
Ting tong....
Suara bel apartemen berbunyi mengisi keheningan apartemen Zia.
"Ar..ada yang datang," ucap Zia seraya mengoyangkan tubuh Arga agar bangun, dan membukakan pintu apartemen.
"Aku mengantuk sayang," ucap Arga dengan mata masih mengantuk, dan menarik selimut yang tersingkap sedikit dari tubuhnya. Arga melanjutkan tidurnya, yang terganggu oleh suara Zia.
"Kalau kamu tidak mau buka, biar aku yang buka," ancam Zia pada Arga, dan sudah menyingkap selimut dari tubuhnya, hendak turun dari tempat tidur.
"Iya..iya.., biar aku yang buka," ucap Arga langsung bangun dari tempat tidur.
Arga tidak akan membiarkan istrinya, yang sedang sakit susah payah membuka pintu.
Arga melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen.
"Siapa sih pagi-pagi bertamu," gumam Arga sambil berjalan ke arah pintu, dan membukanya.
"Bunda," ucap Arga saat membuka pintu.
"Mana menantu bunda?," tanya Maria langsung masuk, dan tidak memperdulikan Arga.
"Dikamar," jawab Arga seraya menutup pintu.
Maria langsung berlalu begitu saja, meninggalkan Arga di depan pintu menuju kamar. Karena begitu paniknya ingin melihat Zia.
Arga yang mendapati mamanya seperti itu hanya bisa mengeleng kepala, bundanya selalu mengabaikannya saat sudah bersama Zia.
"Sayang, " suara Maria mengelegar memenuhi seisi kamar apartemen Zia.
"Bunda," panggil Zia saat mendapati Maria ke apartemen sepagi ini. Zia begitu kaget saat melihat mertuanya ke apartemen sepagi ini.
"Apa yang sakit sayang, bagaimana bisa begini," ucap Maria yang melihat kaki menantunya di perban. Raut wajah Maria begitu sendu saat mendapati menantunya sakit.
"Hanya kecelakaan kecil bun" jelas Zia tak melihat Maria begitu sedih
"Sampai di perban begini kamu bilang kecelakaan kecil," kesal Maria
"Kenapa kamu tidak mengabari bunda" kesal Maria yang merasa tidak di anggap, karena Zia tidak mengabarinya.
"Jangankan bunda, aku saja tidak di kabari," sindir Arga. Arga mengingat bagaimana dirinya baru tahu setelah sehari Zia di rumah sakit.
Zia yang melihat Arga, dan bunda maria menjadi tidak enak, karena tidak mengabari mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf bun, Zia hanya tidak ingin membuat khawatir" sesal Zia pada Maria.
Zia memang sengaja tidak mengabarin karena tidak mau membuat semua orang khawatir.
"Sayang jangan pernah merasa sungkan untuk menghubungi bunda dalam keadaan apapun, bunda sudah mengangapmu seperti anak sendiri" Maria membelai lembut wajah Zia, menyalurkan rasa sayangnya pada menantunya.
Zia yang melihat mertuanya begitu menyanyanginya, begitu merasa sangat senang. Setelah bundanya meninggal, tak adanya seperduli ini dengannya.
"Ya bun, maafkan Zia" Zia menatap Maria dengan seraya memohon.
"Bunda tahu dari mana Zia sakit," tanya Arga memotong drama ibu dan anak yang baru saja dia lihat.
"Dari rekan bisnis papa mu, yang mengatakan kamu pergi dari meerting hari kedua untuk menengok istrimu yang sakit" jelas Maria pada Arga.
"O..aku pikir dari Dave"
"Kenapa kamu juga tidak menghubungi bunda?" Maria beralih marah pada Arga.
"Arga panik bun, jadi lupa" sejujurnya Arga tidak terlintas sama sekali menghubungi orang tuanya.
"Kamu sama saja, anak-anak bunda tidak ada yang perduli dengan bunda, tidak ada yang mau mengabari bunda," rajuk Maria
"Bun...maafakan Zia" ucap Zia yang merasa tidak enak, bundanya terus mengatakan dirinya tidak peduli karena tidak menghubunginya.
Arga selalu malas jika melihat drama bundanya. Arga tahu betul bundanya hanya merajuk saja.
"Apa kalian sudah makan?, bunda membawakan makanan untuk kalian" ucap Maria saat mengingat, dia membawakan masakan yang sudah dia siapkan tadi pagi, untuk anak dan menantunya.
"Kebetulan sekali Arga dan Zia belum makan bun," jawab Arga semangat, saat mendengar bundanya membawakan makanan.
"Kamu belum kasih makan Zia dari pagi?, Zia kan harus minum obat," kesal Maria yang mendengar menantunya belum makan sepagi ini, padahal Zia sedang sakit.
"Tidak apa-apa bun, karena memang biasa Zia yang masak, saat Zia sakit seperti ini jadi tidak bisa masak" jelas Zia membela Arga.
"Arga saja kamu suruh masak," sinis mamanya sambil melirik Arga.
"Arga memangnya bisa masak bun" tanya Zia pada maria.
"Kamu nggak tahu kalau suami kamu ini jago masak," tanya maria, dan zia menggelang
"Anak nakal," maria menatap tajam Arga, "Dia bisa masak, malah jago..Dia lama di London sendiri, jadi dia belajar masak waktu disana," jelas Maria pada Zia.
Zia beralih menatap Arga, "Kamu bisa masak ar?," tanya Zia, dan Arga hanya mengangguk.
__ADS_1
"Lain kali suruhlah dia memasak, apa lagi saat kamu sakit begini, dia harus dimanfaatkan," ucap Maria mengajari menantunya.
"Jangan mengajari Zia yang tidak-tidak bun" ucap Arga tak terima, bundanya mengajari Zia, untuk menyuruh-nyuruh Arga.
Bundanya hanya acuh, dan berlalu ke meja makan untuk menata makanan yang sudah di bawanya.
Arga yang melihat bundanya berlalu saja, dan tidak menangapi ucapannya, hanya bisa menghela nafasnya.
"Bolehkah aku makan di luar ar?," pinta zia pada Arga.
"Makanlah disini saja," jawab Arga datar.
"Aku mohon"
Arga yang tidak tega pada Zia, akhirnya mengiyakan. Zia begitu bersikeras untuk makan di meja makan.
Akhirnya Arga membantu Zia perlahan berjalan sampai ke meja makam. Walau sudah memakai alat bantu jalan, tetap saja Arga tidak tega membiarkan Zia berjalan sendiri.
Mereka berdua pun duduk di meja makan, dan menunggu bundanya menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Padahal bunda sudah berencana untuk kesini dari beberapa hari lalu," ucap Maria membuka pembicaran di meja makan.
"Untuk apa?," tanya Arga datar.
"Bunda mau kasih ini," Maria menyodorkan tiket pesawat ke Bali.
"Wah Bali," ucap Zia antusias, saat melihat tiket yang di berikan oleh Maria.
Zia begitu senang saat melihat tiket yang di sodorkan oleh Maria. Zia membayangkan bagaimana, serunya berlibur di Bali bersama Arga.
"Tapi kamu masih sakit sayang," ucap Arga pada Zia.
"Tapi ini masih minggu depan, pasti aku sudah sembuh" ucap Zia seraya memohon.
Arga yang melihat Zia begitu bersemangat, menjadi tidak tega.
"Ya sudah kita lihat nanti ya, kalau kamu sembuh kita kesana, tapi kalau belum jangan memaksa," ucap Arga, dan Zia mengangguk mengiyakan ucapan Arga.
Bunda Maria begitu cukup lama berada di apartemen Zia. Dia menemani Zia bercerita banyak hal.
Arga hanya mendengarkan ke dua wanita yang di cintainya berbagi cerita. Sesakali Arga menegur sang bunda, saat bundnya menceritakan tentang dirinya waktu kecil.
Setelah waktu menunjukan sudah siang, Maria memutuskan untuk pulang, dan berjanji akan ke apartemen lagi besok. Maria tidak mau melewatkan merawat menantunya yang sakit.
__ADS_1