menghampiri nenek nya yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Kamu juga ikut Luna",ujar bibi yang menjaga nenek Luna.
"Iya, dia nangis minta ikut saat kami mau berangkat tadi" balas Mila.
Mereka akhirnya berbincang bincang soal nenek Luna yang mendadak masuk rumah sakit.
Ternyata, nenek Luna terpeleset di depan rumah saat ingin menjemur nasi sisa masak semalam. Karena semalam hujan, jadi halaman mereka tergenang air dan membuat tanah menjadi licin.
"Bu, lain kali hati hati yah. Bahaya Lo kalo udah kaya gini." kata Gunawan mengingatkan ibu nya.
Namun, yang nama nya orang yang sudah tua, dan mereka biasa bekerja di masa muda nya. Ibu Gunawan tetap bandel, dia tetap melakukan semua aktivitas nya, seakan dia masih muda.
"Bang, ibu ini sangat keras kepala. Dia tidak mau berhenti melakukan ini dan itu. Bahkan, pakaian nya saja tidak mau aku yang cucu" ujar bibi Luna mengadu pada Abang iparnya.
"Tentu saja aku tidak mau, kalian bayangkan saja. Badan ku sakit sakit semua kalau aku tidak bekerja. Setidak nya aku bisa mencuci pakaian ku sendiri" bantah ibu Gunawan.
Huff... Gunawan menghela nafas, dia tidak bisa memaksa ibunya. Lagi pula, tidak baik jika tubuh tidak di bawa bergerak.
"Iya Bu, tapi jangan kerja berat yah. Biarkan anak anak mu yang melakukan nya" ucap Gunawan lembut.
__ADS_1
"Ya" balas nya singkat.
Bibi Luna hanya menggeleng melihat tingkah kekanakan mertuanya. Sungguh menguji kesabaran sekali. Namun, dia juga tahu bahwa orang yang sudah tua sudah sama seperti anak kecil. Jadi, mereka yang memilik orang yang sudah tua, perbanyaklah bersabar dan manfaatkan kondisi ini untuk membalas jasa dari orang tua kita yang selama ini sudah merawat dan membesarkan kita.
...----------------...
Tiba di cafe tempat Fardan bekerja, Andra mendapati Fardan tengah terduduk lesu.
"hei, kok lesu gini" tegur Andra.
Fardan menoleh, dia menepuk bangku di samping nya agar Andra duduk di sana.
Andra pun duduk di sana, dia menatap wajah lesu teman nya itu.
Mereka sama sama terlihat tidak senang. Andra yang berniat mencari hiburan pada Fardan. eh malah mereka sama sama galau.
"kenapa?" tanya Fardan lirih.
"Rencana aku gagal total" jawab Andra.
"Kamu kenapa?" tanya Andra lagi.
"Sama, rencana aku yang ingin menyatakan cinta pada wanita yang aku suka, malah gagal total"
Huh..
Mereka menghembuskan nafas gusar secara bersamaan.
"Kenapa nasib kita sama yah" ujar Andra, menarik Fardan menoleh ke arah nya.
"Kamu juga ingin menyatakan cinta?"
"Tidak sih, tapi ingin memperbaiki hubungan agar tidak acuh tak acuh lagi" jelas nya.
"Sabar saja lah, mungkin nanti kamu pasti akan berbaikan dengan nya" kata Fardan menyemangati nya.
"Iya, kamu juga" sahut Andra.
Kedua pria itu menghabiskan malam mereka duduk di cafe tanpa minum atau pun makan.
Boss pemilik cafe sudah menawarkan pada mereka untuk minum secara gratis. Tapi, Fardan dan Andra tidak mau. Selera mereka hilang tanpa jejak. Tidak ingin minum ataupun makan.
"Bete banget" lirih Andra.
"Sama" sahut Fardan.
__ADS_1