
Setelah seminggu, kaki Zia sudah lebih baik. Dia sudah tidak memakai alat bantu jalan seperti seminggu yang lalu.
"Aku sudah bisa berjalan tanpa alat bantu, jadi kamu tidak perlu mengantarku berkerja lagi" Mata Zia bersinar senang mendapati kakinya yang mulai pulih, dan membayangkan bagaimana mudahnya aktifitasnya kedepan seperti biasa.
"Aku akan tetap mengantarmu" Arga menjawab dengan sinis. Ada nada tidak suka saat Zia memintanya untuk tidak mengantarnya.
"Kenapa, aku sudah bisa menyetir sendiri" Zia masih tetap bersikukuh untuk berangkat sendiri.
"Aku sedang tidak bertanya, jadi tidak perlu kamu menjawab" ucapnya tegas. "Ayo" ajaknya seraya membuka pintu apartemen.
"Selalu saja tak pernah mendengar pendapatku"
Arga melajukan mobilnya ke boutique Zia terlebih dahulu. Kebiasaan mengantar Zia, sudah menjadi rutinitasnya barunya yang menurutnya berbeda. Sepanjang jalan, Arga akan mendengar Zia berceloteh dan membuat dirinya begitu bersemangat. Mungkin karena Zia bercerita dengan begitu semangat, membuat tersalur pada Arga.
"Aku sudah sembuh, apa kita akan pergi ke Bali?" tanya Zia dengan berbinar, berharap Arga akan mengiyakan.
"Aku akan lihat jadwalku dulu, kamu tahu bukan aku sudah izin beberapa hari saat kamu sakit"
Walaupun Arga mengantikan ayahnya, dan menjadi presdir di perusahaan ayahnya, tidak membuat dia bisa seenaknya meninggalkan perkerjaan.
"Baiklah" terlihat Zia sedikit kecewa dengan jawaban Arga.
Arga yang melihat wajah kecewa pada Zia, paham bahwa istrinya begitu menginginkan liburan.
"Akan aku usahakan, jangan pasang wajahnmu seperti itu" Arga mencoba membuat Zia tidak kecewa karena tidak bisa menjanjikan untuk ke Bali.
__ADS_1
Zia mencoba menampilkan senyuman di wajahnya. Dia tak mau Arga merasa harus memaksakan keinginannya.
Sesampainya di boutique Zia langsung masuk kedalam ruangannya. Mengerjakan beberapa gambar yang belum rampung.
Tok..tok..
"Zi, ada tamu yang ingin menemuimu?" Ucap Nia saat masuk kedalam ruangan Zia.
"Siapa?, Bukannya aku tidak ada janji hari ini" Zia yang merasa tidak punya janji hari ini, sedikit di buat heran siapa yang datang.
"Aku" ucap seseorang berdiri di depan pintu ruangan Zia. Pintu ruangan yang belum tertutup rapat, memudahkan orang untuk masuk kedalam.
"Tante Lidia" gumam Zia.
Zia begitu kaget melihat wanita yang menjadi istri ayahnya itu datang menemuinya. Sudah cukup lama Zia tidak bertemu dengannya. Sejak Zia memutuskan keluar dari rumah, Zia memang tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Nia yang tahu kalau yang datang adalah ibu tiri Zia, sedikit was-was meninggalkan Zia. Nia tahu betul, ibu tiri Zia tidak pernah menyukai Zia sama sekali. Tapi saat Zia sendiri yang memintanya keluar tak banyak yang bisa di lakukannya.
"Silahkan duduk" ucap Zia pada Lidia.
Lidia yang di persilahkan duduk, langsung duduk di depan Zia.
"Boutique sudah cukup besar rupanya?" Ucapnya dengan nada yang entah Zia susah mengartikan, antara memuji atau menyindir.
"Saya berusaha keras untuk membuatnya cukup besar" Selama ini memang tanpa bantuan ayahnya dia bisa membuat boutique menjadi besar seperti sekarang.
__ADS_1
"Untuk apa anda kemari?" tanya Zia tanpa berbasa-basi. Zia tahu betul kalau wanita di depannya ini, tak akan mungkin datang tanpa alasan.
"Aku datang kesini hanya ingin mengundangmu makan malam akhir pekan ini"
Zia yang mendapatkan undangan makan malam hanya mengerutkan dahinya. Zia patut curiga, karena yang di lakukan Lidia selalu akan merugikan dirinya.
"Kenapa apa kamu keberatan?, Aku rasa ayahmu akan senang, melihat putrinya datang ke rumahnya untuk makan malam"
"Baiklah"
Zia tak ada pilihan lain selain mengiyakan, setiap kali ayahnya jadi alasan, berat untuk Zia menolak.
"Baiklah, kalau gitu aku permisi"
Zia yang melihat Lidia keluar dari ruanganya, sedikit membuatnya lega, rasa sesak akan luka masa lalu selalu menghantuinya, dan itu membuatnya tak nyaman berdekatan dengan Lidia.
Sesaat Lidia keluar Nia masuk ke dalam ruangan Zia, untuk melihat keadaan temannya.
"Kenapa dia kemari?" tanya Nia yang curiga akan kedatangan Lidia.
"Dia datang untuk makan malam di rumah"
"Apa kamu akan datang?" Nia tahu betul seperti apa kehidupan Zia waktu tinggal bersama dengan Lidia.
"Aku akan datang, aku akan hanya datang demi ayahku"
__ADS_1
"Baiklah, tapi berhati-hatilah dengannya"
"Iya"