
Setelah perkerjaanya selesai. Zia memutuskan pulang lebih awal dari biasanya. Setelah memberitahu Nia, bahwa dia akan pulang lebih awal. Zia langsung melajukan mobilnya ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen. Zia menuju dapur dan menyiapkan makanan untuk Arga. Dia buru-buru memasak, agar sebelum Arga pulang, Zia sudah masuk ke dalam kamar.
Setelah selesai memasak, Zia makan sebentar sebelum dia masuk ke dalam. Saat di rasa sudah selesai dia menyiapkan makanan, di atas meja makan. Zia berlalu ke kamar tamu.
Sesaat setelah dia membersihkan diri. Zia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan memandang langit-langit kamarnya. Zia berpikir sebenarnya dia sudah memaafkan Arga. Tapi rasanya dia masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Memikirkan seperti apa ke depan hubunganya dengan Arga.
**
Adhi yang baru saja pulang dari kantornya, melihat Lidia di ruang keluarga. "Bukankah aku sudah memintamu pergi dari sini." Adhi menatap tajam pada Lidia.
Semalam sesaat semua orang sudah pergi. Adhi menyusul Lidia ke kamar.
"Apa kamu sudah puas, membuat semua putrimu terluka?" Pertanyaan pertama yang keluar dari Adhi sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar.
"Apa kamu pernah aku memperlakukan buruk pada Jesica?" Pandangan tajam Adhi berubah sendu. "Aku menganggap putri mu seperti putriku. Aku memberikan kehidupan yang layak, sama seperti aku memberikan pada Kaisar atau Zia." Hati Adhi benar-benar merasa terluka, saat Lidia melakukan semua itu, karena takut Adhi tidak perduli pada Jesica.
"Aku merelakan Zia pergi dari rumah ini. Agar dirimu dan Jesica tidak merasa aku lebih memilih putriku. Aku korbankan putriku tapi..." Suara Adhi tercekat di tenggorokan. Rasanya dia benar-benar kecewa.
"Maafkan aku dhi," ucap Lidia menghampiri Adhi.
"Kali ini aku tidak bisa memaafkan mu Lidia. Rasanya aku lelah memaafkan sikapmu. Berkali-kali kamu melukai Zia putriku." Adhi menatap pada Lidia. "Pergilah dari sini. Tinggalkan aku."
Lidia membulatkan matanya sempurna. Dia tidak menyangka Adhi akan memintanya untuk pergi. "Dhi, berikan aku kesempatan sekali lagi." Lidia yang menatap Adhi dan memohon. Dia berharap Adhi bisa memberikan satu kesempatan lagi.
"Kesempatanmu sudah habis. Jadi jangan memohon seperti itu." Adhi pergi dan meninggalkan Lidia sendiri di kamar.
Adhi pikir setelah semalam dia meminta Lidia pergi. Lidia akan pergi hari ini. Tapi Adhi masih melihat Lidia di rumah.
"Berikan satu hari ini saja, aku ingin bersama Kaisar." Ragu-ragu Lidia mengatakan pada Adhi.
"Baiklah." Adhi tahu berat, untuk Lidia berpisah dengan putranya. Jadi dia memilih memberi kesempatan Lidia.
Adhi melangkah menuju kamar tamu. Semalam setelah dia keluar dari kamarnya, dia memutuaskan untuk tidur di kamar tamu. Tapi langkahnya terhenti saat dia mengingat sesuatu. "Jesica akan pergi ke London besok. Dia menitipkan salam untukmu." Tanpa menoleh atau pun menatap Lidia. Adhi menyampaikan apa yang di katakan Jesica.
Lidia langsung terkejut, mendengar kepergian Jesica. Rasanya dia tidak menyangka Jesica akan meninggalkan dirinya, dan memilih pria yang menghamilinya.
Mendapati tidak ada jawaban dari Lidia. Adhi melanjutkan langkahnya menuju kamar.
**
Arga yang baru saja pulang dari kantor, mendapati apartemen sepi. Padahal dia melihat bahwa mobil Zia ada di parkiran. Akhirnya Arga melangkah ke kamar untuk memberisihkan diri.
Setelah menyelesaikan rutinutas membersihkan diri. Arga keluar dari kamar menuju dapur. Matanya menajam saat melewati meja makan. Di melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Makan. "Sekesal apa dirimu padaku, kamu tidak melupakan kewajibanmu." Senyum tertarik di ujung bibirnya. Ada rasa senang saat Zia masih begitu memperhatikannya.
Arga menarik kursi, dan duduk di kursi meja makan. Dia mulai memakan, makanan yang telah di siapkan oleh Zia. Walaupun rasanya hampa, saat harus makan sendiri. Dia berusaha tetap kuat, menerima hukuman dari Zia.
Sesaat setelah Arga makan, dia membersihkan meja makan, dan mencuci piring yang dia pakai untuk makan. Dan masuk ke dalam kamar, setelah memastikan semua telah bersih.
**
Zia yang merasakan tenggorokkannya kering mengerjap. Perlahan dia membuka matanya, dan mengedarkan pandangan, melihat waktu di jam dinding. "Jam 12," gumamnya saat melihat jarum jam yang menunjuka jam 12 malam.
Zia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya, dan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Sesampainya di dapur, dia membuka lemari pendingin dan mengambil minum.
__ADS_1
Dia membasahi tenggorokannya yang kering, dengan segelas air dingin di lamari pendingin.
Melanjutkan langkahnya, Zia meletakkan gelas bekas minumnya di wastafel. Tapi tiba-tiba dia di kerjutkan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Dan Zia tahu tangan siapa ini. Karena dari bau parfum yang di pakai, sudah menjelaskan bahwa itu adalah Arga.
"Jangan hukum aku seperti ini." Arga yang mendengar pintu kamar, yang di tiduri Zia terbuka, langsung bangkit dari tempat tidur. "Aku tahu aku salah, tapi jangan siksa aku, dengan mendiami aku seperti ini," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Zia.
Rasanya Zia ingin sekali menjawab, bahwa dia tidak marah. Tapi seolah bibirnya kelu, untuk mengeluarkan kata-kata itu. Dirinya merasa butuh waktu untuk menerima semua yang terjadi pada rumah tangganya.
"Lepaskan aku." Kalimat singkat itu yang keluar dari bibir Zia.
Arga yang mendengar permintaan Zia tersentak. Ternyata kemarahan Zia belum juga usai, pikirnya. Akhirnya Arga melepas pelukkanya.
Saat melihat Arga melepas pelukkannya. Zia buru-buru membebaskam diri. Dia langsung melangkah. Tapi sayangnya langkahnya terhenti, saat tangan kokoh menariknya, dan membuatnya masuk ke dalam pulukan Arga kembali.
Sejenak kedua mata mereka saling mengunci pandangan. Rasa rindu di dalam hati mereka tidak bisa di pungkiri. Arga yang melihat Zia beralih pada bibir Zia, yang sudah dari kemarin dia rindukan. Arga mendekatkan bibirnya, membenamkan bibirnya pada bibir Zia, mencium bibir Zia dengan lembut. Dia benar-benar merindukan bibir tipis milik istrinya itu.
Mendapati ciuman dari Arga. Zia memilih diam, tanpa membalas. Ingin rasanya sebenarnya dia membalas ciuman dari suaminya, seperti biasa dia lakukan. Tapi rasa kecewa dalam dirinya membuat dirinya enggan untuk membalas.
Saat tidak mendapatkan balasan dari Zia, Arga melepas ciumannya. Dinginnya sikap Zia, membuat dirinya tersiksa. Saat dirinya tidak bisa mendapatkan balasan lembut dari bibir Zia. Dirinya tidak mau memaksakan kehendakanya.
Zia yang melihat Arga sudah berhenti menciumannya, melepaskan tangan Arga yang ada di pinganggnya, dan berlalu meninggalkan Arga yang masih diam di dapur. Zia menuju kamarnya, dan langsung mengunci pintu kamarnya. Di balik pintu kamar dia memegangi bibirnya, yang masih basah sisa ciuman dari Arga.
"Aku sangat merindukanmu ar. Tapi aku masih berat menerima semua ini." Air mata yang sudah kering pun, kembali mengalir. Entah seberapa dalam rasa kecewa Zia. Hingga dirinya tak bisa memahami dirinya sendiri.
Arga yang melihat Zia pergi menahan sesaknya. Mungkin tidak akan mudah hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Apa lagi kesalahan buruknya, di masa lalu.
**
Saat Arga belum bangun, Zia sudah menyiapkan sarapan. Dan bersiap untuk ke butik. Tapi kegiatannya terhenti saat mendengar bel apartemennya terdengar. Zia mengerutkan dahinya, sedikit heran siapa yang bertamu pagi-pagi. Dengan langkah bingung, Zia membuka pintu apartemen.
"Dave?" Zia begitu bingung saat Dave lah yang datang pagi-pagi ke apartemennya.
Dave yang di minta Arga untuk menjemput Zia, dan mengantarkannya ke butik, sudah berada di apartemen Zia pagi-pagi. Arga meminta Dave untuk pagi sekali datang ke apartemen, sebelum Zia berangkat menaiki mobilnya.
"Arga belum bangun."
"Aku tidak mencari Arga. Karena aku kesini untuk menjemputmu."
Zia tidak perlu bertanya lagi untuk apa Dave menjemputnya. Karena Zia yakin jawabannya adalah Arga yang memintanya. " Baiklah aku akan mengambil tas." Zia berlalu masuk ke dalam kamar mengambil tas, dan mengambil bekal roti yang di siapkan. Tapi dia teringat dengan Dave, dan menambah satu kotak lagi untuk Dave.
Setelah Zia mengambil tas. Zia dan Dave menuju mobilnya yang sudah terpakir di parkiran apartemen Zia.
Dave pun melanjukan mobilnya, sesaat setelah Zia dan dirinya masuk.
"Kamu masih marah dengan Arga?" Tanya Dave memecah kehinggan perjalanan menuju butik.
"Aku hanya butuh waktu."
Dave mengangguk mengerti. "Kalau wanita lain, saat butuh waktu mereka akan pergi dari rumah. Sedangkan dirimu memilih tetap satu rumah dengan Arga." Dave pun tertawa mengoda Zia.
Zia yang mendengar ucapan Dave menarik senyum di ujung bibirnya. "Kalau aku pergi, aku mau pergi kemana. Bukankah itu apartemenku. Dan lagi pula aku tidak mungkin ke rumah ayahku." Sebenarnya Zia menertawakan dirinya sendiri, yang tidak punya tempat untuk bersembunyi dari Arga.
"Benar juga," ucap Dave membenarkan ucapan Zia.
Akhirnya saat sampai di butik, Dave memarkirkan mobilnya di depan ruko milik Zia.
__ADS_1
"Ini," ucap Zia seraya menyerahkan kotak makan berisi sandwich di dalamnya.
"Apa ini?"
"Aku yakin saat Arga menyuruhmu datang pagi-pagi, kamu tidak akan sempat sarapan."
Dave hanya tersenyum, mendengar ucapan Zia yang benar. " Terimakasih zi."
"Aku juga berterimakasih, sudah mengantarku." Zia membuka pintu dan keluar dari mobil.
Dave pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor, setelah memastikan Zia sudah masuk ke dalam butik.
Sesampainya di kantor Dave langsung merapikkan meja kerjanya.
"Lo tadi udah anter Zia?" Tanya Arga yang tiba-tiba di depan meja kerja Dave.
"Loe kayak hantu aja, tiba-tiba di depan gue," grutu Dave. " Gue udah antar Zia dengan selamat."
"Baguslah." Arga yang merasa takut Zia pergi sendiri, akhirnya memilih meminta Dave mengantar Zia. Arga tidak mau sampai Zia lepas dari pengawasannya.
Saat Arga di depan meja kerja Dave, mata Arga menajam saat melihat sebuah kotak di atas meja kerja Dave. "Apa itu?" Tanya Arga menunjuk dengan isyarat mata.
Dave yang mendapat pertanyaan pun, melihat arah mata Arga. "Kotak makan," jawab Dave santai.
"Gue tahu itu kotak makan," kesal Arga. "Maksud gue, loe dapat darimana?" Arga yang mengenal kotak makan di atas meja Dave, tahu bahwa itu adalah kotak makan di apartemennya.
"Dari Zia."
"Dari Zia?" Arga membulatkan mata. Dan tangannya langsung meraih kotak makan di atas meja kerja Dave.
Dave yang melihat Arga mau mengambil kotak makannya, langsung mengambilnya. "Mau apa loe?"
"Itu dari Zia kan, sini kasih gue."
Dave menajamkan pandangannya. "Enak aja. Zia sendiri yang kasih buat gue, karena loe dah nyuruh gue jemput dia pagi-pagi," elak Dave.
"Tapi gue nggak suka Zia kasih makanan buat pria lain."
"Loe protes aja sana sama Zia."
Arga benar-benar geram dengan Dave, yang menerima makanan dari Zia.
"Istri loe baik ya. Dia tahu bagaimana berterimakasih karena udah di jemput." Dave memuji Zia. "Nggak kayak suaminya", sindir Dave.
"Loe nyindir gue?" Tanya Arga mulai terpancing emosi. "Awas ya loe, gue tarik lagi bonus yang mau gue transfer buat elo." Arga pun mengancam Dave
Dave membulatkan matanya saat Arga mau membatalkan bonus untuknya. "Maksud gue, suami Zia itu lebih baik. Karena dia nggak cuma kasih gue sandwich," elak Dave. "Udah jangan marah-marah." Dave mencoba menenangkan Arga.
Arga yang malas, memilih meninggalkan Dave dan masuk ke dalam ruangannya.
"Ar," panggil Dave, dan membuat langkah Arga terhenti. "Elo nggak bakal batalin bonus gue kan?"
"Tergantung," ucap Arga seraya masuk ke dalam ruangannya.
Dave yang mendapat jawaban dari Arga, merutuki kesalahannya mencibir Arga. Dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1